piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Brot Minggu, 9 Agustus 2015 - Hari Minggu Biasa XIX

 

 

 

brot logo v1

Bacaan Injil: Yoh. 6: 41 - 51

[41]Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga." [42]Kata mereka: "Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapanya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?" [43]Jawab Yesus kepada mereka: "Jangan kamu bersungut-sungut. [44]Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. [45]Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi: Dan mereka semua akan diajar oleh Allah. Dan setiap orang, yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang kepada-Ku. [46]Hal itu tidak berarti, bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa. [47]Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal. [48]Akulah roti hidup. [49]Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. [50]Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. [51]Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia."

jesus-knock

Sumber : https://danielgaryhill.files.wordpress.com/2013/08/bread-of-life-1.jpg


ROTI, BEKAL HIDUP KEKAL
Dalam Injil minggu ini Yesus memperkenalkan diriNya sebagai roti hidup yang turun dari surga. Yang mendengarkan Dia bereaksi : mempertanyakan, lalu bersungut-sungut seperti orang Israel di padang gurun ketika keluar dari Mesir. Bagaimana mungkin Ia adalah roti yang turun dari surga, kan orang tuaNya mereka kenal? Apalagi roti yang diomongkan Yesus adalah daging Dia sendiri, bagaimana mungkin? Lanjutan Injil melukiskan bahwa omongan Yesus menimbulkan pertengkaran hebat di antara para muridNya. Seandainya saya salah satu dari antara mereka waktu itu, saya pasti ikutan bingung juga he he he .

Jika kita membaca kisah pemberian roti dan air minum oleh malaikat dari surga kepada nabi Elia (bacaan pertama), kita dapat menerimanya secara wajar, karena malaikat diutus oleh Bapa untuk menolong nabi dan umatNya. Tapi klaim Yesus sebagai roti hidup yang turun dari surga, bagaimana bisa? Dan roti itu adalah daging Dia sendiri, yang benar saja?! Tak heran, pada akhir khotbah banyak murid Yesus tak lagi mengikuti Dia.

Yohanes 6:25-59 adalah khotbah panjang Yesus tentang roti hidup. Tahap demi tahap Yesus membawa pendengarNya masuk ke dalam rahasia ekaristi di mana Ia sendiri menjadi roti yang disantap. Injil Minggu ini merupakan antisipasi terhadap malam perjamuan terakhir di mana Yesus memberikan tubuhNya sendiri dalam rupa roti. Dalam ekaristi pemberian tubuh Yesus benar-benar terjadi; Ia benar-benar menjadi roti yang turun dari surga ke atas altar.

Yesus memberikan tubuhNya menjadi santapan agar Ia dapat menyatukan diriNya dengan umatNya, merasuk ke dalam jiwa-raga setiap orang yang percaya kepadaNya, memberi kekuatan kepada umatNya untuk melewati padang gurun kehidupan ini.

Mungkin kita tergoda untuk putus asa seperti nabi Elia ketika semua pekerjaan baik kita terancam gagal. Atau kita menjadi geram dan berlaku memberontak seperti nenek moyang Israel di padang gurun ketika semua yang kita lakukan tak berhasil. Seperti nabi Elia dikuatkan oleh roti dan air yang diberikan malaikat dalam perjalanan 40 hari 40 malam ke gunung Allah, demikianlah kita umat Allah dikuatkan oleh tubuh Kristus agar kita mampu berjalan menuju hidup kekal bersama Bapa di surga. Tubuh Yesus yang kita terima dalam ekaristi menjadi makanan rohani, roti bekal kehidupan menuju hidup kekal. Tak ada apapun di dunia ini mampu memberi jaminan sampai ke hidup kekal, hanya tubuh Kristus dengan segala rahmatNya. ***

Salam hangat,

Pastur Aloysius Angus

Profil Penulis

romo_aloy
Pastur Aloysius Angus. Imam Keuskupan Pangkalpinang, Bangka, Indonesia; sehari-hari bekerja sebagai pengajar di Seminari Mario John Boen Pangkalpinang

 

Discuss this article
You need to log in or register to participate in this discussion.