piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia
Image1\

BROT Minggu, 24 September 2017 - Hari Minggu Biasa XXV

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 20:1-16a (Hari Minggu Biasa XXV)

Mat 20:1 "Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.

Mat 20:2 Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.

Mat 20:3 Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar.

Mat 20:4 Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan merekapun pergi.

Mat 20:5 Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi.

Mat 20:6 Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?

Mat 20:7 Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.

Mat 20:8 Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu.

Mat 20:9 Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar.

Mat 20:10 Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi merekapun menerima masing-masing satu dinar juga.

Mat 20:11 Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu,

Mat 20:12 katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.

Mat 20:13 Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?

Mat 20:14 Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.

Mat 20:15 Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Mat 20:16 Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir."

Sumber http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

arguing-with-god

Sumber : http://pmdn.blogspot.de/2016/02/protes-kepada-tuhan.html

Homili:

MAU PROTES PADA TUHAN...
NGACA DULU DONK..


Ketika kita melihat persoalan hanya sekitar diri kita sendiri
maka seolah-olah kita adalah orang yang paling sengsara di dunia
dan kemudian protes kepada Tuhan.
Danang Bramasti, SJ

Teman-teman terkasih,

Apakah kita sering protes kepada Tuhan?

Suatu ketika saya menghadiri perayaan ulang tahun seorang yang sudah berusia 90 tahun. Saat sebelum meniup lilin, hadirin bernyanyi: “Panjang umurnya.. panjang umurnya.. panjang umurnya serta muliaa..” Tiba-tiba yang berulang tahun protes keras: “Stoopp.. saya itu sudah 90 tahun dan sudah ingin mati, koq kalian nyanyi panjang umurnya..!” Saya tertawa agak keras. Yang berulang tahun menatap saya dengan tajam. “Saya itu setiap hari berdoa supaya dipanggil Tuhan tetapi kenapa Tuhan tidak mengabulkan doa saya.” Sayapun terdiam.

Dikesempatan lain, saya memberi minyak suci pada seorang bapak usia 50 tahun yang sudah menjelang ajal tetapi ia masih sadar. Saat saya berdoa, ia memegang tangan saya erat-erat dan berkata, “Tolong romo, doakan saya supaya tetap hidup. Saya tidak siap!” keluarganyapun berharap supaya bapak tetap hidup. Saya mencoba menghiburnya dengan mengatakan, “Tenang pak, yang penting bapak yakin bahwa akan tetap hidup.” Ia nampak tenang tetapi keesokan harinya ia meninggal dunia.

Suatu hari, saya kedatangan seorang ibu yang hamil. Ia nampak lusuh dan terlihat lelah. Ia berkisah bahwa anaknya sudah empat tetapi mengapa sekarang hamil lagi. Apalagi ia sudah ikut KB tetapi kenapa hamil juga. Ia mengeluh karena pendapatannya sebagai tukang cuci sangat minim sementara suaminya kerja serabutan sebagai kernet angkot. Ia merasa tidak akan sanggup menghidupi anaknya ini. Ia ingin menggugurkan kandungannya ini.

Sementara itu, saya kedatangan tamu sepasang suami istri yang sudah menikah 10 tahun tetapi belum mendapatkan anak juga. Mereka telah melakukan banyak cara untuk mendapatkan anak tetapi gagal. Mereka akan melakukan tindakan terakhir yaitu dengan cara bayi tabung. Mereka tahu bahwa itu berdosa karena metode itu mengandung unsur pembunuhan. Tetapi mereka akan nekad karena merasa Tuhan tidak memperhatikan doa mereka.

Suatu ketika saya naik bis antar kota. Ketika saya hendak membayar ongkos bis, kondektur bis mengatakan, tidak usah romo. Saya kaget juga dia tahu kalau saya romo. Rupanya ia lulusan sekolah Katolik terkenal yang mengenal saya. Sebelum saya tanya ia berkisah bahwa sebenarnya ia ingin sekali kuliah tetapi ia harus bekerja untuk membiayai adik-adiknya yang masih kecil. Sementara ada mahasiswa yang kuliah di kampus swasta ternama dengan bayaran yang sangat mahal tetapi nampak malas kuliah, mengeluh karena banyak tugas, dan seringkali juga mengeluh soal dosen.

