piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 16 September 2018 - Hari Minggu Biasa XXIV

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Mrk. 8:27-35

Mrk 8:27 Kemudian Yesus beserta murid-murid-Nya berangkat ke kampung-kampung di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Kata orang, siapakah Aku ini?"
Mrk 8:28 Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan: seorang dari para nabi."
Mrk 8:29 Ia bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Petrus: "Engkau adalah Mesias!"
Mrk 8:30 Lalu Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapapun tentang Dia.
Mrk 8:31 Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.
Mrk 8:32 Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia.
Mrk 8:33 Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: "Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."
Mrk 8:34 Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
Mrk 8:35 Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Yesus

Sumber : https://usercontent1.hubstatic.com/13485742.gif

Homili:

Mengalami Yesus Secara Pribadi

 

Sebuah peristiwa menarik bahwa Yesus bertanya kepada para muridNya, Siapakah Aku?. Mungkin itu cara Yesus untuk mengecek apakah orang banyak sungguh mengenal Dia dan apakah para muridnya juga mengenalNya dengan benar.

Saya menemukan bahwa pertanyaan (yang mirip test) Yesus ini memiliki sebuah tuntutan, yakni kenali Aku! Tampaknya Yesus berkehendak agar mereka sungguh mengenalnya secara personal. Untuk mencapai pengenalan seperti itu, dibutuhkan proses yang tidak mudah. Salah satu indikasinya ialah: memanggul salib. Banyak orang mengikuti Dia karena ingin pengenalNya secara personal, pribadi, intim. Namun, pencapaiannya harus melalui salib.

Seperti apakah salib kita itu? Pada jaman sekarang ini, banyak informasi yang terbelokkan (hoax) oleh media sosial. Bisa jadi, termasuk jalan kita mengenal Yesus, mengenal Allah, juga dibelokkan. Salah satu salib modern kita ialah meneliti dengan secermat mungkin kebenaran yang sampai ke telinga kita. Ketika di media sosial kita menerima informasi mengenai Yesus, apakah kita menerimanya begitu saja, menjadi santapan otak dan perasaan kita, atau kita mencari sumber yang lebih bisa dipertanggungjawabkan. Sumber yang bisa dipertanggungjawabkan semestinya membawa pengenalan kita tentang Yesus menjadi lebih personal, lebih intim. Dengan demikian, iman kepadaNya itu tidak mudah luntur. Berusaha keras, menyediakan waktu dan tenaga untuk mengenal Yesus lebih dekat adalah sebuah salib. Berapa banyak orang jaman ini enggan memanggul salib semacam itu?

Mari kita, bersama-sama dengan para murid Yesus, berdiam diri, menelaah, menyerap ajaranNya agar mengerti sungguh siapa DIA. Semoga kita rela memanggul salib dan pengenalan kita akan Yesus sungguh merupakan peristiwa personal dan intim, bukan kata orang", atau "kata media sosial.... Semoga tenteram dan damailah hati kita karena mantaplah iman kita.

Amin.

 

Salam,

Profil Penulis

romo rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

BROT Minggu, 2 September 2018 - Hari Minggu Biasa XXII, HARI MINGGU KITAB SUCI NASIONAL

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Mrk. 7:1-8,14-15, 21-23

Mrk 7:1 Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus.
Mrk 7:2 Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh.
Mrk 7:3 Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka;
Mrk 7:4 dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga.
Mrk 7:5 Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: "Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?"
Mrk 7:6 Jawab-Nya kepada mereka: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.
Mrk 7:7 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.
Mrk 7:8 Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia."
Mrk 7:14 Lalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka: "Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah.
Mrk 7:15 Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya."
Mrk 7:21 sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan,
Mrk 7:22 perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.
Mrk 7:23 Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Quote

Sumber : https://weheartit.com/entry/37664746

Homili:

Niat Baik Mendahului Perbuatan

Kesalahan dalam perbuatan yang dilandasi oleh niat mulia jauh lebih baik daripada kehebatan dalam perbuatan yang dilandasi oleh niat jahat. - Romo Antonius Danang Bramasti SJ

 

Teman-teman yang terkasih,

Ada sebuah pertanyaan klasik: apakah yang telah kita perbuat bagi sesama? Mungkin sudah banyak hal yang kita lakukan bagi sesama kita. Namun, mari kita refleksikan sejenak perbuatan baik kita berdasarkan pada bacaan Injil Minggu ini.

