piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 15 Juli 2018 - Hari Minggu Biasa XV

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Mrk. 6:7-13

Mrk 6:7 Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat,
Mrk 6:8 dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, rotipun jangan, bekalpun jangan, uang dalam ikat pinggangpun jangan,
Mrk 6:9 boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju.
Mrk 6:10 Kata-Nya selanjutnya kepada mereka: "Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu.
Mrk 6:11 Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka."
Mrk 6:12 Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat,
Mrk 6:13 dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

stronger together

Sumber : https://wahospitality.org/blog/washington-restaurant-lodging-associations-announce-joint-operating-agreement/

Homili:

Sendiri Kita Lemah, Berdua Kita Perkasa

 

Yesus berpuasa di padang gurun sendirian. Ia menyadari bahwa sekalipun Ia kuat, ia membutuhkan partner dalam misinya membawa Kerajaan Allah hadir di dunia. Secara khusus, hal itu terutama berlaku bagi pada muridnya yang nota bene "lemah". Apalagi mengingat bahwa godaan setan sungguh dahsyat menyerang manusia, khususnya terhadap para muridNya. Barangkali itu sebabnya Yesus mengutus para muridNya berdua-dua. Mengapa harus berdua?

Berpartner dalam membawa misi Yesus menuntut kerjasama, dialog, dan tanggungjawab bersama. Hal itu berlaku untuk setiap orang yang sudah dibaptis. Yesus mengajar para muridNya untuk saling menjaga dan bermisi bersama. Itu sebabnya mereka tidak diutus sendiri-sendiri.

Kisah Injil hari ini mengajak kita orang-orang kristiani untuk mengandalkan partner misi kita. Sebuah tantangan dari Yesus yang tidak ringan. Ia tidak mengajar para murid untuk mengandalkan barang-barang dan makanan, namun mengandalkan para partner mereka. Padahal, sebagaimana sering kita alami, bekerjasama dengan partner lebih sulit daripada mengandalkan barang-barang kebutuhan kita yang lebih mudah tersedia dan dengan setia mengikuti kemauan diri kita masing-masing.

Menjalankan misi Kristus membutuhkan pengorbanan. Mengandalkan partner berarti memperhitungkan sesama manusia untuk bermisi. Otoritas yang kita terima sebagai pembawa misi kita gunakan bersama, bukan sendiri-sendiri. Bahkan dalam misi yang sederhana sekalipun, seperti misalnya mengurus renungan KMKI ini, kita diajak untuk mengandalkan partner kita, sesama manusia, sesama pembawa misi. Kita diundang untuk tidak resah dan khawatir atas apa yang kita perlukan, namun berdialog, berdiskusi, dan berkomitmen bersama.

Mari, kita lihat misi kita masing-masing. Dalam studi, dalam berkeluarga, dalam bekerja, semua membutuhkan sesama dan kita diundang untuk mengandalkan partner kita. Semoga Anda semua diberkati!

 

Salam,

Profil Penulis

romo rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

BROT Minggu, 8 Juli 2018 - Hari Minggu Biasa XIV

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Mrk. 6:1-6

Mrk 6:1 Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia.
Mrk 6:2 Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: "Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?
Mrk 6:3 Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.
Mrk 6:4 Maka Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya."
Mrk 6:5 Ia tidak dapat mengadakan satu mujizatpun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka.
Mrk 6:6 Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka. (6-6b) Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Sumber : https://www.jawaban.com/read/article/id/2014/08/27/62/140826152136/Jika-Aku-Lemah,-Maka-Aku-Kuat

Homili:

Sebab Jika Aku Lemah, Maka Aku Kuat

Kelemahanku justru berguna agar aku pertama-tama menyadaribahwa Tuhan juga turut bekerja dalam diriku, kedua adalah agar aku tidak jatuh dalam kesombongan.Danang Bramasti, SJ - Romo Antonius Danang Bramasti SJ

 

Teman-teman yang terkasih,

 

Apakah ada dari anda yang merasa lemah? Lemah secara fisik karena didera penyakit yang tak kunjung sembuh? Lemah secara batin yang didera beban yang berat tak tertahan? Atau lemah terbebani kuasa negatif, seperti dendam yang tak kunjung padam, kebencian yang tak kunjung sirna, atau sakit hati yang tak termaafkan? Atau merasa lemah tak berdaya karena merasa tidak memiliki kemampuan seperti orang lain?

