piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Brot Minggu, 31 Januari 2016 - Hari Minggu Biasa IV

 

brot logo v1

Bacaan Injil: Luk. 4: 21 - 30

[21] Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya."
[22] Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: "Bukankah Ia ini anak Yusuf?"
[23] Maka berkatalah Ia kepada mereka: "Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!"
[24] Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.
[25] Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.
[26] Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.
[27] Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorangpun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu."
[28] Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu.
[29] Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.
[30] Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.

siap

Sumber : http://www.bigideaswriting.com/wp-content/uploads/2015/07/2293239853_021fc868c0_o_d.jpg

Homili:

Beberapa orang tua sempat bercerita kepada saya mengenai anak-anak mereka yang sangat taat kepada guru SD atau TK mereka namun tidak mau mengikuti petunjuk orang tua sendiri. Hal ini semakin lama dianggap wajar oleh banyak orang. Kewajaran yang sama dialami oleh Yesus ketika para pendengarnya tidak menemukan keistimewaan pada Yesus, seseorang yang sudah mereka kenal latar belakangnya. Sikap kurang menghargai yang terjadi pada orang-orang Yahudi atau anak-anak seringkali juga terjadi pada kita. Ada banyak faktor yang mempengaruhi sikap tersebut. Namun, ekspresinya hanya satu: kurang atau malah tidak menghargai, tidak memperhitungkan. Saya mengebutnya “Take for granted”.

Ada banyak orang dekat dengan lingkungan kekristenan. Mereka tidak asing dengan Yesus, dengan kegiatan kegerejaan, dengan moralitas Katolik. Namun, sering terjadi bahwa kita tidak melihat dengan penuh penghargaan apa yang sudah kita “punyai”, apa yang sudah “dekat” dengan kita. Akibatnya, hasrat untuk mendalami dan mengapresiasi “milik” kita sendiri tidak terjadi. Yang terjadi justru kita memandang, menimbang, dan memperhitungkan hal-hal yang jauh dari kita.

Saya mengenang perjalanan ketika masih di SMP dan SMA di Jawa Tengah sana. Sebagai orang jawa, saya agak heran bahwa buku-buku mengenai kejawaan justru saya pelajari dari para penulis Belanda. Menilik apa yang terjadi sekarang ini, banyak orang jawa, termasuk saya, mulai asing dengan kearifan lokal yang tumbuh di tanah kelahiran saya sendiri. Memang, pengorbitan diri ke dalam dunia internasional dibutuhkan, namun alangkah indah bila kearifan lokal yang sudah menjadi “milik” kita itu juga kita pelihara.

Dalam hidup keimanan kita, katolisitas ditantang keberadaannya dengan munculnya berbagai nilai dan pilihan hidup. Paus Fransiskus, dalam pengamatan saya, mencoba memunculkan kembali nilai-nilai pokok kekatolikan itu. Justru ketika ia membuka diri pada perdamaian dengan gereja Kristen lainnya, ia menunjukkan kekatolikannya. Justru ketika ia menegaskan bahwa tidak ada Tuhan katolik, ia mengapresiasi kekatolikannya. Justru ketika ia keras terhadap para mafia, ia menggarisbawahi kekatolikannya yang merciful and just. Dia menggali sungguh nilai kekatolikan yang bersumberkan dari Yesus Kristus dan tradisi iman Gereja dan mengeskpresikannya dalam perilaku nyata. Ia tidak lupa dan lalai untuk menggali, mendalami, memahami, dan menyatakan dalam hidup apa yang sudah menjadi miliknya. Ia tidak mencari-cari nilai dari dunia yang bukan miliknya.

Sekarang, dalam hidup kita, apakah kita “memiliki” sebuah atau beberapa atau banyak nilai (values) yang begitu dekat dengan kita, begitu satu, namun tidak kita hiraukan? Apakah kita bingung mencari- cari pegangan dari nilai-nilai yang justru jauh dari hidup kita dan “bukan milik” kita? Saya kira hari ini kita diajak untuk bersyukur bahwa kita sungguh kaya. Ketika kita intens dengan nilai yang sudah di depan mata, yang terpendam dalam lubuk diri kita, ternyata kita tidak diasingkan dari dunia kita, dari sahabat dan kerabat yang ada di sekitar kita. Kita adalah seorang kristiani, dalamilah nilai-nilai kekristenan dengan sungguh, mendengarkan ajaran gereja dengan sunguh, sampai kita menemukan kearifan sebagaimana nyata ditunjukkan oleh Paus kita Fransiskus.

Beberapa waktu yang lalu Gus Mus menampilkan sebuah puisi menarik yang berjudul “Tuhan, sudah Islamkah saya?”. Senada dengan itu, bisa kita berpuisi, “Tuhan, sudah katolikkah saya?”. Ketika saya sudah membaca Kitab Suci yang tidak kalah indah dari kitab lainnya, ketika saya berderma yang tidak lebih sedikit dari pada orang lain, ketika saya tidak kalah rajin beribadat daripada umat agama lain, ketika saya...(dst.), dengan itu, sudah katolikkah saya?
Ada banyak kekurangan dalam kekatolikan, namun sudahkan saya menghargai dan menghidupi keindahannya... yang sudah begitu dekat dengan hidup kita?

Selamat merenungkan.

Salam,

YB Rosaryanto O.S.C.
Via del Velabro 19
00186 Roma

Profil Penulis

pastur_rosa
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

An dieser Diskussion teilnehmen.
Bitte anmelden oder registrieren um an dieser Diskussion teilnehmen zu können.