piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia
Image1\

BROT Minggu, 05 November 2017 - Hari Minggu Biasa XXXI

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 23:1-12

Mat 23:1 Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya:
Mat 23:2 "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa.
Mat 23:3 Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.
Mat 23:4 Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.
Mat 23:5 Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang;
Mat 23:6 mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat;
Mat 23:7 mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.
Mat 23:8 Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara.
Mat 23:9 Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga.
Mat 23:10 Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.
Mat 23:11 Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.
Mat 23:12 Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Sederhana yang Bijaksana

Sumber : https://www.pinterest.co.uk/suheri/quotes/

Homili:

Sederhana yang Bijaksana

Saya mengenal setidaknya tiga kisah serupa tentang tiga uskup di tiga tempat yang berbeda. Mereka semua sudah almarhum. Pertama adalah uskup Kataliko dari keuskupan Butembo di Republik Demokratik Congo. Kedua adalah uskup Claver dari keuskupan "Mountain Province" di Philippines, dan kardinal Darmoyuwono dari Semarang, Indonesia. Saya ambil contoh kisah yang serupa itu dari salah satunya: uskup Kataliko dari Congo.

Pada suatu hari, seorang pejabat tinggi di pemerintahan datang ke keuskupan dan ingin bertemu dengan bapak uskup. Melihat keuskupan sepi, ia mendatangi tukang kebun yang dilihatnya dari kejauhan. Katanya, "Saya mau berjumpa dengan bapak uskup Kataliko, bisakah kaupanggilkan dia?" Tukang kebun itu menjawab, "Oya, sebentar. Silahkan masuk dan tunggu di ruang tamu!" Tukang kebun itu lalu masuk ke dalam rumah dan kemudian keluar lagi dengan pakaian bersih. Bapak pejabat tadi langsung bertanya, "Bapak uskup ada?" Tukang kebun itu menjawab, "Ada, saya uskup Kataliko!" Tentu saja pejabat itu terkejut dan memohon maaf. Namun, reaksi bapak uskup Kataliko biasa saja dan bahkan menghiburnya.

Kisah serupa juga terjadi dengan dua uskup yang lain. Peristiwa semacam itu hanyalah salah satu kisah yang menunjukkan betapa sederhana dan rendah hatinya tiga uskup yang saya kenal itu. Dalam gereja Katolik, jabatan uskup itu sangat terhormat. Seorang uskup memilliki otoritas yang tinggi dalam urusan gereja lokal di keuskupan. Namun, seperti pesan Yesus hari ini, tiga uskup ini menjadi contoh sebagai orang yang rendah hati dan sederhana dalam melakukan tugasnya. Mereka tidak mencari penghormatan. Uskup Claver mengatakan dalam salah satu kelas yang saya ikuti di Manila, "Harga manusia yang sesungguhnya ialah ketika kita hadir tanpa hiasan apa-apa." Pada waktu itu beliau sedang menggiatkan program "Basic Ecclesial Community" di Philippines.

Di Indonesia, kita sering mendengar pepatah semacam ini, "Semakin merunduk pohon padi, semakin berisi buahnya". Betapa nasihat yang berharga ini sering kita lupakan. Hari ini Tuhan Yesus mengingatkan kembali keutamaan ini. Banyak di antara kita berpendidikan tinggi. Tidak sedikit di antara kita yang memiliki gelar terhormat. Berlimpah orang yang menjadi sukses dan bahkan terkenal. Kiranya, pesan Tuhan hari ini membebaskan kita dari kesombongan dan mendorong kita untuk menjadi orang sederhana yang bijaksana.

Marilah kita bercermin diri serta menilik kesederhanaan dan kerendahan hati kita. Diri kita sudah berharga tanpa hiasan apa-apa. Masih perlukah kita bermegah dengan "diri palsu" dari hiasan-hiasan itu? Semoga keutamaan yang diajarkan Yesus hari ini ini semakin bisa kita ikuti dan menuntun kita untuk bersikap bijaksana senantiasa.

Tuhan memberkati kita semua!

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).