piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia
Image1\

BROT HARI MINGGU PASKAH III- 30 April 2017

brot logo v1

Bacaan Injil:

Luk 24:13 Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem,
Luk 24:14 dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi.
Luk 24:15 Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka.
Luk 24:16 Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia
Luk 24:17 Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram.
Luk 24:18 Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?"
Luk 24:19 Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami.
Luk 24:20 Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya.
Luk 24:21 Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.
Luk 24:22 Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur,
Luk 24:23 dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup.
Luk 24:24 Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat."
Luk 24:25 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!
Luk 24:26 Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?"
Luk 24:27 Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.
Luk 24:28 Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya.
Luk 24:29 Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka.
Luk 24:30 Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka.
Luk 24:31 Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.
Luk 24:32 Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?"
Luk 24:33 Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka.
Luk 24:34 Kata mereka itu: "Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon."
Luk 24:35 Lalu kedua orang itupun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.

http://www.imankatolik.or.id/

 

emmaus

Sumber : https://schoenering.at/2017/04/emmaus-wanderung-am-ostermontag-3/

EMAUS ADA DI MANA-MANA

Tentu belum lekang rasa kecewa para pendukung Ahok setelah kekalahan Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 yang alot, sarat dengan ketegangan dan konspirasi. „Kami dahulu mengharapkan agar Ahok menang dan demi tujuan demikian kami berusaha mempengaruhi opini publik“, kira-kira demikian ungkapan kekesalan pendukung. „Kami dahulu mengharapkan“ agar pernikahan langeng dan harmonis, namun realitas akhirnya berbicara lain. „Kami dahulu mengharapkan“ agar cita-cita yang dipupuk dari kecil bisa diwujudnyatakan, namun kini semuanya hanya sebatas impian.

Pengalaman yang mengecewakan seperti itu dan begitu banyak lagi jenis kekecewaan dalam skala besar maupun kecil tentu tidak asing dalam hidup kita manusia. Nasi sudah menjadi bubur, kata pepatah bahasa Indonesia.

Para murid Yesus juga menaruh harapan yang besar pada diri Yesus: Dia diharapkan sebagai Mesias, pembebas dan pembawa masa depan untuk orang-orang yang mengikuti-Nya, khususnya mereka yang berani meninggalkan segalanya demi Dia. Wafat-Nya yang tragis menjadi dentang kematian harapan para pengikut-Nya: „Kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel.“

Pengalaman pahit demikian mengakibatkan Kleopas dan temannya mengasingkan diri dari Yerusalem, kota yang dahulunya indah dan kini menjadi tempat kekejian yang traumatis. Hal yang sama dan wajar acapkali dilakukan banyak orang: Orang berusaha melupakan pengalaman pahit dengan berganti tempat, hijrah dari tempat yang selalu dikaitkan dengan pengalaman pahit. Satu cara untuk menjaraki pengalaman pahit yakni menjauh dari lokasi kejadian. Tentu saja jalan keluar ini tidak selamanya ideal, namun ia bisa menolong orang sedikitnya melupakan lokasi yang mengandung kenangan pahit.

Pengalaman yang sedih, menyakitkan dan mengecewakan acapkali membuat orang lebih suka menyendiri. Menariknya bahwa kedua murid Emaus tidak menyimpan pengalaman tragis itu untuk dirinya sendiri. Keduanya mencurahkan hati („curhat“). Setiap orang membutuhkan teman, sesamanya khususnya setelah terjadi pengalaman yang menyakitkan. Kata pepatah bahasa Jerman „geteiltes Leid ist halbes Leid“ – jika penderitaan dibagi-bagikan, maka ia akan berkurang. Kita membutuhkan teman curhat, kita membutuhkan orang yang dipercayai. Mari kita saling menjaga kepercayaan agar kita tidak sendirian, agar kita tetap punya teman khususnya ketika kita pengalaman pahit menimpa kita. Kedua murid Emaus membahas segala yang telah terjadi dan mereka juga terbuka terhadap „seorang asing“ yang tiba-tiba muncul dan melibatkan diri dalam tema pembicaraan mereka.

Kebersamaan kedua murid Emaus dan hadirnya Yesus di tengah perjalanan menujukkan bahwa jika kita percaya kepada Tuhan, kita tidak sendirian. Tepatlah kata Paus Emeritus, Benediktus XVI: „Wer glaubt, ist nie allein“ – siapa yang percaya, ia tidak sendirian; ia tidak sendirian, karena ia ditopang oleh Tuhan dan persekutuan umat beriman. Iman kita bukanlah iman yang memisahkan, melainkan iman yang menghubungkan kita dengan Tuhan dan sesama.

Perjumpaan para murid Emaus dengan Yesus tentu saja turut dipengaruhi oleh keterbukaan keduanya. Mereka tidak sangsi dengan „figur asing“ di tengah jalan yang ingin tahu dan melibatkan diri dalam pembicaraan mereka. Mereka terbuka dan berani serta ramah keketika mereka mengundang „orang asing“ itu untuk tinggal bersama mereka, karena hari sudah mulai malam. Perjumpaan dengan Tuhan menagih keterbukaan kita. Perjumpaan dengan Tuhan menagih kita untuk meluangkan waktu dan mengundang-Nya hadir dalam hidup kita di tengah pelbagai acara hidup kita.

Siapa yang hendak berziarah ke tanah suci, ke Israel dan mencari kampung Emaus, ia akan sedikit dibingungkan, lantaran di sana terdapat tiga tempat yang bernama Emaus, dan setiap Emaus yakin bahwa inilah Emaus yang sebenarnya sebagaimana dikisahkan dalam injil. Fenomen ini menunjukkan bahwa yang mana Emaus historis sesungguhnya justru tidak begitu penting, tidak relevan dan menentukan. Emaus zaman antik bukanlah hal yang prinsipiil, jika kita mau berjumpa dengan Tuhan. Emaus itu ada di mana-mana: Tempat yang sunyi, tempat hening, tempat doa, tempat yang menjauhkan kita dari kesibukan rutin dan mendektakan kita dengan Tuhan.

Emaus menjadi istilah untuk perjalanan iman khususnya pengalaman perjumpaan dengan Tuhan yang luar biasa, yang tidak dibayangkan sebelumnya. Emaus dalam artian ini bukan sekedar keterangan tempat. Emaus bukan sekedar lokasi yang tidak jauh dari Yerusalem. Emaus sebagai model perjumpaan dengan Tuhan, bisa terjadi pada setiap saat dan tempat. Tentu saja ada tempat dan saat khusus yang mempermudah kita untuk memasuki suasana yang hening sebagai hal penting jika kita mau berjumpa dengan Tuhan.

Kleopas dan temannya yang melarikan diri dari Yerusalem, akhirnya kembali lagi ke Yerusalem, setelah mereka mengalami peristiwa yang indah, yakni perjumpaan dengan Yesus dalam perjalanan dan di Emaus. Perjumpaan yang menyatakan bahwa Yesus hidup, sungguh menggembirakan sehingga mereka bergegas kembali ke kota tragis Yerusalem, berjumpa dengan para sahabat Yesus untuk membagikan pengalaman indah tersebut. Pengalaman rohani yang luar biasa mendorong mereka untuk kembali ke persekutuan yang hendak ditinggalkan mereka. Pengalaman rohani membutuhkan kebersamaan, persekutuan sebagai tempat di mana orang saling membagikan harta rohani dimaksud. Rahmat yang dibagi-bagikan tentu akan mengganda, kegembiraan yang dibagi-bagikan, akan semakin melimpah. Amin.

Salam,

Profil Penulis

romo_fidelis

Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universität zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.