piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia
Image1\

BROT Minggu, 1 Juli 2018 - Hari Minggu Biasa XIII

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Mrk. 5:21-43

Mrk 5:21 Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sedang Ia berada di tepi danau,
Mrk 5:22 datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya
Mrk 5:23 dan memohon dengan sangat kepada-Nya: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup."
Mrk 5:24 Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya.
Mrk 5:25 Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan.
Mrk 5:26 Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk.
Mrk 5:27 Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya.
Mrk 5:28 Sebab katanya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."
Mrk 5:29 Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya.
Mrk 5:30 Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: "Siapa yang menjamah jubah-Ku?"
Mrk 5:31 Murid-murid-Nya menjawab: "Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?"
Mrk 5:32 Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu.
Mrk 5:33 Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya.
Mrk 5:34 Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!"
Mrk 5:35 Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: "Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?"
Mrk 5:36 Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: "Jangan takut, percaya saja!"
Mrk 5:37 Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorangpun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus.
Mrk 5:38 Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring.
Mrk 5:39 Sesudah Ia masuk Ia berkata kepada orang-orang itu: "Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!"
Mrk 5:40 Tetapi mereka menertawakan Dia. Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu.
Mrk 5:41 Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: "Talita kum," yang berarti: "Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!"
Mrk 5:42 Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub.
Mrk 5:43 Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorangpun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Berührung

Sumber : https://www.uta-akademie.de/de/angebot/neuroaffektive-regulation-durch-beruehrung

Homili:

Sentuhan Yang Menyembuhkan

Tuhan adalah Dia yang menyentuh manusia dan yang membiarkan Diri disentuh oleh manusia - Romo Dr. Fidelis Waton SVD

 

Ada lagu pop berbahasa Jerman yang mengatakan: Tausendmal berührt, tausendmal ist nichts passiert – ribuan kali sentuhan, namun ribuan kali tidak terjadi apa-apa. Pengalaman ini justru berseberangan dengan apa yang dialami oleh dua orang dalam kisah mujizat penyembuhan dan kebangkitan dalam injil Minggu ini. Seorang perempuan yang telah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan dan telah sekian banyak dirawat dan diobati dan semuanya tidak berhasil. Dengan kerinduan akan kesembuhan dan keyakinan bahwa ia akan sembuh andaikan ia menjamah jubah Yesus, ia memberanikan diri untuk mendekati Yesus di dalam perjalanan dan menyentuh jubah Yesus. Sentuhan terhadap jubah Yesus dengan keyakinan demikian ternyaka mendatangkan happy end. Ia disembuhkan dari penyakitnya. Kisah ini mengajarkan kita bahwa kemauan untuk menjadi sembuh sangat penting bagi manusia. Kemauan untuk sembuh turut berpengaruh terhadap upaya untuk selalu mencari jalan keluar dan meletakkan harapan bahwa jalan keluar yang ditempuh diyakini bisa mendatangkan kesembuhan. Inilah yang bisa dilakukan kita manusia. Muijizat yang pertama terjadi ketika manusia bukannya mengurung diri dalam kesulitannya, berputus asa dan pasrah, melainkan selalu dengan lapang dada berusaha mencari jalan keluar dan yakin bahwa jalan keluar yang ditemukan bisa mendatangkan kesembuhan. Setelah sekian lama diobati, namun tidak sembuh, perempuan yang menderita pendarahan terus yakin dan ingin sembuh. Hal ini dipenuhi lewat jamahannya terhadap jubah Yesus. Kepercayaan perempuan terhadap Tuhan yang bisa menyembuhkan patut dikagumi. Kepercayaan yang sama dimiliki Yairus yang memohon bantuan Yesus untuk puterinya yang sakit keras dan konon meninggal. Kedua keyakinan ini berakhir dengan peristiwa yang menggembirakan. Kata-kata dan sentuhan Yesus berhasil menyembuhkan dan membangkitkan puteri Yairus yang sakit keras dan telah meninggal. Kedua mujizat ini memproklamasikan pesan yang bernas yakni Tuhan kita adalah Tuhan menyentuh atau menjamah kita dan Tuhan yang membiarkan Diri disentuh atau dijamah manusia. Di mana Tuhan demikian tampil di dalam hidup kita, maka akan terjadi perubahan: yang menyakitkan dan mematikan akan menjadi sembuh dan hidup kembali. Tuhan kita adalah Tuhan yang menyentuh atau menjamah kita, Tuhan yang tidak bermasa bodoh terhadap nasib kita manusia. Tuhan kita adalah Tuhan yang hati-Nya tersentuh oleh kesulitan dan penderitaan manusia, Tuhan yang memiliki hati dan perhatian untuk kita manusia khususnya ketika kita berada dalam kesulitan. Jika kita yakin atau percaya akan adanya Tuhan demikian, maka hendaknya kita tidak perlu cemas dan takut untuk datang kepada-Na dengan segala kekuatan dan kekurangan kita, dengan segala yang baik dan kurang baik dalam hidup kita, teristimewa dengan segala pengalaman negatif dalam hidup kita. Tuhan kita peka terhadap nasib atau situasi hidup kita manusia. Tuhan kita adalah Tuhan yang membiarkan Diri disentuh atau dijamah manusia. Sentuhan atau jamahan hanya bisa terjadi jika kita mencari-Nya, jika kita menjalin relasi dengan-Nya, jika kita tidak mengasingkan diri dari Tuhan demikian. Marilah kita menyapa atau menjamah Tuhan dengan doa-doa kita entah syukur maupun permohonan. Jika kita percaya kepada Tuhan yang memiliki dua aspek penting di atas (Tuhan yang menjamah kita manusia dan membiarkan Diri dijamah oleh manusia), maka kita pun diajak untuk melakukan hal yang sama, yakni berusaha meneladani-Nya: Marilah kita berusaha untuk menjamah atau menyentuh hati dan nasib hidup sesama kita dengan kata-kata dan perbuatan kita, karena kata-kata dan perbuatan kita yang menyentuh hati dan nasib sesama kita tentunya bisa mendatangkan kebahagiaan dan kegembiraan bagi sesama kita tersebut. Marilah kita hidup sekian agar situasi hidup sesama kita manusia bisa menyentuh hati dan perasaan kita kita. Amin.

 

Salam,

Profil Penulis

romo fidelis.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universitaet zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.