piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 29 Januari 2017 - Hari Minggu Biasa IV

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 5: 1-12

(1) Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.
(2) Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:
(3)"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
(4)Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
(5) Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
(6) Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
(7)Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
(8)Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
(9)Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
(10)Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
(11)Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
(12)Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."

 

Yesus mengajar

Sumber : http://wol.jw.org/id/wol/mp/r25/lp-in/bm/2009/152

Homili:

Hidup Inklusif

Hari ini saya ingin mengajak Anda untuk membayangkan peristiwa kotbah di bukit dari Injil Matius. Bagai sebuah film yang diputar, Anda adalah salah satu tokoh di sana. Terserah mau jadi apa, yang pasti jangan jadi Yesus. . Setidaknya jangan sekarang. Jadilah salah seorang muridNya atau seorang pengamat di antara orang banyak yang mengerumuni Dia.

Saya yakin orang-orang yang berada di sekitar Yesus pada waktu itu, termasuk diri Anda, datang dengan sukarela. Tidak ada yang membayar mereka. Mereka memiliki berbagai motivasi yang berbeda namun semuanya tertarik kepada Yesus. Bagi mereka Yesus memberi wacana baru untuk hidup. Yesus itu inspirasi mereka. Yesus adalah cara hidup baru mereka.

Yesus memulai kotbahnya setelah Ia melihat mereka itu. Yesus menangkap kekeringan hidup mereka yang tersingkir dari masyarakat yang dikuasai penjajah Romawi, pemimpin agama dan orang-orang farisi. Yesus merasakan kejenuhan dan keletihan pada orang-orang yang mengikutiNya. Kebanyakan seperti itu. Mereka letih dengan tata hidup para ahli taurat dan orang farisi. Mereka letih karena tekanan para penguasa romawi. Belum lagi kelompok Herodes, raja yahudi saat itu. Mereka diasingkan dari kelompok-kelompok itu karena mereka tidak dipandang layak sebagai bagian dari “kaum terhormat” itu.

Semacam itukah keletihan dan kejenuhan Anda saat ini? Di dunia sekarang ini? Mungkinkah? Bisa jadi! Tentu dengan berbagai alasan yang berbeda-beda…

Yesus memulai kotbahnya dengan mengatakan, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya kerajaan Sorga.” Mereka yang miskin di hadapan Allah tidak membangun kerajaannya sendiri di dunia ini. Mereka tidak membangun hidup semakin ekslusif dan menjauhkan sesama dari jangkauan mereka. Mereka hanya bersedia untuk memilki kerajaan yang ditawarkan Allah dan bukan kesenangannya sendiri. Mereka membiarkan Allah menjadi raja mereka dan memandang sesama sebagai saudara, manusia yang berbeda namun setara.

Kata-kata Yesus ini menghibur mereka yang tersisih namun sekaligus menantang agar mereka tidak menyisihkan sesamanya dari lingkungan hidup mereka. Menjadi bagian dari kerajaan Sorga berarti meretas sekat-sekat “kerajaan” dunia. Hidup berkelompok dan primordial adalah kewajaran. Kita juga demikian, makanya ada KMKI. Namun begitu menjadi bagian dari sebuah kelompok tidak berarti eksklusif dan menendang sesama yang tak sama. Bila terjadi demikian, kita tidak bersikap miskin di hadapan Allah. Kita menjadi manusia sok yang membangun kerajaan sendiri dan bukan kerajaan Sorga.

Tantangan berat kita hadapi, sama seperti yang dihadapi oleh para murid yang ingin membangun kelompk ekslusif di sekitar Yesus. Para murid suka geram dengan kepongahan para ahli taurat, kaum herodian, dan farisi. Mereka “mungkin” dendam terhadap bangsa romawi yang semena-mena. (Saya jadi ingat bagaimana Petrus dengan galak memotong telinga seorang tentara romawi ketika Yesus ditangkap-terbayang bagaimana dendamnya). Barangkali kita sekarang juga geram dengan pasukan pembela agama yang mengkafirkan orang lain. Bisa saja kita juga dendam terhadap orang-orang yang kita alami sebagai penindas: secara politis, ekonomi, ras. Namun, panggilan Yesus sederhana: “menjadi miskin di hadapan Allah”, tidak usah nyombong, tidak perlu sok benar, juga tak semestinya menyingkir minder, menjadikan diri sebagai victim, lantas membangun kerajaan sendiri dan menjadi ekslusif. Kita dipanggil untuk menjadi inklusif, menjadi bagian dari kerajaan Allah.

Mengikuti ajaran Yesus tidak mudah. Tetaplah bayangkan bagaimana ia berkata-kata dengan lembut dan penuh kemantapan sebagai manusia illahi. “Berbahagialah…” Masih banyak berbahagialah yang lain yang disampaikanNya. ‘Berbahagialah’ menjadi refrein kotbahnya. Berbahagia menjadi janji mengikutinya, tidak dengan leha-leha melainkan dengan upaya nyata… Semoga kita mampu untuk tenang dan mengecap karuniaNya itu.

Salam inklusif!

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

 

An dieser Diskussion teilnehmen.
Bitte anmelden oder registrieren um an dieser Diskussion teilnehmen zu können.