piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Mungkin

Aku,  dia.  Tidak  tahu  siapa  yang  memulai,  tahu-tahu kami  sekata.  Di  mana  aku berada, di situ juga dia. Dan kemana dia pergi, aku senantiasa mengikuti. Kami terlalu dekat, rasanya tidak ada jurang di antara kami yang perlu disebrangi. Memang tidak. Setiap kami pergi beramai-ramai, entah bagaimana kami selalu jadi jalan berdua. Setiap kali kami jalan berdua, entah bagaimana kami selalu hampir bergandengan tangan.  Memang  tidak ada  jurang di antara  kami, tapi  ada  tembok tembus  pandang  yang  tak  kelihatan.  Aku  tidak  bisa  menerobos  tembok  itu.  Dia tidak berani menghantam tembok itu. Kami sama-sama takut, jika kami melangkah terlalu  dekat,  kami  akan  menabrak  tembok  itu.  Kami sama-sama  takut  mengalami rasa sakit akibatnya.

Tapi ternyata tembok itu hanyalah dari kaca, yang saat ditabrak dari dua sisi, akan langsung pecah.  Aku dan dia memang sangat dekat, tapi kami tidak pernah sedekat  ini,  saat  tidak  ada  lagi  tembok  itu.  Sesaat  kami  gembira,  bahkan terlalu  gembira,  hingga  tidak  merasakan  perihnya  pecahan  kaca  yang  menusuk-nusuk  kami.  Hanya  sejenak  saja  lalu  kegembiraan  itu  pun  sirna  seiring  kami merasakan sakitnya serpihan kaca itu. Hingga pada akhirnya aku berkesimpulan, dan  dia  memutuskan,  memang  lebih  baik  jika  kaca  itu  utuh  dan  tidak  berusaha kami  pecahkan.  Pertemanan  yang  manis,  tidak  berubah  menjadi  hubungan  kekasih yang baik. Aku dan dia bukan seperti anggur yang semakin lama semakin baik. Aku dan dia hanyalah seperti sepiring lauk yang lama kelamaan menjadi basi.

Maka aku mencoret namaku dari kehidupannya, dan mengguratkannya pada kehidupan yang  lain.  Sementara  dia,  aku  tidak  tahu.  Rasanya  sibuk  berjalan  dalam kesendiriannya.  Tanpa  kami  saling  mengevaluasi,  sebetulnya  apa  yang  terjadi? Hingga  ribuan  hari  berlalu,  hingga  suatu  jingga  kelabu,  kala  aku  berusaha menyulap  duka  menjadi  suka.  Dan  semudah  membalikkan  telapak  tangan,  hal  itu terjadi begitu saja, kala aku melihatnya. Mungkin dia masih sama. Mungkin juga dia sudah berbeda. Aku tak bisa menilainya. Namun ada yang menarik perhatianku darinya. Rasanya seperti dulu saja.

Benda itu melingkar di jarinya. Kata orang, bentuknya bulat, menandakan tidak ada  awal  dan  tidak  akan  berakhir.  Seperti  lingkaran.  Tapi  orang-orang  salah. Mereka  hanya  sekumpulan  orang  beruntung  yang  tidak  mampu  menjelaskan keberuntungan  mereka,  sehingga  mengalihkan  kebodohan  mereka  dengan  mencoba bertutur secara filosofis. Buktinya,  lingkaranku putus sebelum ujung awalnya menyambung  pada  ujung  akhirnya.  Mungkinkah  dia  juga  bernasib  sama  sepertiku? Dan  sama sepertiku juga, belum  sempat  melepas  tanda yang  kata orang  bermakna ini? Ataukah sebaliknya, awal dan akhir dari lingkarannya telah bertemu, telah saling mengikat, tidak bisa terpisahkan?

Tidak.  Dia  sama  saja  sepertiku.  Lingkarannya  tidak putus  di  tengah  jalan, tetapi  terputuskan  setelah  tersambung.  Heran,  bukan?  Betapa  teori  yang mengatakan tidak ada akhir dari lingkaran itu sungguh salah. Namun mungkin juga tidak. Seperti anak kunci yang tidak menemukan lubangnya, hanya akan berusaha memaksa masuk ke lubang lain tetapi tidak bisa. Sepintas terlihat seolah mereka sudah menyatu, tetapi sesungguhnya tidak. Karena itu bukan pasangannya.

Mungkin  aku  adalah  awal  dari  lingkarannya,  dan  dia  adalah  akhir  dari lingkaranku.  Jika  kami  mempertemukan  keduanya,  maka  keduanya  akan  terikat. Apakah yang membuat dua orang bertemu kembali setelah sekian lama, jika bukan takdir? Mungkin ada faedahnya juga, jika kita tak perlu mengevaluasi diri. Aku sudah lupa akan kesalahannya. Kesalahanku pun sudah dimaafkannya dengan rela.


Jika kita mencoba memulai lagi, aku rasa kali ini hal-hal baik akan terjadi. Aku berharap. Dan dia pun menanggap,

“Mungkin.”

Itu bukanlah kata tidak, kan? Hmm.

Mungkin.

~

Discuss this article
You need to log in or register to participate in this discussion.