piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia
Image1\

BROT Minggu, 7 Mei 2017 - Hari Minggu Paskah IV

brot logo v1

Bacaan Injil: YOH 10:1-10

Yoh 10:1 "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok;
Yoh 10:2 tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba.
Yoh 10:3 Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar.
Yoh 10:4 Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya.
Yoh 10:5 Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal."
Yoh 10:6 Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka.
Yoh 10:7 Maka kata Yesus sekali lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu.
Yoh 10:8 Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka.
Yoh 10:9 Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.
Yoh 10:10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. Sumber http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Panggilan dan Perjalanan

Sumber : Dilukis sendiri oleh Romo Danang

Homili:

Teman-teman terkasih,
Minggu ini adalah Minggu Panggilan. Hidup adalah panggilan dan perjalanan. Masing-masing orang memiliki perjuangannya sendiri dalam melaksanakan panggilan hidupnya itu. Panggilan itu akan berhenti saat ajal tiba. Bagi teman-teman yang pernah ke stasiun kereta api di Yogyakarta atau Jakarta, pasti menjumpai suasana khas berupa panggilan kepada penumpang. Panggilan itu seperti saat kita berada di sebuah setasiun kereta api, ketika panggilan dikumandangkan, suka tidak suka, siap tidak siap, kereta akan segera berangkat. Gawat sekali jika seseorang sampai ketinggalan kereta, karena orang itu akan terhambat dalam mencapai tujuannya.

Panggilan Yesus mempunyai ciri khas yaitu bagaikan gembala yang mengenal domba-dombanya dan domba-domanya mengenal gembalanya. Yesus memanggil kita satu persatu dengan naman kita masing-masing, dan diharapkan kita mengenal panggilan Tuhan dan mengikuti-Nya. Oleh karena itu, bersiap sedialah agar kapanpun panggilan datang, kita siap memenuhi panggilan itu. Apapun panggilan itu, laksanakanlah dengan baik karena itu adalah hidup kita. Panggilan Tuhan itu suci maka cintailah dan laksanakanlah panggilan itu dalam perjalanan hidup kita sehari-hari. Anda dapat saja terpanggil sebagai seorang bapak atau seorang ibu rumah tangga yang merawat keluarga dengan penuh cinta; terpanggil dalam bidang ekonomi, pendidikan, atau kesenian; apa pun itu, jalanilah dengan penuh cinta dan suka-cita. Panggilan terbesar hidup kita adalah memuliakan dan memuji Tuhan dalam hidup kita sehari-hari dan cara kita memenuhi panggilan itu adalah dengan mengasihi. Tak ada cara lain untuk memenuhi panggilan Tuhan selain dengan mengasihi sesama ciptaan Tuhan.

Manusia juga perlu bersiap-sedia untuk panggilan yang mengakhiri kehidupan, yaitu kematian. Manusia tak pernah tahu kapan waktunya tiba. Berjaga-jagalah senantiasa karena kamu tidak tahu kapan waktunya tiba bagimu.

Berjaga-jagalah dengan berbuatlah baik kepada sesama. Ampunilah sesamamu dan jangan pernah bosan mengampuni bahkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Ampuni saja orang yang menyakitimu walau orang itu tak pernah minta maaf. Jangan mengeluh bahwa orang itu tak pernah minta maaf karena itu bukan urusan kita. Tugas kita hanyalah mengampuni. Mintalah maaf jika kita menyakiti orang lain, apakah orang itu memaafkan kita atau tidak, bukan urusan kita. Tugas kita adalah minta maaf.

Dengan berjaga-jaga, kita dapat melanjutkan perjalanan hidup ini dengan penuh suka-cita.


BERSUKA-CITALAH

Teman-temann yang terkasih,
Bersuka-citalah dalam menjalani hidup. Tanpa suka cita, perjalanan panggilan hidup akan terasa berat. Suka cita didapat dari hati yang mencinta. Tanpa cinta, tak akan pernah ada suka cita. Sang Cinta sejati adalah Tuhan sendiri. Dengan demikian suka-cita merupakan tanda yang paling jelas bagi orang yang menemukan cinta Tuhan. Hati yang mencinta adalah hati yang tak pernah lelah berjuang. Ada hati ada energi. Cinta mengatasi segala kelelahan, kebosanan, sakit hati, kecewa, dan segala kekuatan negatif lainnya.

Jika anda gemar berkebun, anda tidak akan pernah merasa lelah jika berkebun seharian, namun bagi anda yang tidak suka berkebun, diminta menyiram tanaman sejam saja sudah mengeluh. Mengapa demikian? Cinta akan membuat kita memiliki energi yang luar biasa, yang mengatasi segala kelelahan. Mungkin mereka akan menjumpai permasalahan yang sama dalam berkebun, yaitu panas, kotor, jijik, dan mungkin kecewa karena ada yang rusak, namun hanya orang yang memiliki cinta yang dapat mengatasi semua masalah itu dengan gembira hati, tetap bersuka-cita, dan tak merasa lelah.

Suka cita merupakan tanda kehadiran Tuhan. Semakin seseorang merasakan kehadiran Tuhan semakin besarlah suka cita yang ia rasakan. Bagaikan bunga yang mekar dipagi hari, penuh kesegaran, demikian pula manusia yang merasakan kehadiran Tuhan.

Orang yang berbahagia adalah orang yang dapat merasakan kehadiran cinta Tuhan. Orang akan senantiasa bersuka cita jika menyadari dan merasakan dicintai oleh Tuhan. Ketika seseorang menyadari bahwa hidupnya telah diselamatkan oleh Tuhan maka ia akan bersuka cita. Rasa suka-cita ini menggerakkannya untuk juga menyelamatkan sesamanya. Oleh karena itu, salah satu tanda orang yang bersuka-cita adalah mudah untuk dimintai tolong, mudah diajak bicara, dan tidak menjadi orang yang menakutkan bagi orang lain. Itulah salah satu ciri khas panggilan kita sebagai murid-murid Kristus yaitu melayani sesama.

Teman-teman terkasih, Dalam hal panggilan Tuhan, ada tiga hal yang perlu kita cermati, yaitu dengarkan, ikuti, dengan penuh suka cita. Memang tidak mudah untuk mendengarkan panggilan Tuhan namun kita dapat melihatnya melalui status kita masing-masing. Bagi anda yang menjadi mahasiswa atau mahasiswi, anda dipanggil Tuhan untuk belajar. Belajarlah dengan tekun dan penuh suka-cita, disaat itulah anda akan mengenal Tuhan lebih baik lagi.

Khusus Minggu Panggilan ini, kaum muda diajak untuk merenungkan hidupnya, termasuk anda semua, apakah mau menanggapi panggilan Tuhan sebagai biarawan-biarawati. Bicara panggilan hidup membiara, secara kuantitas memang sangat memprihatinkan. Panggilan hidup membiara turun terus bahkan semakin drastis. Indonesia tidak luput dari situasi memprihatinkan itu. Tahbisan imam yang dulu bisa mencapai belasan, 5 tahun terakhir ini selalu dibawah 10 orang.

Perbandingan imam dan umat Katolik adalah 1:3000. Tidak heran, di Jogjakarta, bila ada lingkungan atau keluarga yang ingin mengadakan misa selalu kesulitan untuk mencari romo. Padahal ini di Jogjakarta, pusat pendidikan para romo. Bagaimana ditempat lain, pasti lebih sulit lagi. Demikian pula para biawawati. Biara St. Ana milik susteran CB, sekarang penuh, bahkan satu kamar diisi oleh 2-3 biarawati (suster) tetapi usia mereka 70-90 tahun. Biara St. Ana memang khusus untuk suster sepuh. Piramida demografi konggreasi susteran nampaknya sudah mengarah menjadi piramida terbalik, yang tua lebih banyak daripada yang muda. Teman-teman yang terkasih,

Semoga dari anda ada yang tertarik untuk menjadi biarawan atau biarawati. Jangan takut dengan usia. Saya sendiri masuk Serikat Yesus saat usia saya 29 tahun. Saat itu saya sudah sarjana Ekonomi dari Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, dan telah bekerja selama 2 tahun. Teman angkatan saya bahkan ada yang sudah berusia 31 tahun. Bahkan adik angkatan saya ada yang berusia 40 tahun baru memutuskan untuk masuk biara. Jadi tidak ada kata terlambat.

Maka teman-teman yang terkasih, beranilah untuk sejenak merenung tentang panggilan hidup membiara dengan ikut retret panggilan. Kalau memang panggilan, laksanakan, dan jika memang bukan panggilan, abaikan saja. Tuhan memberkati. Amin.

Salam,

Profil Penulis

antonius.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Alumnus Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.