piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia
Image1\

BROT Minggu, 6 Mei 2018 - Hari Minggu Paskah VI

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Yoh. 15:9-17

Yoh 15:9 "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.
Yoh 15:10 Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.
Yoh 15:11 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.
Yoh 15:12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.
Yoh 15:13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.
Yoh 15:14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.
Yoh 15:15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.
Yoh 15:16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.
Yoh 15:17 Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Ihr seid meine Freunde

Sumber : http://www.st-matthias-trier.de/?q=node/1158

Homili:

Kamu Adalah Sahabatku

Freundschaft muss nicht perfekt sein, sie muss echt sein - Romo Dr. Fidelis Waton SVD

 

Mempunyai teman khususnya seorang teman yang baik merupakan keinginan banyak orang. Yang diinginkan adalah persahabatan yang bertahan lama. Ada pertemanan dari masa kecil yang dipupuk sepanjang hidup. Dalam era Facebook dan Twitter ditawarkan model pertemanan, namun tidak semua teman yang ada di sana sungguh teman yang dikenal. Terkadang orang terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif atau gagal, karena terjalin pertemanan yang salah, misalnya teman yang bukannya saling mendukung dan menolong demi kemajuan studi dan kerja, melainkan yang hanya menggunakan waktu untuk hura-hura dan Games. Tak sedikit yang dikecewakan dalam persahabatan: ada yang merasa ditinggalkan, didiskriminasi, diperas, disalahgunakan, diperalat atau disangkal dan dikibuli. Acapkali harapan yang begitu tinggi terhadap pertemanan tidak bisa diejawantahkan, tak mengherankan jika dengan alasan yang bervariasi, banyak yang sangat hati-hati dengan kata teman atau sahabat. Meskipun begitu pada prinsipnya pertemanan atau persahabatan merupakan hal yang bagus dan positif. Yesus menamakan para pengikutnya sahabat. Kamu adalah sahabat-Ku. Hal ini merupakan suatu privilese bagi kita: Tuhan kita menamakan kita bukan sebagai hamba atau umat, melainkan teman. Konsekuensi apa yang dipetik dari fakta demikian? Pertama, Tuhan kita menempatkan kita setara dengannya. Tuhan kita bukankah Dia yang berada pada tingkat yang lebih tinggi dari kita, melainkan Dia yang berada setingkat dengan manusia. Jika Tuhan bersikap demikian, maka pada gilirannya setiap kita harus menempatkan setiap sesama setara dengan kita biarpun ada perbedaan usia, warna kulit, budaya, suku, agama, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dan sebagainya. Kita harus saling berjumpa dalam derajat yang sama sebagai manusia, entah dengan Paus, Uskup, Presiden maupun dengan pengemis, gelandangan, dan sebagainya. Sebagai manusia setiap kita sama, sebagaimana Tuhan menjadikan setiap manusia sebagai sahabat-Nya dan mencintai setiap manusia tanpa kecuali. Kedua, teman merupakan pilihan setiap orang. Tak seorangpun yang memaksa orang lain sebagai temannya. Jika persahabatan itu ada karena pemaksaan, maka hal itu sebenarnya bukanlah pertemanan. Hal yang sama berlaku untuk persahabatan kita dengan Tuhan: Persahabatan ini harus keluar dari keputusan dan kesadaran bebas, tanpa tekanan. Iman kepada Tuhan yang terdahulunya diwarisi misalnya dari orangtua, iman itu dalam perjalanan waktu harus menjadi keputusan kehendak bebas kita: Apakah saya percaya dan mau bersahabat dengan Tuhan atau tidak. Ketiga, pertemanan yang baik dan sejati memang lahir dari keputusan bebas, namun persahabatan yang baik dan bertahan lama harus memiliki ikatan dan bukannya seenaknya saja. Pertemanan yang baik dan benar tidak boleh didasarkan atas keinginan dan mood: Hari ini kamu adalah temanku, tetapi saya belum tahu, apakah kita masih berteman besok. Pertemanan yang sejati harus memiliki ikatan dan pertemanan yang sejati lazimnya diuji ketika ada kesulitan, cekcok dan pertengkaran. Teman yang baik harus didasarkan pada kejujuran untuk mengatakan benar terhadap apa yang benar dan salah terhadap apa yang salah. Freundschaft muss nicht perfekt sein, sie muss echt sein - Pertemanan yang sejati tidak harus sempurna, tetapi ia harus otentis. Teman yang baik akan saling berbagi suka dan duka. Berbagi suka dan duka merupakan bentuk kasih dasariah yang diwariskan Yesus kepada kita. Amen.

 

Salam,

Profil Penulis

romo fidelis.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universitaet zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.