piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Brot Minggu 22 November 2015 - Hari Raya Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam

 

brot logo v1

 

Bacaan Injil: Yoh 18: 33b - 37

[33b]Maka kembalilah Pilatus ke dalam gedung pengadilan, lalu memanggil Yesus dan bertanya kepada-Nya: “Engkau inikah raja orang Yahudi?” [34]Jawab Yesus: “Apakah engkau katakan hal itu dari hatimu sendiri, atau adakah orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang Aku?” [35]Kata Pilatus: “Apakah aku seorang Yahudi? Bangsa-Mu sendiri dan imam-imam kepala yang telah menyerahkan Engkau kepadaku; apakah yang telah Engkau perbuat?” [36]Jawab Yesus: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.” [37]Maka kata Pilatus kepada-Nya: “Jadi Engkau adalah raja?” Jawab Yesus: “Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.”

Renungan:

bertanyalah-dan-berkembanglah

Sumber : http://2.bp.blogspot.com/-HJ4UD_KQIeA/Tv-G0Yn1-RI/AAAAAAAAAEs/S70kQurOmZs/s1600/jesus-says-come.jpg


Teman-teman yang terkasih,
Setiap akhir tahun liturgi kita merayakan Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Perayaan ini pada awalnya ditetapkan oleh Paus Pius XI tahun 1925 pada setiap hari Minggu  terakhir bulan Oktober, menjelang pesta segala orang kudus. Perayaan ini dimaksudkan untuk menentang Atheisme dan Sekularisme di zamannya dengan menampilkan Kristus sebagai yang lebih tinggi dan lebih berkuasa daripada segala kekuatan dunia. Sejak tahun 1970 perayaan ini mengalami perubahan penekanan: Kristus lebih bercorak kosmis dan eskatologis. Oleh karena itu, penempatan tanggalnya pun berubah: bukan lagi pada hari Minggu terakhir bulan Oktober, tetapi pada hari Minggu Biasa XXXIII/ XXXIV, menjelang Hari Minggu I Adventus. Jadi, jelas pula sebagai penutup tahun liturgi Gereja. Kristus adalah Alfa dan Omega.

Mungkin ada baiknya juga kita bertanya: Apakah makna raja dalam kehidupan kita sehari-hari? Mungkin kata raja sudah jarang kita kenal dalam kehidupan kita bahkan permerintahan yang berlandaskan pada kerajaan atau monarki sudah mulai jarang di dunia ini. Namun demikian, sistem pemerintahan jaman dahulu selalu berkiblat pada raja yang adalah penguasa tertinggi dan perintahnya adalah mutlak, tak dapat diganggu gugat. Apakah tanda bahwa seorang raja itu sangat berkuasa? Seorang raja akan sangat dihormati sekaligus ditakuti, apa bila ia memiliki kekuasaan yang luas. Orang-orang yang berada dalam kekuasaan raja itu akan mematuhi segala titahnya, sabda pandito ratu, perintah yang tak terbantahkan. Selain itu, sang raja sendiri juga sakti mandraguna sehingga tak ada yang dapat mengalahkan dalam berbagai perkelahian maupun perdebatan.

Nah sekarang kita merayakan Yesus Kristus Raja Semesta Alam, lalu apa maknanya dalam hidup kita sehari-hari? Ada beberapa hal yang perlu dijelaskan untuk sampai pada jawaban atas pertanyaan itu. pertama, pernyataan Raja Semesta Alam memperlihatkan daerah kekuasaan sang raja yang sangat luas, tak terbayangkan luasnya. Kedua, tentu raja ini sangat sakti karena dapat menguasai daerah dengan luas yang tak terbayangkan. Apa kesaktian raja ini? Kita dapat melihat mukjizat yang telah ia lakukan. Secara spontan kita dapat menyebut kehebatan raja ini, yaitu dapat menyembuhkan orang sakit bahkan dari jarak jauh (ingat kisah penyembuhan anak pegawai istana, Yoh 4:46-54). Hal yang luar biasa adalah ia dapat membangkitkan orang mati (mohon diingat juga kisah Lazarus Yoh 11:1- 43). Ia berkuasa tidak hanya terhadap sesama manusia tetapi juga terhadap alam. Hal itu terlihat dari kisah Yesus berjalan di atas air dan meredakan angin ribut (Mat 14:22-33). Hal yang paling luar biasa adalah sang raja ini bangkit dari kematian-Nya, dan berhasil mengalahkan kuasa dosa dan kerajaan Maut (1 Kor 15:26).

