piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Brot Minggu 15 November 2015 - Hari Minggu Biasa XXXIII

 

brot logo v1

Bacaan Injil: Mrk. 13: 24 - 32

[24]"Tetapi pada masa itu, sesudah siksaan itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya [25]dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit, dan kuasa-kuasa langit akan goncang. [26]Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. [27]Dan pada waktu itupun Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dan akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung bumi sampai ke ujung langit. [28]Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara. Apabila ranting- rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat. [29]Demikian juga, jika kamu lihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu. [30]Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya itu terjadi. [31]Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu. [32]Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat- malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja."

lentera

Sumber : http://hughconacher.com/Photography/FM/outoffocus.jpg

Homili:

Setiap calon iman di Kongregasi MSF mengawali kehidupan membiara dengan menjalani tahun rohani di Novisiat. Untuk MSF di Indonesia, masa Novisiat dilaksanakan di Salatiga, Jawa Tengah. Masa Novisiat berlangsung selama satu tahun penuh, tidak boleh kurang. Selama satu tahun itu, semua frater sungguh-sungguh diajak mendalami kedekatan dengan Tuhan. Perjalanan hidup selama 365 hari di Novisiat tersebut ditutup dengan retret selama 10 hari. Demikian pula yang saya alami bersama rekan-rekan seangkatan. Pada akhir tahun, kami ber-tujuh belas menjalani retret untuk mengakhiri masa Novisiat, dan mempersiapkan diri untuk mengikrarkan Kaul Pertama.

Hari yang ditunggu-tunggu selama retret tersebut adalah hari terakhir, hari penutupan retret. Ada satu tradisi yang cukup unik dari hari terakhir retret tersebut. Pada jam 9 malam, kami akan berjalan ke sebuah kompleks pemakaman Tionghoa, kira-kira satu kilometer jauhnya dari biara Novisiat kami. Kompleks pemakaman tersebut sangat luas, berada di sebuah bukit di barat laut kota Salatiga, Jawa Tengah. Sesampainya di pemakaman, kami dituntun masing-masing ke sebuah makam. Antara satu orang frater dengan yang lainnya posisinya cukup berjauhan, sehingga tidak dapat berkomunikasi. Selain pakaian yang melekat di badan, bekal yang kami bawa hanyalah sebatang lilin dan sekotak korek api. Tugas kami sederhana. Kami diminta untuk diam di depan nisan tersebut semalam-malaman. Kami diminta untuk sungguh merenungkan kematian, sebagai lambang meninggalkan kehidupan yang lama. Kemudian, kami harus menyaksikan matahari terbit sebagai lambang kehidupan yang baru. Setelah matahari terbit, barulah kami boleh meninggalkan pemakaman.

Singkat cerita, kami bertujuh belas berdiam semalaman di pemakaman tersebut. Kedinginan, mengantuk, digigit nyamuk, ditambah sedikit rasa takut karena berada di tengah lautan nisan. Kami masing-masing tidak saling mengetahui posisi rekan yang lain. Kemudian fajar pun datang. Semua segera menghadap ke timur untuk menantikan berkas sinar matahari pertama. Ketika akhirnya matahari terbit, saya dan teman-teman merasa sangat lega, puas dan gembira. Biasanya kami mengekspresikan kegembiraan itu dengan berteriak. Tidak lama kemudian terdengar teriakan bersahut-sahutan. Setelah itu kami meninggalkan nisan tempat kami tinggal semalam, dan berkumpul di tempat yang ditentukan. Setelah berkumpul, kami hitung anggota kami. 1, 2, 3… 16. Kurang satu. Barangkali masih berdoa dengan khusyuk. Kami pun menunggu. 10 menit, 20 menit, 30 menit. Kami mulai cemas.

Akhirnya kami bersama-sama mencari satu teman kami yang belum datang. Kami susuri nisan- demi-nisan, dan tak lama kemudian kami temukan teman kami itu. Dia duduk dengan posisi doa yang sempurnya. Matanya memandang ke depan dengan penuh konsentrasi. Memang kelihatannya dia berdoa dengan sangat khusyuk. Namun karena waktunya sudah selesai, kami harus memanggilnya.

“Jangan diganggu, aku belum selesai retret”, jawabnya ketika kami memanggilnya.
“Tapi ini sudah mulai siang, kita harus pulang”, kata salah seorang teman kami.
“Aku belum menyelesaikan tugas terakhir, aku belum mau pulang”.
“Tugas apa?”.
“Ya melihat terbitnya matahari”.
Sontak kami semua tertawa terbahak-bahak. Teman kami itu kelihatan bingung, lalu salah seorang dari kami menjelaskan,
“Kamu tidak akan melihat matahari terbit, wong kamu duduk menghadap ke barat!”

Rekan-rekan yang terkasih, saya yakin kita semua memiliki kerinduan untuk dapat berjumpa dengan Tuhan. Kita pun biasa melaksanakan berbagai macam hal untuk mengusahakannya. Kita mendalami berbagai macam kegiatan rohani. Kita bergabung dengan banyak kelompok doa. Kita mengikuti berbagai devosi. Namun, tidak jarang kita tidak berjumpa dengan Tuhan. Hati kita tetap kering, pikiran kita tetap gundah, kita tetap merasa kosong dan gersang. Pertanyaan utama yang patut kita renungkan adalah, apakah kita sudah menghadap ke arah yang tepat. Mungkin Tuhan sudah menyediakan diri untuk berjumpa dengan kita, namun kita tidak menyadarinya karena kita menghadap ke arah yang salah. Kita berdoa, berdevosi, berkegiatan rohani sekedar untuk memenuhi permohonan dan keinginan kita, sekedar agar kelihatan rajin dan dipuji, dan sebagainya. Itulah arah yang salah. Jika kita sungguh ingin bertemu dengan Tuhan, hendaklah kita menanggalkan segala keinginan diri kita pribadi. Kita sungguh berfokus kepada Tuhan, bahwa semua yang kita lakukan sungguh merupakan persembahan bagi Tuhan.

Dengan demikian, kita menghadap ke arah yang benar, ke arah Tuhan sendiri. Seperti halnya yang kita baca dalam bacaan Injil hari ini, di mana dikatakan bahwa Tuhan akan hadir dengan tanda-tanda. Bisakah kita menangkap tanda-tanda yang tepat, sehingga dapat menyambut kehadiran Tuhan?

Salam,

Romo Adrianus Adi Nugroho, MSF
Missionare von der Heiligen Familie
München

Profil Penulis

romo_adi
Romo Adrianus Adi Nugroho, lahir di Boyolali, Jawa Tengah, 7 Juli 1983. Memulai masa persiapan imamat dengan masuk di Seminari Menengah Mertoyudan pada tahun 1998. Tahun 2003 mengikrarkan kaul sebagai biarawan MSF. Sebagai frater, Romo Adi menjalani kuliah Teologi di Universitas Sanata Dharma. Tahun 2011 ditahbiskan menjadi imam. Setelah satu tahun bertugas di Yogyakarta dan dua tahun bertugas di Jakarta, mulai tahun 2014 Romo Adi menjalankan perutusan di Jerman.

 

 

An dieser Diskussion teilnehmen.
Bitte anmelden oder registrieren um an dieser Diskussion teilnehmen zu können.