 

Seringkali seseorang tidak dapat menerima kelemahan diri sendiri dan mencoba mencari pelarian. Banyak hal yang dapat dilakukan dalam rangka melarikan diri dari kelemahan. Salah satu yang paling sering dilakukan adalah dengan melemparkan kelemahan diri sendiri kepada orang lain. Atau yang juga sering dilakukan oleh orang seperti ini adalah meninggikan diri setinggi langit, mencoba menutupi kelemahannya. Ini adalah tanda keminderan atau rendah diri yang ditutupi dengan meninggikan diri.

 

Ada orang yang sebenarnya punya penyakit tetapi pura-pura kuat, sehingga berakibat fatal pada dirinya sendiri. Atau ada orang yang sebenarnya mengalami tekanan batin tetapi pura-pura gembira dengan kelayapan pada satu pesta ke pesta yang lain. Lebih celaka lagi ia jatuh dalam narkoba. Atau ada orang yang sebenarnya tidak mampu tetapi mencela orang lain sebagai tidak mampu.

 

Banyak pepatah yang mengungkapkan tentang hal ini, seperti: tong kosong berbunyi nyaring, atau air beriak tanda tak dalam, ada pula: maling teriak maling. Pepatah itu mengatakan tentang orang-orang yang hendak menutupi kelemahannya sendiri.

 

Menemukan kelemahan diri

 

Berhadapan dengan kelemahan diri sendiri, ada dua hal yang sering dilakukan yaitu menutupi kelemahannya sendiri atau tidak terima bahwa ada orang lain yang baik dari dirinya yang lemah.

 

Suatu ketika ada seorang yang diminta menjadi ketua panitia sebuah acara. Orang ini menolak dengan alasan, jangan saya biarlah orang lain yang maju, saya cukup dibelakang layar saja. Lalu akhirnya orang lain yang dipilih. Nampaknya pernyataan ini sangat baik namun orang yang tidak mau dipilih menjadi ketua ini kemudian sering mencela orang yang terpilih sebagai ketua. Atau sebaliknya ada orang yang sering mencela seorang ketua organisasi tetapi ketika ia diminta untuk menggantikannya, ia menolak. Orang-orang seperti ini memang sangat menjengkelkan.

 

Orang-orang yang tidak mau menerima kelemahan dirinya sendiri sering kali justru mencari kelemahan orang lain. Ia sering merendahkan orang lain dan ingin menunjukkan bahwa ia adalah yang paling benar.

 

Teman-teman yang terkasih,

 

Pada dasarnya kita semua ini memiliki kelemahan. Permasalahannya adalah bagaimana kita mengelola kelemahan diri. Jika kita tidak sanggup maka yang terjadi adalah ketidak-harmonisan dalam hidup bermasyarakat. Kehidupan yang saling menjegal, sikut-sikutan, saling merendahkan, tidak terima dengan kekalahan atau tidak terima orang lain yang lebih unggul.

 

Dampak dari peristiwa itu terekam jelas dalam kisah Injil, ketika Yesus ditolak oleh orang-orang yang justru kenal dekat dengan Yesus. Mereka merasa lebih hebat atau paling tidak mereka merasa bahwa Yesus tidak lebih hebat dari mereka. Apalah Yesus yang hanya anak tukang kayu, tidak mungkin dapat menjadi hebat seperti sekarang. Mereka tidak terima bahwa Yesus lebih hebat dari mereka atau mereka tidak terima bahwa mereka tidak sehebat Yesus.

 

Mungkin ada yang mengatakan, bukankah mereka sungguh melihat kehebatan Yesus? Mereka melihat tetapi tidak mengerti, mereka mendengar tetapi tidak memperhatikan, mereka bertindak tetapi munafik.

 

Lalu apa yang harus kita lakukan jika kita menemukan adanya kelemahan diri?

 

Berhadapan dengan situasi diri, hal pertama yang penting adalah menyadari kenyataan dan kemudian belajar untuk menerima kenyataan. Jika kita menyadari bahwa kita memiliki kelemahan dalam hal tertentu, hal yang perlu kita lakukan adalah menerimanya terlebih dahulu. Kata ‘menerimanya terlebih dahulu’ ini penting karena ini menandakan adanya tindak lanjut untuk mengatasi kelemahan itu dengan baik.

 

Terkait dengan kelemahan, mungkin dapat diibaratkan seperti kita sedang bercemin. Adakah sesuatu yang tidak beres? Perhatikan dengan cermat lalu perbaikilah. Jangan kemudian terjadi seperti apa kata pepatah: buruk rupa, cermin dibelah. Kita perlu berjuang untuk mengatasi kelemahan diri. Salah satu caranya adalah kita harus tahu dan mengerti betul tujuan hidup kita sekarang apa.

 

Ada mahasiswa yang pernah kecewa dengan seorang dosen sehingga setiap kali dosen itu mengajar, ia tidak pernah memperhatikan pelajarannya. Dan akhirnya ia mendapat nilai yang buruk. Ini adalah tanda orang yang tidak sanggup berjuang mengatasi sakit hatinya dan yang lebih parah ia tidak tahu tujuan hidup saat itu yang adalah belajar. Mestinya: walaupun aku sakit hati tetapi aku harus tetap belajar karena tujuan hidupku adalah menuntut ilmu. Tujuan hidupku bukanlah melampiaskan kejengkelan pada dosen.

 

Ada satu katu kunci yang menarik yaitu: walaupun. Kata ini memiliki karakter yang kuat dan ada baiknya kita gunakan dikala kita susah. Misalnya: walaupun aku gagal tetapi aku tidak patah semangat. Walaupun ia menyakiti aku, aku tak akan pernah balas dendam. Dan banyak contoh lain..

 

Lalu bagaimana jika kita memang tidak sanggup mengatasi kelemahan diri?

 

Pertanyaan ini tentu saja mengandaikan kita sudah berjuang terlebih dahulu untuk mengatasi kelemahan kita. Setelah berjuang lalu kita persembahkan kepada Tuhan. Dalam hal ini kita dapat mengetahui bahwa justru dalam kelemahan, kita dapat merasakan kebesaran Tuhan.

 

Seperti contoh seorang yang dimintai tolong menjadi ketua panitia sebuah acara. Ia menerimanya dengan kesadaran penuh bahwa ia punya banyak kelemahan. Ia kemudian berjuang dengan segenap tenaga, segenap hati, dan segenap kehendak baik, dan akhirnya acara berjalan dengan baik. Nah sampai sini mungkin masih baik. Hal yang membedakan apakah ia mempersembahkan diri sepenuhnya pada Tuhan adalah, apakah ia kemudian bersyukur kepada Tuhan atau tidak?

 

Kembali pada kata ‘walaupun’ maka orang itu dapat mengatakan walaupun saya punya banyak kelemahan tetapi tugas saya berhasil juga. Hal ini tentu menakjubkan bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Ketakjuban ini dapat mengarah pada kesombongan, bahwa ini adalah perjuangannya sendiri atau ketakjuban inilah yang kemudian menyadarkannya bahwa walaupun ia lemah Tuhan senantiasa menguatkan.

 

Rasul Paulus bahkan mengatakan, justru dalam kelemahanku, kuasa Allah menjadi sempurna (2 Kor 12:9). Kelemahanku justru berguna agar aku pertama-tama menyadari bahwa Tuhan juga turut bekerja dalam diriku, kedua adalah agar aku tidak jatuh dalam kesombongan. Ingat, kesombongan adalah dosa yang paling mematikan manusia.

 

Oleh karena itu, teman-temanku yang terkasih,

 

Marilah kita menyadari bahwa masing-masing dari kita memiliki kelemahan dan sekaligus menyadari bahwa Tuhan turut bekerja dalam diri kita yang lemah ini. Sehingga kita dapat megatakan seperti yang dikatakan Rasul Paulus: Sebab jika aku lemah, maka aku kuat (2 Kor 12:10). Amin.

 

Salam,

Profil Penulis

romo danang.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ

Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta.

Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

BROT Minggu, 1 Juli 2018 - Hari Minggu Biasa XIII

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Mrk. 5:21-43

Mrk 5:21 Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sedang Ia berada di tepi danau,
Mrk 5:22 datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya
Mrk 5:23 dan memohon dengan sangat kepada-Nya: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup."
Mrk 5:24 Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya.
Mrk 5:25 Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan.
Mrk 5:26 Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk.
Mrk 5:27 Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya.
Mrk 5:28 Sebab katanya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."
Mrk 5:29 Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya.
Mrk 5:30 Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: "Siapa yang menjamah jubah-Ku?"
Mrk 5:31 Murid-murid-Nya menjawab: "Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?"
Mrk 5:32 Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu.
Mrk 5:33 Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya.
Mrk 5:34 Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!"
Mrk 5:35 Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: "Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?"
Mrk 5:36 Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: "Jangan takut, percaya saja!"
Mrk 5:37 Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorangpun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus.
Mrk 5:38 Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring.
Mrk 5:39 Sesudah Ia masuk Ia berkata kepada orang-orang itu: "Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!"
Mrk 5:40 Tetapi mereka menertawakan Dia. Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu.
Mrk 5:41 Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: "Talita kum," yang berarti: "Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!"
Mrk 5:42 Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub.
Mrk 5:43 Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorangpun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Berührung

Sumber : https://www.uta-akademie.de/de/angebot/neuroaffektive-regulation-durch-beruehrung

Homili:

Sentuhan Yang Menyembuhkan

Tuhan adalah Dia yang menyentuh manusia dan yang membiarkan Diri disentuh oleh manusia - Romo Dr. Fidelis Waton SVD

 

Ada lagu pop berbahasa Jerman yang mengatakan: Tausendmal berührt, tausendmal ist nichts passiert – ribuan kali sentuhan, namun ribuan kali tidak terjadi apa-apa. Pengalaman ini justru berseberangan dengan apa yang dialami oleh dua orang dalam kisah mujizat penyembuhan dan kebangkitan dalam injil Minggu ini. Seorang perempuan yang telah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan dan telah sekian banyak dirawat dan diobati dan semuanya tidak berhasil. Dengan kerinduan akan kesembuhan dan keyakinan bahwa ia akan sembuh andaikan ia menjamah jubah Yesus, ia memberanikan diri untuk mendekati Yesus di dalam perjalanan dan menyentuh jubah Yesus. Sentuhan terhadap jubah Yesus dengan keyakinan demikian ternyaka mendatangkan happy end. Ia disembuhkan dari penyakitnya. Kisah ini mengajarkan kita bahwa kemauan untuk menjadi sembuh sangat penting bagi manusia. Kemauan untuk sembuh turut berpengaruh terhadap upaya untuk selalu mencari jalan keluar dan meletakkan harapan bahwa jalan keluar yang ditempuh diyakini bisa mendatangkan kesembuhan. Inilah yang bisa dilakukan kita manusia. Muijizat yang pertama terjadi ketika manusia bukannya mengurung diri dalam kesulitannya, berputus asa dan pasrah, melainkan selalu dengan lapang dada berusaha mencari jalan keluar dan yakin bahwa jalan keluar yang ditemukan bisa mendatangkan kesembuhan. Setelah sekian lama diobati, namun tidak sembuh, perempuan yang menderita pendarahan terus yakin dan ingin sembuh. Hal ini dipenuhi lewat jamahannya terhadap jubah Yesus. Kepercayaan perempuan terhadap Tuhan yang bisa menyembuhkan patut dikagumi. Kepercayaan yang sama dimiliki Yairus yang memohon bantuan Yesus untuk puterinya yang sakit keras dan konon meninggal. Kedua keyakinan ini berakhir dengan peristiwa yang menggembirakan. Kata-kata dan sentuhan Yesus berhasil menyembuhkan dan membangkitkan puteri Yairus yang sakit keras dan telah meninggal. Kedua mujizat ini memproklamasikan pesan yang bernas yakni Tuhan kita adalah Tuhan menyentuh atau menjamah kita dan Tuhan yang membiarkan Diri disentuh atau dijamah manusia. Di mana Tuhan demikian tampil di dalam hidup kita, maka akan terjadi perubahan: yang menyakitkan dan mematikan akan menjadi sembuh dan hidup kembali. Tuhan kita adalah Tuhan yang menyentuh atau menjamah kita, Tuhan yang tidak bermasa bodoh terhadap nasib kita manusia. Tuhan kita adalah Tuhan yang hati-Nya tersentuh oleh kesulitan dan penderitaan manusia, Tuhan yang memiliki hati dan perhatian untuk kita manusia khususnya ketika kita berada dalam kesulitan. Jika kita yakin atau percaya akan adanya Tuhan demikian, maka hendaknya kita tidak perlu cemas dan takut untuk datang kepada-Na dengan segala kekuatan dan kekurangan kita, dengan segala yang baik dan kurang baik dalam hidup kita, teristimewa dengan segala pengalaman negatif dalam hidup kita. Tuhan kita peka terhadap nasib atau situasi hidup kita manusia. Tuhan kita adalah Tuhan yang membiarkan Diri disentuh atau dijamah manusia. Sentuhan atau jamahan hanya bisa terjadi jika kita mencari-Nya, jika kita menjalin relasi dengan-Nya, jika kita tidak mengasingkan diri dari Tuhan demikian. Marilah kita menyapa atau menjamah Tuhan dengan doa-doa kita entah syukur maupun permohonan. Jika kita percaya kepada Tuhan yang memiliki dua aspek penting di atas (Tuhan yang menjamah kita manusia dan membiarkan Diri dijamah oleh manusia), maka kita pun diajak untuk melakukan hal yang sama, yakni berusaha meneladani-Nya: Marilah kita berusaha untuk menjamah atau menyentuh hati dan nasib hidup sesama kita dengan kata-kata dan perbuatan kita, karena kata-kata dan perbuatan kita yang menyentuh hati dan nasib sesama kita tentunya bisa mendatangkan kebahagiaan dan kegembiraan bagi sesama kita tersebut. Marilah kita hidup sekian agar situasi hidup sesama kita manusia bisa menyentuh hati dan perasaan kita kita. Amin.

 

Salam,

Profil Penulis

romo fidelis.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universitaet zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.

 

 

 

 

BROT Minggu, 17 Juni 2018 - Hari Minggu Biasa XI

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Mrk. 4:26-34

Mrk 4:26 Lalu kata Yesus: "Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah,
Mrk 4:27 lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu.
Mrk 4:28 Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu.
Mrk 4:29 Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba."
Mrk 4:30 Kata-Nya lagi: "Dengan apa hendak kita membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah hendaknya kita menggambarkannya?
Mrk 4:31 Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi.
Mrk 4:32 Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya."
Mrk 4:33 Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka,
Mrk 4:34 dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

The-first-step-MLK

Sumber : http://www.volunteerweekly.org/wp-content/uploads/2013/01/The-first-step-MLK.png

Homili:

Beranilah Untuk Mengambil Langkah Pertama

 

Nyi Yuyu Yusanah. Bertahun-tahun berjuang melobangi bukit untuk membuat terowongan menuju sawahnya di desa Cikarag. Sawah-sawah di kampungnya dulu hanya bisa tanam sekali setahun. Sekarang mereka mampu menanam 3x setahun, bahkan bisa sampai 4x.

Dita Sari Wooteks menceritakan pengalaman suaminya yang berhenti merokok dan menabung uang rokoknya dalam bentuk 20 puluh ribuan selama satu setengah tahun. Tabungannya itu akhirnya bisa untuk membeli sepeda motor.

Ryan Hickman dari California sejak berusia 3,5 tahun memulai misinya mengumpulkan sampah daur ulang. Pada usia 7 tahun dia telah menabung $ 11.000 dari proyek daur ulangnya tersebut untuk dana kuliahnya nanti.

Banyak kisah-kisah besar kita dengar sehari-hari. Bahkan setiap orang ingin membuat kisah besar untuk dirinya.

Yang tidak boleh kita lupakan, kisah-kisah besar itu dimulai dari langkah-langkah kecil tetapi penuh kesetiaan besar. Kesabaran panjang juga untuk menjalani setiap langkah kecil itu dan mengikuti pertumbuhannya.

Ketika mengerjakan tugas, memulai gaya hidup sehat, menulis skripsi, memulai kebiasaan baik, banyak yang mengeluhkan betapa sulitnya mengambil langkah pertama. Setelah langkah pertama terlampaui semuanya akan berjalan dengan sendirinya bahkan ada rangsangan untuk melanjutkan langkah itu. Feeling succeded pada langkah pertama itu memberi feeling addicted. Just follow the stream. Better not look back or digging the bad roots. Keep on going till you come to your destination.

Menulis satu huruf tiap kali, dari situlah terbentuknya sebuah kisah besar. Tulislah kisahmu masing-masing dengan ketekunan. Tuhan ada di belakangmu menyelesaikannya.

 

Salam,

Profil Penulis

romo bimo.jpg
Yohanes Bimo Ari Wibowo, MSF; lahir di Jepara, Jawa Tengah. Sejak tahun 1998 menjadi anggota Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dengan memasuki Novisiat MSF di Salatiga. Ditahbiskan imam pada tahun 2008, di Yogyakarta. Melayani 3 tahun di Paroki St. Jusup, Pati, Keuskupan Agung Semarang. Sejak tahun 2012 diutus berkarya di Jerman. Saat ini melayani di Paroki Maria Himmelfahrt, Dietramszell, Bayern.

 

 

 

 

BROT Minggu, 10 Juni 2018 - Hari Minggu Biasa X

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Mrk. 3:20-35

Mrk 3:20 Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makanpun mereka tidak dapat.
Mrk 3:21 Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.
Mrk 3:22 Dan ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata: "Ia kerasukan Beelzebul," dan: "Dengan penghulu setan Ia mengusir setan."
Mrk 3:23 Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan: "Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis?
Mrk 3:24 Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan,
Mrk 3:25 dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan.
Mrk 3:26 Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya.
Mrk 3:27 Tetapi tidak seorangpun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu.
Mrk 3:28 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya, semua hujat yang mereka ucapkan.
Mrk 3:29 Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal."
Mrk 3:30 Ia berkata demikian karena mereka katakan bahwa Ia kerasukan roh jahat.
Mrk 3:31 Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia.
Mrk 3:32 Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya: "Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau."
Mrk 3:33 Jawab Yesus kepada mereka: "Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?"
Mrk 3:34 Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!
Mrk 3:35 Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

pharisee Jesus reaching out

Sumber : http://1.bp.blogspot.com/-cfXleTZ8Los/UXYwmfR57JI/AAAAAAAAG7E/j0ay_gqaCkg/s1600/pharisee+Jesus+reaching+out.bmp

Homili:

Saat Cinta Pada Tuhan Menjadi Sebuah Kegilaan

Tanda kegilaan pada Tuhan adalah ia sanggup berbuat baik pada semua orang bahkan terhadap yang membencinya sekalipun. - Romo Antonius Danang Bramasti SJ

 

Teman-teman yang terkasih,Tulisan ini menekankan tentang Yesus yang dianggap telah gila. Apa yang sesungguhnya terjadi sehingga Ia dikatakan gila bahkan kerasukan Beelzebul? Sebelum masuk pada Injil, ada baiknya kita lihat sedikit pernyataan Rasul Paulus.Dalam surat rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, ia menuliskan, Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata.” Atau dapat dikatakan juga apa yang aku katakan itulah, apa yang aku percaya. Masalahnya adalah, apakah yang aku percaya sehingga dapat aku katakan? Dan lebih jauh lagi, apakah yang aku katakan dianggap gila oleh pihak lain?Dalam bacaan Injil, Yesus, oleh para saudaranya, dikatakan sebagai orang yang tidak waras lagi. Oleh ahli Taurat, Yesus dikatakan sebagai kerasukan Beelzebul. Yesus dicap sedemikian itu karena, terlebih pada, apa yang dikatakan-Nya. Apa yang sebenarnya dikatakan oleh Yesus?Banyak hal yang dikatakan oleh Yesus memang terlihat sangat menyimpang. Misalkan saja, sebelum peristiwa ini, Ia pernah berkata, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.” Perkataan Yesus ini tentu mengejutkan sebab secara hukum Yahudi hari sabat mereka tidak boleh bekerja. Tetapi Yesus yakin dengan apa yang dkatakannya sebab memang demikianlah adanya. Itulah sebabnya ia dikatakan gila bahkan kerasukan raja setan, Beelzebul.Namun demikian, teman-teman terkasih,Adakah yang lebih gila daripada seorang yang mengajak orang lain untuk mengampuni sesama bahkan sampai 7 kali 70 kali? Adakah orang yang lebih gila dari seseorang yang mengajak orang lain untuk mengasihi sesama, tidak hanya yang baik terhadap kita, bahkan mereka yang membenci kita? Ajakan yang sungguh gila ketika kita diajak untuk mengasihi juga musuh-musuh kita.Adakah orang yang gila dari seseorang yang mau berkorban, bahkan nyawanya, untuk sahabat-sahabatnya? Tindakan yang sangat gila adalah ketika Ia mau berkorban bahkan untuk mereka yang telah menganiaya-Nya. Ia rela disiksa dan disalib sampai mati demi menyelamatkan sesama manusia, siapapun itu. Itulah sebagian tindakan gila yang dilakukan oleh Yesus.Kata-kata dan tindakan Yesus, pada jaman itu, sungguh mengejutkan. Betapa tidak, semangat mereka adalah gigi ganti gigi, mata ganti mata. Tidak ada pengampunan, apa lagi mengasihi. Pengampunan hanya terjadi ketika pembalasan sudah terlaksana. Kasih hanya diberikan kepada mereka yang juga mengasihi kita. Mereka yang bukan bagian dari kita akan dianggap musuh, bahkan dianggap setan. Apa yang dikatakan Yesus bertentangan dengan anggapan dan keyakinan mereka sehingga Yesus dianggap bukan bagian dari mereka. Itulah sebabnya Ia dianggap setan.Teman-teman terkasih,Ada dua hal yang terkait dengan orang yang dianggap sebagai bersekutu dengan setan. Pertama, mereka adalah bukan kita. Kedua, karena mereka bukan kita dan dianggap setan maka mereka layak untuk dilenyapkan. Perkataan dan tindakan Yesus tidak sama dengan mereka, orang Farisi dan ahli Taurat, maka Ia dianggap bersekutu dengan setan. Karena Ia dianggap setan maka layak untuk dilenyapkan. Itulah yang terjadi pada Yesus.Oleh karena itu, teman-teman terkasih, hati-hatilah dengan pernyataan: Mereka bukan Kita, karena pernyataan ini sebenarnya mengandung unsur konflik yang luar biasa. Karena mereka bukan kita maka timbul anggapan kita adalah baik sedangkan mereka adalah jahat. Kita ada dipihak Tuhan dan mereka ada dipihak setan. Yang satu dianggap setan oleh pihak lain yang menganggap diri lebih benar. Ini adalah cikal bakal menyetankan pihak lain.Karena mereka bukan kita maka kita jangan bergaul dengan mereka. Karena mereka bukan kita maka mereka harus disingkirkan. Maka terjadilah orang yang membunuh orang lain dengan landasan pemikiran ini, yaitu membunuh atas nama Tuhan karena yang dibunuh dianggap sebagai setan. Mengerikan!Dalam hal ‘Kita dan Mereka’ Yesus menekankan bahwa siapapun yang berkehendak baik adalah saudara dan saudari Tuhan Yesus sendiri. Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak sepaham dengan dengan kehendak baik kita? Jawabannya sederhana: kasihilah! Kasihilah musuh-musuhmu seperti dirimu sendiri! Tidak ada menyetankan pihak lain yang berseberangan dengan kita. Itulah kunci keselamatan kita.Terkait dengan hal kegilaan, apakah ada yang pernah dianggap gila oleh orang lain karena perbuatan baik kita? Dalam sejarah manusia, banyak orang dianggap gila karena kebaikan mereka. Dalam sejarah modern ini, adakah yang lebih gila dari apa yang dilakukan oleh Ibu Teresa dari Kalkuta? Ia mendatangi orang yang paling menderita lalu dibawa pulang, dibersihkan dan tak lama kemudian orang itu meninggal. Banyak yang menganggap ibu Teresa melakukan hal yang gila dan bahkan sia-sia. Namun tindakan yang dilakukan oleh Ibu Teresa itu menunjukkan cinta yang mendalam pada sesamanya. Tak ada yang sia-sia dalam hal mencintai sesama. Bahkan ketika hal itu dianggap gila. Ibu Teresa juga menolong orang-orang yang membencinya. Sungguh gila! Mungkin orang-orang suci itu dihinggapi kegilaan akan kebaikan. Mereka sungguh tergila-gila pada Tuhan sehingga sanggup melakukan hal gila demi cintanya pada Tuhan. Tanda kegilaan pada Tuhan adalah ia sanggup berbuat baik pada semua orang bahkan terhadap yang membencinya sekalipun.Teman-teman terkasih,Ibu Teresa dari Kalkuta pernah mengatakan, “Lakukanlah hal biasa dengan luar biasa.” Dalam hal ini saya katakan, “Lakukanlah hal biasa dengan kegilaan pada Tuhan. Sebagai pelajar, apa yang dapat anda lakukan dengan penuh kegilaan? Tentu saja belajar. Belajar dengan gila-gilaan, sebagai tanda cinta pada Tuhan. Tanpa landasan cinta pada Tuhan, apa yang kalian pelajari akan sia-sia bahkan menghancurkan kemanusiaan.Pelajarilah sesuatu dengan gila-gilaan untuk kesejahteraan manusia. Mungkin anda dapat diatakan gila namun yang penting sepanjang anda yakin itu baikk lakukanlah. Tuhan akan menuntun jalanmu. Janganlah belajar sambil lalu saja apa lagi asal lulus. Dulu, Galileo Galilei memplejari astronomi dengan luar biasa sampai ia dianggap gila dan bahkan bidaah oleh gereja Katolik. Namun gereja Katolik kemudian mengakui kesalahannya dan merehabilitasi nama Galileo. Oleh karena itu, teman-teman yang terkasih,Marilah kita mohon rahmat dari Tuhan agar kita pertama-tama tergila-gila pada Tuhan Yesus, dan kemudian lakukanlah kegilaan untuk kesejahteraan manusia, membangun budaya kehidupan dan peradaban kasih. Amin.

 

Salam,

Profil Penulis

romo danang.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ

Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta.

Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.