Bacaan Injil Minggu ini bicara soal cuci tangan. Lhoo apa hubungannya antara perbuatan baik dengan cuci tangan? Kayaknya ga nyambung deh. Hmmm mari kita lihat lebih dalam lagi, mengapa Injil ini mengangkat persoalan cuci tangan. Hal sepele gini koq masuk Injil ya? Pasti ada yang penting dengan persoalan ini.

Pada bacaan Injil diceritakan bahwa orang-orang Farisi protes, mengapa para murid Yesus tidak cuci tangan terlebih dahulu sebelum makan. Dalam tradisis Yahudi, mereka yang tidak cuci tangan sebelum makan, dianggap najis. Orang yang dianggap najis adalah pendosa, dan pendosa tidak dapat masuk surga. Inilah kasus utamanya, bahwa kalau tidak cuci tangan sebelum makan berarti tidak bisa masuk surga. Waaoouuw luar biasa sekali pernyataan ini.

Menanggapi peristiwa ini, Yesus langsung memberi komentar: Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Mengapa Yesus mengatakan demikian? Karena mereka hanya bicara soal peraturan manusia dan malah mengabaikan perintah Tuhan yaitu kasih pada sesama.

Dalam bacaan pertama, Rasul Yakobus menuliskan, Ibadah sejati dan tak bercela dihadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemari oleh dunia. Apa yang dapat mencemari atau menajiskan diri kita?

Teman-teman yang terkasih,

Hal cuci tangan adalah peraturan manusia untuk menjaga kebersihan. Memang benar bahwa hal kebersihan dapat dikatakan sebagai bagian dari iman. Namun demikian, orang Farisi mengaitkan peristiwa cuci tangan dengan persoalan kenajisan yang bicara soal surga dan neraka. Tentu saja hal in terlalu jauh hubungannya. Hal cuci tangan terkait dengan kebersihan dan kesehatan manusia tetapi tidak ada kaitannya dengan surga dan neraka. Apakah kalau orang makan tanpa cuci tangan terlebih dahulu pasti masuk neraka? Ini hal pertama.

Hal kedua yang diangkat oleh Yesus adalah soal niat yang melandasi perbuatan. Niat muncul dari kedalaman hati dan terungkap dalam perbuatan dan tutur kata. Pada poin inilah sebenarnya najis atau tidak najis dapat dinyatakan. Itulah sebabnya Yesus mengatakan, apa yang masuk ke dalam tubuh kita tak dapat menajiskan tetapi apa yang keluar dari seseorang itulah yang menajiskan. Sebab dari dalam hati orang timbul segala yang jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan, dan mungkin masih banyak lagi. Itu semua yang menyebabkan kenajisan. Itu semua juga yang oleh Rasul Yakobus disebut mencemari diri kita.

Nah jelas sudah apa yang dimaksud oleh Yesus soal kenajisan, yaitu niat buruk yang muncul lewat perbuatan. Bukan soal cuci tangan lalu dikaitkan dengan kenajisan... hadeehhh.. Terlalu jauh broo.. Tetapi dalam masyarakat kita sekarang ini masih cukup banyak orang yang senang mengaitkan peristiwa dengan agama. Hal apa saja selalu dikaitkan dengan soal agama. Hal ini dapat membuat orang tidak peduli pada niat dan perbuatan tetapi yang pnting adalah seagama atau sealiran. Hal ini sangat berbahaya karena dapat memecah belah masyarakat.

Yesus lebih menekankan niat baik yang melandasai perbuatan, bahkan ketika perbuatan itu terlihat buruk sekalipun (dalam bacaan Injil adalah tidak cuci tangan sebelum makan). Dalam kehidupan sering kali persoalaannya lebih kompleks.

