piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Brot Minggu 13 Desember 2015 - Hari Minggu Adven III

 

 

brot logo v1

Bacaan Injil: Luk. 3: 10 - 18


[10]Orang banyak bertanya kepadanya: "Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?"
[11]Jawabnya: "Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian."
[12]Ada datang juga pemungut-pemungut cukai untuk dibaptis dan mereka bertanya kepadanya: "Guru, apakah yang harus kami perbuat?"
[13]Jawabnya: "Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu."
[14]Dan prajurit-prajurit bertanya juga kepadanya: "Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?" Jawab Yohanes kepada mereka: "Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu."
[15]Tetapi karena orang banyak sedang menanti dan berharap, dan semuanya bertanya dalam hatinya tentang Yohanes, kalau-kalau ia adalah Mesias,
[16]Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: "Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.
[17]Alat penampi sudah di tangan-Nya untuk membersihkan tempat pengirikan-Nya dan untuk mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung-Nya, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan."
[18]Dengan banyak nasihat lain Yohanes memberitakan Injil kepada orang banyak.

lentera

Sumber : http://2.bp.blogspot.com/-tEqtY4ir-uA/UK8H-3ZxDmI/AAAAAAAAABs/dSTzoQfnXng/s1600/images.jpg

Homili:

Sejak delapan belas tahun yang lalu, saya menyerahkan hidup saya diatur oleh lonceng, dan hal itu berlangsung terus sampai tahun kemarin. Pada tahun 1998 saya memasuki Seminari Mertoyudan, dan dentang lonceng mulai mewarnai hari-hari panggilan saya hingga tahun 2012.

Setiap hari, pagi-pagi buta kami dibangunkan oleh dentangan lonceng (ini bunyi lonceng yang paling menjengkelkan). Lonceng berdentang lagi menandakan saatnya berjalan ke kapel untuk merayakan misa pagi. Lonceng berikutnya menandakan kami harus memulai pelajaran pada hari itu. Setelah selesai pelajaran atau kuliah, di siang hari lonceng berbunyi mengundang kami ke refter (ruang makan) untuk bersantap siang (ini bunyi lonceng yang paling menyenangkan). Selanjutnya lonceng kembali terdengar, menandakan saatnya siesta (istirahat siang). Lonceng yang selanjutnya menandakan saat opera (kerja bersih-bersih asrama) dan dilanjutkan dengan potus et cibus (istirahat sambil menikmati makanan kecil). Menjelang matahari terbenam, lonceng berbunyi sebagai tanda dimulainya waktu belajar sore. Waktu belajar itu diselingi bunyi lonceng yang menunjukkan waktu makan malam telah tiba. Tentu saja lonceng akan berbunyi lagi untuk mengundang kami kembali ke buku dan diktat pelajaran. Di saat kami sudah mulai lelah belajar, lonceng berbunyi menandakan waktu rekreasi. Dan akhirnya hari kami ditutup dengan bunyi lonceng yang mengajak kami ke kapel untuk melaksanakan completorium (doa malam).

Dengan adanya lonceng-lonceng itu, kehidupan kami di asrama menjadi teratur. Dan ternyata, tubuh saya pun menyesuaikan dengan pengaturan lonceng-lonceng tersebut. Setelah bertahun-tamu, ada semacam jam biologis yang membuat tubuh saya pada jam-jam tertentu tahu apa yang harus dilakukan. Di Indonesia, jam 04.30 pagi saya otomatis bangun. Saya akan makan pada jam 07.00, 12.30, dan 19.00. Sekitar pukul 14.00 menjadi waktu siesta. Pada pukul 22.00 biasanya saya sudah mulai mengantuk dan masuk ke kamar tidur. Meskipun sudah tidak ada lagi lonceng yang mengatur jadwal saya di pastoran, pembiasaan selama bertahun-tahun membuat saya melaksanakan kegiatan sesuai jadwal.

Rekan-rekan yang terkasih, kita tidak pernah lepas dari rutinitas. Anda tidak harus tinggal di asrama dan diatur oleh bunyi lonceng untuk mengalami rutinitas tersebut. Hidup kita sehari-hari juga diwarnai dengan rutinitas, baik itu kehidupan di keluarga, di lingkup kerja atau sekolah, maupun di dalam masyarakat. Tidak terkecuali juga dalam kehidupan beriman kita.

Kita bersama-sama sedang menyongsong Hari Raya Natal. Perayaan ini juga merupakan salah satu rutinitas bagi kita. Setiap tahun kita mengulangnya. Sama seperti semua rutinitas yang lain, ada bahaya bahwa apa yang rutin menjadi kurang mengesan, kurang bermakna, dan tidak kita pahami secara mendalam nilai di balik perayaan yang kita ikuti tersebut.

Akan tetapi, jika kita mempunyai keterbukaan hati terhadap peristiwa-peristiwa di dalam hidup kita, serutin apa pun itu pada akhirnya akan tertanam di dalam diri kita. Seperti halnya jam biologis saya yang terbentuk berkat pembiasaan dengan lonceng-lonceng itu, kita pun bisa mempunyai suatu jam biologis rohani.

Saat ini barangkali kita membutuhkan perayaan-perayaan yang untuk merenungkan dan mengerti misteri iman yang kita hidupi. Kita masih seperti orang-orang yang senantiasa bertanya, “Apa yang harus kami lakukan?” Kita masih membutuhkan jawaban Tuhan. Kita masih membutuhkan pengingat. Kita masih membutuhkan perayaan-perayaan untuk mendapat semangat guna melaksanakan Natal.

Yohanes sudah memberi jawaban, bukan sekedar untuk kita ketahui, melainkan untuk kita laksanakan. Kita diajak untuk membiasakan diri kita menerima kehadiran Tuhan dalam wujud seperti kehadiran-Nya dua ribu tahun lalu, dalam diri orang yang paling miskin. Jika kita bisa menemukan wujud Yesus seperti yang dikenalkan Yohanes kepada kita, tanpa harus menunggu Natal kita akan bisa selalu merasakan dan mengalami kelahiran Tuhan di dalam diri kita. Lonceng rohani di dalam hati kita akan senantiasa berdentang, menandakan Tuhan hadir dan ada di situ.

Salam,

Romo Adrianus Adi Nugroho, MSF
Missionare von der Heiligen Familie
München

Profil Penulis

romo_adi
Romo Adrianus Adi Nugroho, lahir di Boyolali, Jawa Tengah, 7 Juli 1983. Memulai masa persiapan imamat dengan masuk di Seminari Menengah Mertoyudan pada tahun 1998. Tahun 2003 mengikrarkan kaul sebagai biarawan MSF. Sebagai frater, Romo Adi menjalani kuliah Teologi di Universitas Sanata Dharma. Tahun 2011 ditahbiskan menjadi imam. Setelah satu tahun bertugas di Yogyakarta dan dua tahun bertugas di Jakarta, mulai tahun 2014 Romo Adi menjalankan perutusan di Jerman.

 

 

Discuss this article
You need to log in or register to participate in this discussion.