piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 14 Oktober 2018 - Hari Minggu Biasa XXVIII

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Mrk. 10:17-30

Mrk 10:17 Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"
Mrk 10:18 Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.
Mrk 10:19 Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!"
Mrk 10:20 Lalu kata orang itu kepada-Nya: "Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku."
Mrk 10:21 Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."
Mrk 10:22 Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.
Mrk 10:23 Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah."
Mrk 10:24 Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: "Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Mrk 10:25 Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."
Mrk 10:26 Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?"
Mrk 10:27 Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah."
Mrk 10:28 Berkatalah Petrus kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!"
Mrk 10:29 Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya,
Mrk 10:30 orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerim

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Kesempurnaan Cinta

Sumber : IMG_LINK_IMAGE

Homili:

Kesempurnaan Cinta

Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku. - Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C

 

Kisah menarik pada bacaan Injil hari ini sudah dikenal oleh banyak orang, yakni mengenai orang kaya yang ingin mendapatkan hidup kekal (surga). Yesus pernah mengatakan bahwa hukum yang utama adalah cinta, singkatnya: Mencintai Allah dan sesama. Injil hari ini menunjukkan bahwa orang kaya yang merindukan kerajaan surga itu memiliki cinta besar kepada Allah dan sesama. Buktinya, seluruh perintah Musa (10 perintah Allah) sudah dilaksanakannya sejak masa mudanya. Jadi, apalagi yang kurang?

Yesus menunjukkan bahwa kesempurnaan cinta itu ditunjukkan melalui belas kasih kepada sesama, bukan sekedar mengikuti hukum agama. Oleh karenanya, cinta selalu memiliki tuntutan untuk disempurnakan. Apabila tidak, ujung-ujungnya adalah legalistik dan kepentingan pribadi, pokoknya sudah memenuhi hukum lalu urusan beres, aku tidak terganggu lagi". Tantangan Yesus agar menjadi sempurna adalah "Juallah hartamu, bagikan kepada orang miskin. Yesus memanggil kita untuk berpihak dan memperjuangkan orang miskin, orang yang mengalami kesulitan hidup, orang yang tak berdaya. Orang-orang semacam itu banyak kita temukan di sekitar kita.

Siapakah mereka itu dalam kehidupan nyata kita? Tidak perlu jauh-jauh... Bila kita menilik sedikit situasi politik di Indonesia, betapa banyak orang miskin dan tak berdaya dimanfaatkan untuk mendapatkan kekuasaan yang pada akhirnya kekuasaan itu tidak pernah menjadi sarana untuk melayani hidup mereka. Lebih dekat lagi, anggota keluarga atau teman-teman kita... adakah yang tidak berdaya di antara mereka? Ada sebuah kisah yang saya alami. Dalam pertemuan dengan para imam, seorang uskup duduk di bangku paling depan. Ia sendirian! Para imam lainnya lebih suka duduk di belakangnya. Tak seorang pun duduk di samping beliau, menemaninya. Saya dari belakang berpindah di samping beliau. Mungkin para rekan imam heran saya berbuat begitu. Tidak biasanya. Namun, saya berpikir waktu itu bahwa bapak uskup ini adalah orang yang paling miskin di antara kami, dia sendirian, mungkin kesepian. Saya tinggalkan kenyamanan saya dan menemani beliau duduk di depan. Awalnya tidak begitu enak, namun lama-lama kami bisa ngobrol dengan santai dan beliau tampak lebih gembira.

Orang miskin ada di sekitar kita. Mari menjadi lebih jeli mendapatkannya. Mari kita sempurnakan cinta kita kepada Allah dan sesama. Alangkah indahnya bisa memberi kepada mereka yang tidak mampu membalaskannya kepada kita.

Tuhan memberkati!