Ada kisah, seorang ibu mencuri makanan. Ia tertangkap basah dan dibawa ke kantor polisi. Polisi bertanya kepada ibu itu, Mengapa ibu mencuri?” Sang ibu menjawab, “Anak saya sudah dua hari tidak makan. Ibu itu mencuri demi memberi makan pada anaknya yang masih balita. Persoalan ini sungguh kompleks karena mencuri itu jelas tidak baik tetapi hal itu dilandasi dari niat baik. Hmmmm..susah juga ya.

Kita lihat peristiwa ini dalam konteks bacaan Injil Minggu ini. Kita awali dari melihat niat yang ada dalam hati ibu itu. Apakah ada niat buruk yang muncul dalam diri ibu itu? Niatnya adalah memberi makan pada anaknya yang balita. Namun karena kemisikinan yang akut, ia tidak dapat bekerja mencari uang, ia tidak punya apa-apa. Ia hanya punya satu tekad yaitu memberi makan anaknya yang mulai kelaparan. Tak ada niat buruk yang muncul dari dalam hatinya. Memang pada akhirnya ia terpaksa harus mencuri demi kehidupan anaknya.

Pada jaman Yesus, kasus pencurian seperti ini akan dihukum sangat berat bahkan jaman sekarang pun dapat dihakimi masa hingga babak belur. Jika hal ini terjadi, bagaimana nasib anaknya yang balita dan kelaparan? Siapa yang lebih berdosa, yang mencuri atau yang menghukum?

Teman-teman yang terkasih,

Bacaan Injil Minggu ini mengajari kita untuk mengawali perbuatan-perbuatan kita dari niat baik. Kesalahan dalam perbuatan yang dilandasi oleh niat mulia jauh lebih baik daripada kehebatan dalam perbuatan yang dilandasi oleh niat jahat. Dalam hal ini Yesus juga mengatakan: cerdik seperti ular, tulus seperti merpati. Maka jangan silau oleh kesuksesan karena yang penting adalah niat kita yang tulus. Ibu Teresa dari Kalkuta mengatakan: hal yang dikehendaki Tuhan bukanlah kesusksesan tetapi kesetiaan pada Tuhan.

Oleh karena itu, teman-teman yang terkasih, marilah kita mohon rahmat Tuhan agar kita menjaga niat-niat baik kita yang dilandasi oleh kasih Tuhan dan berani bertindak berdasarkan niat baik kita itu. Amin.

 

Salam,

Profil Penulis

romo danang.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ

Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta.

Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

BROT Minggu, 26 Agustus 2018 - Hari Minggu Biasa XXI

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Yoh. 6:60-69

Yoh 6:60 Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?"
Yoh 6:61 Yesus yang di dalam hati-Nya tahu, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka: "Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu?
Yoh 6:62 Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?
Yoh 6:63 Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.
Yoh 6:64 Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya." Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia.
Yoh 6:65 Lalu Ia berkata: "Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya."
Yoh 6:66 Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.
Yoh 6:67 Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: "Apakah kamu tidak mau pergi juga?"
Yoh 6:68 Jawab Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal;
Yoh 6:69 dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Follow me

Sumber : http://stmarkdepere.blogspot.com/2013/05/follow-me.html

Homili:

Apakah Kamu Tidak Mau Pergi Juga?

Jesus braucht keine Fans, sondern Nachfolger - Romo Dr. Fidelis Waton SVD

 

Statistik mencatat bahwa pada tahun 2017 di Jerman terdapat 660 000 orang yang meninggalkan gereja (katolik dan evangelis). Ada begitu banyak alasan mengapa orang meninggalkan gereja, di antaranya: Pertama, pajak gereja. Ada yang merasa berat untuk menerima potongan buat pajak gereja dari penghasilan mereka. Kedua, protes terhadap sikap-sikap pimpinan gereja yang otoriter, para imam yang tidak bermoral atau ajaran gereja yang terlalu kaku dan konservatif. Pelbagai kasus yang ada dalam gereja mengakibatkan orang kehilangan kepercayaan terhadap gereja atau orang keluar dari gereja sebagai aksi protes. Alasan yang lain yang tak kalah pentingnya bahkan lazimnya menjadi alasan utama adalah orang sudah sekian lama menjaraki diri dari agama dan Tuhan. Orang telah sanggup menjamin hidupnya sendiri dengan konsekuensi bahwa agama dan Tuhan tidak dibutuhkan lagi. Tentu saja hal ini juga berkaitan dengan praksis iman dan tata ibadah kita.

Di balik semuanya itu, sikap demikian sebagai pengejawantahan kebebasan manusia, kebebesan anak-anak Tuhan. Tuhan menciptakan manusia sebagai anak-anak-Nya yang bebas dan kebebasan itu bisa diwujudnyatakan dengan meninggalkan kepercayaan kepada Tuhan atau keluar dari gereja; tentu saja perlu digarisbawahi di sini bahwa keluar dari gereja belum tentu berarti kehilangan iman kepada Tuhan.

Jika orang beramai-ramai meninggalkan gereja, maka pertanyaan Yesus yang menantang para murid-Nya dalam injil Minggu ini dialamatkan juga kepada setiap kita: Apakah kamu tidak mau pergi juga? Mengapa saya tetap berada dalam gereja di tengah gelombang orang yang keluar dari gereja? Di tengah massa yang tidak lagi percaya kepada Tuhan, mengapa saya masih tetap percaya kepada Tuhan? Apa motivasi yang membuat saya tetap bertahan dalam gereja atau iman kepada Tuhan? Apakah saya tidak pernah tergoda untuk turut berenang dalam arus massa tersebut? Jika saya memutuskan untuk tetap berada dalam gereja dan percaya kepada Tuhan, apa peran Tuhan, agama atau gereja dalam hidup saya?

Saya mengundang setiap kita untuk merefleksi diri dengan pelbagai pertanyaan penuntun di atas. Saya tidak mau menghadirkan jawaban untuk pertanyaan-pertanyan di atas. Pertanyaan Yesus kepada para murid menantang kita untuk kembali melihat motivasi iman kita dan merenungkan peran Tuhan dalam hidup kita.

Yesus bukanlah pribadi yang membutuhkan pengagum atau penggemar atau fans, melainkan pengikut. Pengikut tentu berbeda dengan fans. Yesus tidak mencari penggemar atau fans, melainkan pengikut. Yesus tidak membutuhkan pengagum yang lazimnya kita kenal dalam dunia perfilman atau sepak bola. Yesus membutuhkan pengikut yang setia kepada-Nya dalam suka dan duka, dalam sukses dan gagal, ketika gereja Yesus saleh dan salah, suci dan berdosa. Yesus membutuhkan pengikut yang hidup menurut ajaran dan contoh hidup-Nya, yang menghadirkan Yesus saat ini lewat cara pandang dan gaya hidupnya. Amin.

 

Salam,

Profil Penulis

romo fidelis.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universitaet zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.

 

 

 

 

BROT Minggu, 19 Agustus 2018 - Minggu Biasa XX

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Yoh. 6:51-58

Yoh 6:51 Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia."
Yoh 6:52 Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: "Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan."
Yoh 6:53 Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.
Yoh 6:54 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.
Yoh 6:55 Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.
Yoh 6:56 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.
Yoh 6:57 Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.
Yoh 6:58 Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Eucharistie

Sumber : https://www.bistumspresse-zentralredaktion.de/sites/d7.bistumspresse-zentralredaktion.de/files/images/leben/2017/17_3_Eucharistie_l.jpg

Homili:

Perayaan Ekaristi Pembawa Sukacita

 

Injil hari ini sangat mistis. Beberapa pendengar Yesus tidak mampu mencerna kedalaman makna pesannya. Sebagian menunggu waktu untuk mendapatkan pencerahan lebih lanjut. Sebagian lagi tidak percaya dan menganggapnya orang gila. Kini, ketika kita mendengar kembali kisah ini, apa reaksi kita? Apakah kita sama dengan orang-orang di jaman Yesus? Kelompok yang manakah kita?Kita tahu bahwa kita bukan kanibal. Setelah kebangkitanNya dan kemudian Injil ini ditulis, makna memakan” tubuh Yesus dan “meminum darahnya tidak lagi bernuansa fisikal. Hal ini berkaitan dengan Yesus sebagai Sang sabda. Sabda Allah dalam pribadi Yesus harus selalu dikunyah-kunyah agar kita mendapatkan inspirasi yang sehat dan sesuai dengan kehendak Allah. Dalam Ekaristi kita senantiasa memadukan Liturgi Ekaristi dengan Liturgi Sabda. Tidak ada perayaan Ekaristi atau Misa yang tanpa perayaan Sabda. Tuhan Yesus Kristus yg menginspirasi kita adalah Sabda Allah yang perlu kita kunyah-kunyah, direnungkan sungguh. Oleh karena itu, tanpa Sabda, Ekaristi menjadi hampa, tidak menginspirasi dan tidak membawa sukacita. Semoga kita diteguhkan untuk setia mengikuti perayaan Sabda dan bukan hanya mau menerima komuni saja. Amin.

 

Salam,

Profil Penulis

romo rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

BROT Minggu, 5 Agustus 2018 - Hari Minggu Biasa XVIII

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Yoh. 6:24-35

Yoh 6:24 Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.
Yoh 6:25 Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: "Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?"
Yoh 6:26 Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.
Yoh 6:27 Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."
Yoh 6:28 Lalu kata mereka kepada-Nya: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?"
Yoh 6:29 Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah."
Yoh 6:30 Maka kata mereka kepada-Nya: "Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan?
Yoh 6:31 Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga."
Yoh 6:32 Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga.
Yoh 6:33 Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia."
Yoh 6:34 Maka kata mereka kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa."
Yoh 6:35 Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Eat Pray Love

Sumber : http://blog.pianetadonna.it/italianwords/wp-content/uploads/2015/10/eat-pray-love.jpg

Homili:

Eat, Pray, And Love

Doa yang benar akan menghilangkan kelaparan duniawi dan hidupnya mengarah pada Tuhan. - Romo Antonius Danang Bramasti SJ

 

