piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Brot Minggu 1 November 2015 - Hari Raya Semua Orang Kudus

 

brot logo v1

 

Bacaan Injil: Mat. 5: 1- 12a

[1] Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. [2] Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: ;[3] "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. [4]Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.[5]Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. [6] Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. ;[7] Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. [8] Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. [9]Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. [10]Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. [11] Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. [12]Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."

jesusLove

Sumber : http://trinities.org/blog/wp-content/uploads/Holy-Spirit-Dove.jpg

Homili:

Injil pada hari raya Para Kudus ini, yang dikenal juga dengan Sabda Bahagia, nikmat didengar namun tidak gampang dihayati. Poin-poin yang disajikan Yesus berbanding 180 derajat dengan apa yang kita alami dalam kenyataan. Apakah benar begitu? Betul. Karena kita membaca dari sudut pandang yang salah, seperti orang yang memandang klise foto analog, yang mungkin sudah sangat jarang ditemui di zaman digital ini.

Yesus bukan meramalkan apa yang akan dialami orang-orang yang hidup menurut anjuran- anjuran di atas. Yesus justru mendeskripsikan situasi yang dialami oleh orang-orang yang telah melewati pengalaman-pengalaman itu. Bayangkan betapa ringannya seorang backpacker yang tidak risau dengan biaya dan batas maksimum bagasi, kendaraan ataupun penginapan. Baginya dimanapun tempat menjadi surga yang damai. Bayangkan betapa leganya orang yang sedang berkabung ketika kerabat dan kenalan dekatnya ada di sisinya. Bayangkan betapa happynya orang yang lulus ujian doktorat, magister atau sarjananya. Bayangkan orang yang berhasil mendapatkan kenaikan gaji buah kerja kerasnya. Bayangkan betapa bangganya orang yang bisa tetap setia pada imannya meskipun dibujuk dengan kedudukan, dicela oleh orang lain bahkan dianiaya dan dibatasi kebebasan beribadahnya.

Banyak orang menganggap bahwa keutamaan-keutamaan hidup itu sesuatu yang diwajibkan atau sebaliknya sesuatu yang wajar saja, take it for granted. Orang jadi kehilangan makna setiap moment dalam hidup yang telah diperjuangkannya. Hidup bergulir begitu saja tanpa harapan dan pencapaian. Orang-orang kudus yang kita rayakan hari ini memang bukan sekaliber Santo Augustinus, Fransiskus, Theresia kanak-kanak Yesus dengan sumbangsih kesaksian iman radikal akan Yesus. Orang-orang Kudus ini adalah orang-orang yang telah mengalami hidup yang digambarkan dalam Sabda Bahagia. Mereka orang-orang yang menemukan makna hidup, tindakan dan perkataan mereka, bahkan dalam hal-hal yang sederhana dan sewajarnya dalam kacamata iman kepada Allah dan Yesus Kristus penebusnya. Sabda Bahagia adalah bentuk apresiasi Allah untuk umatNya yang sungguh juga mengapresiasi positif hidup yang diterima dari Sang Penciptanya. Dengan perayaan ini ditegaskan juga oleh Gereja, bahwa kita pun apabila bertekun setia dalam iman, pada saatnya akan berpesta dan dirayakan sebagai orang- orang kudus yang dimuliakan di surga.

Profil Penulis

pastur_yohanes_bimo_ari_wibowo
Yohanes Bimo Ari Wibowo, MSF; lahir di Jepara, Jawa Tengah. Sejak tahun 1998 menjadi anggota Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dengan memasuki Novisiat MSF di Salatiga. Ditahbiskan imam pada tahun 2008, di Yogyakarta. Melayani 3 tahun di Paroki St. Jusup, Pati, Keuskupan Agung Semarang. Sekarang tinggal di München, Jerman. Sejak tahun 2012 diutus berkarya di Jerman. Saat ini melayani di Paroki para Malaikat Kudus (Pfarrei zu den Heiligen Engeln) dan Paroki St. Bernhard, Obergiesing, München.

 

 

An dieser Diskussion teilnehmen.
Bitte anmelden oder registrieren um an dieser Diskussion teilnehmen zu können.