piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia
Image1\

BROT Minggu, 28 Mei 2017 - Hari Minggu Paskah VII

brot logo v1

Bacaan Injil: YOH 17: 1-11a

Yoh 17:1 Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata: "Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.
Yoh 17:2 Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya.
Yoh 17:3 Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.
Yoh 17:4 Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.
Yoh 17:5 Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.
Yoh 17:6 Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu.
Yoh 17:7 Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu.
Yoh 17:8 Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
Yoh 17:9 Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu
Yoh 17:10 dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka.
Yoh 17:11 Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.
Sumber http://www.imankatolik.or.id/kalender.phpYoh. 17:1-11a

 

Das Leben

Sumber : https://jugenddoberan.files.wordpress.com/2010/10/das-leben.jpg

Homili:

„HIDUP KEKAL = MENGENAL TUHAN“

Dengan adanya jaringan sosial di internet seperti Facebook dan Twitter, maka tersedia begitu banyak peluang untuk mengenal orang lain dan menjalin relasi dengan sesama baik relasi jarak dekat maupun jauh. Tak sedikit yang menggunakan media dunia maya untuk saling mengenal, yang berujungkan pacaran, bahkan pernikahan. Di samping itu media sosial ini juga dimanfaatkan untuk menyebarluaskan gosip. Media sosial juga dimanfaatkan sebagai kekuatan demokrasi mengalir, sebagai ajang konsolidasi kekuatan demi memperjuangkan suatu tujuan bersama, seperti aksi solidaritas terhadap Ahok.

Tak sedikit orang yang bersikap skepsis dan kritis terhadap relasi yang dirajut melalui media sosial. Tentu saja yang tak tergantikan adalah relasi langsung, pertemuan antarpribadi tanpa media. Meskipun begitu fakta ini tidak menegasi fungsi relasi sosial yang ditawarkan media. Kebutuhan untuk berkontak dengan orang lain menjadi salah satu motivasi dasar misalnya jika seseorang membuka akun di Facebook atau Twitter.

Dalam penggalan injil Minggu ini – yang diangkat dari doa Yesus sebagai imam agung – tercatat rumusan yang berkaitan dengan kenal-mengenal: „Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.“

Bagaimana caranya agar orang bisa mengenal Tuhan, agar orang bisa belajar mengenal Tuhan? Tuhan tidak mempunyai akun facebook atau twitter. Banyak orang menamakan diri „agnostik“. Mereka tidak percaya akan adanya Tuhan, karena mereka yakin bahwa manusia tidak bisa mengenal Tuhan. Mereka juga tidak percaya bahwa ada metode yang efektif untuk mengenal Tuhan. Tuhan tidak bisa dikenal lewat metode ilmu pengetahuan.

Dalam konteks mengenal Tuhan, kitab suci memiliki model penuturan tersendiri. Penuturan atau penulisan biblis melandaskan diri pada keyakinan akan eksistensi Tuhan. Dalam langgam biblis kata „mengenal“ selalu bersifat relasional dan intim atau mendalam. Relasi pada tataran ini menjadi program sepanjang hidup.

Pengenalan Tuhan harus dimurnikan senantiasa, agar orang tidak termakan dan dimanipulasi oleh ajaran yang konon menghadirkan Tuhan, ternyata Tuhan yang ditampilkan bukanlah Tuhan yang benar. Bagi Yesus „mengenal“ berarti memurnikan gambaran Tuhan, agar gambaran yang keliru kita tinggalkan, karena gambaran Tuhan yang salah tentu akan menghasilkan tindakan yang jauh dari kehendak Tuhan yang benar.

Bagi Yesus, siapa yang mengenal Tuhan disamakan dengan hidup abadi. Pandangan ini sangat bertentangan dengan paham hidup kekal yang populer. Hidup yang kekal secara umum ditampilkan sebagai antonim untuk hidup fana dan dengan sendirinya baru akan dimulai setelah kematian.

Alkitab justru menganut pandangan yang berbeda dengan konsep umum. Secara biblis hidup kekal bukanlah urusan setelah kematian, hidup kekal justru dimulai di dunia ini, dimulai kini dan di sini.

Apa tanda hidup kekal dalam konstelasi ini? Bagi Yesus hidup kekal berarti mengenal Tuhan. Dengan ini hidup kekal berkaitan dengan relasi interpersonal manusia dengan Tuhan.

Mengenal Tuhan sebagai relasi interpersonal tentu lebih dari sekedar pengetahuan tentang Tuhan atau pengakuan mulut belaka. Sebagaimana relasi pada tataran manusia yang harus selalu dirawat, maka relasi dengan Tuhan juga harus dijalin dan dijaga sepanjang hidup. Agama dengan pelbagai instrumennya berusaha membantu orang yang beriman kepada Tuhan, agar relasi dengan Tuhan tidak pudar dan semakin mendalam dan dewasa sejalan dengan perjalanan waktu.

Dalam spirit Yesus dari Nazaret, mengenal Tuhan harus ditujukkan dengan perbuatan. Iman tanpa perbuatan adalah mati! Ubi caritas, deus ibi est! Di mana ada cinta kasíh, di sana ada Tuhan. Dengan ini iman kita bukanlah urusan privat dan personal dengan Tuhan, melainkan menjadi perkara relasi sosial. Iman dengan ini menjadi tugas dan tanggung jawab kita agar melalui hidup kita, Tuhan semakin dikenal dan disayangi banyak orang. Kitalah saksi-saksi Tuhan. Kitalah kitab suci yang hidup bagi dunia ini.

Tentu saja jalinan relasi pribadi dengan Tuhan dan terjemahan relasi dengan Tuhan dalam praksis tidak selamanya mulus, melainkan ia selalu mendapat tantangan yang luar biasa, bahkan apa yang baik yang kita sebarkan tidak selamanya disambut positif. Orang baik bukan berarti dia otomatis diterima dan dihargai. Kasus Ahok menjadi contohnya, di tengah lingkungan yang korup, justru keberadaan kebaikan dan orang yang baik sebagai bahaya yang harus diberantas, di tengah kebiasaan hidup yang gelap, justru terang menjadi ancaman. Sayangnya kegelapan sebagai musuh kebaikan acapkali dikemas begitu licik dengan label Tuhan, agama dan kitab suci.

Fenomen ini tidak asing bagi Yesus: Kebaikan-Nya dibalas dengan penyaliban. Kita yang mengikuti-Nya tentu bukan saja kita mengikuti Yesus dalam kemuliaan, melainkan juga pada jalan salib. Berangkat dari fakta ini, Yesus mendoakan para murid-Nya dahulu dan sepanjang masa, agar mereka dikuatkan dan tidak berlari dari jalan kebaikan terutama ketika kebaikan itu ditolak. Lebih dari itu, Yesus mengutus Roh Kudus agar para pengikut-Nya dikuatkan dan tetap setia berjalan pada lajur kebaikan dan kasih, agar semakin banyak orang mengenal Tuhan dan menikmati hidup kekal yang dimulai di dunia ini. Amin.

Salam,

Profil Penulis

romo_fidelis

Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universität zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.