piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Brot Minggu 10 April 2016 - Hari Minggu Paskah III

brot logo v1

 

Bacaan Injil: Yoh. 21 : 1 - 19

[1] Sesudah bangkit dari antara orang mati, Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya di pantai Danau Tiberias. Ia menampakkan diri sebagai berikut:
[2] Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid Yesus yang lain.
[3] Kata Simon Petrus kepada mereka, “Aku pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya, “Kami pergi juga dengan engkau.” Mereka berangkat, lalu naik ke perahu. Tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa.
[4] Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu bahwa itu adalah Yesus.
[5] Kata Yesus kepada mereka, “Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk pauk?” Jawab mereka, “Tidak ada!”
[6] Maka kata Yesus kepada mereka, “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.” Lalu mereka menebarkannya, dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan.
[7] Maka murid yang dikasihi Yesus berkata kepada Petrus, “Itu Tuhan!” Ketika Petrus mendengar bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau.
[8] Murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira dua ratus hasta saja; dan mereka menghela jala yang penuh ikan itu.
[9] Ketika tiba di darat, mereka melihat api arang, dan di atasnya ada ikan serta roti.
[10] Kata Yesus kepada mereka, “Bawalah beberapa ikan yang baru kamu tangkap itu!”
[11]Simon Petrus naik ke perahu, lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya; dan sungguhpun sebanyak itu ikannya, jala tidak koyak.
[12] Kata Yesus kepada mereka, “Marilah dan sarapanlah!” Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya, “Siapakah Engkau?” Sebab mereka tahu bahwa Ia adalah Tuhan.
[13] Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka; demikian juga ikan itu.[14] Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati.
[15] Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
[16] Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
[17] Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hatiPetrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwaaku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.
[18] Aku berkata kepadamu: sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.”
[19] Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: “Ikutlah Aku.”

 

APAKAH ENGKAU MENGASIHI AKU

Komitmen cinta adalah juga komitmen tindakan.
Danang Bramasti SJ

Teman-teman terkasih,
Dalam bacaan Kisah Para Rasul, terungkap bahwa para rasul merasa bahagia karena telah disiksa dan dihina oleh Mahkamah Agama. Apa yang membuat mereka bahagia? Mereka bahagia karena mereka boleh ikut merasakan penderitaan dan penghinaan yang juga dialami oleh Yesus. Inilah tanda-tanda kasih yaitu ketika orang mau menderita dan bahkan mengorbankan nyawanya bagi orang yang dikasihinya. Tanda kasih yang lain adalah orang mau ikut menderita bersama orang yang dikasihinya itu. Jadi para rasul itu bahagia karena boleh ikut merasakan penderitaan yang dialami oleh Yesus yang sangat merea kasihi. Cinta memang berlum terbukti ketulusannya jika berada dalam kesenangansaja. Ketulusan cinta akan terlihat jika ia mau merasakan penderitaan orang yang dicintainya.


Para rasul juga bahagia karena dapat membuktikan cinta mereka pada Yesus. Dengan demikian peristiwa itu juga sebenarnya menggenapi pernyataan Petrus ketika ia ditanya oleh Yesus: apakah engkau mengasihi Aku? Momen ini sangat penting bagi Petrus mengingat ia pernah menyangkal Yesus bahkan sampai tiga kali ketika ia tidak mengakui bahwa ia adalah murid Yesus. Penyesalan yang sangat mendalam yang hanya akan terobati jika ia dapat memperbaiki kesalahannya. Momen dalam Kisah Para Rasul ini merupakan pembuktian yang mengobati segala rasa sesal. Tidak hanya sampai disitu saja pembuktiannya, sebab etrus akhirnya juga wafat disalib. Saat ia hendak disalib ia minta supaya disalib terbalik, dengan kepala di bawah, karena ia merasa tidak layak jika disalib dengan posisi yang sama dengan Yesus. Itulah penggenapan cinta Petrus kepada Yesus, tetap setia sampai akhir hayat.

Teman-teman yang terkasih,
Kisah yang terjadi pada para Rasul itu hanyalah sepenggal dari kisah besar mengenai kehidupan para Rasul. Orang yang membaca penggalan kisah itu tentu heran mengapa mereka bahagia justru ketika mereka disiksa dan dihina. Bacaan Injil akan memperjelas situasi tersebut. Dalam bacaan Injil untuk Minggu ini kita dapat menyaksikan bagaimana keakraban para murid dengan Yesus. Peristiwa sarapan di tepi danau Tiberias merupakan salah satu peristiwa yang mengharukan dan juga mungkin agak sentimentil. Betapa tidak, Yesus menyediakan sarapan untuk para muridnya!