 

Salam,

Profil Penulis

romo rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

BROT Minggu, 30 September 2018 - Hari Minggu Biasa XXVI

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Mrk. 9:38-43,45,47-48

Mrk 9:38 Kata Yohanes kepada Yesus: "Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita."
Mrk 9:39 Tetapi kata Yesus: "Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorangpun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku.
Mrk 9:40 Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.
Mrk 9:41 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya."
Mrk 9:42 "Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut.
Mrk 9:43 Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan;
Mrk 9:45 Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka;
Mrk 9:47 Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka,
Mrk 9:48 di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

persatuan

Sumber : https://charlespanjaitan198.files.wordpress.com/2014/06/unity-in-the-community-logo2.jpg

Homili:

Kami Dan Mereka

Lebih baik kita menghancurkan hal-hal yang jahat dalam diri kita ketimbang kita menghancurkan pihak lain yang kita anggap jahat.Danang Bramasti, SJ - Romo Antonius Danang Bramasti SJ

 

Teman-teman yang terkasih,

Bagaimana dunia ini bisa terpecah belah, saling bermusuhan, dan bahkan saling membunuh? Salah satu penyebabnya adalah pandangan tentang KAMI-MEREKA. Mungkin terdengar aneh namun ini sungguh nyata. Bagaimana prosesnya?

Teman-teman mungkin sudah mendengar tentang Haringga Sirla (23), seorang supporter Persija yang tewas dikeroyok bobotoh atau supporter Persib. Mengapa hal itu bisa terjadi? Pada saat kejadian, Haringga berada di tengah kelompok supporter Persib. Mereka mengetahui bahwa ternyata Haringga bukanlah suporter Persib. Ia kemudian dihajar masa sampai mati. Sederhana sekali kasus ini, ia dibunuh karena ia bukan bagian dari mereka. Ini sungguh tragis dan sadis.

Dalam buku yang berjudul The Origin of Satan yang ditulis oleh Elaine Pagels, tertulis bahwa salah satu asal muasal setan adalah ketika ada seorang atau sekelompok orang yang dianggap bukan bagian dari mereka. Maka terbentuklah kelompok kami dan kelompok mereka. Lebih jauh dikatakan bahwa kelompok kami lebih baik dari kelompok mereka. Muncullah kelompok yang merasa baik dan kelompok mereka yang dianggap tidak baik.

Perseteruan semakin meningkat, kelompok kami adalah kelompok baik dan mereka adalah kelompok yang jahat. Kemudian meningkat lagi bahwa kelompok kami yang baik ini harus menumpas kelompok mereka yang jahat. Puncakmya adalah kelompok kami harus hidup dan kelompok mereka yang jahat harus musnah. Mengapa? Karena yang jahat adalah representasi dari setan yang harus dilenyapkan.

Pandangan kami-mereka ini menghinggapi kelompok-kelompok yang sangat eksklusif dan merasa yang paling benar atau baik. Lebih parah lagi jika kelompok ini merasa berada dipihak Tuhan. Dengan demikian kelompok yang bukan bagian dari kami adalah kelompok setan yang harus dilenyapkan. Tidak heran kelompok yang merasa dipihak Tuhan dapat membunuh orang-orang yang dianggap berada dipihak setan. Mereka membunuh dengan perasaan bangga karena merasa dipihak Tuhan. Mereka tidak pernah merasa bersalah sedikitpun.

Lalu, bagaimana kita dapat menghindari pandangan soal kami-mereka’ ini? Bacaan Injil memperlihatkan bagaimana Yesus memperlakukan orang yang dianggap bukan bagian dari ‘kami. Ada dua hal yang disampaikan oleh Yesus. Pertama, Yesus mengatakan bahwa barang siapa tidak melawan kita ia berada dipihak kita. Kedua, Yesus juga mengatakan barang siapa memberi secangkir air karena kamu muridKu pada orang kecil ini, kamu tidak akan kehilangan upahmu. Apa maknanya?

Pertama, mereka yang bukan kami tetapi memiliki visi yang sama adalah juga bagian dari kami. Mungkin kita tidak mengenal mereka, atau mungkin mereka berbeda suku, ras, agama, ataupun bahasa tetapi memperjuangkan perdamaian, berarti mereka adalah bagian dari kami. Yesus tidak mempersoalkan perbedaan yang penting adalah niat baik untuk memperjuangkan kehidupan. Dengan demikian Yesus merangkul perbedaan golongan dan mengutamakan visi.

Kedua, orang-orang kecil seperti pengemis, orang cacat, penderita penyakit kusta, dan yang dianggap rendah pada jaman Yesus dianggap pendosa. Mereka menjadi seperti itu karena dosa mereka ataupun dosa orang tuanya. Mereka adalah orang-orang yang tersingkir dan disingkirkan. Oleh Yesus, mereka yang tentu saja bukan bagian dari kami, justru sangat diperhatikan. Bahkan mereka dapat menjadi jalan bagi kami menuju keselamatan. Misalnya, hanya dengan member secangkir air pada mereka.

Kedua hal ini memperlihatkan bahwa Yesus mendobrak pandangan kami-mereka’ dan menyadarkan para murid bahwa semua harus diselamatkan. Tidak ada lagi pandangan bahwa ‘kami’ baik dan ‘mereka’ jahat yang harus dimusnahkan. Pernyataan Yesus bahwa kelompok yang bukan bagian dari ‘kami itu juga baik tentu membingungkan para murid. Pada saat itu para murid merasa berada dalam kelompok yang sangat hebat siap menghancurkan siapapun yang dianggap jahat. Pernyataan Yesus itu membuat mereka bertanya-tanya: Lalu siapa yang harus dimusnahkan? Atau lebih tepatnya siapa yang kita lawan? Siapakah musuh kami?

Menghadapi situasi itu Yesus memberi penjelasan yang menarik. Alih-alih melihat kejahatan mereka, Yesus mengajak melihat pada diri sendiri. Ia menjelaskan jika tanganmu membuatmu sesat, potong saja. Jika kakimu menyesatkan, potong saja. Jika matamu menyesatkan, cungkil saja. Menurut Yesus: lebih baik kita menghancurkan hal-hal yang jahat dalam diri kita ketimbang kita menghancurkan pihak lain yang kita anggap jahat.

Berhadapan dengan kajahatan di dunia ini, Yesus mengajak kita untuk melihat kedalam, melihat kekurangan diri sendiri dan memperbaikinya. Jika ada yang tidak baik, lekaslah dibuang. Dan jika masing-masing dari kita sudah berperilaku baik maka dunia ini juga akan menjadi baik. Tidak ada lagi kelompok yang merasa superior dan menganggap kelompok lain sebagai inferior yang harus dilenyapkan.

Kasus Haringga hanyalah salah satu dari fenomena kami-mereka’ yang menyesatkan. Banyak kasus lain di dunia ini yang berasal dari fenomena tersebut. Kasus di Timur Tengah yang selalu konflik hebat memperihatkan hal itu. Mereka tidak peduli pada ‘mereka’ yang dianggap jahat. Hal terpenting adalah hancurkan mereka. Hal ini menyebabkan perang yang tak berkesudahan, Membunuh sesama manusia adalah hal yang biasa bahkan dilakukan dengan sadis. Sepanjang orang itu bukan bagian dari kami harus dihancurkan. Dampak dari pandangan ‘kami-mereka memang sungguh mengerikan.

Oleh karena itu, teman-teman yang terkasih, marilah kita mohon rahmat pada Tuhan agar kita tidak menjadikan perbedaan sebagai pemisah antara kami dan mereka namun kita dapat merangkul seluruh perbedaan dengan kesadaran bahwa kita semua ini adalah bagian dari rencana keselamatan Tuhan. Jangan ada lagi pandangan kami-mereka yang menghancurkan.

 

Salam,

Profil Penulis

romo danang.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ

Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta.

Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

BROT Minggu, 23 September 2018 - Hari Minggu Biasa XXV

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Mrk. 9:30-37

Mrk 9:30 Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang;
Mrk 9:31 sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit."
Mrk 9:32 Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.
Mrk 9:33 Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?"
Mrk 9:34 Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka.
Mrk 9:35 Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya."
Mrk 9:36 Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka:
Mrk 9:37 "Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Yang terbesar

Sumber : https://sangsabda.wordpress.com/tag/siapa-yang-terbesar-dalam-kerajaan-surga/

Homili:

Anak Kecil Sebagai Teladan

Jesus nachfolgen bedeutet gegen den Strom schwimmen - Romo Dr. Fidelis Waton SVD

 

Kita hidup dalam struktur keluarga, masyarakat, pendidikan dan budaya yang hirarkis. Salah satu piranti dari tata hirarkis adalah yang lebih tua atau dewasa, yang di atas atau yang memimpin harus menjadi contoh untuk yang lebih muda, yang dipimpin dan yang di bawah. Orang tua harus menjadi contoh untuk anak-anak. Yang dewasa harus menjadi contoh untuk yang masih muda dan berkembang. Guru harus menjadi teladan untuk para murid. Dosen harus menjadi contoh untuk mahasiswa-mahasiswi. Pemimpin harus menjadi teladan untuk yang dipimpin atau bawahan. Anak-anak harus belajar dari orang tua. Adik-adik harus belajar dari yang lebih kakak. Siswa-siswi harus belajar dari guru, masyarakat harus belajar dari pemerintah, dan sebagainya. Pemerintah harus menjadi teladan untuk warga. Kepercayaan terhadap yang lebih tua, yang dewasa, yang di atas dan yang memimpin akan berkurang jika mereka melalaikan fungsi keteladanan.

Lewat injil Minggu ini Yesus menjungkirbalikkan piramida pikiran manusia. Seorang anak ditampilkan Yesus sebagai contoh untuk para murid. Mereka harus melihat anak kecil, mereka harus mengorientasikan diri pada anak kecil. Mereka harus belajar dari anak kecil. Yang dewasa harus belajar dari anak kecil. Prinsip ini bukan sekedar kritik terhadap pola hidup yang berlaku, lebih lagi sebagai kunci untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Yesus memiliki hubungan dan cara hidup yang akrab dan menghargai anak-anak kecil. Anak-anak selalu diterima Yesus dengan hati yang terbuka dan penuh berkat.

Kini Yesus mengajarkan kita yang dewasa untuk belajar dari anak-anak. Apakah Yesus tidak keliru dengan ajaran demikian? Apakah Yesus ajaran ini benar bahwa yang dewasa harus mengorientasikan dirinya pada yang kecil? Ajaran ini benar dan tidak asing bagi kita. Jika kita melihat dunia kita dewasa ini misalnya yang penuh dengan persaingan yang tidak sehat dan sikut-sikutan, kita secara spontan mengharapkan agar anak-anak atau generasi yang lebih muda mudah-mudahan tidak masuk dalam suasana hidup demikian.

Apa yang khas yang harus kita belajar dari anak kecil? Pertama, seorang anak itu kecil dan bergantung pada orangtuanya. Seorang anak selalu memandang yang lebih dewasa, bertanya, meminta dan percaya kepada yang dewasa. Pandangan ke atas inilah yang perlu kita belajar dari anak kecil. Bukannya dengan pongah memandang dari atas, melainkan dengan rendah hati dan rasa bergantung hendaknya kita memandang ke atas, memandag kepada Tuhan yang kita yakini sebagai asal dan tujuan hidup kita. Iman kepada Tuhan berarti memandang Tuhan dan menggantungkan diri pada Tuhan. Ketergantungan kita kepada Tuhan bukanya membuat kita infantil atau kekanak-kekanakan, melainkan membuat kita belajar untuk memetik apa yang kita perlukan dalam perjalanan menuju kedewasaan. Ketergantungan kita kepada Tuhan bukan berarti kita mengorbankan kebebasan kita. Justru kita menjadi lebih bebas, ketika kita percaya pada Tuhan dan yakin bahwa Tuhan tidak membiarkan kita sendirian dalam situasi apapun yang menimpa hidup kita. Kedua, anak kecil lazimnya masih tulus. Ketulusan tersebut sangat dibutuhkan dalam hidup kita bersama khususnya di kalangan orang dewasa. Ketulusan seorang anak kecil adalah ketulusan yang otentik dan benar, bukannya ketulusan buatan atau kepura-puraan yang acapkali kita alami dalam hidup bersama. Ketiga, anak kecil secara simbolis diangkat Yesus sebagai model kerendahan hati dan pelayanan. Yang hebat bukanlah dia yang main kuasa dan bersikap merintah dari atas, melainkan dia yang merendahkan diri dan melayani orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Pemimpin sebagai pelayan – inilah model kehidupan bersama yang dibangun Yesus. Hal ini bertentangan dengan praksis dalam hidup kita bersama. Bawahan harus melayani atasan. Pemimpin sebagai pelayan. Pesan bernas ini tidak asing lagi dan selalu dikumdangkan di mana-mana entah di gereja maupun di masyarakat, namun prinsip ini lazimnya masih berada dalam penjara kata-kata dan belum dimerdekakan sebagai cara hidup. Apakah kita berani untuk hidup melawan arus? Pengikut Yesus adalah orang yang siap berenang melawan arus. Amin.

 

Salam,

Profil Penulis

romo fidelis.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universitaet zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.

 

 

 

 

BROT Minggu, 16 September 2018 - Hari Minggu Biasa XXIV

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Mrk. 8:27-35

Mrk 8:27 Kemudian Yesus beserta murid-murid-Nya berangkat ke kampung-kampung di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Kata orang, siapakah Aku ini?"
Mrk 8:28 Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan: seorang dari para nabi."
Mrk 8:29 Ia bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Petrus: "Engkau adalah Mesias!"
Mrk 8:30 Lalu Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapapun tentang Dia.
Mrk 8:31 Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.
Mrk 8:32 Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia.
Mrk 8:33 Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: "Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."
Mrk 8:34 Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
Mrk 8:35 Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Yesus

Sumber : https://usercontent1.hubstatic.com/13485742.gif

Homili:

Mengalami Yesus Secara Pribadi

 

Sebuah peristiwa menarik bahwa Yesus bertanya kepada para muridNya, Siapakah Aku?. Mungkin itu cara Yesus untuk mengecek apakah orang banyak sungguh mengenal Dia dan apakah para muridnya juga mengenalNya dengan benar.

Saya menemukan bahwa pertanyaan (yang mirip test) Yesus ini memiliki sebuah tuntutan, yakni kenali Aku! Tampaknya Yesus berkehendak agar mereka sungguh mengenalnya secara personal. Untuk mencapai pengenalan seperti itu, dibutuhkan proses yang tidak mudah. Salah satu indikasinya ialah: memanggul salib. Banyak orang mengikuti Dia karena ingin pengenalNya secara personal, pribadi, intim. Namun, pencapaiannya harus melalui salib.

Seperti apakah salib kita itu? Pada jaman sekarang ini, banyak informasi yang terbelokkan (hoax) oleh media sosial. Bisa jadi, termasuk jalan kita mengenal Yesus, mengenal Allah, juga dibelokkan. Salah satu salib modern kita ialah meneliti dengan secermat mungkin kebenaran yang sampai ke telinga kita. Ketika di media sosial kita menerima informasi mengenai Yesus, apakah kita menerimanya begitu saja, menjadi santapan otak dan perasaan kita, atau kita mencari sumber yang lebih bisa dipertanggungjawabkan. Sumber yang bisa dipertanggungjawabkan semestinya membawa pengenalan kita tentang Yesus menjadi lebih personal, lebih intim. Dengan demikian, iman kepadaNya itu tidak mudah luntur. Berusaha keras, menyediakan waktu dan tenaga untuk mengenal Yesus lebih dekat adalah sebuah salib. Berapa banyak orang jaman ini enggan memanggul salib semacam itu?

Mari kita, bersama-sama dengan para murid Yesus, berdiam diri, menelaah, menyerap ajaranNya agar mengerti sungguh siapa DIA. Semoga kita rela memanggul salib dan pengenalan kita akan Yesus sungguh merupakan peristiwa personal dan intim, bukan kata orang", atau "kata media sosial.... Semoga tenteram dan damailah hati kita karena mantaplah iman kita.

Amin.

 

Salam,

Profil Penulis

romo rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

BROT Minggu, 2 September 2018 - Hari Minggu Biasa XXII, HARI MINGGU KITAB SUCI NASIONAL

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Mrk. 7:1-8,14-15, 21-23

Mrk 7:1 Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus.
Mrk 7:2 Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh.
Mrk 7:3 Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka;
Mrk 7:4 dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga.
Mrk 7:5 Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: "Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?"
Mrk 7:6 Jawab-Nya kepada mereka: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.
Mrk 7:7 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.
Mrk 7:8 Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia."
Mrk 7:14 Lalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka: "Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah.
Mrk 7:15 Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya."
Mrk 7:21 sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan,
Mrk 7:22 perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.
Mrk 7:23 Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Quote

Sumber : https://weheartit.com/entry/37664746

Homili:

Niat Baik Mendahului Perbuatan

Kesalahan dalam perbuatan yang dilandasi oleh niat mulia jauh lebih baik daripada kehebatan dalam perbuatan yang dilandasi oleh niat jahat. - Romo Antonius Danang Bramasti SJ

 

Teman-teman yang terkasih,

Ada sebuah pertanyaan klasik: apakah yang telah kita perbuat bagi sesama? Mungkin sudah banyak hal yang kita lakukan bagi sesama kita. Namun, mari kita refleksikan sejenak perbuatan baik kita berdasarkan pada bacaan Injil Minggu ini.

Bacaan Injil Minggu ini bicara soal cuci tangan. Lhoo apa hubungannya antara perbuatan baik dengan cuci tangan? Kayaknya ga nyambung deh. Hmmm mari kita lihat lebih dalam lagi, mengapa Injil ini mengangkat persoalan cuci tangan. Hal sepele gini koq masuk Injil ya? Pasti ada yang penting dengan persoalan ini.

Pada bacaan Injil diceritakan bahwa orang-orang Farisi protes, mengapa para murid Yesus tidak cuci tangan terlebih dahulu sebelum makan. Dalam tradisis Yahudi, mereka yang tidak cuci tangan sebelum makan, dianggap najis. Orang yang dianggap najis adalah pendosa, dan pendosa tidak dapat masuk surga. Inilah kasus utamanya, bahwa kalau tidak cuci tangan sebelum makan berarti tidak bisa masuk surga. Waaoouuw luar biasa sekali pernyataan ini.

Menanggapi peristiwa ini, Yesus langsung memberi komentar: Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Mengapa Yesus mengatakan demikian? Karena mereka hanya bicara soal peraturan manusia dan malah mengabaikan perintah Tuhan yaitu kasih pada sesama.

Dalam bacaan pertama, Rasul Yakobus menuliskan, Ibadah sejati dan tak bercela dihadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemari oleh dunia. Apa yang dapat mencemari atau menajiskan diri kita?

Teman-teman yang terkasih,

Hal cuci tangan adalah peraturan manusia untuk menjaga kebersihan. Memang benar bahwa hal kebersihan dapat dikatakan sebagai bagian dari iman. Namun demikian, orang Farisi mengaitkan peristiwa cuci tangan dengan persoalan kenajisan yang bicara soal surga dan neraka. Tentu saja hal in terlalu jauh hubungannya. Hal cuci tangan terkait dengan kebersihan dan kesehatan manusia tetapi tidak ada kaitannya dengan surga dan neraka. Apakah kalau orang makan tanpa cuci tangan terlebih dahulu pasti masuk neraka? Ini hal pertama.

Hal kedua yang diangkat oleh Yesus adalah soal niat yang melandasi perbuatan. Niat muncul dari kedalaman hati dan terungkap dalam perbuatan dan tutur kata. Pada poin inilah sebenarnya najis atau tidak najis dapat dinyatakan. Itulah sebabnya Yesus mengatakan, apa yang masuk ke dalam tubuh kita tak dapat menajiskan tetapi apa yang keluar dari seseorang itulah yang menajiskan. Sebab dari dalam hati orang timbul segala yang jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan, dan mungkin masih banyak lagi. Itu semua yang menyebabkan kenajisan. Itu semua juga yang oleh Rasul Yakobus disebut mencemari diri kita.

Nah jelas sudah apa yang dimaksud oleh Yesus soal kenajisan, yaitu niat buruk yang muncul lewat perbuatan. Bukan soal cuci tangan lalu dikaitkan dengan kenajisan... hadeehhh.. Terlalu jauh broo.. Tetapi dalam masyarakat kita sekarang ini masih cukup banyak orang yang senang mengaitkan peristiwa dengan agama. Hal apa saja selalu dikaitkan dengan soal agama. Hal ini dapat membuat orang tidak peduli pada niat dan perbuatan tetapi yang pnting adalah seagama atau sealiran. Hal ini sangat berbahaya karena dapat memecah belah masyarakat.

Yesus lebih menekankan niat baik yang melandasai perbuatan, bahkan ketika perbuatan itu terlihat buruk sekalipun (dalam bacaan Injil adalah tidak cuci tangan sebelum makan). Dalam kehidupan sering kali persoalaannya lebih kompleks.

Ada kisah, seorang ibu mencuri makanan. Ia tertangkap basah dan dibawa ke kantor polisi. Polisi bertanya kepada ibu itu, Mengapa ibu mencuri?” Sang ibu menjawab, “Anak saya sudah dua hari tidak makan. Ibu itu mencuri demi memberi makan pada anaknya yang masih balita. Persoalan ini sungguh kompleks karena mencuri itu jelas tidak baik tetapi hal itu dilandasi dari niat baik. Hmmmm..susah juga ya.

Kita lihat peristiwa ini dalam konteks bacaan Injil Minggu ini. Kita awali dari melihat niat yang ada dalam hati ibu itu. Apakah ada niat buruk yang muncul dalam diri ibu itu? Niatnya adalah memberi makan pada anaknya yang balita. Namun karena kemisikinan yang akut, ia tidak dapat bekerja mencari uang, ia tidak punya apa-apa. Ia hanya punya satu tekad yaitu memberi makan anaknya yang mulai kelaparan. Tak ada niat buruk yang muncul dari dalam hatinya. Memang pada akhirnya ia terpaksa harus mencuri demi kehidupan anaknya.

Pada jaman Yesus, kasus pencurian seperti ini akan dihukum sangat berat bahkan jaman sekarang pun dapat dihakimi masa hingga babak belur. Jika hal ini terjadi, bagaimana nasib anaknya yang balita dan kelaparan? Siapa yang lebih berdosa, yang mencuri atau yang menghukum?

Teman-teman yang terkasih,

Bacaan Injil Minggu ini mengajari kita untuk mengawali perbuatan-perbuatan kita dari niat baik. Kesalahan dalam perbuatan yang dilandasi oleh niat mulia jauh lebih baik daripada kehebatan dalam perbuatan yang dilandasi oleh niat jahat. Dalam hal ini Yesus juga mengatakan: cerdik seperti ular, tulus seperti merpati. Maka jangan silau oleh kesuksesan karena yang penting adalah niat kita yang tulus. Ibu Teresa dari Kalkuta mengatakan: hal yang dikehendaki Tuhan bukanlah kesusksesan tetapi kesetiaan pada Tuhan.

Oleh karena itu, teman-teman yang terkasih, marilah kita mohon rahmat Tuhan agar kita menjaga niat-niat baik kita yang dilandasi oleh kasih Tuhan dan berani bertindak berdasarkan niat baik kita itu. Amin.

 

Salam,

Profil Penulis

romo danang.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ

Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta.

Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.