Teman-teman yan terkasih,Bacaan Injil kali ini bicara soal makan. Hal yang aneh adalah, Yesus mengidentikan diri-Nya sebagai makanan. Yesus adalah roti yang harus dimakan agar kita hidup. Hal yang lebih aneh lagi adalah, Roti ini bukanlah sembarang roti karena dengan makan roti ini kita tak akan lapar lagi. Roti macam apakah ini? Sebelum menjawab hal ini, ada baiknya mengingat kembali apakah makanan itu. Sederhana sekali pertanyaan ini namun mungkin kita lupa makna makan. Tulisan ini akan bicara soal makan dan doa. Apa kaitan antara makan dan doa?Teman-teman yang terksih,Apakah ada yang pernah lupa makan siang atau malam? Atau mungkin lupa sarapan. Atau mungkin lupa bahwa sehari ini belum makan? Lalu apa dampaknya ketika anda lupa makan seharian? Macam kemungkinan dapat terjadi. Ada yang masuk angin, lemes bahkan mungkin pingsan. Itu kalau kita lupa makan. Bagaimana kalau kita makan makanan tertentu?Apa yang terjadi kalau kita banyak makan petai? Selain rasa puas, bagi yang suka, karena telah menghabiskan satu rantai petai, dampak yang lain adalah nafas yang bau petai. Atau makan durian, apa dampaknya? Mungkin ada yang kolesterol tinggi, mungkin juga ada yang mual, bahkan dengan baunya. Nah itu tadi bicara soal makna makan. Ada dampak yang signifikan antara tubuh kita dengan makanan. Makanan mempengaruhi raga kita. Sekarang kita bicara soal doa.Teman-teman yang terkasih,Adakah diantara kalian yang pernah lupa berdoa? Apa dampaknya jika kalian lupa doa malam? Atau lupa berdoa selama sehari? Apakah anda masuk angin, lemes, atau bahkan pingsan? Mungkin ini pertanyaan konyol tetapi semoga dapat menyadarkan kita bahwa seringkali kita tidak menyadari dampak pada diri kita jika kita lupa berdoa. Padahal kalau kita mau menyetarakan antara doa dan makan, maka seharusnya punya dampak yang sama terhadap diri kita. Yang satu berdampak pada fisik, dan yang lain berdampak pada rohani.Kesadaran akan makna ini sangat penting agar kita dapat mawas diri. Jangan lupa makan atau jangan terlambat makan karena dapat membuat tubuh ini sakit. Tetapi apakah kita juga sadar bahwa makna makan itu juga memiliki dampak yang sama dengan makna doa? Tidak makan kita sakit, demikian pula tidak doa kita juga bisa sakit.Jika kita lupa berdoa, mungkin kita tidak langsung merasakan sakit seperti jika kita lupa makan. Namun sebenarnya punya dampak yang sama, yaitu sakit. Lupa berdoa akan berdampak pada sakit secara psikis. Sakit secara rohani. Apakah kita pernah merasakan stres, lalu marah-marah terus tanpa sebab. Mudah tersinggung dan mutung? Ini adalah ciri khas orang yang sering lupa berdoa. Mengapa?Doa yang benar selalu mengarah pada rasa syukur. Bahkan dapat dikatakan tanda oang beriman adalah senantiasa bersyukur apapun yang terjadi. Jika dihina, ia akan bersyukur karena mengerti betul bagaimana tidak enaknya dihina sehingga ia belajar untuk tidak menghina orang lain. Yesus menasihati: apa yang kamu tidak ingin orang lain lakukan padamu, jangalah lakukan itu pada orang lain. Jika disakiti, maafkanlah. Itu juga nasihat Yesus. Bagaimana kalau terus disakiti? Maafkanlah sampai 7 kali 70 kali 7 kali.. wah tak terhingga pokoknya. Menarik sekali bahwa doa ternyata punya cara kerja yang sama dengan makan yaitu pengulangan. Kemarin sudah makan, mengapa hari ini harus makan lagi? Kemarin kan sudah berdoa, megapa hari ini harus berdoa lagi. Kemarin saya makan nasi, nanti juga makan nasi. Kemarin saya berdoa Bapa Kami, sekarang saya juga berdoa Bapa Kami. Makanan memprodkusi kembali energi raga kita dan doa memproduksi kembali energi rohani kita. Makan menyehatkan raga, berdoa menyehatkan jiwa. Namun ada yang berbeda dalam penjelasan Yesus.Yesus menjelaskan, bahwa makanan ragawi akan membuat kita lapar lagi namun makanan rohani, yaitu Tubuh-Nya sendiri, tidak akan membuat kita lapar lagi. Apa yang membedakan? Makna lapar adalah keinginan untuk memuaskan hal yang duniawi. Mislnya, ada pejabat pemerintah yang bergaji 100 juta per bulan. Namun demikian ia tetap saja korupsi. Ada apa ini? Inilah kelaparan duniawi. Doa yang benar akan menghilangkan kelaparan duniawi seperti itu dan hidupnya mengarah pada Tuhan.Hidup yang mengarah pada Tuhan bukan berarti ia tidak mendapatkan apa-apa secara duniawi. Yesus mengatakan, setiap pekerja layak mendapatkan upahnya. Namun ia tidak akan menjadi kelaparan secara duniawi. Orang yang mengunyah Sabda Tuhan akan senantiasa eling lan waspada atau ingat akan Tuhan dan berhati-hati dalam bertindak dan bertutur kata. Seperti dalam doa Bapa Kami: .. Berilah rejeki pada hari ini.. Dan nasihat Yesus, kesusahan hari ini cukuplah untuk hari ini. Jika kita senantiasa berdoa seperti itu, yakinlah kita tak akan kelaparan lagi.Teman-teman yang terkasih,Marilah kita mohon rahmat dari Tuhan agar kita senantiasa ingat akan makna makan dan kita kaitkan dengan makna doa. Makanan rohani tak akan pernah membuat kita lapar lagi melainkan senantiasa berbagi rahmat Tuhan kepada sesama dengan penuh kasih. Amin.

 

Salam,

Profil Penulis

romo danang.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ

Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta.

Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.