Teman-teman terkasih,

Kisah-kisah itu hanyalah sebagian kecil dari banyak kisah yang memperlihatkan bahwa keinginan mereka ternyata tidak sama dengan keinginan Tuhan. Mereka akhirnya protes keras kepada Tuhan mengapa keinginn mereka tidak terkabul.

Silahkan teman-teman melihat kisahnya masing-masing yang nampaknya bertentangan dengan kehendak Tuhan. Lalu lihatlah kisah orang lain yang juga merasa tidak sejalan dengan kehendak Tuhan. Mungkin kita akan tersenyum sendiri atau bahkan malu sendiri.

Ada yang protes ingin segera mati tetapi tidak juga cepat mati. Ada yang ingin tetap hidup tetapi malahan dipanggil Tuhan. Ada yang ingin punya anak tetapi orang yang sedang hamil malah ada yang ingin menggugurkan kandungannya. Ada pula yang protes kepada Tuhan karena tidak bisa kuliah sementara yang kuliah malah ogah-ogahan.

Ketika kita melihat beragam persoalan yang bermuara pada protes kepada Tuhan, kita mungkin dapat berkaca pada diri sendiri dan bertanya, “Layakkah aku protes pada Tuhan?” Ketika kita melihat persoalan hanya sekitar diri kita sendiri maka seolah-olah kita adalah orang yang paling sengsara di dunia dan kemudian protes kepada Tuhan. Tetapi ketika kita membuka mata hati kita untuk melihat kondisi orang lain di sekitar kita, mungkin kita akan menangis tersedu penuh syukur karena menyadari bahwa Tuhan itu baik.

Teman-teman yang terkasih,

Dalam bacaan Injil, para pekerja yang bekerja lebih dahulu protes kepada tuannya, mengapa mereka yang bekerja terakhir dan hanya sejam saja mendapat upah yang sama. Dalam Injil, mereka jatuh dalam dosa iri hati. Namun sebenarnya persoalan yang lebih dalam adalah mereka tidak mau tahu dengan situasi orang lain. Mereka hanya melihat diri mereka sendiri.

Kalau kita perhatikan, para pekerja yang ditawari bekerja itu memiliki latar belakang yang berbeda. Para pekerja yang bekerja diawal merupakan pekerja yang profesional sehingga mereka siap bekerja kapanpun. Namun pekerja yang kemudian bukanlah pekerja profesional sehingga tidak ada yang mau memberi pekerjaan kepada mereka. Apa lagi yang bekerja diakhir hari, nampaknya mereka adalah orang-orang yang terbuang sehingga tidak ada seorangpun yang mau mempekerjakan mereka.

Perumpaan Yesus ini mau mengajak kita untuk berani melihat situasi di sekitar kita terutama pada mereka yang tersingkir atau terbuang. Mestinya para pekerja yang bekerja diawal hari ikut bahagia karena mereka yang tersingkir dapat tertolong. Namun mereka tidak bersyukur malahan protes karena merasa diperlakukan tidak adil. Sebenarnya mereka bukan bicara soal keadilan tetapi mereka terjerat iri hati.

Keadilan Tuhan adalah membayar sesuai perjanjian. Tuhan ingin semua selamat. Tuhan melihat dalam konteks keselamatan dan bukan soal ekonomi. Dalam konteks rohani akan terlihat jelas keadilannya yaitu dosa berat maupun dosa ringan akan diampuni.

Teman-teman yang terkasih,

Puncak hidup orang beriman ditandai dengan ungkapan syukur. Namun seringkali iri hati membuat kita tidak mampu melihat kebaikan Tuhan dan yang muncul adalah protes dan keluhan. Olah karena itu marilah kita belajar melihat situasi dan kondisi sekitar kita dan kita akan mengerti betapa baiknya Tuhan. Lalu bersyukurlah dengan penuh haru...

Salam,

Profil Penulis

antonius.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.