piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia
Image1\

BROT Minggu, 29 Juli 2018 - Hari Minggu Biasa XVII

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Yoh. 6:1-15

Yoh 6:1 Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang danau Galilea, yaitu danau Tiberias.
Yoh 6:2 Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mujizat-mujizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit.
Yoh 6:3 Dan Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya.
Yoh 6:4 Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat.
Yoh 6:5 Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: "Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?"
Yoh 6:6 Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya.
Yoh 6:7 Jawab Filipus kepada-Nya: "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja."
Yoh 6:8 Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya:
Yoh 6:9 "Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?"
Yoh 6:10 Kata Yesus: "Suruhlah orang-orang itu duduk." Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya.
Yoh 6:11 Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki.
Yoh 6:12 Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang."
Yoh 6:13 Maka merekapun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan.
Yoh 6:14 Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: "Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia."
Yoh 6:15 Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Das Geheimnis der Brotvermehrung

Sumber : https://www.buhv.de/kirche/material-oeffentlichkeitsarbeit/brotvermehrung-heisst-teilen.html

Homili:

Mujizat: Peka – Optimis-solider-berbagi

Ist mein Glass halbleer oder halbvoll? - Romo Dr. Fidelis Waton SVD

 

Kisah tentang orang banyak yang dikenyangkan Yesus lewat perbanyakan roti dan ikan termasuk kisah yang sangat terkenal dalam kitab suci dan kita kenal kisah ini sejak kecil. Lazimnya kita mengategorikan warisan tertulis ini sebagai mujizat, artinya suatu hal yang berada di luar batas kesanggupan manusia, suatu keajaiban yang tak bisa dijelaskan dengan akal budi kita. Jika kita berhadapan dengan mujizat dalam injil, maka kita tentu segera mengagung-agungkan Yesus sebagai figur luar biasa; dan tentu karena mujizat demikian maka Yesus dipercayai dan diikuti hingga saat ini. Saya mengajak kita untuk melihat secara jeli apa yang hendak disampaikan lewat cerita mujizat, karena Yesus hidup dalam konteks budaya bangsa-Nya. Kekhasan budaya bangsa Yahudi adalah penggunaan perumpamaan atau tanda untuk menyampaikan pesan-pesan yang bernas kepada para pendengar. Oleh karena itu kita hendaknya berani meninggalkan kaca mata muijizat dan berusaha melihat secara kritis apa yang sesungguhnya terjadi dan dari sana kita bisa memetik pesan yang berguna untuk hidup kita. Saya coba menelusuri kisah ini dan hendak menghadirkan beberapa gagasan berikut:Pertama, kepekaan terhadap apa yang terjadi. Orang banyak mengikuti Yesus dan mereka kekurangan makanan. Kekurangan yang dialami demikian hanya bisa kita ketahui, jika kita peka terhadap orang lain dan bukannya bermasa bodoh. Ada begitu banyak kesulitan yang ada di sekitar kita, yang menimpa sesama kita entah materi maupun non materi: Apakah mata kita terbuka untuk melihat apa yang terjadi? Yang dibutuhkan di sini bukan sekedar mata dalam artian indra penglihatan, terlebih lagi mata hati yang peka. Jika mata hati kita peka, maka kita pasti sangat sensibel terhadap apa yang sedang dialami sesama kita. Hal yang sama sangat penting di tengah dunia pertemanan. Teman yang baik bisa melihat dan merasakan apa yang sedang dialam temannya cukup dengan membaca raut wajahnya. Mujizat perbanyakan roti tersebut hanya terjadi karena ada kepekaan. Kepekaan sosial sangat diperlukan dalam hidup bersama khususnya di tengah dunia dewasa ini sangat individualistis dan dipengaruhi media viral yang acapkali menjauhkan kita dari realitas. Kedua, mujizat ini terjadi bukannya dari kekosongan atau ketiadaan, melainkan ia terjadi dari apa yang telah ada, biarpun hanya sedikit jumlahnya. Terhadap apa yang ada dan yang kita miliki hendaknya kita bukannya bersikap pesimis, melainkan optismis. Yang hendaknya dilihat adalah apa yang ada, bukannya kekurangan yang ada. Seorang yang pesimis selalu melihat air dalam gelasnya setengah kosong, sedangkan yang optimis tentu menilainya sebagai setengah penuh. Jika kita hendak merubah diri dan dunia di sekitar kita, maka sikap optimis harus kita pegang dan bukannya pesimis. Orang yang optimis akan selalu bersikap positif: Ia mensyukuri apa yang ada dan bukannya meratapi kekurangan atau sedikit yang dimilikinya. Ketiga, jika kita bersama-sama memberikan sedikit yang kita miliki, pasti akan menjadi banyak. Jika masing-masing hanya mempertahankan sedikit yang dimilikinya, tentu tidak akan terjadi semangat solider. Solider hanya bisa ada jika kita membiarkan orang lain mengambil bagian pada sedikit yang kita miliki. Keempat, mujizat dalam injil ini sebenarnya adalah mujizat syering, saling membagi. Sikap membagi sangat penting bagi hidup bersama. Jika kita saling membagi, tentu tidak ada yang kelaparan, mungkin juga tidak ada yang memiliki sesuatu dalam kelimpahan. Kepekaan, optimis, solidaritas dan berbagi merupakan pesan utama yang hendak diwartakan Yesus lewat kisah injil Minggu ini. Sikap-sikap demikian menjadi tiang utama bagi hidup bersama para pengikut Yesus. Amin.

 

Salam,

Profil Penulis

romo fidelis.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universitaet zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.