piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia
Image1\

BROT Minggu, 30 September 2018 - Hari Minggu Biasa XXVI

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Mrk. 9:38-43,45,47-48

Mrk 9:38 Kata Yohanes kepada Yesus: "Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita."
Mrk 9:39 Tetapi kata Yesus: "Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorangpun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku.
Mrk 9:40 Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.
Mrk 9:41 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya."
Mrk 9:42 "Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut.
Mrk 9:43 Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan;
Mrk 9:45 Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka;
Mrk 9:47 Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka,
Mrk 9:48 di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

persatuan

Sumber : https://charlespanjaitan198.files.wordpress.com/2014/06/unity-in-the-community-logo2.jpg

Homili:

Kami Dan Mereka

Lebih baik kita menghancurkan hal-hal yang jahat dalam diri kita ketimbang kita menghancurkan pihak lain yang kita anggap jahat.Danang Bramasti, SJ - Romo Antonius Danang Bramasti SJ

 

Teman-teman yang terkasih,

Bagaimana dunia ini bisa terpecah belah, saling bermusuhan, dan bahkan saling membunuh? Salah satu penyebabnya adalah pandangan tentang KAMI-MEREKA. Mungkin terdengar aneh namun ini sungguh nyata. Bagaimana prosesnya?

Teman-teman mungkin sudah mendengar tentang Haringga Sirla (23), seorang supporter Persija yang tewas dikeroyok bobotoh atau supporter Persib. Mengapa hal itu bisa terjadi? Pada saat kejadian, Haringga berada di tengah kelompok supporter Persib. Mereka mengetahui bahwa ternyata Haringga bukanlah suporter Persib. Ia kemudian dihajar masa sampai mati. Sederhana sekali kasus ini, ia dibunuh karena ia bukan bagian dari mereka. Ini sungguh tragis dan sadis.

Dalam buku yang berjudul The Origin of Satan yang ditulis oleh Elaine Pagels, tertulis bahwa salah satu asal muasal setan adalah ketika ada seorang atau sekelompok orang yang dianggap bukan bagian dari mereka. Maka terbentuklah kelompok kami dan kelompok mereka. Lebih jauh dikatakan bahwa kelompok kami lebih baik dari kelompok mereka. Muncullah kelompok yang merasa baik dan kelompok mereka yang dianggap tidak baik.

Perseteruan semakin meningkat, kelompok kami adalah kelompok baik dan mereka adalah kelompok yang jahat. Kemudian meningkat lagi bahwa kelompok kami yang baik ini harus menumpas kelompok mereka yang jahat. Puncakmya adalah kelompok kami harus hidup dan kelompok mereka yang jahat harus musnah. Mengapa? Karena yang jahat adalah representasi dari setan yang harus dilenyapkan.

Pandangan kami-mereka ini menghinggapi kelompok-kelompok yang sangat eksklusif dan merasa yang paling benar atau baik. Lebih parah lagi jika kelompok ini merasa berada dipihak Tuhan. Dengan demikian kelompok yang bukan bagian dari kami adalah kelompok setan yang harus dilenyapkan. Tidak heran kelompok yang merasa dipihak Tuhan dapat membunuh orang-orang yang dianggap berada dipihak setan. Mereka membunuh dengan perasaan bangga karena merasa dipihak Tuhan. Mereka tidak pernah merasa bersalah sedikitpun.

Lalu, bagaimana kita dapat menghindari pandangan soal kami-mereka’ ini? Bacaan Injil memperlihatkan bagaimana Yesus memperlakukan orang yang dianggap bukan bagian dari ‘kami. Ada dua hal yang disampaikan oleh Yesus. Pertama, Yesus mengatakan bahwa barang siapa tidak melawan kita ia berada dipihak kita. Kedua, Yesus juga mengatakan barang siapa memberi secangkir air karena kamu muridKu pada orang kecil ini, kamu tidak akan kehilangan upahmu. Apa maknanya?

