piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 3 Juni 2018 - HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Mrk. 14:12-16,22-26

Mrk 14:12 Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi, pada waktu orang menyembelih domba Paskah, murid-murid Yesus berkata kepada-Nya: "Ke tempat mana Engkau kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?"
Mrk 14:13 Lalu Ia menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan: "Pergilah ke kota; di sana kamu akan bertemu dengan seorang yang membawa kendi berisi air. Ikutilah dia
Mrk 14:14 dan katakanlah kepada pemilik rumah yang dimasukinya: Pesan Guru: di manakah ruangan yang disediakan bagi-Ku untuk makan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku?
Mrk 14:15 Lalu orang itu akan menunjukkan kamu sebuah ruangan atas yang besar, yang sudah lengkap dan tersedia. Di situlah kamu harus mempersiapkan perjamuan Paskah untuk kita!"
Mrk 14:16 Maka berangkatlah kedua murid itu dan setibanya di kota, didapati mereka semua seperti yang dikatakan Yesus kepada mereka. Lalu mereka mempersiapkan Paskah.
Mrk 14:22 Dan ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: "Ambillah, inilah tubuh-Ku."
Mrk 14:23 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, dan mereka semuanya minum dari cawan itu.
Mrk 14:24 Dan Ia berkata kepada mereka: "Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang.
Mrk 14:25 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, dalam Kerajaan Allah."
Mrk 14:26 Sesudah mereka menyanyikan nyanyian pujian, pergilah mereka ke Bukit Zaitun.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Fronleichnam

Sumber : https://www.augsburger-allgemeine.de/panorama/Fronleichnam-Was-feiern-wir-heute-am-Feiertag-id51207861.html

Homili:

Hari Raya Tubuh Dan Darah Kristus

DEMONSTRASI IMAN - Romo Dr. Fidelis Waton SVD

 

Kita merayakan hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Hari raya ini dimasukkan dalam upacara Gerejani sejak abad ke-13. Menurut kalender liturgi internasional pesta ini dirayakan pada hari Kamis setelah hari Minggu Tritunggal Mahakudus – hari Kamis kemarin. Di Jerman misalnya hari raya ini sangat spesial dan di beberapa negara bagian yang mayoritas penduduknya beragama Katolik (Bayern, Baden-Würtenberg, Hessen, Nordrhein-Westfalen, Rheinland-Pfalz und Saarland) dimasukkan sebagai hari libur umum. Karena alasan praktis, maka hari raya yang seharusnya terjadi pada hari Kamis kemarin dimaksud, dirayakan pada hari Minggu setelah hari Kamis. Kalender liturgi Gereja Katolik Indonesia mengambil modus demikian sehingga pada hari Minggu ini dirayakan hari raya tubuh dan darah Kristus. Dalam bahasa Jerman hari raya ini dinamakan Fronleichnam“. Penamaan ini berasal dari kata resmi bahasa Jerman zaman dulu yakni „vrone licham“ artinya tubuh Tuhan. Nama resmi internasionalnya adalah hari raya „Corpus Christi (Tubuh Kristus). Martin Luther dan Gerakan Reformasinya menentang perayaan ini, karena mereka beranggapan bahwa perayaan ini tidak mempunyai landasan biblis. Gereja katolik merayakannya dengan melandaskan diri pada basis Ekaristi sebagai hal penting yang diwariskan Yesus pada malam sebelum Ia menderita dan wafat. Pada zaman pertentangan antara Katolik dan Protestan sejak era Reformasi Luther, hari raya ini dianggap sangat spesial katolik. Kekhasan pesta ini bahwa umat bukan saja merayakan misa di dalam Gereja, melainkan setelah misa diadakan perarakan di luar gereja dengan beberapa altar perhentian. Doa dan musik mengiringi perarakan tubuh Kristus yang ada dalam monstrans. Lazimnya di Jerman, jalan-jalan yang hendak dilalui perarakan ini dihiasi dengan pelbagai umbul-umbul dan aneka kembang bunga yang menarik. Itulah paparan singkat konteks dan cara gereja katolik merayakan hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Apa makna khusus yang hendak dipetik dari sana? Pertama, dengan perayaan ini gereja kembali menegaskan imannya akan kehadiran Yesus dalam roti ekaristi. Dalam roti ekaristi, Tuhan mengorbankan diri-Nya dan menjadi santapan rohani bagi umat-Nya. Tentu saja santapan rohani ini tidak akan mengenyangkan rasa lapar kita akan makanan, namun, jika kita percaya kepada Tuhan yang hadir dalam tubuh dan darah-Nya pada perayaan ekaristi kudus, maka kita juga yakin bahwa Tuhan lewat hidangan rohani ini bisa menghilangkan pelbagai jenis lapar dan dahaga non-materi yang kita alami dalam hidup pribadi maupun hidup bersama. Iman kita akan kehadiran Tuhan dalam sakramen Tubuh dan Darah Kristus hendak diteguhkan atau dibaharui dalam dan melalui perayaan suci ini, karena bagi kita umat Katolik, ekaristi merupakan pusat hidup kita sebagai umat beriman. Kedua, dengan diadakannya perarakan di luar Gereja, maka Gereja diingatkan bahwa iman kepada Tuhan tidak sebatas ibadat di balik tembok rumah ibadat. Iman itu harus disaksikan ke luar gereja. Apa yang kita rayakan bukannya hal yang harus kita sembunyikan di balik gedung gereja, melainkan harus kita tunjukkan ke luar gereja. Tentu saja apa yang kita tunjukkan ke luar gereja bukan sekedar simbol kehadiran Tuhan dalam roti ekaristi yang diarak dalam monstrans. Kesaksian hidup (cara pikir dan pola tindak) hendaknya menampilkan iman kita akan Tuhan yang mengasihi semua manusia tanpa kecuali. Ketiga, dalam dan melalui ritus perarakan di luar gereja, kita yakin bahwa kita bukan saja mendemonstrasikan iman kita, tetapi juga kita mau menyampaikan pesan kepada dunia bahwa Tuhan yang kita imani ada bersama kita, Ia berjalan bersama manusia dalam setiap pengalaman dan perjalanan hidupnya dan Ia memberkati umat manusia. Tuhan yang berjalan atau diarak keliling untuk membagikan berkat atau rahmat-Nya, Ia juga menugaskan kita yang percaya kepada-Nya agar kita menjadi berkat bagi sesama kita. Kita diingatkan Tuhan untuk menjadi tubuh-Nya yang hidup bagi dunia. Marilah kita mendemonstrasikan iman kita kepada dunia bahwa Tuhan yang kita imani adalah Tuhan yang menyelamatkan semua umat manusia tanpa kecuali. Amin.

 

Salam,

Profil Penulis

romo fidelis.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universitaet zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.

 

 

 

 

An dieser Diskussion teilnehmen.
Bitte anmelden oder registrieren um an dieser Diskussion teilnehmen zu können.