piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia
Image1\

BROT Minggu, 02 April 2017 - Minggu Prapaskah V

brot logo v1

Bacaan Injil:

Yoh 11:1 Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta.
Yoh 11:2 Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya.
Yoh 11:3 Dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: "Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit."
Yoh 11:4 Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: "Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan."
Yoh 11:5 Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus.
Yoh 11:6 Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada;
Yoh 11:7 tetapi sesudah itu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Mari kita kembali lagi ke Yudea."
Yoh 11:8 Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?"
Yoh 11:9 Jawab Yesus: "Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari? Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk, karena ia melihat terang dunia ini.
Yoh 11:10 Tetapi jikalau seorang berjalan pada malam hari, kakinya terantuk, karena terang tidak ada di dalam dirinya."
Yoh 11:11 Demikianlah perkataan-Nya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka: "Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya."
Yoh 11:12 Maka kata murid-murid itu kepada-Nya: "Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh."
Yoh 11:13 Tetapi maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa.
Yoh 11:14 Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: "Lazarus sudah mati;
Yoh 11:15 tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya."
Yoh 11:16 Lalu Tomas, yang disebut Didimus, berkata kepada teman-temannya, yaitu murid-murid yang lain: "Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia."
Yoh 11:17 Maka ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur.
Yoh 11:18 Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira dua mil jauhnya.
Yoh 11:19 Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya.
Yoh 11:20 Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah.
Yoh 11:21 Maka kata Marta kepada Yesus: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.
Yoh 11:22 Tetapi sekarangpun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya."
Yoh 11:23 Kata Yesus kepada Marta: "Saudaramu akan bangkit."
Yoh 11:24 Kata Marta kepada-Nya: "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman."
Yoh 11:25 Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,
Yoh 11:26 dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?"
Yoh 11:27 Jawab Marta: "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia."
Yoh 11:28 Dan sesudah berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya: "Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau."
Yoh 11:29 Mendengar itu Maria segera bangkit lalu pergi mendapatkan Yesus.
Yoh 11:30 Tetapi waktu itu Yesus belum sampai ke dalam kampung itu. Ia masih berada di tempat Marta menjumpai Dia.
Yoh 11:31 Ketika orang-orang Yahudi yang bersama-sama dengan Maria di rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi ke luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ.
Yoh 11:32 Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati."
Yoh 11:33 Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata:
Yoh 11:34 "Di manakah dia kamu baringkan?" Jawab mereka: "Tuhan, marilah dan lihatlah!"
Yoh 11:35 Maka menangislah Yesus.
Yoh 11:36 Kata orang-orang Yahudi: "Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!"
Yoh 11:37 Tetapi beberapa orang di antaranya berkata: "Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?"
Yoh 11:38 Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu.
Yoh 11:39 Kata Yesus: "Angkat batu itu!" Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: "Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati."
Yoh 11:40 Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?"
Yoh 11:41 Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: "Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku.
Yoh 11:42 Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku."
Yoh 11:43 Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: "Lazarus, marilah ke luar!"
Yoh 11:44 Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: "Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi."
Yoh 11:45 Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. Sumber: http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Sumber :

Homili:

„Dipanggil untuk hidup“

Fakta kematian merupakan suatu persoalan tanpa jalan keluar. Hingga kini belum ada orang yang sudah meninggal yang hidup kembali? Kita bisa terima bahwa Yesus menyembuhkan orang-orang sakit, tetapi membangkitkan yang mati? Bukankah hal itu sudah berlebihan? Apa yang sebenarnya terjadi di Betania? Mungkin waktu itu Lazarus cuma mati suri, sakit berat dan Yesus menyembuhkannya kembali. Akan tetapi dugaan ini dijawab injil dengan mengatakan bahwa Lazarus telah empat hari di dalam kubur dan sudah berbau. Semuanya kelihatan tak ada lagi harapan dan tanpa jalan keluar. Akan tetapi pada titik ini kitab suci justru menunjukkan bahwa ada orang mati yang dibangkitkan. Pernyataan ini saya kira tidak mudah untuk kita pahami dan terima dengan akal budi kita. Injil ini merupakan suatu provokasi. Saya sendiri tidak percaya bahwa apa yang diberitakan penginjil Yohanes adalah suatu kenyataan historis. Menurutku kisah ini lebih bermakna simbolis. Apa makna kisah ini buat kita?

(1). Mengapa Yesus tidak datang ketika Lazarus masih sakit? Bukankah berita sakit payahnya Lazarus sudah dikirim kepada-Nya oleh Marta dan Maria? Oleh karena itu pernyataan Marta sangat realistis dan manusiawi: “Tuhan seandainya Engkau ada di sini, pasti saudaraku tidak meninggal.“ Kata-kata Marta terdengar kembali dari zaman ke zaman: Di manakah Engkau Tuhan? Mengapa Engkau tidak datang, tidak turun tangan, ketika kami sangat membutuhkan bantuan-Mu? Mengapa Tuhan diam saja di tengah pelbagai jenis penderitaan manusia dan dunia ini? Realitas Tuhan yang tidak turun tangan, yang diam juga merupakan suatu provokasi besar. Tak sedikit orang yang kehilangan iman mereka kepada Tuhan yang Mahabaik, karena Ia sepertinya tidak menolong, tidak turun tangan dan membiarkan terjadinya kejahatan dan bencana.

