BROT

Bimbingan Rohani Online

BROT Minggu, 07 Juli 2019 - Hari Minggu Biasa XIV

Blog Single

Bacaan Injil : 

Yes 66:10 Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. 
Yes 66:11 supaya kamu mengisap dan menjadi kenyang dari susu yang menyegarkan kamu, supaya kamu menghirup dan menikmati dari dadanya yang bernas. 
Yes 66:12 Sebab beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku mengalirkan kepadanya keselamatan seperti sungai, dan kekayaan bangsa-bangsa seperti batang air yang membanjir; kamu akan menyusu, akan digendong, akan dibelai-belai di pangkuan. 
Yes 66:13 Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu; kamu akan dihibur di Yerusalem. 
Yes 66:14 Apabila kamu melihatnya, hatimu akan girang, dan kamu akan seperti rumput muda yang tumbuh dengan lebat; maka tangan TUHAN akan nyata kepada hamba-hamba-Nya, dan amarah-Nya kepada musuh-musuh-Nya.   

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

 

Homili : Tuhan sebagai Ibu

 

„Ibu kami yang ada di surga“

 

Dunia dan hidup ini ditandai prinsip yang kontradiktif, namun saling melengkapi: Ada arus positif dan negatif, langit dan bumi, darat dan laut, jantan dan betina, pria dan perempuan, maskulin dan feminin. Mayoritas budaya dan agama serta bahasa yang ada di dunia ini berhaluan maskulin atau patriarkal. Kitab suci – baik perjanjian lama maupun perjanjian baru menghadirkan begitu banyak gambaran Tuhan sebagai Bapa yang nota bene adalah laki-laki. Lazimnya Tuhan ditampilkan sebagai Bapa atau Opa atau pria yang berjenggot. Dua penamaan untuk Allah Tritunggal yang Mahakudus sebagai yang berjenis kelamin pria: Bapa dan Putra. Kata asli bahasa Ibrani untuk unsur ketiga „Roh“ atau Roh Kudus dalam Trinitas berjenis feminin. Yesus selalu menyapa Tuhan sebagai „Abba“ artinya Bapa.

Kita ingat akan doa yang diwariskan Yesus kepada kita yakni „Bapa Kami“. Jika kita menelusuri kitab suci secara teliti, di sana ditemukan bukan saja gambaran Tuhan sebagai Bapa, melainkan juga sebagai Ibu. Kitab suci tidak asing dengan aspek feminitas Tuhan. Dalam kisah penciptaan, Tuhan menciptakan manusia menurut citra-Nya, dan Tuhan menciptakan manusia sebagai pria dan perempuan. Di sana tidak dilansir bahwa Tuhan itu laki-laki. Gambaran Tuhan adalah pria dan perempuan. Penamaan Tuhan yang lumayan tua dalam tradisi Israel adalah Yahweh. Kata ini tidak berasosiasi baik maskulin maupun feminin. Aspek feminitas atau keperempuanan Tuhan dihadirkan secara transparan di antaranya:

Pertama, Tuhan ditampilkan sebagai yang Maharahim. Di sini Tuhan dihadirkan sebagai ibu yang dari rahimnya setiap manusia berasal. Rahim Tuhan di sini dilihat sebagai tempat hidup yang aman dan damai. Dalam Tuhan yang Maharahim ada hidup, kasih, kemurahan hati, damai dan pengampunan yang tidak mengenal batas.

Kedua, bacaan dari kitab nabi Yesaya Minggu ini menghadirkan Tuhan sebagai ibu. Ibu demikian menyusui kita sampai kenyang, menggendong dan membelai-belai kita dalam pangkuannya.

Jika hidup dan dunia ini ditandai kontradiksi yang saling melengkapi, maka tidak cukup jika kita hanya memiliki gambaran dan pemahaman Tuhan sebagai pria atau Bapa. Tuhan harus dilihat dan dipahami sebagai perempuan atau ibu. Bahkan jika kita kembali ke gambaran Tuhan sebagai yang Maharahim, kita justru melihat bahwa aspek feminitas atau keibuan Tuhan sangat dekat dan menentukan hidup setiap manusia sejak awal, karena rahim adalah tempat hidup setiap manusia yang pertama.

Setiap manusia berasal dari Bapa dan Ibu. Kita ada karena ada Bapa dan Ibu. Oleh karena itu sudah waktunya kita harus membongkar gambaran kita tentang Tuhan sebatas Bapa dan mari kita mengembangkan gambaran Tuhan sebagai ibu. Pemahaman Tuhan sebagai Bapa hanyalah satu sisi dari Tuhan. Tuhan memiliki sisi yang lain yakni sebagai ibu, seperti setiap manusia – baik pria maupun perempuan memiliki unsur feminitas dan maskulin dalam diri.

Hidup bersama dalam segenap aspek akan membahagiakan kita jika kedua bagian ini – kelelakian dan keperempuan – ada, dihargai dan diberi kesempatan untuk menatanya. Pria dan perempuan tidak boleh disamaratakan, melainkan tetap dihargai sebagai yang berbeda, namun perbedaan itu bukan untuk memecahkan atau memisahkan, melainkan untuk saling melengkapi.

Lazimnya kita berdoa „Bapa kami yang ada di surga“. Tidak salah juga jika kita berdoa „Ibu kami yang ada di surga“ atau bisa juga kita berdoa dalam konteks kebersamaan yang saling melengkapi „Bapa dan Ibu kami yang ada di surga“. Amin  

 

Profil Penulis : 

Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores
Alumnus Humboldt Universitaet zu Berlin
Pamong Rohani KMKI
Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin