piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Salib di Medan Perang

Sebuah cerpen mengenai arti cinta dalam pengorbanan, ketika kita harus berani mengatakan salah ketika memang salah, dan cinta ketika memang cinta. Sebuah tulisan dari Michael Setiawan

 

Argh!

Semakin lama aku semakin dapat merasakan keberadaannya, peluru panas yang baru saja bersarang di pahaku. Aku menekan pahaku yang tertanam peluru itu dengan kain, berharap dapat menghentikan pendarahan, tetapi sepertinya sia-sia. Darah itu tetap saja mengalir bak sungai. Ah, apa yang akan terjadi padaku?

Selagi berpikir demikian, seorang rekanku membopongku, menerobos barisan rekan-rekanku yang lain, yang masih sibuk menembaki tentara lawan yang menembaki kami dengan buasnya. Kami memang sedang terlibat pertempuran di kota, menjalankan tugas kami sebagai utusan negara menjadi pasukan perdamaian PBB, menyelesaikan konflik yang belakangan marak terjadi; daerah ingin melepaskan diri dan membentuk negara sendiri. Sudah tiga tahun kami tidak pulang ke tanah air, tidak pulang ke keluarga kami.

“Medis! Medis!” rekanku berteriak memanggil petugas medis saat kami sampai di tenda medis di salah satu sudut kota itu. Ternyata memang yang seperti dugaanku, yang terluka bukan hanya aku, aku termasuk beruntung, hanya terluka bagian paha. Di tempat itu, sungguh lebih mengerikan, bahkan ada yang kehilangan kakinya karena terkena bom; yang meninggal sudah tidak terhitung lagi.

“Mengenaskan, eh, Nak? Begitulah nasib kita para prajurit, mati di medan perang dengan terhormat,” suara parau mengagetkanku. Suara itu berasal dari seorang di tempat tidur sebelahku, wajahnya sudah agak tua, berkeriput, tangannya memegang perutnya yang berlumuran darah.”Aku juga sepertinya juga tidak bisa bertahan lama. Tubuh tua ini tidak sanggup lagi menahan sakit ini.” Aku menatap wajah prajurit itu.

Menyadari tatapanku, dia seperti tertegun, menatapku dengan tatapan kosong, seakan-akan mengingat masa lalunya. Dia menarik nafas perlahan, kemudian mengambil sesuatu dari saku celananya, semacam pundi-pundi, lalu memberikannya padaku.

“Nak, kalau kau secara kebetulan berada di Italia, tolong berikan ini kepada istriku. Katakan kepadanya kalau aku bersalah padanya dan meminta maaf, sekalipun aku tidak mengharapkan dia akan memaafkanku. Tidak perlu khawatir karena ia takkan bertemu aku lagi.”

“Sepertinya Bapak sangat menyayangi istri Bapak ya?” tanyaku.

“Menyayanginya? Ya, aku sangat menyayanginya, namun aku bersalah padanya. Aku mengkhianatinya,” pria tua itu menjawab, menarik nafas dalam-dalam, kemudian melanjutkan ceritanya, “Aku masuk ketentaraan untuk mengejar mimpi indah. Namun aku menempuh jalan yang salah. Demi mendapat pangkat dan kedudukan, aku menikah lagi dengan putri jenderal. Aku mengkhianati istriku, bahkan ketika ia sedang mengandung anakku. Aku bahkan tidak mau mengakui dia sebagai istriku. Walaupun begitu, ia tetap menyayangiku, tidak peduli seperti apa aku menyakitinya. ”

Aku mendengarkan ceritanya dengan seksama, cerita penyesalan tentara tua itu. Walaupun berusaha ia tutupi, dapat kulihat ia mulai meneteskan air mata. Ia melanjutkan ceritanya, “Setelah kehilangan semuanya, aku baru sadar betapa aku sangat mencintai istriku, namu aku sudah tidak ada muka lagi untuk bertemu dengannya.”

Sang tentara tua itu menutup matanya yang basah oleh tangis, menghela nafas seakan itu nafas terakhirnya. Aku pun tidak tahu apa yang harus aku lakukan, pria ini memilih caranya sendiri untuk menebus kesalahannya. Tanpa sadar, aku membuka kantung pundi-pundi itu, dan menemukan kalung salib yang sudah agak karat dimakan usia.

“Itu dari istriku, ia berikan sewaktu pernikahan kami. Namun aku tidak layak memakai itu, aku telah bersalah, dan aku rasa, jangankan masuk Surga, mungkin neraka pun tidak dapat menerima aku,” pria itu berkata dengan lesu.

Kau tahu, Nak, seandainya ada kesempatan, ingin aku memperbaiki hidupku. Setidaknya, meminta maaf pada istriku.”

“Pak, bukankah yang terpenting sudah bertobat, mengetahui kesalahan dan berusaha memperbaiki diri? Meskipun tidak diberitahu, saya yakin istri bapak tahu betapa Bapak mencintainya.”

“Nak, pertobatan itu lebih dari sekedar berpikir dalam hati. Aku menyesal tak sempat meminta maaf pada istriku, dan sepertinya sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu sejak aku mengatakan padanya bahwa aku mencintainya; dia senang mendengarnya. Aku tidak mau ada orang yang sepertiku lagi. Kau masih punya banyak waktu, tidak sepertiku. Kalau salah, beranilah minta maaf; kalau cinta, beranilah katakan cinta. Ingat, Nak, kau tidak akan pernah tahu kapan waktumu akan tiba. Jangan pernah berpikir selalu ada hari esok, kau akan menderita.”

Aku menemani berbicara bersama tentara tua itu di saat-saat terakhirnya, di tengah desingan peluru dan teriakan-teriakan perang. Tak lama hingga akhirnya dia berkata bahwa dia lelah berbicara dan mau beristirahat. Beristirahat selamanya dari dunia yang melelahkan ini, dengan kenangan penuh penyesalan atas istrinya.

Aku juga sadar, banyak hal yang harus aku lakukan di dunia ini, tetapi waktuku sangat terbatas seperti tentara tadi. Banyak hal yang harus aku katakan pada orang-orang yang kucintai. Aku membuka kembali pundi-pundi itu, dan ternyata selain salib itu juga ada foto yang sudah kumal, foto pernikahan. Aku membaliknya dan disana tertulis, “Hidup bukanlah hal mendapatkan, tetapi hal melepaskan.”

Terimakasih atas tulisan ini :
Michael Setiawan, KMK ITB

Discuss this article
You need to log in or register to participate in this discussion.