BROT

Bimbingan Rohani Online

BROT Minggu, 16 Juni 2019 - Hari Raya Tritunggal Mahakudus

Blog Single

Bacaan Injil : 

Yoh 16:12 Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. 
Yoh 16:13 Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. 
Yoh 16:14 Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku. 
Yoh 16:15 Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

 

Homili : Hari Raya Tritunggal Yang Mahakudus

 

„Kalau Tuhan itu bisa diselami, dipahami seluruhnya oleh akal budi manusia, maka Dia bukan lagi Tuhan“ (Agustinus) 

 

Kita merayakan hari Raya Tritunggal Mahakudus, rahasia terdalam iman Kristiani. Lazimnya kita mengawali dan mengakhiri ibadat dan juga kegiatan kita dengan melakukan tanda salib, yang menandakan Trinitas Mahakudus; Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Keyakinan kepada Allah Tritunggal acapkali menyebabkan para penganut Kristen terjerumus ke dalam kritik bahwa kita percaya pada tiga Allah. Padahal kita percaya akan satu Allah yang menyatakan diri dalam tiga pribadi yakni sebagai Bapa (sumber, asal, pencipta dan penyelenggara hidup kita), Yesus Kristus (Allah Putera yang datang untuk menebus kita) dan Roh Kudus (daya kekuatan dalam diri kita, motor hidup kita). 

Rahasia Tritunggal memang tidak mudah dijelaskan seluruhnya dengan akal budi manusia yang terbatas. Para teolog dan filsuf banyak berdebat sekitar Tritunggal mahakudus dalam perjalanan sejarah. Pelbagai upaya untuk menjelaskan hakikat Tuhan, terutama hakikat Allah Tritunggal yang Mahakudus pada akhirnya tidak bisa memuaskan seluruhnya. Tak heran kata Santo Agustinus: „Kalau Tuhan itu bisa diselami, dipahami seluruhnya oleh akal budi manusia, maka Dia bukan lagi Tuhan“. 

Rahasia Allah Tritunggal Yang Mahakudus pada prinsipnya menghadirkan gambaran Tuhan sebagai Yang Mahacinta. Injil Yohanes menulis: Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengutus Putera-Nya untuk menebus dan menyelamatkan kita. 

Apa yang diwartakan Yesus adalah gambaran Tuhan sebagai Dia yang mencintai dunia, Tuhan yang Mahacinta. Allah yang Mahacinta inilah yang telah menciptakan dunia dan segala isinya. Kelak ketika manusia jatuh ke dalam dosa, Tuhan tidak pernah menganulir pernyataan cinta-Nya. Cinta-Nya lebih lagi dinyatakan secara jelas dalam diri Yesus, yang diutus untuk menebus kita. Karya penebusan Yesus disempurnakan dan dipercayakan kepada kita untuk menyebarluaskannya dengan pencurahan Roh Kudus. 

Bila Tuhan kita adalah Dia yang Mahacinta, yang mencintai kita semua tanpa batas  biarpun kita acapkali tidak membalas kasih-Nya, maka tak ada tugas lain yang kita emban yakni hidup dalam semangat saling mengasihi. Hidup dalam semangat saling mengasihi berarti kita bersikap seperti Tuhan, yang sabar terhadap kita semua, yang menerima kita dengan segala kekuatan dan kelemahan kita. Hendaknya kita juga belajar untuk menerima dan berdamai dengan kelemahan sesama dan tidak cepat memvonis. Allah Tritunggal adalah Allah kebersamaan dan Dia menghendaki kita semua untuk hidup dalam kebersamaan atau persekutuan dengan-Nya dan dengan sesama kita. Hidup dalam kebersamaan seperti di keluarga, masyarakat, KMKI, hanya berhasil jika kita saling mengasihi, saling menerima secara jujur dan tulus. Inilah pesan penting dari hari Raya Tritunggal yang Mahakudus. 

Dalam perjanjian Lama, dalam kisah penampakkan Tuhan kepada Musa dari dalam belukar duri yang bernyala toh tidak terbakar, Tuhan memperkenalkan Diri sebagai Dia yang ada, Dia yang ada untuk kita, yang ada bersama kita. Nama Tuhan demikian kelak direalisasikan secara konkret dalam diri Yesus, sang Imanuel: Allah beserta kita. Oleh karena itu rahasia Allah Tritunggal secara sederhana bisa dirumuskan sebagai „Tuhan di atas kita (yang menciptakan dan memberkati kita), Tuhan bersama kita (yang berjalan bersama kita) dan Tuhan dalam diri kita (yang berkemah dalam diri kita dan menjadikan hidup kita sebagai tempat kediaman-Nya). Bila Tuhan, ada di atas kita, berjalan bersama kita, dan ada dalam diri kita, maka tak ada hal yang lebih baik yang kita lakukan selain bersyukur kepada-Nya dengan hidup satu bagi yang lain. Kiranya Tuhan menyertai kita selalu dengan Roh-Nya. Amin. 

 

Profil Penulis : 

Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores
Alumnus Humboldt Universitaet zu Berlin
Pamong Rohani KMKI
Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin