piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 13 Mei 2018 - Hari Minggu Paskah VII, Hari Minggu Komunikasi Sedunia

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Yoh. 17:11b-19

Yoh 17:11 Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.
Yoh 17:12 Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci.
Yoh 17:13 Tetapi sekarang, Aku datang kepada-Mu dan Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka.
Yoh 17:14 Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.
Yoh 17:15 Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat.
Yoh 17:16 Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.
Yoh 17:17 Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.
Yoh 17:18 Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia;
Yoh 17:19 dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

World Communication Day

Sumber : http://dioceseofcharlottetown.com/world-communications-day-2016/

Homili:

Firman-mu Adalah Kebenaranmembangun Komunikasi Yang Menyelamatkan

Cara Tuhan berkomunikasi dengan manusia adalah sangat personal yaitu Tuhan menjadi manusia dan tinggal diantara kita agar kita semua selamat. - Romo Antonius Danang Bramasti SJ

 

Teman-teman yang terkasih,Hari Minggu ini adalah hari minggu Komunikasi Sedunia. Apa maknanya bagi kita semua?Saya tidak akan biacara soal apakah komunikasi itu tetapi lebih pada cara kita berkomunikasi.Bagaimana komunikasi kita dengan sesama, alam, dan tentu Tuhan?Kita mulai dari bagaimana Tuhan berkomunikasi dengan manusia. Dalam Injil tertulis:Firman-Mu adalah kebenaran. Artinya, apa yang dikatakan Tuhan kepada manusia adalahtentang kebenaran dan kebenaran ini menyangkut soal keselematan. Siapa yangmelaksanakan friman Tuhan akan selamat. Pertanyaan berikut adalah apakah firman Tuhanitu yang membuat kita selamat? Firman Tuhan tidak hanya kata-kata namun mewujud dalamdiri Yesus. Firman telah menjadi manusia dan tinggal diantara kita.Cara Tuhan berkomunikasi dengan manusia adalah sangat personal yaitu Tuhan menjadimanusia dan tinggal diantara kita agar kita semua selamat.Teman-teman yang terkasih,Mari kita lihat lebih dalam bagaimana Tuhan berkomunikasi dengan manusia. Tuhanmenyapa manusia dengan rencana yang berkelanjutan. Pertama, Tuhan menyapa manusiadengan hadir ke dunia sebagai manusia, sama seperti kita kecuali dalam hal dosa, dalam diriYesus. Kedua, Yesus mengajarkan jalan keselamatan, baik dengan kata-kata maupunketeladanan. Ketiga, menghadirkan Roh Kudus untuk menuntun jalan umat manusia menujukeselamatan. Keempat, membangun komunitas orang beriman untuk terus menghadirkancinta Tuhan di dunia ini.Dengan adanya komunitas orang beriman ini maka komunikasi Tuhan terus menerusberkesinambungan. Kita adalah rekan kerja Allah yang diutus untuk menjalankan karyakeselamatan Tuhan di dunia ini. Dengan demikian kita juga mengkomunikasikan kepadasesama kita, apa yang telah Tuhan ajarkan kepada kita. Itulah tugas perutusan kita yangutama. Bagaimana kta melaksanakan tugas itu?Teman-teman yang terkasih,Seperti halnya Yesus yang melaksanakan tugas perutusan dari Allah Bapa dalam hidupsehari-hari maka kita juga melaksanakan tugas perutusan kita dalam hidup kita sehari-hari.Kita menghadirkan wajah Allah di dunia ini dalam hidup kita sehari-hari, itulah firmankebenaran yang harus kita laksanakan. Dengan demikian, itulah cara kita berkomunikasidengan sesama yaitu menghadirkan wajah Allah di dunia ini dalam hidup kita sehari-hari.Prosedur yang kita jalanipun sama dengan apa yang telah dilakukan Allah kepada kita.Seperti halnya Allah yang hadir pada umat manusia maka kitapun juga hadir dalam sesamakita. Kegagalan dalam komunikasi tingkat pertama ini adalah ketidak-pedulian, kita tidakmau hadir pada sesama alias tidak peduli. Allah peduli dan mau hadir bersama manusia,itulah cara Allah berkomuikasi dengan manusia.Kedua, setelah kita peduli pada sesama kita lalu kita menghadirkan wajah Allah melalui kata-kata dan tindakan kita. Kegagalan komunikasi tingkat kedua ini adalah ketika kata-kata kitamenyakiti orang lain, tindakan kita tidak dapat diteladani, dan itu artinya kita menghancurkankehidupan.Ketiga, Allah mengutus Roh Kudus yang memberi roh pengharapan dan kasih pada manusiamaka kitapun juga membawa roh pengharapan pada hidup yang lebih baik dan kasih padasesama kita. Kegagalan komunikasi tingkat ketiga ini adalah ketika kita tidak dapatmengampuni, membenci bahkan dendam dan pada akhirnya membawa suasana putus asa atautanpa harapan.Nah teman-teman yang terkasih,Cara kita berkomunikasi dapat diringkas demikian: kita menghadirkan wajah Allah di duniaini dengan peduli pada sesama melalui tutur kata dan tindakan kita yang penuh kasihsehingga sesama kita memiliki harapan akan hidup yang lebih baik. Lawan dari itu adalahmenghadirkan roh jahat di dunia ini dengan tidak peduli pada sesama melalui tutur kata dantindakan yang penuh kebencian dan pada akhirnya membawa konflik berkepanjangan yangmembuat sesama putus asa akan hari depan yang lebih baik.Menghadirkan wajah Allah dalam bahasa sosiologis dapat dikatakan sebagai menghadirkanbudaya kehidupan, lawan dari budaya kematian.Teman-teman terkasih,Pada hari minggu dan Senin kemarin telah terjadi teror bom yang menewaskan 25 orang(sampai berita terakhir). Ini contoh budaya kematian. Peristiwa itu kita lawan denganmenghadirkan budaya kehidupan, yaitu pengampunan.Dalam hidup kita sehari-hari kita dapat senantiasa menghadirkan budaya kehidupan yaitujujur, kerja keras, dan disiplin dalam belajar. Disiplin dan jujur dalam tindakan, lemah lembutdalam tutur kata. Siapapun yang berjumpa dengan kita hendaknya merasakan kedamaian.Dimanapun kehadiran kita hendaknya membawa perdamaian dan harapan akan hari esokyang lebih baik.Hal berkomunikasi tidak hanya pada sesama manusia tetapi juga pada sesama ciptaan Tuhanseperti alam raya ini, tumbuhan, hewan, air, udara, dan tanah. Dengan pola yang sama kitaberkomunikasi dengan sesama ciptaan lain.St. Fransiskus Asisi senantiasa menyapa alam ciptaan dengan kata saudara atau saudarikepada hewan-hewan bahkan saudara matahari dan saudari bulan. Sapaan seperti itumemperlihatkan adanya kedekatan dengan sesama ciptaan. Konon, St. Fransiskus seringberkotbah dihadapan burung-burung dan ikan-ikan.Menyapa alam ciptaan berarti juga peduli pada mereka. Menyapa dengan cara memeliharaalam ciptaan, itu adalah cara kita berkomunikasi dengan sesama alam ciptaan. Hal itu jugaberarti kita memberi harapan akan masa depan yang lebih cerah.Akhir kata, teman-teman yang terkasih,Marilah kita berkomunikasi dengan sesama ciptaan, seperti manusia, hewan, tanah, air, danudara dengan baik dan penuh kasih agar kita semua memiliki harapan masa depan yang lebihdan kita semua diselamatkan.

 

Salam,

Profil Penulis

romo danang.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ

Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta.

Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

BROT Minggu, 6 Mei 2018 - Hari Minggu Paskah VI

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Yoh. 15:9-17

Yoh 15:9 "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.
Yoh 15:10 Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.
Yoh 15:11 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.
Yoh 15:12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.
Yoh 15:13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.
Yoh 15:14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.
Yoh 15:15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.
Yoh 15:16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.
Yoh 15:17 Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Ihr seid meine Freunde

Sumber : http://www.st-matthias-trier.de/?q=node/1158

Homili:

Kamu Adalah Sahabatku

Freundschaft muss nicht perfekt sein, sie muss echt sein - Romo Dr. Fidelis Waton SVD

 

Mempunyai teman khususnya seorang teman yang baik merupakan keinginan banyak orang. Yang diinginkan adalah persahabatan yang bertahan lama. Ada pertemanan dari masa kecil yang dipupuk sepanjang hidup. Dalam era Facebook dan Twitter ditawarkan model pertemanan, namun tidak semua teman yang ada di sana sungguh teman yang dikenal. Terkadang orang terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif atau gagal, karena terjalin pertemanan yang salah, misalnya teman yang bukannya saling mendukung dan menolong demi kemajuan studi dan kerja, melainkan yang hanya menggunakan waktu untuk hura-hura dan Games. Tak sedikit yang dikecewakan dalam persahabatan: ada yang merasa ditinggalkan, didiskriminasi, diperas, disalahgunakan, diperalat atau disangkal dan dikibuli. Acapkali harapan yang begitu tinggi terhadap pertemanan tidak bisa diejawantahkan, tak mengherankan jika dengan alasan yang bervariasi, banyak yang sangat hati-hati dengan kata teman atau sahabat. Meskipun begitu pada prinsipnya pertemanan atau persahabatan merupakan hal yang bagus dan positif. Yesus menamakan para pengikutnya sahabat. Kamu adalah sahabat-Ku. Hal ini merupakan suatu privilese bagi kita: Tuhan kita menamakan kita bukan sebagai hamba atau umat, melainkan teman. Konsekuensi apa yang dipetik dari fakta demikian? Pertama, Tuhan kita menempatkan kita setara dengannya. Tuhan kita bukankah Dia yang berada pada tingkat yang lebih tinggi dari kita, melainkan Dia yang berada setingkat dengan manusia. Jika Tuhan bersikap demikian, maka pada gilirannya setiap kita harus menempatkan setiap sesama setara dengan kita biarpun ada perbedaan usia, warna kulit, budaya, suku, agama, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dan sebagainya. Kita harus saling berjumpa dalam derajat yang sama sebagai manusia, entah dengan Paus, Uskup, Presiden maupun dengan pengemis, gelandangan, dan sebagainya. Sebagai manusia setiap kita sama, sebagaimana Tuhan menjadikan setiap manusia sebagai sahabat-Nya dan mencintai setiap manusia tanpa kecuali. Kedua, teman merupakan pilihan setiap orang. Tak seorangpun yang memaksa orang lain sebagai temannya. Jika persahabatan itu ada karena pemaksaan, maka hal itu sebenarnya bukanlah pertemanan. Hal yang sama berlaku untuk persahabatan kita dengan Tuhan: Persahabatan ini harus keluar dari keputusan dan kesadaran bebas, tanpa tekanan. Iman kepada Tuhan yang terdahulunya diwarisi misalnya dari orangtua, iman itu dalam perjalanan waktu harus menjadi keputusan kehendak bebas kita: Apakah saya percaya dan mau bersahabat dengan Tuhan atau tidak. Ketiga, pertemanan yang baik dan sejati memang lahir dari keputusan bebas, namun persahabatan yang baik dan bertahan lama harus memiliki ikatan dan bukannya seenaknya saja. Pertemanan yang baik dan benar tidak boleh didasarkan atas keinginan dan mood: Hari ini kamu adalah temanku, tetapi saya belum tahu, apakah kita masih berteman besok. Pertemanan yang sejati harus memiliki ikatan dan pertemanan yang sejati lazimnya diuji ketika ada kesulitan, cekcok dan pertengkaran. Teman yang baik harus didasarkan pada kejujuran untuk mengatakan benar terhadap apa yang benar dan salah terhadap apa yang salah. Freundschaft muss nicht perfekt sein, sie muss echt sein - Pertemanan yang sejati tidak harus sempurna, tetapi ia harus otentis. Teman yang baik akan saling berbagi suka dan duka. Berbagi suka dan duka merupakan bentuk kasih dasariah yang diwariskan Yesus kepada kita. Amen.

 

Salam,

Profil Penulis

romo fidelis.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universitaet zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.

 

 

 

BROT Minggu, 1 April 2018 - Hari Minggu Paskah Kebangkitan Tuhan

brot logo v1

Bacaan Injil: Yoh. 20:1-18

Yoh. 20:1 Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur.
Yoh. 20:2 Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan."
Yoh. 20:3 Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur.
Yoh. 20:4 Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur.
Yoh. 20:5 Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam.
Yoh. 20:6 Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah,
Yoh. 20:7 sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung.
Yoh. 20:8 Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya.
Yoh. 20:9 Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati.
Yoh. 20:10 Lalu pulanglah kedua murid itu ke rumah.
Yoh. 20:11 Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu,
Yoh. 20:12 dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring.
Yoh. 20:13 Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan."
Yoh. 20:14 Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.
Yoh. 20:15 Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.",
Yoh. 20:16 Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru.
Yoh. 20:17 Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu."
Yoh. 20:18 Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Jesus Resurrection

Sumber : https://br.pinterest.com/pin/325525879303043648/

Homili:

Kebangkitan Saat Ini Dan Di Sini

Bagi mayoritas orang Jerman Paskah dikaitkan dengan telur Paskah, kelinci Paskah atau pesta dan liburan awal musim semi dan sangat sedikit yang menghubungkannya dengan pesta kebangkitan Yesus. Menurut salah satu jajak pendapat 79 prosen penduduk Jerman mulai dari yang berusia 14 tahun tidak percaya akan adanya kebangkitan tubuh Yesus. Banyak orang sulit percaya akan adanya kebangkitan. Kebangkitan tidak masuk akal. Segalanya berakhir dengan kematian. Itu yg kita tahu, itulah salah satu kepastian, yang lainnya hanyalah khayalan manusia. Tak seorangpun yang hingga kini telah kembali dari dunia orang mati. Mungkin ada di antara kita yang dalam diam menderetkan diri dalam barisan demikian. Atau mungkin kita terpenjara dalam pandangan bahwa ini kan inti iman kita, bahwa Yesus bangkit dan kita akan bangkit. Kita terjerat dalam ketakutan bahwa jika saya menyangsikannya, maka saya akan dicap tidak beriman, kehilangan iman, dan sebagainya. Kita tidak perlu takut, jika kita sangsi atau meragukan kebangkitan: Para murid dahulu juga tidak begitu gampang percaya akan adanya kebangkitan tubuh Yesus. Kini kebanyakan orang Kristen begitu gampang berteriak, Kristus bangkit, alleluya. Coba jelaskan kepada saya apa artinya pekikan itu? Kita terlalu pasti dan dengan itu kita menjadikan iman kita sebagai pegangan yg kokoh dan pasti, padahal keraguan termasuk bagian dari iman, iman berarti membiarkan diri berjalan dalam kegelapan dengan harapan akan adanya cahaya pada ujung terowongan. Bahaya lain yg mengancam kita yg merayakan Paskah yakni otomatisme: Kita masuk dalam arus perayaan tanpa melihat lagi maknanya, dan hal ini dimungkinkan juga oleh tata liturgi kita: Jumat kita masih meratap dan kita bersorak-sorai.

Perdebatan soal kebangkitan tubuh Yesus pada prinsipnya bukanlah persoalan akal budi; ia termasuk dalam kategori iman yang pada akhirnya menagih keputusan pribadi setiap kita untuk percaya atau tidak percaya. Biarpun begitu kita tetap merayakan Paskah dan memaknainya sebagai perayan iman kita dengan keyakinan bahwa Tuhan kita bukanlah Tuhan yang mati, melainkan yang hidup. Paskah mewartakan bahwa hidup tidak dimusnahkan, dengan itu ia menjadi pesta harapan. Hidup itu berjalan terus, mendapat kelanjutan biarpun terdapat fakta kematian fisik. Dalam konteks ini hidup berarti hidup dalam Tuhan dan kelanjutan hidup dalam Tuhan. Keyakinan akan makna hidup demikian, maka kita hidup dan berkarya di dunia ini.

Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup, yg bangkit. Inilah warta, pesan Paskah: Tuhan menghadiahkan kita hidup yang tidak musnah oleh realitas kematian. Warta Paskah ini tentu musik masa depan. Namun masa depan tersebut telah dimulai saat ini. Siapa yang percaya pada Yesus, ia telah mengalami kebangkitan bukan saja kemudian setelah kematian, tetapi justru saat ini. Kebangkitan dimulai kini dan di sini. Kebangkitan terjadi setiap saat. Paskah selalu terjadi di antara kita, karena dalam dunia ini bukan hanya ada kematian tubuh, melainkan terdapat banyak kematian sosial. Orang bisa mati sebelum kematian tubuh, ketika ia tidak lagi menemukan makna dalam hidupnya, ketika hidupnya tidak punya masa depan, ketika tak seorangpun ada untuknya, ketika tak seorangpun yang punya waktu untuknya, dan sebagainya. Paskah dengan ini merupakan gerakan untuk melawan budaya kematian, melawan budaya resignasi dan keputusasaan.

Kebangkitan telah dimulai di mana orang berani bangun dari kesulitannya dan kegagalannya, ketika ia tidak mau ditaklukan oleh pengalaman negatif. Paskah terjadi ketika orang sabar dan tabah menanggung beban, sakit dan penderitaan hidupnya. Paskah terjadi ketika orang setia memanggul salib hidup yang tak dapat dielakkannya. Kebangkitan mulai di mana orang boleh berdamai dan saling menyapa setelah sekian tahun atau bulan saling diam, ketika orang mulai berjabatan tangan dan berusaha untuk rukun kembali. Kebangkitan dimulai di mana orang meninggalkan egoisme, memperhatikan orang lain, menghibur orang lain, mendampingi orang lain sejauh ia mampu. Kebangkitan dimulai di mana orang memperjuangkan perdamaian, keadilan, harkat dan martabat manusia, serta kebenaran. Paskah itu ada ketika yang jatuh bisa bangun kembali, yang sendirian mendapat teman baru, yang buta bisa melihat kembali, yang takut kehilangan kecemasan, yang sakit tetap bertahan hidup, yang menangis sanggup kembali tertawa. Mudah-mudahan pengalaman Paskah demikian dianugerahkan kepada setiap kita – bukan saja pada masa Paskah, melainkan sepanjang hari-hari hidup kita. Amin.

Salam,

Profil Penulis

romo_fidelis.jpg

 

BROT Minggu, 17 Desember 2017 - Hari Minggu Adven III

brot logo v1

Bacaan Injil: Yoh. 1:6-8,19-28

Yoh 1:6 Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes;
Yoh 1:7 ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya.
Yoh 1:8 Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu.
Yoh 1:19 Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: "Siapakah engkau?"
Yoh 1:20 Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: "Aku bukan Mesias."
Yoh 1:21 Lalu mereka bertanya kepadanya: "Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?" Dan ia menjawab: "Bukan!" "Engkaukah nabi yang akan datang?" Dan ia menjawab: "Bukan!"
Yoh 1:22 Maka kata mereka kepadanya: "Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?"
Yoh 1:23 Jawabnya: "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya."
Yoh 1:24 Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi.
Yoh 1:25 Mereka bertanya kepadanya, katanya: "Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?"
Yoh 1:26 Yohanes menjawab mereka, katanya: "Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal,
Yoh 1:27 yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak."
Yoh 1:28 Hal itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

John the Baptist

Sumber : http://www.new-church-lifeline.org.uk/album/Images for Powerpoint/slides/John the Baptist.jpg

Homili:

Utusan Yang Dapat Dipercaya

Orang akan tahu bahwa ia tidak berdusta dan dapat dipercaya karena apa yang dipikirkan, diucapkan, dan dikatakan selalu selaras. - Danang Bramasti, SJ

 

Teman-teman yang terkasih

Hari ini adalah hari Minggu Adven ke-3 yang juga sering disebut hari minggu Adven Gaudate atau suka-cita. Minggu Adven ke-3 ini juga mengingatkan kita bahwa kita ini adalah utusan Tuhan untuk membawa suka-cita di dunia ini. Utusan Tuhan yang ditampilkan dalam Injil minggu ini adalah Yohanes Pembaptis yang juga dapat menjadi teladan utusan bagi kita. Apakah yang dilakukan Yohanes Pembaptis?

Dalam Injil dikatakan, Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes. Jadi jelas bahwa ia adalah utusan Tuhan. Diutus untuk apa? Dalam Injil dikatakan: ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Jadi Yohanes Pembaptis diutus Tuhan untuk memberi kesaksian dan kesaksiannya dapat dipercaya. Menjadi saksi tentang apa?

Teman-teman yang terkasih,

Kitapun, masing-masing dari kita, adalah utusan Tuhan untuk memberi kesaksian. Hal ini dapat terlihat jelas saat akhir misa, Imam/romo, setelah memberi berkat pasti mengatakan: Pergilah dalam damai Tuhan, kita diutus! Artinya kita semua diutus untuk membawa damai Tuhan dan tentu saja kesaksian kita hendaknya dapat dipercaya.

Yohanes Pembaptis adalah utusan yang dapat dipercaya. Mengapa? Hal yang utama adalah ia orang yang jujur. Dikatakan dalam Injil bahwa ia tidak berdusta. Bagaimana orang tahu bahwa ia tidak berdusta? Orang akan tahu bahwa ia tidak berdusta dan dapat dipercaya karena apa yang dipikirkan, diucapkan, dan dikatakan selalu selaras. Itulah tanda orang suci. Yohanes memperlihatkan hal itu.

Saat orang bertanya kepadanya, apakah ia mesias, ia dengan tegas menjawab: bukan! Demikin pula ketika ia ditanya apakah ia nabi Elia, ia dengan tegas menjawab: bukan! Dapat dibayangkan jika ia mengaku-aku sebagai mesias atau nabi Elia. Mungkin ia akan mendapat pujian disana-sini. Namun ia menolak semua itu.

Teman-teman terkasih,

Seringkali kita mengaku-aku sebagai orang hebat atau orang yang sama sekali tidak bisa apa-apa. Ini gejala ketidak jujuran atau dihinggapi sindrom rendah diri. Saya punya kisah menarik terkait dengan hal itu.

Suatu ketika saya diundang makan oleh sebuah kelompok Katolik di sebuah restoran yang mewah. Saya datang bersama tiga anak mudika yang semuanya laki-laki. Ketika kami sampai di restoran itu, seorang bapak yang adalah ketua kelompok itu, menyambut kami dengan ramah.
Bapak: “Selamat datang Romo, terima kasih sudah mau hadir”.
Lalu ia melihat ke arah para pemuda, dan sambil tersenyum berkata: “Ini para frater yaa..?”
Anehnya, para pemuda itu hanya tersenyum, mesam-mesem ga jelas.
Salah seorang dari mereka menjawab dengan wajah penuh teka-teki: “Kami bukan frater lho pak..”
Lalu bapak itu menjawab: “Ahh.. ngapusi.. pasti frater. Saya tahu banget ciri-ciri para frater”.
Tanpa perlawanan berarti, para pemuda itu hanya mesam-mesem. Lalu bapak itu bergegas mengajak kami masuk ke restoran mewah dan berteriak kepada anggota kelompok yang lain: “Saudara-saudari, kita sungguh mendapat berkat. Lihat kita kedatangan romo dan para frater!”
Para anggota yang lain bertepuk tangan meriah. Mereka menyambut saya dengan para ‘frater’ (frater gadungan hehehe) dengan takjub dan takjim. Bahkan ketika para frater gadungan itu mau duduk, kursinya disiapkan dengan penuh hormat. Lalu kami duduk.
Ketua kelompok lalu berkata: “Mari kita awali makan ini dengan doa. Nah mumpung ada frater, silahkan salah satu frater memimpin doa”
Dan hebat sekali, salah satu dari mereka berdiri dan langsung memimpin doa. Padahal kalau rapat mudika, tidak pernah ada yang mau memimpin doa. Mereka biasanya saling menunjuk orang lain. Maka ini peristiwa yang menakjubkan buat saya.
Setelah selesai, kami lalu pulang. Dalam perjalanan saya bertanya kepada mereka: “Kalian tadi koq tidak menjawab dengan tegas kalau bukan frater?”
Lalu mereka menjawab: “Lha mumpung, kapan lagi bisa makan enak di restoran mewah dan dihormati.”
Yang lain lagi menjawab: “Ini namanya kesempatan dalam kesempitan. Gak pernah kami dapat penghormatan seperti itu, di restoran mewah pula.”
Lalu kami tertawa terbahak-bahak.

Teman-teman yang terkasih,

Peristiwa itu memang tidak berakibat fatal pada kehidupan kami. Namun kami belajar betapa kehormatan itu begitu menggoda. Dapat dibayangkan jika Yohanes Pembaptis berperilaku seperti para pemuda itu, mesam-mesem gak jelas ketika ditanya oleh orang-orang farisi. Yohanes Pembaptis orang yang tegas, apa adanya, dan tidak ada dusta pada dirinya. Dan yang jelas, ia tidak berharap penghormatan apapun dari manusia.

Lalu orang-orang farisi melanjutkan pertanyaan kepada Yohanes Pembaptis: “Kalau begitu, siapakah engkau ini”
Yohanes Pembaptis menjawab: “Aku adalah suara orang-orang yang berseru di padang gurun.”
Dan orang percaya pada apa yang dikatakannya. Mengapa?

Yohanes Pembaptis berpenampilan sangat menyakinkan sebagai orang yang berseru dari padang gurun. Ia berpakaian bulu onta, dan ikat pinggangnya dari kulit. Tidak hanya penampilan tetapi juga perilaku hidup yang sederhana. Ia hanya makan belalang dan madu hutan. Antara apa yang dikatatakan dan dilakukan sungguh selaras itulah sebabnya ia dipercaya.
Nah kita sebagai utusan, apakah kita juga dapat dipercaya? Apakah kita cukup meyakinkan untuk bersaksi tentang kasih Tuhan?

Teman-teman yang terkasih,

Ada sebuah kisah, sebuah perusahaan hendak mengaudit laporan keuangannya untuk mendapatkan status wajar agar status perusahaan itu naik peringkat. Namun laporan keuangan mereka sangat buruk, alias banyak laporan siluman. Lalu bos perusahaan itu memerintahkan anak buahnya untuk menyogok akuntan yang memeriksanya.
Bos: “Kita kasih akuntan itu mobil saja supaya laporan kita dinilai baik.”
Anak buah:”Maaf bos, akuntannya tidak dapat disogok, bahkan dengan apapun.”
Bos: “Lho hebat banget dia. Emangnya dia siapa berani menolak sogokan dari saya.”
Anak buah:”Dia bukan siapa-siapa bos. Dia orang Katolik.”
Bos:”Ahh iyaa.. orang Katolik memang gak bisa disogok.”

Ini kisah rekaan saya saja. Akan tetapi apakah dapat dipastikan bahwa kisah ini sungguh terjadi? Semoga saja hal ini terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari bahwa orang Katolik tidak bisa disuap.

Ada kisah lain yang saya reka. Lalu lintas di Yogyakarta sangatlah semrawut. Bahkan saya pernah beberapa kali melihat ada kendaraan yang menerabas lampu lemah.
Pertanyaannya: “Apakah dapat dipastikan bahwa yang menerobos lampu merah itu pasti bukan Katolik sebab tidak mungkin orang Katolik itu melanggar lalu lintas karena orang Katolik itu disiplin dan tertib.”

Semoga kisah rekaan saya itu mewujud dalam kenyataan. Jika hal itu sungguh terjadi maka kita sebagai orang Katolik sungguh dapat menjadi utusan dan saksi yang dapat dipercaya. Utusan yang dapat dipercaya bahwa kita akan membawa suka-cita pada sesama.

Salam,

Profil Penulis

antonius.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ
Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta.
Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 10 Desember 2017 - Hari Minggu Adven II

brot logo v1

Bacaan Injil: Mrk. 1:1-8

Mrk 1:1 Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.
Mrk 1:2 Seperti ada tertulis dalam kitab nabi Yesaya: "Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu;
Mrk 1:3 ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya",
Mrk 1:4 demikianlah Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan: "Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu."
Mrk 1:5 Lalu datanglah kepadanya orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem, dan sambil mengaku dosanya mereka dibaptis di sungai Yordan.
Mrk 1:6 Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan.
Mrk 1:7 Inilah yang diberitakannya: "Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak.
Mrk 1:8 Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Bereitet dem Herrn den Weg

Sumber : http://gerhard.bach.ws/?site=show&page=15&kat

Homili:

Persiapkanlah jalan untuk Tuhan

Minggu kedua Adven menghadirkan seruan Yohanes Pembaptis dari padang gurun: „Persiapkanlah jalan bagi Tuhan“. Warta Yohanes ini diangkat dari kitab nabi Yesaya. Nabi Yesaya merupakan nabi yang turut diasingkan bersama sebagian besar bangsa Yahudi di Babilonia. Sebagai bangsa yang ditaklukan oleh kerajaan Babilonia, bangsa Israel harus ditawan di Babilonia, wilayah asing yang jauh dari tanah air mereka. Kota suci Israel Yerusalem (Sion) juga dihancurkan. Hidup di tengah tanah asing membuat bangsa Israel selalu rindu dan berharap untuk suatu ketika diperbolehkan kembali ke tanah air mereka. Mazmur 137 menghadirkan ungkapan harapan dan kerinduan umat Israel untuk kembali ke Yerusalem (Sion). Mazmur kerinduan ini kelak menginspirasi lagu „River of Babylon“ dari grup Musik Bonny M yang sempat menduduki puncak tangga lagu tahun 1970-an.

Kekalahan politik dan menjadi tawanan politik merupakan trauma kolektif bangsa Israel. Karena bangsa Israel memahami diri sebagai umat pilihan Tuhan, maka kekalahan mereka dilihat sebagai kekalahan Tuhan mereka berhadapan dengan dewa-dewi kerajaan Babilonia. Situasi ini membuat mereka menambakan datang-Nya satu figur Tuhan yang kuat dan mampu membebaskan mereka dari kungkungan bangsa asing. Pengalaman ini termasuk satu bagian penting dalam konsep penantian kedatangan Mesias terjanji. Yohanes Pembaptis mengadopsi harapan bangsa Israel kuno dalam mempersiapkan umat Israel zamannya demi menyambut Mesias.

Persiapkanlah jalan bagi Tuhan! Seruan ini tentu saja tidak kehilangan relevansinya setelah kedatangan Yesus, Sang Mesias dua ribu tahun yang silam. Seruan Yohanes tersebut bukan sekedar suatu memori atau hanya bermakna historis. Seruan ini tentu masih aktual dan relevan untuk kita dewasa ini khususnya ketika seruan ini ditampilkan kembali dalam masa Adven 2017.

Masa Adven secara simpel diartikan sebagai persiapan natal. Persiapan dalam konteks ini sayangnya acapkali hanya dipahami sebatas persiapan kado natal, hiasan natal, koor natal, pohon natal, lilin-lilin natal, dan sebagainya. Persiapan yang paling penting dalam masa Adven adalah persiapan hati kita, karena Tuhan mau datang dan tinggal di hati kita. Persiapan hati kita tentu tak terlepas dari ajakan untuk merefleksi diri. Kita diajak untuk mengintrospeksi diri. Kita diajak untuk melakukan semacam evaluasi internal yang beraspek sesal atau tobat, koreksi dan tekad untuk merubah diri. Aspek persiapan ini akan sanggup kita lakukan, andaikan kita berani mengambil waktu untuk itu dan tidak tenggelam di tengah gemerlap lampu dan hiasan natal serta tidak mabuk oleh makanan dan minuman khas Adven dan Natal. Tak mengherankan jika masa Adven pada zaman gereja purba merupakan masa pantang dan puasa. Dalam masa Adven kita diajak untuk mengosongkan segala yang tidak harus mendapat tempat dalam hati kita, agar Tuhan bisa masuk dan mendapat tempat di sana. Salah satu cerita bijak dari khazanah cerita Israel mengisahkan: „Seorang Rabi (Guru) menanyakan para murid-Nya: Di mana tempat tinggal Tuhan? Para murid-Nya tertawa dan mengatakan: Pertanyaan model apa itu? Dunia ini `kan penuh dengan kemuliaan Tuhan. Rabi memberikan jawaban terhadap pertanyaannya sendiri dimaksud: Tuhan itu tinggal di mana Dia diizinkan masuk.“

Persiapkanlah jalan bagi Tuhan! Natal bukan kita rayakan sebagai kenangan akan kelahiran Yesus ribuan tahun silam. Kata Adven berasal dari bahasa Latin „Adventus“ artinya kedatangan. Tuhan itu bukan datang dalam wujud Yesus historis. Tuhan itu selalu datang setiap saat khususnya dalam wajah mereka yang menderita, yang sakit, yang berkekurangan dan membutuhkan bantuan kita. Dengan ini Adven mengajak kita hidup dalam sikap yang peka dan solider. Adven menantang kita untuk selalu melek atau tidak mengantuk atau tertidur, agar kita sanggup melihat dan menemukan Tuhan yang selalu datang di sekitar kita, agar kita sanggup mengenal-Nya. Adven artinya kedatangan: Tuhan itu selalu datang. Tugas dan tanggung jawab kita sebagai orang yang percaya akan Tuhan demikian untuk mencari, menemukan atau mengenal Tuhan yang selalu datang tersebut. Inilah Adven sejati dan Adven dengan ini bukanlah sekedar pekan-pekan sebelum natal. Hidup kita sebagai umat beriman merupakan adven berkepanjangan, masa persiapan jalan untuk Tuhan yang datang, karena Tuhan selalu datang. Amin.

Salam,

Profil Penulis

romo_fidelis.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universität zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.