Peristiwa itu diawali saat para murid putus asa karena sudah semalam-malaman mereka mencari ikan tetapi tidak mendapatkan hasil. Sebenarnya perasaan putus asa sudah mereka alami sejak sebelum mereka mencari ikan. Mereka putus asa karena Yesus yang diharapkan akan menjadi Raja bagi orang Yahudi ternyata kalah dan mati di kayu salib. Mereka sudah membayangkan akan mendapatkan kedudukan penting ketika Yesus kelak menjadi raja. Oleh karena itu tak terbayangkan bahwa ternyata kemudian Yesus ditangkap dan dihukum mati. Para murid bahkan lari tunggang langgang pada saat Yesus ditangkap. Mereka kemudian kembali pada profesi awal mereka yaitu menjadi nelayan. Dalam keadaan putus asa, mereka juga gagal menangkap ikan. Betapa kesedihan mendalam menyelimuti mereka.

Saat kesedihan menyelimuti mereka, Yesus hadir secara tak terduga. Diawali dengan sapaan yang terdengar asing bagi para murid, yaitu soal lauk pauk, sehingga mereka juga tidak mengenali Yesus. Namun demikian, sapaan Yesus itu membawa perubahan yang dahysat. Para murid yang tidak mendapatkan apa-apa semalam-malaman, akhirnya mendapatkan ikan berlimpah-limpah dan pada saat itu mereka mengenali Yesus.

Teman-teman yang terkasih,
Bagaimana perasaan anda ketika cita-cita yang kita bangun itu hancur berantakan di tengah jalan padahal semua nampaknya berjalan dengan baik? Pada umumnya kita kecewa, putus asa, bahkan mungkin ada yang marah dengan Tuhan. Seperti apa yang dialami para murid, mereka berada dalam kegelapan malam dan tidak mengenali Yesus lagi. Tetapi teman-teman, pada saat itulah sebenarnya Yesus menyapa dengan caranya yang sederhana, lewat peristiwa sehari-hari yang mungkin rutin. Yesus menyapa lewat persoalan lauk pauk. Demikian sederhana sapaan Yesus sehingga kita tidak mengenali sapaan itu. Tentang Tuhan, kita sering kali terjebak pada peristiwa-peristiwa besar padahal Tuhan juga menyapa lewat peristiwa- peristiwa sederhana.

Kehadiran Yesus pada saat para murid mengalami keputus-asaan memberi harapan baru kepada mereka. Selalu ada kesempatan kedua untuk memperbaiki diri dan hal itu digunakan oleh para murid dengan sangat baik. Kesempatan ini diawali dengan pembenahan diri, membangun komitmen dan kehendak yang kuat. Dalam bacaan Injil memang hanya Petrus yang ditanya soal komitmen cinta kepada Yesus namun nama Petrus dapat kita ganti dengan nama kita masing-masing: apakah kamu mengasihi Aku?

Teman-teman yang terkasih,
Komitmen cinta adalah juga komitmen tindakan. Menurut St. Ignatius Loyola, cinta itu lebih pada tindakan dari pada kata-kata. Tanpa tindakan maka cinta hanyalah omong kosong. Seperti halnya iman tanpa perbuatan adalah mati. Apakah kita sanggup membangun komitmen cinta dengan segenap tindakannya? Kesanggupan yang hanya bertumpu pada kekuatan manusia tentu akan rapuh. Rasul Petrus yang hebat itu pun tak berdaya pada egonya sendiri sehingga menyangkal Yesus. Namun kesanggupan yang berlandaskan pada cinta Tuhan akan memiliki kekuatan yang dahsyat. Petrus yang tidak berpendidikan dan berprofesi sebagai nelayan sederhana akhirnya sanggup melaksanakan kehendak Tuhan yaitu: gembalakanlah domba-domba-Ku. Ia sanggup membuat kotbah yang luar biasa yang tak terbayangkan sebelumnya. Ia juga sanggup menghimpun para pengikut Kristus dari berbagai macam latar belakang dengan sangat bijaksana. Hal ini tentu sangat mengherankan. Dari mana ia mendapatkan semuanya itu? jawabnya: cinta kepada Tuhan Yesus.

Yesus senantiasa meneguhkan kita dengan pertanyaan: apakah engkau mengaishi Aku. Maka teman-teman yang terkasih, marilah kita mohon rahmat dari Tuhan agar kita dapat menanggapi cinta Tuhan lewat kegiatan kita sehari-hari. Lewat studi-studi kita agar apa yang kita perjuangkan tidak hanya untuk kepentingan kita sendiri dan menjadi sia-sia tetapi demi cinta kita pada Tuhan. Apa yang dialami Petrus hendaknya menjadi pengalaman kita yang berharga untuk kita lalui juga.

Berikut ini saya lampirkan sebuah lukisan hasil kontemplasi saya tentang Yesus yang mengadakan sarapan bersama dengan para murid di pantai danau Tiberias, sesuai dengan yang tertulis dalam bacaan Injil minggu ini. Lukisan ini saya buat saat saya menjalani Retret Agung selama 30 hari di Dublin, Irlandia, 2011.

bertanyalah-dan-berkembanglah

Profil Penulis

antonius
Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

An dieser Diskussion teilnehmen.
Bitte anmelden oder registrieren um an dieser Diskussion teilnehmen zu können.