piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 6 November 2016 - Hari Minggu Biasa XXXII

brot logo v1

Bacaan Injil: Luk. 20:27-38

[27] Maka datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya:
[28] "Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu.
[29] Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak.
[30] Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua,
[31] dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak.
[32] Akhirnya perempuan itupun mati.
[33] Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia."
[34] Jawab Yesus kepada mereka: "Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan,
[35] tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan.
[36] Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan.
[37] Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub
[38] Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup."

 

I believe

Sumber : http://4.bp.blogspot.com/-P_6Q8vRKzwI/TiNf1HVNImI/AAAAAAAAGCQ/V_vMAQaBQNw/s640/christ-1.jpg

Homili:

Kontrast Hidup

Pengalaman akan Allah itu kaya. Sayangnya, pikiran manusia itu sempit. Hidup di hadapan Allah itu luas. Sayangnya, hidup manusia itu terbatas. Itu sebabnya penyelenggaraan Illahi dan pengalaman manusiawi tidak selalu bertemu. Jalan Tuhan dan maunya manusia sering tidak seiring. Surga dan dunia beda berita padahal seharusnya hanya ada cerita yang serupa. Kita berdoa, “Datanglah kerajaanMu, di bumi seperti di dalam surga.”, namun logika dunia dan surga tidaklah sama. Kita manusia berpikir dan mengira bahwa Allah berlogika sama dengan kita.

Hari ini Yesus menampilkan perbedaan logika manusia dan logika surga. Katanya, “…mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan.” Tentu saja tak seorang pun tahu apa yang terjadi di alam baka. Namun jelas, situasinya berbeda dari dunia fana. Ada orang-orang yang menyadari kenyataan ini, ada yang buta sama sekali. Mereka yang sadar menempatkan Allah pada keilahianNya. Mereka yang buta mengatur Allah dalam kemanusiaan mereka. Itulah dua sikap yang sering muncul dalam kehidupan orang-orang beriman.

Kita juga sering menemukan dua sikap itu dalam hidup kita atau orang-orang di sekitar kita. Namun, yang perlu dihindari ialah bahwa dengan beriman kita sering mengatur Allah sesuai dengan mau kita. Akibatnya, kitalah yang menjadi Tuhan. Pernah saya mendengar, ada orang yang mengklaim ‘kalau saya kaya, saya diberkati oleh Tuhan’. Konsekuensinya, mereka yang miskin dan menderita tidak diberkati. Kesan saya, orang tersebut mengukur berkat Tuhan dari kekayaannya. Betul bahwa berkat Allah membawa kita hidup damai dan tercukupi. Namun, apakah kita membutakan diri bahwa Allah juga tetap mencintai dan memberkati orang yang menderita dan miskin?

Tantangan kita sederhana rumusannya, sekaligus tidak mudah pelaksanaanya. Bisakah kita berpikiran seperti Yesus berpikir? Menempatkan Allah pada keilahianNya dan tidak memasukkanNya ke dalam ranah aturan hidup manusia? Allah itu maha agung dan luas. Apakah Allah tidak bekerja pada orang yang tidak seiman dengan kita? Apakah Allah masih mencintai mereka yang berbuat jahat dan tidak adil? Apakah mereka yang sakit adalah dihukum oleh Allah? Apakah mereka yang kita anggap santo adalah orang yang sungguh berkenan pada Allah? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang tidak terjawab. Biarlah Allah yang menjawabnya bila itu memang bagianNya untuk menjawab. Kita manusia, mari tetap bertakwa dalam hukum-hukum yang membawa kita kepada kebahagiaan kekal bersamaNya.

Tuhan memberkati.

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg

 

Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

 

An dieser Diskussion teilnehmen.
Bitte anmelden oder registrieren um an dieser Diskussion teilnehmen zu können.