BROT

Bimbingan Rohani Online

BROT Minggu, 26 Mei 2019 - Hari Minggu Paskah VI

Blog Single

Bacaan Injil : 

Yoh 14:23 Jawab Yesus: "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. 

Yoh 14:24 Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku. 

Yoh 14:25 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; 

Yoh 14:26 tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. 

Yoh 14:27 Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. 

Yoh 14:28 Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku. 

Yoh 14:29 Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Homili : Damai Sejati Hanya Datang dari Tuhan

„Damai bermula dalam hati – Frieden beginnt im Herzen“

Suasana di tanah air kita Indonesia sebelum, selama dan pasca Pilpres 2019 ditandai oleh pertarungan sengit antara kebenaran dan kebohongan (hoax). Pasca Pilpres banyak yang bergembira atas kemenangan Joko Widodo sebagai personifikasi kebenaran. Para pemilih Indonesia dinilai waras. Fakta ini tidak bisa diingkari, namun bahwa masih begitu banyak warga Indonesia yang mengikuti kebohongan atau hoax justru menjadi peringatan serius buat kita. Jika kita berpikir lebih jauh fenomen maraknya pengikut hoax sangat menyedihkan dan menjadi genderang matinya akal budi dan nurani. Pendidikan di keluarga, agama, sekolah dan perguruan tinggi sepertinya dijadikan bahan lelucon di tengah maraknya kebohongan. Yang jelas-jelas bohong justru masih diikut dan begitu mudah orang membiarkan diri dimanipulasi, diadudomba, dibayar dan dihasut oleh kiat politik dari para politisi yang busuk. Celakanya kiat para politikus yang busuk dan yang bernafsu untuk berkuasa melakukan perkawinan maksiat dengan agama. Banyak yang menyerukan dan memperingati agar agama tidak boleh dipolitisasi. Ketika agama dipolitisasi dan diinstrumentalisasi sebagai kendaraan politik, maka yang ada bukannya ketenangan dan damai, melainkan konflik dan huru-hara. Di sini kita juga tidak boleh menutup mata bahwa bukan saja agama diperalat, tetapi agama juga hendak memperalat politik untuk memuluskan ambisi politiknya yakni mendirikan negara yang berbasiskan agama. 

Dua aspek ini (instrumentalisasi agama oleh politik dan instrumentalisasi politik oleh agama) sangat membahayakan kehidupan bersama yang aman dan damai. Tak mengherankan jika bahwa banyak warga bumi ini yang meragukan misi agama sebagai pembawa atau pencipta damai. 

Dalam amanat perpisahan-Nya Yesus mengatakan: „Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu.“ Yesus meninggalkan damai sebagai warisan mulia buat umat manusia. Yesus sadar bahwa damai sejati tidak pernah diberikan oleh dunia. Apa maksud Yesus dengan pernyataan ini? Bukankah yang mengusahakan damai haruslah manusia yang menghuni bumi ini? Apakah damai yang dibicarakan Yesus adalah damai yang jatuh dari langit bagaikan mujizat? 

Damai sejati hanya berasal dari Tuhan – bukan berarti damai itu hanya ada jika Tuhan secara langsung turun tangan dan menegakkan damai. Tuhan menghadirkan damai-Nya ke hati dan budi manusia. Di sini beberapa hal berikut sangat menentukan: Pertama, gambaran Tuhan manalah yang dimiliki manusia? Jika orang yang memiliki gambaran Tuhan yang otoriter, yang suka akan kekerasan, yang mendikotomi dan mendiskriminasi, Tuhan yang tidak boleh dilawan, maka orang yang mengikuti figur Tuhan demikian pasti tidak akan membawa damai. Damai tidak akan pernah dicapai dengan kekerasan dan bahkan nama Tuhan atau Allah dipakai untuk melegitimasi atau membenarkan sikap manusia yang bohong dan jahat. Kembali kita menengok ke tanah air: Para pengikut kebohongan menggariskan perjuangan mereka sebagai kehendak Allah. Gambaran Allah demikian wajib dibongkar dan dihilangkan. Kedua, mungkin juga agama menghadirkan gambaran Tuhan yang baik, namun manusia yang jahat akan menggelapkan gambaran Tuhan yang baik tersebut dmei kepentingan sempitnya. Tuhan diperalat. Ketiga, damai yang sejati dari Tuhan hanya ada untuk orang yang berpikir benar dan berhati nurani yang baik; orang yang sanggup membedakan yang baik dan benar, yang sangup mengikuti suata hatinya yang baik dan menggunakan otaknya yang waras agar ia tidak dimanipulasi oleh iming uang dan makanan gratis. 

Damai sejati yang diberikan Tuhan hanya ada dalam diri manusia yang baik baik dari segi budi maupun nurani. Hanya orang yang baik dan berbudi murnilah yang membuka hati dan pikirannya kepada Tuhan. Ia akan membiarkan diri diubah dari dalam oleh Tuhan. Andaikan manusia jenis ini banyak, maka akan ada perdamaian di antara manusia di dunia ini. Damai itu harus pertama ada dalam diri. Jika damai tersebut telah ada dalam diri setiap orang, maka akan ada damai di keluarga, masyarakat, agama dan dunia. Amen.