piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 09 April 2017- HARI MINGGU PALMA

brot logo v1

BERSORAKLAH DALAM KASIH TUHAN

Pastikan bahwa kegembiraan yang anda dapatkan itu
berlandaskan pada keinginan untuk menolong sesama
maka anda akan mendapatkan kebahagiaan
Danang Bramasti, SJ

Teman-teman yang terkasih,
Apakah yang dapat membuat kita besorak gembira, senang luar biasa? Mungkin ada banyak peristiwa yang dapat membuat kita seperti itu. salah satu hal yang dapat membuat kita berlonjak kegirangan adalah ketika keinginan kita terpenuhi. Misalnya ketika kita lulusan SMA atau saat wisuda, dan peristiwa kelulusan lainnya. Keinginan yang tecapai memang dapat membuat kita bersorak sorai gembira. Minggu Palma adalah peristiwa ketik rakyat Yahudi bersorak sorai gembira, penuh kemenangan. Apakah yang membuat mereka gembira seperti itu?

Bangsa Yahudi telah lama dijajah oleh kekaisaran Romawi, bahkan ratusan tahun. Mereka merasa tertekan dan terus berjuang untuk merdeka. Namun mereka selalu gagal. Bahkan perjuangan mereka seringkali berakhir tragis, banyak pejuang yang dibantai. Pontius Pilatus adalah salah seorang wali negeri Romawi di Yehuda yang paling bengis. Maka wajarlah jika rakyat Yahudi menginginkan seorang pembebas.

Ketika Yesus masuk kota Yerusalem, Yesus mendeklarasikan dirinya sebagai seorang raja bangsa Yahudi. Dengan banyak mukjisat yang telah Ia buat, dengan segala kewibawaan-Nya, Yesus masuk Yerusalem, memberi harapan akan kemerdekaan. Saat itulah bangsa Yahudi merasa menemukan kerinduan mereka, yaitu seorang raja yang dapat membebaskan negara ini dari kekaisaran Romawi. Saat itulah mereka bersorak sorai, penuh kegembiraan, menyambut sang raja.

Namun demikian, tak disangka-sangka, mereka yang bersorak gembira itu, pada Jumat pagi berubah total. Sorak sorai berubah menjadi ujaran kebencian, “Salibkan Dia!! Apa yang sebenarnya terjadi? Tulisan ini tentu bukan untuk mengulas sejarah atau psikologi massa, namun mencoba merenungkan, mengapa orang yang tadinya gegap gempita kegirangan, memuiji Yesus, tak sampai seminggu kemudian orang itu berubah menjadi memaki Yesus?

Teman-teman yang terkasih,

Hati manusia memang cenderung mendua. Disatu sisi menginginkan sesuatu, disisi lain menolak sesuatu, bahkan untuk hal yang sama. Ada orang yang kelaparan dan ingin makan. Seseorang memberinya makan. Namun ia menolak, katanya tidak enak. Lalu diberi makanan yang enak, ia tetap menolak, katanya kurang banyak. Ini memang hanya gurauan namun seperti itulah tabiat manusia. Tidak heran injil Yohanes menuliskan, Terang sudah datang tetapi manusia lebih senang berada dalam kegelapan.

Semua orang tentu menginginkan kebahagian bukan? Toh demikian banyak juga yang sulit memafkan kesalahan orang lain. Bukankah memaafkan akan membuat hati kita lega? Semua orang menginginkan hidup damai bukan? Toh demikian banyak juga orang yang lebih senang berkelahi. Mengapa kita menginginkan kebahagiaan tetapi perkelahian yang kita ciptakan? Lihatlah perang di Suriah yang tak kunjung selesai. Sudah memasuki tahun ke-6 mereka berperang. Sudah 4,2 juta rakyat Suriah yang mengungsi, bahkan 400.000 orang tewas dalam peperangan itu. Toh demikian mereka belum bosan berkelahi.

