piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 16 Desember 2018 - Hari Minggu Adven III

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Luk. 3:10-18

Luk 3:10 Orang banyak bertanya kepadanya: "Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?"
Luk 3:11 Jawabnya: "Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian."
Luk 3:12 Ada datang juga pemungut-pemungut cukai untuk dibaptis dan mereka bertanya kepadanya: "Guru, apakah yang harus kami perbuat?"
Luk 3:13 Jawabnya: "Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu."
Luk 3:14 Dan prajurit-prajurit bertanya juga kepadanya: "Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?" Jawab Yohanes kepada mereka: "Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu."
Luk 3:15 Tetapi karena orang banyak sedang menanti dan berharap, dan semuanya bertanya dalam hatinya tentang Yohanes, kalau-kalau ia adalah Mesias,
Luk 3:16 Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: "Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.
Luk 3:17 Alat penampi sudah di tangan-Nya untuk membersihkan tempat pengirikan-Nya dan untuk mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung-Nya, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan."
Luk 3:18 Dengan banyak nasihat lain Yohanes memberitakan Injil kepada orang banyak.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Hati Nurani

Sumber : https://img.timesnownews.com/story/1537880985-heart.PNG?d=600x450

Homili:

Karunia Hati Nurani

 

Injil hari ini melanjutkan kisah penampilan Yohanes Pembaptis yang menyerukan pertobatan bagi para pendengarnya. Rupanya seruan tobat tersebut tidak mudah dimengerti oleh banyak orang. Akibatnya muncullah pernyataan/pertanyaan dalam ayat 10: Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat? Pertanyaan itu menarik!

Ada berbagai sebab atau motivasi orang bertanya mengenai apa yang harus dilakukannya. Kemungkinan pertama adalah orang tersebut memang sungguh tidak tahu apa yang harus dibuatnya. Kemungkinan kedua orang tersebut mencari pertimbangan atau afirmasi orang lain sebelum bertindak. Kemungkinan ketiga adalah melepaskan tanggung-jawab atas keputusan/ tindakannya sendiri karena tidak mau mendengarkan hati nuraninya.

Ingin pertanyaan ini saya ajukan: Menurut Anda, motivasi mana yang mendorong sebagian besar orang-orang itu bertanya kepada Yohanes?" Kira-kira, apa jawaban Anda? Mari kita jawab dalam hati. Berikutnya Anda juga bisa bertanya kepada diri sendiri: "Seringkah saya bertanya kepada orang lain, kepada orang tua, teman, pemimpin, pastor atau siapa pun mengenai apa yang harus saya perbuat? Lantas, apa alasan Anda?

Yohanes Pembaptis menyatakan bahwa setelah dia akan datang seorang yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dia adalah Yesus. Roh Allah ada pada-Nya. Dia adalah pribadi yang tidak bertanya Apa yang harus aku lakukan?" Dari kedalaman hati nurani-Nya, Yesus mendengarkan suara Ilahi dan mengikuti/ melaksanakannya. Ingat kata Yesus, "Makananku ialah melakukan kehendak Bapa

Yesus, manusia yang diurapi, atau disebut Kristus, menjadi contoh pribadi yang sangat kokoh mendengarkan kedalaman batin-Nya. Yesus, menjadi panutan kita yang disebut KRISTEN (pengikut Kristus Tuhan kita). Memasuki masa Gaudete ini, masa sukacita menyambut Yesus yang datang dalam hidup manusia, mari kita meneladan salah satu karakter-Nya itu. Setidaknya, mari meningkatkan kemauan dan usaha untuk mendengarkan dengan sungguh suara Illahi dalam kedalaman batin kita. Hati nurani, kedalaman batin, adalah anugerah yang sepantasnya tidak disia-siakan. Semoga kita makin bertanggungjawab atas keputusan perbuatan kita.

Dengan penuh sukacita kita berseru: Maranatha! Datanglah Tuhan!

 

Salam,

Profil Penulis

romo rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

BROT Minggu, 9 Desember 2018 - Hari Minggu Adven II

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Luk. 3:1-6

Luk 3:1 Dalam tahun kelima belas dari pemerintahan Kaisar Tiberius, ketika Pontius Pilatus menjadi wali negeri Yudea, dan Herodes raja wilayah Galilea, Filipus, saudaranya, raja wilayah Iturea dan Trakhonitis, dan Lisanias raja wilayah Abilene,
Luk 3:2 pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar, datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun.
Luk 3:3 Maka datanglah Yohanes ke seluruh daerah Yordan dan menyerukan: "Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu,
Luk 3:4 seperti ada tertulis dalam kitab nubuat-nubuat Yesaya: Ada suara yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.
Luk 3:5 Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan,
Luk 3:6 dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Allah Hadir

Sumber : https://sangsabda.wordpress.com/tag/tuhan-allah-datang-dengan-kekuatan/

Homili:

Allah Hadir Dalam Sejarah Hidupku

 

Saudari-saudara, rekan-rekan mudaku!

Masih segar di ingatan saya perdebatan tentang novel fiksi yang menjadi referensi pidato seorang politikus di tanah air. Dan sebagai pembenaran ada pendukungnya yang membandingkan kesahihan pengutipan kisah fiksi sebagaimana dilakukan pemuka-pemuka agama dari kitab suci mereka.

Pertanyaan tentang historisitas (kebenaran faktual) tentang pribadi Yesus dari Nazaret yang diklaim sebagai Kristus oleh pengikut-pengikutNya rupanya sudah menjadi pekerjaan rumah Penginjil Lukas. Latar belakangnya yang seorang dokter, tergelitik untuk memberikan penjelasan ilmiah kronologis tentang diri Yesus. Makanya di awal pemberitaannya tentang kisah kelahiran Yesus, dia menuliskan sinkronisasi waktu-waktu kelahiran Yesus dengan sejarah dunia yang dicatat oleh arsip-arsip kekaisaran romawi.

Patut dimengerti bahwa jemaat Lukas adaah jemaat yang tinggal jauh dari Yerusalem-Palestina. Zaman dulu juga belum ada media sosial yang bisa cepat menghadirkan kejadian-kejadian di belahan-belahan bumi lain di hadapan mata kita. Lukas merasa perlu meletakkan pondasi pemahaman jemaatnya pada konteks waktu yang kokoh.

Semakin jauh dari kejadian aslinya membuat manusia zaman ini juga mulai aktif mempertanyakan kebenaran pesan-pesan suci nabi-nabi. Dan lebih banyak lagi yang mempertanyakan nyambungnya pesan-pesan itu dengan problem-problem yang muncul zaman ini. Jadilah gagap religi“ abad ini. Mereka meragukan bahwa pesan-pesan indah, kisah-kisah indah keberhasilan tokoh-tokoh iman menghadirkan Allah di tengah pergulatan hidup mereka akan berlaku juga untuk mereka. Mereka merasa „tips n tricks-nya orang-orang di kitab suci tidak berfungsi lagi untuk rumitnya modernisasi.

Justru di tengah derasnya kritik atas aktualitas pesan Injil, bacaan Misa hari minggu Advent kedua ini hadir memberi kesegaran dan penegasan dalam ayatnya yang terakhir. Semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan“. Lukas menegaskan alamat pesannya ke „semua orang. Artinya Lukas tidak membatasi kelompok tertentu berdasar lokasi maupun waktu hidupnya. Tentu sejarah harus dimulai dari satu titik tertentu dalam kronologi. Tetapi dampaknya bisa selalu aktual dalam berbagai zaman dan generasi, karena tema yang pokok adalah tindakan penyelamatan oleh Allah, bukan jurnal budaya manusia-manusia dalam kisah kitab suci.

Titik permenungan berikutnya adalah pada kata melihat“. Melihat mengandaikan orang perlu membuka mata. Entah lebar entah sipit, mata hati kita harus dibuka untuk mampu mengakui dan mengamini bahwa masalah-masalah hidupku masih bisa dijangkau dan diatasi Allah melampaui segala bentuk perkembangan kompleksitas dan modernisitasnya. Kita perlu memangkas „bukit-bukit“ kesombongan hati kita, yang menghalangi kita menerima kebenaran bahwa Allah mampu bekerja mengatasi persoalan kita. Kita harus menimbun „lekuk-lekuk trauma dan kegagalan masa lalu dengan keyakinan baru bahwa halaman-halaman baru buku sejarah hidup kita masih kosong dan menunggu kita menorehkan kebaikan dan keberhasilan buah usaha dan kerja keras kita.

Selamat menjalani permenungan-permenungan Advent. Tuhan menyertai selalu dalam pergulatan hidupmu. Amin.

 

Salam,

Profil Penulis

romo bimo.jpg
Yohanes Bimo Ari Wibowo, MSF; lahir di Jepara, Jawa Tengah. Sejak tahun 1998 menjadi anggota Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dengan memasuki Novisiat MSF di Salatiga. Ditahbiskan imam pada tahun 2008, di Yogyakarta. Melayani 3 tahun di Paroki St. Jusup, Pati, Keuskupan Agung Semarang. Sejak tahun 2012 diutus berkarya di Jerman. Saat ini melayani di Paroki Maria Himmelfahrt, Dietramszell, Bayern.

 

 

 

 

BROT Minggu, 2 Desember 2018 - Hari Minggu Adven I

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Luk. 21:25-28,34-36

Luk 21:25 "Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut.
Luk 21:26 Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang.
Luk 21:27 Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.
Luk 21:28 Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat."
Luk 21:34 "Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat.
Luk 21:35 Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini.
Luk 21:36 Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

penantian

Sumber : https://google.com

Homili:

Masa Penantian

Kegagalan kita dalam merefleksikan masa lalu dapat berakibat fatal pada situasi kita dimasa yang akan datang. - Romo Antonius Danang Bramasti SJ

 

Teman-teman yang terkasih,

Kita memasuki Minggu Adven yang pertama. Masa Adven adalah masa penantian. Kita menantikan kehadiran Yesus sang Juru Selamat. Bagaimana kita memaknai masa penantian ini?

Teman-teman tentu pernah menantikan atau menunggu sesuatu. Bagaimana perasaan anda ketika menunggu? Ada yang menjawab: tergantung pada apa yang kita tunggu. Apa yang kita tunggu itu akan menentukan situasi diri kita. Apakah benar demikian? Mari kita lihat beberapa kasus dalam soal menunggu atau menanti.

PENANTIAN DAN HARAPAN

Pada 26 November lalu, NASA sukses mendaratkan pesawat (yang disebut Insight), di planet Mars. Saat pesawat Insight mendarat di Mars, sontak para kru di NASA bersorak kegirangan. Mereka telah menunggu bertahun-tahun untuk dapat melaksanakan hal ini.

Memang Insight bukan pesawat NASA pertama yang mendarat di planet Mars karena ini adalah misi yang ke 21 menuju ke Mars. Dari 21 misi ke Mars, tidak sampai separuh yang berhasil mendarat di Mars. Dan pesawat ini adalah salah satu yang paling canggih yang pernah dibuat oleh NASA dan berhasil mendarat di Mars.

Ini merupakan masa penantian yang panjang dan berbuah manis. Mengapa? Karena pada saat menunggu peristiwa ini terjadi, mereka bekerja keras, memperbaiki kesalahan masa lalu,dan tak kenal lelah berjuang meraih masa depan yang gilang gemilang.

Ada hal yang menarik saat Insight akan mendarat di Mars. Pesawat ini memilki kecepatan 21.000 km per jam. Menempuh jarak 548 juta Km dalam waktu 7 bulan dari Bumi ke Mars. Saat hendak mendarat pesawat ini memasuki atmosfir Mars dan membuat gesekan hebat yang menimbulkan panas yang tinggi, 15.000 C. Saat itu, tinggal butuh waktu 7 menit bagi Insight untuk sampai di Mars. Namun ini adalah 7 menit yang paling menegangkan karena pada saat itu para kru NASA hanya menunggu dan tidak dapat berbuat apa-apa. Bahkan saat-saat itu disebut sebagai 7 minute of teror.

Dalam masa 7 menit itu, mereka sungguh hanya dapat menunggu karena tidak dapat berbuat apa-apa sampai pesawat itu menyentuh tanah Mars. Mereka memang tidak dapat berbuat apa-apa namun mereka menanti dengan penuh harapan. Mengapa mereka punya harapan yang tinggi dalam masa penantian itu? Sebab mereka telah melakukan hal terbaik yang dapat mereka lakukan untuk sampai pada masa penantian.

Jerih payah mereka terbayar, harapan mereka tergenapi karena mereka telah mempersiapkan semuanya dengan sangat baik. Dalam masa penantian, kita dapat memilki harapan yang tinggi untuk keberhasilan berdasarkan pada apa yang telah kita perbuat sebelumnya.

PENANTIAN DAN WAKTU

Teman-teman yang terkasih,

Dalam hidup sehari-hari kita memiliki pola yang sama dengan kisah pendaratan di Mars dalam hal menanti, yaitu belajar dari kesalahan masa lalu untuk meraih masa depan yang gilang gemilang.

Setelah sidang ujian Tugas Akhir, saya diminta menunggu di luar. Dosen penguji mengatakan, Silakan anda menunggu di luar, nanti setengah jam lagi kami panggil. Lalu saya menunggu di luar. Masa penantian setengah jam rasanya setahun sebab saya hanya dapat menunggu dan tak dapat berbuat apa-apa untuk mempengaruhi nilai saya. Tentu saja kualitas harapan dalam masa penantian ini, dimana saya tidak dapat berbuat apa-apa lagi, tergantung dari bagaimana saya melaksanakan ujian tadi, dan bagaimana saya dapat melaksanakan ujian tadi, tergantung dari bagaimana saya mempersiapkan ujian ini.

Dengan demikian, pada dasarnya hidup adalah masa penantian. Dan masa penantian tidak hanya fokus pada masa depan tetapi juga bagaimana kita memaknai saat ini dan mereflesikan masa lalu. Kegagalan kita dalam merefleksikan masa lalu dapat berakibat fatal pada situasi kita dimasa yang akan datang. Masa penantian selalu terkait dengan masa lalu, sekarang, dan mendatang.

PENANTIAN DAN PERTOBATAN

Teman-teman yang terkasih,

Masa penantian tidak hanya mengandung unsur harapan tetapi juga unsur pertobatan. Pertobatan adalah yang penting dalam meningkatkan kualitas harapan kita. Harapan yang berlandaskan pada jerih ayah dan bukan sekedar khayalan belaka.

Seorang mahasiswa, setalah ujian, berharap-harap cemas bahwa ia akan lulus. Ia cemas karena ia tidak optimal dalam belajar dan saat mengerjakan ujian, ia merasa ragu apakah jawabanna benar atau salah. Mahasiswa kedua, berharap dapat nilai A, karena ia telah belajar mati-matian dan mengerjakan ujian dengan mantap. Mahasiwa ketiga, berharap dapat nilai A+, padahal ia tidak belajar dan tidak dapat mengerjakan ujian.

Mahasiwa pertama memiliki harapan yang rendah karena ia sadar bahwa kurang berjerih payah. Mahasiswa kedua memiliki harapan tinggi karena ia telah berjerih payah, sedangkan mahasiswa ketiga hanya berkhayal. Itulah bedanya harapan dan khayalan.

Pertobatan tidak hanya pada mahasiswa pertama dan ketiga tetapi juga yang pertama. Mahasiwa petama dan ketiga jelas mereka harus merubah pola belajar mereka agar memiliki harapan yang tinggi. Sedangkan mahasiwa kedua, perlu memperbaiki diri terus menerus agar ia dapat terus memiliki harapan yang tinggi. Semua pertobatan mereka hendaknya tidak hanya berguna pada dirinya sendiri tetapi juga bagi banyak orang.

PENANTIAN: BERJAGA-JAGA DALAM DOA

Teman-teman yang terkasih,

Dlam Injil, Yesus mengatakan, berjaga-jagalah dalam doa. Masa penantian adalah masa dimana kita perlu berjaga-jaga. Bejaga-jaga dalam upaya dan jerih payah kita supaya kita tidak jatuh dan kehilangan harapan. Namun berjaga-jaga juga dengan doa sehingga kita tidak merasa bahwa semua ini adalah hasil jerih payah kita semata, namun menyadari bahwa ini adalah karya Tuhan.

Namun juga jangan hanya mengandalkan doa semata tanpa usaha. Seorang walikota membuat pernyataan yang terkesan religius (semoga hanya hoax). Ia mengatakan bahwa dalam menghadapi musim penghujan ini ia tidak mempersiapkan apa-apa untuk menghadapi banjir karena menurutnya banjir adalah takdir dari Tuhan. Maka yang ia lakukan hanyalah berdoa memohon kepada Tuhan agar tidak banjir. Hmmm.. nampaknya ada yang salah dalam pernyataan ini.

Berdoa memang penting namun jika tidak didukung oleh upaya kita tentu ini perbuatan yang tidak baik. Ia gagal paham soal doa. Iman tanpa perbuatan pada dasarnya adalah mati, begitu kata rasul Yakobus.

Lagipula, pada dasarnya, bekerja juga adalah doa. Ini bukan sekedar berdoa dan bekerja (Ora et Labora) tetapi bekerja itulah doa kita. St Ignatius Loyola menyebutnya Contemplativus in actione, atau memandang Tuhan dalam setiap kegiatan kita. Apa yang kita lakukan hendaknya merupakan doa. Artinya setiap pekerjaan yang kita lakukan hendaklah kita arahkan kepada Tuhan.

 

Salam,

Profil Penulis

romo danang.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ

Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta.

Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

BROT Minggu, 25 November 2018 - Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Why. 1:4-6,10,12-18; 2:26,28; 3:5,12,20-21

Why 1:4 Dari Yohanes kepada ketujuh jemaat yang di Asia Kecil: Kasih karunia dan damai sejahtera menyertai kamu, dari Dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, dan dari ketujuh roh yang ada di hadapan takhta-Nya,
Why 1:5 dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya?
Why 1:6 dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya, bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin.
Why 1:10 Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala,
Why 1:12 Lalu aku berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadaku. Dan setelah aku berpaling, tampaklah kepadaku tujuh kaki dian dari emas.
Why 1:13 Dan di tengah-tengah kaki dian itu ada seorang serupa Anak Manusia, berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki, dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas.
Why 1:14 Kepala dan rambut-Nya putih bagaikan bulu yang putih metah, dan mata-Nya bagaikan nyala api.
Why 1:15 Dan kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian; suara-Nya bagaikan desau air bah.
Why 1:16 Dan di tangan kanan-Nya Ia memegang tujuh bintang dan dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam bermata dua, dan wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik.
Why 1:17 Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: "Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir,
Why 1:18 dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.
Why 2:26 Dan barangsiapa menang dan melakukan pekerjaan-Ku sampai kesudahannya, kepadanya akan Kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa;
Why 2:28 dan kepadanya akan Kukaruniakan bintang timur.
Why 3:5 Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Christkönig

Sumber : https://jahr-des-glaubens.blogspot.com/2011/11/christ-konig.html

Homili:

Raja Kasih Dan Kebenaran

Kasih dan kebenaran akan memerdekakan kamu - Romo Dr. Fidelis Waton SVD

 

Minggu terakhir dalam lingkaran tahun liturgi Gereja Katolik bernama hari Raya Yesus Kristus Raja Alam Semesta. Hari raya ini tergolong relatif muda dalam sejarah liturgi. Paus Pius Ke-11 memasukkan pesta ini ke dalam kalender liturgi pada 1925 di tengah fenomen tamatnya pelbagai kerajaan di Eropa pasca Perang Dunia Pertama. Perayaan ini hendak menempatkan peran strategis Yesus Kristus sebagai Raja atau pemimpin alam semesta.

Apakah Yesus sungguh seorang Raja? Kitab suci Perjanjian Baru hanya memberitakan pada dua tempat berkaitan dengan status Yesus sebagai Raja. Pada awal sejarah hidup Yesus diberitakan tentang kunjungan para Majus dari Timur. Mereka datang ke daerah Yudea untuk menyembah Raja yang baru lahir. Yang mereka jumpai bukannya pangeran yang dilahirkan di istana, melainkan bayi yang ada di palungan yang berasal dari keluarga sederhana dari Nazareth. Kondisi natalis-Nya yang primitif bahkan jorok dan tidak manusiawi sangat jauh dari gambaran kita tentang dunia istana dan para penghuninya.

Predikat Yesus sebagai Raja kelak muncul lagi ketika Ia disalibkan. Hakim yang mengeksekusinya, Pontius Pilatus menanyakan Yesus, apakah Ia seorang Raja. Apa yang dipertanyakan Pilatus kemudian ditulisnya pada salib Yesus berinisial INRI (Iesus Nazarenos Rex Iudaeorum – Yesus dari Nazareth Raja bangsa Yahudi). Yesus divonis mati oleh Pilatus secara politis karena Dia menyatakan Diri sebagai Raja. Pilatus memahami status Yesus sebagai Raja dalam artian politis. Yesus dianggap sebagai Raja tandingan untuk Kaiser Romawi yang berkuasa kala itu. Jalan keluarnya raja tandingan harus digusur. Yesus sendiri memahami predikat-Nya sebagai Raja dalam artian religius. Ia datang untuk membawa kasih dan kebenaran. Ia tidak mau merebut wilayah untuk kerajaan-Nya demikian. Wilayah yang hendak direbut Sang Raja ini adalah hati manusia. Ia mau memenangkan manusia untuk berjalan pada jalan-Nya yakni jalan kasih dan kebenaran.

Jalan kasih merupakan jalan baru yang dirintis Yesus dengan tiga sudut yakni kasih kepada Tuhan, sesama dan diri sendiri. Jalan ini bukan saja dikotbahkan Yesus melainkan dihidupi-Nya. Hidup-Nya merupakan pengejawantahan kasih yang diwartakan-Nya. Apa yang diwartakan-Nya adalah apa yang dihidupi-Nya. Barangsiapa yang mengikuti Raja yang satu ini, dia harus berjalan pada jalan cinta kasih. Cinta kasih ini jauh lebih penting ketimbang segala aturan dan upacara. Bagi Yesus, cara terpenting untuk memuji dan memuliakan Tuhan bukanlah dengan mengikuti segala perintah Tuhan atau setia menjalankan ritus-ritus keagamaan, melainkan dengan mengamalkan kasih. Ubi caritas et amor deus ibi est – di mana ada kebaikan dan kasih, di sana Tuhan hadir.

Identitas utama lainnya dari Raja Kristus adalah jalan kebenaran. Kebenaran berarti adanya keutuhan antara kata dan perbuatan. Hal ini sangat penting bagi kita di tengah dunia dewasa ini yang penuh dengan kebohongan (hoax). Sekian maraknya hoax acapkali membuat orang tidak sanggup lagi membedakan antara hoax dan yang benar. Mengikuti Raja yang satu ini berarti berani membela kebenaran dan hidup menurut kebenaran dan tidak membiarkan diri dikibuli dan dimanipulasi oleh iming-iming menarik yang penuh dengan kebohongan.

Berjalan pada jalan kebenaran berarti jujur dan sportif atau fair. Artinya kita berani mengatakan salah jika ada yang salah dan kita berani mengakui salah jika ada yang tidak beres.

Hari Raya Yesus Kristus Raja Alam Semesta kembali mengingatkan kita para pengikut Yesus akan jalan kasih dan kebenaran. Kiranya Raja kasih dan kebenaran tetap menuntun dan memimpin kita pada jalan kasih dan kebenaran. Kiranya Ia mengampuni kita jika kita membelot dari jalan kasih dan kebenaran. Kiranya kita selalu diantar-Nya kembali untuk berjalan pada jalan kasih dan kebenaran, karena hanya kasih dan kebenaran sejati yang memerdekakan, membebaskan dan menyelamatkan kita baik di dunia ini maupun di surga nanti. Amin.

 

Salam,

Profil Penulis

romo fidelis.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universitaet zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.

 

 

 

 

BROT Minggu, 18 November 2018 - Hari Minggu Biasa XXXIII

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Mrk. 13:24-32

Mrk 13:24 "Tetapi pada masa itu, sesudah siksaan itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya
Mrk 13:25 dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit, dan kuasa-kuasa langit akan goncang.
Mrk 13:26 Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.
Mrk 13:27 Dan pada waktu itupun Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dan akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung bumi sampai ke ujung langit.
Mrk 13:28 Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara. Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat.
Mrk 13:29 Demikian juga, jika kamu lihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu.
Mrk 13:30 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya itu terjadi.
Mrk 13:31 Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.
Mrk 13:32 Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Berjalan Menuju Salib

Sumber : IMG_LINK_IMAGE

Homili:

Untuk Apa Hidup Beragama

 

Teman-teman,

Saya yakin kita semua pernah mendengar mengenai akhir jaman atau kiamat atau kisah tentang kematian. Peristiwa jatuhnya pesawat di Indonesia beberapa waktu yang lalu membuktikan betapa terbatasnya pengetahuan kita tentang datangnya kematian, juga tentang akhir jaman. Ia tiba-tiba datang dan tak disangka-sangka.

Saya tertarik pada ayat yang terakhir pada kutipan Injil hari ini: Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja." Permenungan saya menjadi sangat sederhana ketika menyadari betapa pengetahuan saya sangat terbatas, relasi saya juga sempit, kebijaksanaan saya kerdil. "Aku ini tahu apa! Ternyata banyak hal yang tidak dapat saya kuasai di dunia ini.

Anehnya, saya sering sok tahu atau setidaknya merasa lebih tahu dan bijaksana dari pada orang lain... Pada jaman kini, banyak orang meninggalkan hidup beragama karena agama tidak memberi jawaban pada ketidakpastian hidup. Namun, banyak juga yang lupa bahwa apa yang mereka pastikan, misalnya melalui teknologi, tidak pernah sungguh-sungguh memberi hasil akhir yang jelas (dan pasti). Akibatnya banyak orang yang akhirnya mengambil jalan tengah, tetap beragama namun menciptakan ajaran yang memastikan masa depan. Ajaran macam begini hanya memberi hiburan saja, tidak memberi pegangan hidup yang membawa damai. (Perang salib adalah hasil dari pemahaman yang keliru mengenai arti beragama)

Kita beragama dan menerima ajaran Agama kita (Katolik) bukan untuk menambah pengetahuan mengenai Tuhan, bukan untuk membangun kekuasaan, melainkan agar jalan hidup kita sampai kepadaNya. Bahwa pengetahuan dan kebijaksanaan kita terbatas bukanlah hambatan untuk menemukan jalan Tuhan. Ada banyak tanda-tanda yang menggugah kita untuk selalu berbuat yang baik dan benar, yang bergaung di dalam lubuk hati yang terdalam. Ketika beragama, kita diberi bekal untuk membaca tanda-tanda itu, mengenal simbol-simbol yang muncul dalam hidup keseharian kita. Itu pun tidak akan pernah tuntas dipahami. Dalam keterbatasan dan upaya untuk sempurna, berserahlah kepada penyelenggaraan Tuhan yang tahu segalanya.

Semakin kita mendalami agama kita, semakin kita tahu bahwa kita ini setitik air di pinggir timba. Karenanya, kalau ada yang mendalami agama dan kemudian semakin jumawa (sombong, congkak, sok tahu) bahkan merasa lebih dari orang lain, saya yakin dia keliru dalam beragama. Semoga pesan Yesus pada hari ini meneguhkan kita dalam keterbatasan (pengetahuan, relasi, kebijaksanaan, dll.) untuk tetap berada dalam jalan Tuhan, jalan yang memberi damai bagi diri dan sesama kita, dan sampai kepada-Nya.

Tuhan memberkati!

 

Salam,

Profil Penulis

romo rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).