Berdasarkan pada dua hal itu maka kita dapat bertanya pada diri ini, apakah aku terpukau dengan semua itu? ini pertanyaan kritis dalam arti kalau kita tidak terpukau maka kita juga tidak akan pernah dapat memaknainya dalam hidup kita sehari-hari. Hal yang perlu kita lakukan adalah terus mencari tahu dan merenungkan dalam hati betapa dahysatnya raja semesta alam ini. Ada beberapa cara dalam merenungkan hal itu, salah satunya adalah yang ditulis oleh St. Ignatius Loyola yaitu meditasi dua Panji.

Meditasi dua Panji adalah meditasi yang merenungkan tentang panggilan dalam dunia yaitu, pertama: panggilan dari panji setan yang dipimpin oleh Lucifer yang adalah musuh kodrat kemanusiaan kita yang pantang berdamai. Kedua: panggilan dari panji Kristus yang dipimpin oleh junjungan kita Yesus sebagai panglima tertinggi. Panji setan menawarkan kekayaan, kehormatan dan kesombongan. Tiga hal inilah yang dapat menghancurkan manusia. Panji Kristus menawarkan kemiskinan untuk melawan kekayaan, penghinaan untuk melawan kehormatan dan kerendahan hati untuk melawan kesombongan.

Soal kekayaan, Yesus tidak pernah mengecam orang kaya tetapi hidup yang berorientasi pada kekayaan itulah yang menghancurkan. Anak muda kaya yang datang pada Yesus akhirnya pergi dengan sedih hati karena banyak hartanya. Ia tidak terganjal oleh kekayaannya untuk mengikuti Yesus sehingga ia gagal menjadi pengikut Kristus. Sama halnya dengan kehormatan, Yesus tidak mengecam orang-orang terhormat tetapi orang yang dalam hidupnya hanya mencari pujian itulah yang dikecam. Kaum Farisi yang berdoa di simpang jalan supaya dilihat orang dan dipuji-puji, itulah yang dikecam. Yesus mengajak kita untuk berani bertindak benar walaupun harus terhina dan bukan melakukan hal-hal hina untuk dihormati (seperti korupsi). Ibu Teresa dari Kalkuta merupakan teladan yang sangat baik dalam hal penghinaan. Ia dihina bahkan dimaki oleh beberapa orang India yang menentang gerakannya untuk menolong orang miskin. Ia dihina karena tidak pantas bagi orang yang berasal dari golongan yang tinggi bergaul dengan golongan yang paling rendah. Akan tetapi ia sanggup mengatasi hinaan itu sehingga malahan ia menjadi orang yang sangat dihormati.

Kesombongan adalah dosa terbesar manusia yang sangat menghancurkan. Dunia ini hancur karena kseombongan. Sudah banyak contoh dosa kesombongan yang menghancurkan dunia. Perang yang terjadi sekarang ini adalah akibat dari kesombongan manusia. Andaikata para pemimpin negara mau dengan rendah hati duduk bersama untuk merundingkan perdamaian, bisa dipastikan kehidupan di dunia ini akan menjadi lebih baik.


Teman-teman yang terkasih,
Ketika kita sanggup memenuhi panggilan Panji Kristus maka kita juga akan sanggup memaknai kehadiran Yesus sebagai raja kita. Hal yang perlu diperhatikan adalah apa yang menjadi tujuan hidup kita, jangan sampai terjebak pada tipu daya panji setan.

Teman-teman dapat kuliah di Jerman tentu ini merupakan suatu kehormatan tersendiri terutama jika teman-teman dapat mengamalkan ilmu yang anda dapat untuk kebaikan sesama. Tetapi jangan dibalik bahwa anda kuliah di luar negri demi kehormatan karena itu dapat berakibat fatal. Anda nanti akan terjebak seperti orang Farisi yang berdoa hanya supaya dipuji. Hal seperti ini akan membuat orang menghalalkan segala cara demi mendapat pujian.

Demikian pula dengan kekayaan. Teman-teman mungkin dapat menjadi kaya karena lulusan Jerman tetapi janganlah harta kekayaan yang menjadi tujuan utama anda dalam menuntut ilmu karena dapat berakibat fatal. Bill Gates banyak melakukan hal yang berguna bagi kehidupan manusia dan kemudian ia menjadi kaya karena itu. Ia juga menjadi donatur terbesar di dunia dan ini menandakan bahwa kekayaan bukanlah tujuan hidupnya maka ia sangat dihormati oleh banyak orang. Ia tidak sayang dengan hartanya untuk kebaikan sesamanya karena memang bukan harta yang ia cari. Sementara di negara kita banyak orang ingin menjadi kaya dan akhirnya terjebak pada korupsi dan malahan menyengsarakan banyak orang.


Teman-teman yang terkasih,
Dalam hidup ini janganlah kita mengejar pujian dan harta benda tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dimana Yesus duduk sebagai raja maka segalanya akan ditambahkan kepadamu.

Profil Penulis

antonius
Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

Discuss this article
You need to log in or register to participate in this discussion.