Pertama, mereka yang bukan kami tetapi memiliki visi yang sama adalah juga bagian dari kami. Mungkin kita tidak mengenal mereka, atau mungkin mereka berbeda suku, ras, agama, ataupun bahasa tetapi memperjuangkan perdamaian, berarti mereka adalah bagian dari kami. Yesus tidak mempersoalkan perbedaan yang penting adalah niat baik untuk memperjuangkan kehidupan. Dengan demikian Yesus merangkul perbedaan golongan dan mengutamakan visi.

Kedua, orang-orang kecil seperti pengemis, orang cacat, penderita penyakit kusta, dan yang dianggap rendah pada jaman Yesus dianggap pendosa. Mereka menjadi seperti itu karena dosa mereka ataupun dosa orang tuanya. Mereka adalah orang-orang yang tersingkir dan disingkirkan. Oleh Yesus, mereka yang tentu saja bukan bagian dari kami, justru sangat diperhatikan. Bahkan mereka dapat menjadi jalan bagi kami menuju keselamatan. Misalnya, hanya dengan member secangkir air pada mereka.

Kedua hal ini memperlihatkan bahwa Yesus mendobrak pandangan kami-mereka’ dan menyadarkan para murid bahwa semua harus diselamatkan. Tidak ada lagi pandangan bahwa ‘kami’ baik dan ‘mereka’ jahat yang harus dimusnahkan. Pernyataan Yesus bahwa kelompok yang bukan bagian dari ‘kami itu juga baik tentu membingungkan para murid. Pada saat itu para murid merasa berada dalam kelompok yang sangat hebat siap menghancurkan siapapun yang dianggap jahat. Pernyataan Yesus itu membuat mereka bertanya-tanya: Lalu siapa yang harus dimusnahkan? Atau lebih tepatnya siapa yang kita lawan? Siapakah musuh kami?

Menghadapi situasi itu Yesus memberi penjelasan yang menarik. Alih-alih melihat kejahatan mereka, Yesus mengajak melihat pada diri sendiri. Ia menjelaskan jika tanganmu membuatmu sesat, potong saja. Jika kakimu menyesatkan, potong saja. Jika matamu menyesatkan, cungkil saja. Menurut Yesus: lebih baik kita menghancurkan hal-hal yang jahat dalam diri kita ketimbang kita menghancurkan pihak lain yang kita anggap jahat.

Berhadapan dengan kajahatan di dunia ini, Yesus mengajak kita untuk melihat kedalam, melihat kekurangan diri sendiri dan memperbaikinya. Jika ada yang tidak baik, lekaslah dibuang. Dan jika masing-masing dari kita sudah berperilaku baik maka dunia ini juga akan menjadi baik. Tidak ada lagi kelompok yang merasa superior dan menganggap kelompok lain sebagai inferior yang harus dilenyapkan.

Kasus Haringga hanyalah salah satu dari fenomena kami-mereka’ yang menyesatkan. Banyak kasus lain di dunia ini yang berasal dari fenomena tersebut. Kasus di Timur Tengah yang selalu konflik hebat memperihatkan hal itu. Mereka tidak peduli pada ‘mereka’ yang dianggap jahat. Hal terpenting adalah hancurkan mereka. Hal ini menyebabkan perang yang tak berkesudahan, Membunuh sesama manusia adalah hal yang biasa bahkan dilakukan dengan sadis. Sepanjang orang itu bukan bagian dari kami harus dihancurkan. Dampak dari pandangan ‘kami-mereka memang sungguh mengerikan.

Oleh karena itu, teman-teman yang terkasih, marilah kita mohon rahmat pada Tuhan agar kita tidak menjadikan perbedaan sebagai pemisah antara kami dan mereka namun kita dapat merangkul seluruh perbedaan dengan kesadaran bahwa kita semua ini adalah bagian dari rencana keselamatan Tuhan. Jangan ada lagi pandangan kami-mereka yang menghancurkan.

 

Salam,

Profil Penulis

romo danang.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ

Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta.

Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.