piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia
Image1\

BROT Minggu, 21 Mei 2017 - Hari Minggu Paskah VI

brot logo v1

Bacaan Injil: YOH 14:15-21

Yoh 14:15 "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.
Yoh 14:16 Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,
Yoh 14:17 yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.
Yoh 14:18 Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu.
Yoh 14:19 Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamupun akan hidup.
Yoh 14:20 Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Yoh 14:21 Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya."
Sumber http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Mengenal Roh Kebenaran

Sumber : http://1.bp.blogspot.com/-Rils70HUy2I/Tvhn_PvNtvI/AAAAAAAAAmI/eS4S_rHsTh0/w1200-h630-p-k-no-nu/Roh+Kebenaran.jpg

Homili:

Menjadi Pengasih dengan Roh Kebenaran
Para sahabat, hari ini Injil Yohanes mencatat kata-kata Yesus: „Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku...“ Kalimat tersebut berlanjut dengan penjelasan mengenai konsekuensi apa yang akan diterima oleh orang yang mengasihi Yesus, yang melakukan perintah-Nya. Sebuah pertanyaan besar bagi banyak orang Kristen ialah, perintah yang mana? Kalau pun perintahnya jelas, pemaknaan atau interpretasi terhadap perintah itu ternyata bisa berbeda-beda, bahkan berseberangan.

Di Philippines pernah terjadi debat besar antara dua pendapat berkaitan dengan dijatuhkannya sebuah hukuman mati terhadap seorang residivis. Ajaran Katolik yang berdasarkan pesan Injil menegaskan pada keberpihakan terhadap kehidupan yang menolak hukuman mati. Namun sebagian orang Katolik berpendapat berpendapat bahwa perintah Yesus dalam Injil juga mengatakan bila orang menyesatkan ‚orang yang lemah’ hendaklah ia dikalungi batu kilangan dan diceburkan ke laut. Berarti, hukuman mati diterima. Meski berbeda pendapat, kedua kubu merasa tetap setia dalam melakukan perintah Tuhan. Para ahli kitab suci harus turun tangan untuk menjelaskan maksud pernyataan Injil tersebut.

Bisa dibayangkan betapa sulitnya memahami perintah Tuhan yang tidak kita dengar dengan telinga kita sendiri. Bahkan ketika mendengar sendiri pun belum tentu kita menangkap dengan benar kehendakNya. Interpretasi kita sering dibelokkan oleh banyak hal, baik kepentingan diri ataupun kelompok. Apalagi mengingat bagaimana Yesus mengajar para murid-Nya dengan banyak simbol dan perumpamaan.

Jadi, sekali lagi pertanyaannya ialah perintah yang manakah yang harus kita lakukan itu? Mengapa Yesus menghubungkan perintah-Nya itu dengan kasih-Nya? Mengapa tidak menghubungkannya dengan kemuliaan-Nya atau kebesaran-Nya?

Saya menemukan dalam permenungan saya bahwa hidup Yesus, kematian, serta kemuliaan-Nya bersumber pada kasih-Nya yang besar dalam Tritunggal kepada manusia. Oleh karena itu perintah manapun yang kita lakukan seharusnyalah dilandasi oleh kasih kepada Allah dan sesama. Bila kita dihadapkan pada sebuah dilema, renungkanlah apakah kasih itu ada di sana, apakah dasar keputusan kita adalah kasih atau hanyalah keuntungan diri serta kelompok?

Yesus sudah menyatakan bahwa kasih merupakan tema perintah yang utama. Injil yang kita baca di atas menegaskan adanya Roh Kebenaran yang akan mendampingi para pengasih (orang-orang yang memelihara kasih) sampai akhir jaman. Roh kebenaran inilah yang membuat kita mampu menjalankan perintah Tuhan dengan kasih (bukan keuntungan diri) sehingga kita semakin merasakan kasih Tuhan kepada kita. Dengan demikian, bila kita mengklaim diri melakukan tindakan kasih namun tidak disertai oleh kebenaran bisa jadi itu kasih yang palsu.

Bapak ibu saya pernah membuat sebuah keputusan yang mengharukan. Saya percaya bahwa mereka berbuat kasih. Mereka menjalankan perintah Yesus. Mereka sungguh para pengasih yang dikasihi Allah. Suatu kali mereka memutuskan untuk tidak terlalu banyak terlibat dalam kegiatan di paroki (Gereja). Alasannya ialah bahwa kami pada waktu itu (saya masih SD kelas 6) masih membutuhkan banyak perhatian dan bimbingan. Belakangan saya memahami bahwa mereka menghadapi dua tindakan kasih yang menimbulkan dilema. Yang pertama ialah aktivitas mereka di Gereja adalah tanda bahwa mereka mengasihi Tuhan. Namun, perhatian mereka kepada anak-anak juga wujud sebuah kasih kepada-Nya. Saya yakin, Roh Kebenaran mendampingi mereka, ada dalam diri mereka sehingga mereka mantap dengan keputusan tersebut dan bersukacita.

Itu contoh sederhana. Mungkin para sahabat memiliki contoh hidup lain yang lebih aktual. Silahkan memohon Roh Kebenaran agar membantumu menjadi pengasih Allah dan manusia yang benar. Untuk itu janganlah segan berdoa tiada henti. Bila memungkinkan, di tempat dan waktu yang teratur. Tuhan memberkati Anda semua!

Salam,

Profil Penulis

Pastur Rosa
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).