piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Brot Minggu, 25 Oktober 2015 - Hari Minggu Biasa XXX

 

brot logo v1

 

Bacaan Injil: Mrk. 10: 46 - 52

[46]Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Dan ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong, ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan. [47]Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” [48]Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: “Anak Daud, kasihanilah aku!” [49]Lalu Yesus berhenti dan berkata: “Panggillah dia!” Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: “Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau.” [50]Lalu ia menanggalkan jubahnya, ia segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus. [51]Tanya Yesus kepadanya: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang buta itu: “Rabuni, supaya aku dapat melihat!” [52]Lalu kata Yesus kepadanya: “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.

Homili:

APA YANG KAMU KEHENDAKI

Mengenal kebutuhan adalah hal yang sangat penting sehingga kita tidak terjebak hanya sekedar keinginan sendiri.
Danang Bramasti, SJ

bertanyalah-dan-berkembanglah

Sumber : http://images.metmuseum.org/CRDImages/ep/original/DT407.jpg


Teman-teman yang terkasih,
Dalam bacaan ini, saya melihat ada tiga hal yang dapat kita renungkan, yaitu: pertama, mengapa Yesus bertanya kepada Bartimeus tentang apa yang kau kehendaki dari-Ku. Kedua, apa arti pertanyaan itu bagiku; dan ketiga, bagaimana kita menindaklanjuti pertanyaan itu dalam kehidupan kita sehari-hari.

Yesus bertanya kepada Bartimeus, Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu? Pertanyaan ini mungkn mengejutkan. Mengapa Yesus bertanya seperti itu kepada Bertimeus? Apakah Yesus tidak tahu bahwa Bartimeus itu buta? Yesus tentu tahu benar bahwa Bartimeus itu buta dan Ia juga tahu benar apa yang diharapkan oleh orang buta yaitu agar dapat melihat. Namun demikian, mengapa Yesus masih bertanya kepada Bartimeus?


Bartimeus adalah orang buta yang berteriak-teriak kepada Yesus, minta untuk dikasihani. Itulah permintaan Bartimeus kepada Yesus tetapi nampaknya itu belum cukup jelas apa konkritnya permintaan itu. Setelah Yesus bertanya dengan lembut kepadanya, ia dapat merumuskan dengan jelas apa yang dimaksud dengan minta dikasihani. Yang menjadi persoalan disini bukan Yesus yang tidak mengerti situasi itu tetapi Bartimeus yang harus mengerti benar tentang dirinya sendiri. Yesus mengajak Bartimeus untuk mengenal dirinya sendiri, segala kekurangannya dan kemudian dengan rendah hati mengungkapkan itu di hadapan Yesus.

Yesus mengajak kita untuk maju dan berkembang dengan cara mengenal diri sendiri, mengakui segala kekurangan, dan berani mengungkapkan itu pada Yesus. Dengan cara itulah hidup kita akan menjadi lebih baik. Kita tak akan pernah dapat bertobat jika kita tidak tahu apa dosa-dosa kita; kita tak akan pernah bisa maju jika kita tidak tahu kekurangan-kekurangan kita yang menghambat kemajuan. Hal yang lebih penting adalah, kemudian kita berani mengungkapkan itu kepada Yesus agar disembuhkan.

Pertanyaan Yesus ini menarik untuk kita renungkan: Apa arti pertanyaan itu bagiku? Kalau Yesus bertanya kepada anda dengan pertanyaan yang sama, lalu apa yang anda akan perbuat? Pertanyaan Yesus ini jika kita jawab akan menghasilkan doa karena ketika kita berbicara dengan Yesus maka kita berdoa. Sebutkan saja apa yang anda inginkan, nanti akan menjadi sebuah doa. Dengan demikian, pertanyaan Yesus ini juga merupakan ajakan bagi kita untuk berdoa. Yesus ternyata membutuhkan doa-doa kita. Ia tidak semena-mena terhadap manusia tetapi Ia bertanya dengan sungguh-sungguh apa yang menjadi kebutuhan kita. Doa-doa permohonan yang baik adalah doa yang sesuai dengan kebutuhan kita.


Dengan demikian, pertanyaan Yesus, selain mengajak kita untuk berdoa, juga mengajak kita mengenal diri kita sendiri. Pertanyaan Yesus itu juga akan membuat kita bertanya pada diri sendiri, apa yang aku butuhkan dan ini merupakan pertanyaan reflektif bagi kita semua. Sering kali kita tidak tahu benar apa yang kita butuhkan. Pertanyaan Yesus akan menuntun kita untuk lebih berani lagi bertanya pada diri sendiri, apa yang sebenarnya aku butuhkan, lalu kita sampaikan itu kepada Yesus.


Mengenal kebutuhan adalah hal yang sangat penting sehingga kita tidak terjebak hanya sekedar keinginan sendiri. Bagi anda yang belajar ekonomi tentu tahu betul apa bedanya kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). Kalau kita lapar maka kita ‘butuh’ makan dan untuk memenuhi kebutuhan makan ini kita ‘ingin’ makan apa. Jika kita tidak tahu benar apa yang menjadi kebutuhan kita maka biasanya kita akan terjebak pada keinginan semata yang terkadang tidak kita butuhkan. Efek dari hal ini adalah gejala konsumerisme yang luar biasa yaitu kita membeli banyak hal yang sering kali tidak kita butuhkan. Terjebak hanya pada keinginan yang tidak jelas juga sangat berbahaya. Korupsi di negara kita ini juga karena mereka terjebak hanya pada keinginan yang tak kunjung habis.


Pertanyaan Yesus ini juga mengajarkan kita untuk mengenal apa kebutuhan orang lain, organisasi, dan bahkan negara kita ini dan berupaya untuk memenuhinya. Jangan sampai kita hanya melampiaskan keinginan kita sendiri untuk memenuhi kebutuhan orang lain yang ternayata tidak cocok. Suatu ketika dalam acara amal untuk orang-orang miskin, seorang pengusaha kaos kaki ingin menyumbang anak-anak jalanan. Ia menyumbang banyak kaos kaki untuk anak-anak jalanan lalu anak-anak itu jalan-jalan dengan memakai kaos kaki tanpa sepatu atau sandal. Dalam sehari saja kaos kaki itu sudah rusak dan tak berguna. Ini salah satu contoh ketika seorang yang baik hati itu tidak bertanya terlebih dahulu apa yang menjadi kebutuhan anak-anak jalanan itu. Orang baik hati itu hanya terjebak pada keinginannya sendiri.

Hal yang penting dari pertanyaan Yesus dalam hidup kita sehari-hari adalah temukanlah kebutuhanmu, orang lain, negara kita, bahkan juga dunia ini, lalu tetapkanlah keinginanmu untuk memenuhi kebutuhan itu sesuai dengan talentamu dan kemudian perjuangkanlah keinginan itu habis-habisan. Cobalah buat pertanyaan, misalnya, untuk negara kita ini: apa yang kamu kehendaki aku perbuat bagimu, Indonesia? Akan muncul banyak jawaban yang juga mungkin sesuai dengan keinginanmu. Kejarlah itu dan Indonesia akan maju. Amin.

Profil Penulis

antonius
Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

An dieser Diskussion teilnehmen.
Bitte anmelden oder registrieren um an dieser Diskussion teilnehmen zu können.