Kata-kata Marta juga menjadi wujud kekecewaan, resignasi bahkan sebagai ungkapan untuk mempersalahkan Yesus. Namun Marta tidak berhenti di sana, dalam situasi yang sama muncul titik balik: „Tetapi sekarang juga aku tahu bahwa semuanya yang Engkau minta pada Tuhan, akan dikabulkan-Nya.“ Marta tidak ragu akan Yesus. Dalam saat-saat yang pahit, Marta percaya pada Yesus. Mungkin ia tidak memperhitungkan bahwa saudaranya akan dihidupkan kembali, akan tetapi Marta tetap berpegang teguh dan percaya pada Yesus. Marta tidak melarikan diri dari Yesus. Di mana semuanya tampaknya tidak lagi dipercayai dan diharapkan, justru Marta berpegang teguh pada imannya. Secara sepintas sikap Marta boleh kita katakan tidak rasional, tidak masuk akal. Iman Marta juga tak lebih dari suatu provokasi. Begitu banyak orang yang menderita yang mengeluhkan ketidakhadiran Tuhan, yang menantikan bantuan Tuhan; ada yang kecewa dan kehilangan iman, namun banyak juga yang akhirnya tetap teguh dalam iman bagaikan Marta. Hidup sebagai orang beriman bukan berarti kita pasti selalu dijauhkan dari segala marabahaya dan penyakit. Hidup sebagai orang beriman berarti hidup kita dilandasi keyakinan bahwa dalam situasi apapun yang kita alami, Tuhan tidak meninggalkan kita. Kepada-Nya kita boleh menaruh harapan.

(2). Kematian Lazarus juga menjadi simbol untuk segala jenis kematian dalam diri setiap kita. Ada pengalaman yang membuat kita seolah-olah sudah mati biarpun raga kita masih hidup: Kecewa karena gagal ujian, kehilangan kekasih, kematian sanak keluarga, dan sebagainya. Pelbagai pengalaman itu sepertinya melumpuhkan kita, membuat kita putus asa dan kehilangan semangat hidup, ya kita mati di tengah kehidupan ini. Tuhan yang selalu bersama kita adalah Tuhan yang berpihak pada kehidupan dan Ia memanggil kita kepada hidup, Tuhan memanggil kita keluar dari pelbagai jenis makam atau kuburan dalam hidup kita agar kita kembali hidup, agar kita kembali menghirup udara segar yang menghidupkan. Mari kita peka untuk mendengar seruan Tuhan Sang pencinta kehidupan, agar kita bisa melangkah keluar dari pelbagi jenis makam dan kematian dalam hidup kita.

(3). Di balik semuanya itu kisah tentang kebangkitan Lazarus tetapkah kisah yang sarat dengan provokasi. Kata “provokasi” berasal dari kata kerja bahasa Latin “pro-vocare” arti harafiahnya: “memanggil keluar”. Makna kata ini merupakan kunci untuk memahami injil hari ini. Tidak ada yang dilakukan Yesus di tengah kesangsian dan tangisan manusia di sekitar-Nya yakni Yesus menjauhkan batu penutup makam, berdoa kepada Bapa di surga dan memanggil Lazarus keluar dari kubur kembali kepada hidup. Inilah provokasi yang sebenarnya. Inilah caranya, bagaimana Tuhan menantang dan memanggil kita keluar. Tuhan memanggil kita keluar dari kematian kepada hidup. Pada saat kelahiran, Tuhan pulalah yang memanggil kita untuk hidup. Ia selalu kembali membangkitkan kepercayaan kita dan memanggil kita keluar dari pelbagai kesulitan hidup kita. Tuhan menantang kita untuk suatu iman yang lebih besar. Pada saat Paskah nanti kita akan ingat bahwa Tuhan memanggil kita semua untuk hidup di seberang segala penderitaan dan kematian.

Injil tentang kebangkitan Lazarus mengingatkan kita akan inti iman kita, iman Kristiani. Yesus katakan: „Akulah kebangkitan dan hidup. Barangsiapa yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup, juga biarpun ia sudah mati“ Lantas Yesus bertanya kepada Marta: Percayakah engkau?“ Pertanyaan Yesus kepada Marta ini juga ditujukan kepada setiap kita. Yesus menantang iman kita, Yesus menagih iman kita. Mungkin iman kita membutuhkan pelbagai provokasi agar iman kita menjadi lebih matang dan dewasa. Iman yang matang dan dewasa seperti yang dimiliki Marta patutlah kita kembangkan. Seperti Marta kita belajar untuk mempercayakan diri seluruhnya pada Yesus dalam segala situasi hidup kita khususnya ketika kita merasa seolah-olah hidup telah dirampas oleh pelbagai pengalaman yang menyakitkan, ketika kita merasa mati dan Tuhan sangat jauh dari kita. Marta dengan keyakinannya pada akhirnya tidak dikecewakan oleh Tuhan. Tuhan datang di tengah kesedihan Marta dan memberikannya semangat baru untuk hidup. Yang dialami Marta, tentu pernah dialami pelbagai manusia berimana dahulu dann sekarang. Tentu saja setiap kita diberi kesempatan untuk pengalaman rohani demikian, karena Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup, Tuhan yang berpihak pada hidup dan kehidupan. Ia memanggil kita untuk hidup. „Aku hidup dan engkau juga boleh hidup“, sabda Tuhan. Amin.

Salam,

Profil Penulis

romo_fidelis.jpg

Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universität zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.