Teman-teman yang terkasih,

Menilik situasi seperti itu, kita dapat merenungkan, jangan-jangan dibalik pekik sorai sorai rakyat Yahudi saat menyambut Yesus adalah pekik peperangan yang hendak melampiaskan kebencian dan dendam. Mereka bergembira namun hati mereka penuh kebencian terhadap situasi mereka karena dijajah Romawi. Harapan mereka, Yesus melampiaskan dendam dan kebancian mereka untuk menghancurkan tentara Romawi. Ternyata tindakan Yesus tidak selaras dengan keinginan mereka maka ngamuklah mereka.

Bagaimana dengan kita, apakah kita gembira karena punya peluang balas dendam terhadap orang lain? Atau malahan kita gembira diatas penderitaan orang lain? Mungkinkah kita tetap gembira dan senang ketika kita harus bertahan dalam kasih ditengah kebencian orang lain? Kegembiraan dan kesenangan yang berlandaskan pada kebencian atau dendam akan berbuah kebencian dan dendam juga. Siapa yang menggunakan pedang akan mati oleh pedang.

Namun siapa yang bergembira berlandaskan pada kasih akan berbuah kebahagiaan. Ada seorang dokter yang rajin mengunjungi desa miskin. Suatu hari ia kedatangan seorang ibu yang menggendong anaknya yang sakit parah. Anak itu nampaknya sudah akan meninggal. Sang dokter berupaya sekuat tenaga menyelamatkan anak itu. Ajaib, anak itu selamat. Sang dokter gembira sekali. Namun sejenak ia tercenung. Sang ibu menggendong anaknya selama 3 hari perjalanan turun gunung untuk menemui sang dokter. Sang dokter kemudian bertekad untuk mengadakan pemeriksaan kesehatan di pucuk gunung, dimana tinggal banyak orang miskin yang tidak sehat yang selama ini tak pernah ia kunjungi. Sang dokter itu bernama Agustinus Lie Darmawan.

 

help

Sumber : https://www.pexels.com/photo/action-adult-affection-eldery-339620/



Teman-teman yang terkasih, Anda, dengan demikian,dapat melihat dua jenis kegembiraan. Kegembiraan yang berlandaskan pada ingin memuaskan keinginan pribadi dapat menimbulkan iri hati, kebencian, bahkan dendam. Namun kegembiraan yang berlandaskan pada keinginan untuk membahagiakan orang lain cenderung memunculkan niat-niat baik kerikutnya. Inilah yang disebut tiga daya jiwa, yaitu perasaan, pikiran, dan kehendak.

Jika anda mengalami perasaan, entah senang atau sedih (konsolasi atau desolasi), renungkanlah, timbang-timbanglah, darimana perasaan itu muncul. Setelah yakin dari mana perasaan itu muncul, ambillah keputusan, bangunlah niat atau kehendak yang kuat untuk memperbaiki.

Orang-orang Yahudi begermbira ria berlandaskan pada keinginannya sendiri, hanya untuk kepentingan sendiri, dan ketika keinginan itu tidak tecapai mereka ngamuk dengan ujaran kebencian. Sementara kegembiraan yang dialami sang dokter karena berlandaskan pada keinginan untuk membantu sesama, dan ketika ia berhasil menyelamatkan orang lain, ia memutuskan untuk lebih banyak berbuat baik. Saya yakin andaikata sang dokter gagal menyelamatkan nyawa anak ini, ia tetap bertekad untuk berbuat baik lebih banyak lagi.

Maka, teman-teman yang terkasih, pastikan bahwa kegembiraan yang anda dapatkan itu muncul karena keinginan untuk berbuat baik pada sesama. Dan jika itu sudah pasti, maka apapun yang anda alami tetap akan membawa pada kebahagiaan. Amin.

 

 

Salam,

Antonius Danang Bramasti, SJ

Profil Penulis

Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

An dieser Diskussion teilnehmen.
Bitte anmelden oder registrieren um an dieser Diskussion teilnehmen zu können.