piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia
Image1\

BROT Minggu, 23 April 2017 - Hari Minggu Paskah II

brot logo v1

Bacaan Injil: Yoh. 20:19-31

Yoh 20:19 Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"
Yoh 20:20 Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.
Yoh 20:21 Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."
Yoh 20:22 Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus.
Yoh 20:23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada."
Yoh 20:24 Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ.
Yoh 20:25 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."
Yoh 20:26 Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"
Yoh 20:27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah."
Yoh 20:28 Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!"
Yoh 20:29 Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."
Yoh 20:30 Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini,
Yoh 20:31tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.

 

Percaya

Sumber : http://wallpapercave.com/wp/mTbeUL9.jpg

Homili:

Iman Kepercayaan sebagai Bekal Perjalanan

Belakangan ini hidup banyak orang di seluruh dunia dihantui oleh berbagai situasi yang tidak nyaman dan tidak aman. Bahkan di kota yang dianggap bersih sekalipun, ada ancaman kejahatan. Baru saja kita dengar lagi sebuah peristiwa di Paris, setelah banyak peristiwa teror lainnya,: seorang polisi ditembak mati oleh pembuat aksi teror. Anehnya, orang banyak masih berbondong-bondong ke kota itu untuk berlibur. Pertanyaannya, mengapa? Apakah mereka tidak takut ancaman? Atau tidak tahu adanya bahaya? Atau daya tarik Paris lebih besar ketimbang rasa takut yang mereka miliki? Atau mereka memiliki keyakinan kuat bahwa mereka pasti selamat?

Dalam permenungan saya, pertanyaan terakhir memberi gambaran paling esensial di antara yang lain. „Saya mungkin takut berada di Paris. Saya tahu saya akan terancam. Namun begitu, ada kepercayaan dan harapan bahwa saya akan tetap selamat.“ Kepercayaan bahwa akan tetap selamat itu mendorong banyak orang untuk tetap bergerak menuju Paris. Coba saja bila mereka mempercayai dalam hati mereka bahwa mereka tidak akan bisa kembali ke tanah asal mereka karena tidak selamat berada di Paris. Akankah mereka tetap pergi? Sama halnya dengan peristiwa-peristiwa sederhana yang saya alami atau kita semua alami. Seandainya Anda tidak percaya bahwa pesawat yang Anda tumpangi akan membawa ke tujuan dengan selamat, apakah Anda akan bergerak menaikinya? Seandainya Anda mempercayai bahwa kopi di gelas Anda mengandung sianida, akankah Anda meminumnya? Saya berkesimpulan, tiada gerakan apapun akan kita lakukan bila tidak didasari oleh kepercayaan. Pada tingkat yang rohani, kepercayaan ini barangkali bisa kita sebut sebagai iman. Berdasarkan pada iman inilah dibangun aktivitas-aktivitas yang karakternya sesuai dengan iman itu. Disinilah peran pengajaran iman dalam hidup manusia yang bisa keliru dan membangun karakter yang sejatinya tidak sesuai dengan dasar kepercayaan mereka. Dalam hal ini Gereja Katolik memiliki Magisterium Gereja yang dipimpin oleh seorang Paus. Magister itu dimaknai sebagai guru atau pengajar. Tugas dari Magisterium ialah memberikan pengajaran sesuai dengan dasar iman Katolik sekaligus meluruskan bila ada penyelewengan pengajaran yang dilakukan oleh Gereja Katolik di manapun di seluruh dunia. Magisterium juga terus menerus membaharui pengajarannya melalui refleksi dan kritik agar iman kepada Allah berbuah berlimpah di dunia. Dengan demikian, karakter seorang Katolik hendaknya terpelihara dalam perilakunya yang berdasarkan iman itu.

Hari ini kita mendengar kisah Injil Yohanes mengenai peristiwa bagaimana rasul Thomas menjadi percaya kepada Yesus. Dalam kutipan Injil Yohanes 20:29, Yesus mengatakan kepada Thomas ‚Berbahagialah yang tidak melihat namun percaya’. Pernyataan Yesus itu menggambarkan bahwa perjalanan hidup tanpa iman kepercayaan itu hambar, tidak ada rasa, tidak ada pegangan, tidak ada bobot, tidak ada pergerakan. Orang yang hidupnya punya bobot, punya rasa, punya pegangan, punya makna dalam pergerakannya, akan bahagia. Itu semua harus dimulai dengan sebuah kepercayaan, iman yang dialami dan bukan yang dicari-cari dengan bukti. Bayangkanlah itu bagaikan seorang kekasih yang berbahagia karena percaya bahwa pasangannya tidak akan beralih ke lain hati meski jauh dari pandangan mata. Betapa tersiksanya seorang kekasih yang tidak bisa percaya. Ia akan sibuk dan lelah memasang telinga, mata, dan segala indera untuk membuktikan cinta pasangannya.

Mari kita belajar dari kisah para rasul ini , khususnya Thomas. Percayailah Tuhan Yesusmu dan bergeraklah maju bersama Dia. Jalan tidak selalu mulus, namun sukacita menjadi sarana bahagia bagi yang percaya sebab Dia telah bangkit dan tinggal di antara kita. Beberapa hari lalu kita mendengar kekalahan Ahok dalam pilkada DKI. Namun kita juga mendengar bagaimana ia menjadi saksi sebagai orang yang bersukacita karena imannya kepada Yesus. Ini contoh nyata seorang yang berbekal iman dalam perjalanan hidupnya pada jaman ini. Cinta Allah tak perlu diragukan. Berjalanlah bersama Sang Putera dalam terang kebangkitanNya. Alleluia!

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).