piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 17 Desember 2017 - Hari Minggu Adven III

brot logo v1

Bacaan Injil: Yoh. 1:6-8,19-28

Yoh 1:6 Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes;
Yoh 1:7 ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya.
Yoh 1:8 Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu.
Yoh 1:19 Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: "Siapakah engkau?"
Yoh 1:20 Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: "Aku bukan Mesias."
Yoh 1:21 Lalu mereka bertanya kepadanya: "Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?" Dan ia menjawab: "Bukan!" "Engkaukah nabi yang akan datang?" Dan ia menjawab: "Bukan!"
Yoh 1:22 Maka kata mereka kepadanya: "Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?"
Yoh 1:23 Jawabnya: "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya."
Yoh 1:24 Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi.
Yoh 1:25 Mereka bertanya kepadanya, katanya: "Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?"
Yoh 1:26 Yohanes menjawab mereka, katanya: "Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal,
Yoh 1:27 yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak."
Yoh 1:28 Hal itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

John the Baptist

Sumber : http://www.new-church-lifeline.org.uk/album/Images for Powerpoint/slides/John the Baptist.jpg

Homili:

Utusan Yang Dapat Dipercaya

Orang akan tahu bahwa ia tidak berdusta dan dapat dipercaya karena apa yang dipikirkan, diucapkan, dan dikatakan selalu selaras. - Danang Bramasti, SJ

 

Teman-teman yang terkasih

Hari ini adalah hari Minggu Adven ke-3 yang juga sering disebut hari minggu Adven Gaudate atau suka-cita. Minggu Adven ke-3 ini juga mengingatkan kita bahwa kita ini adalah utusan Tuhan untuk membawa suka-cita di dunia ini. Utusan Tuhan yang ditampilkan dalam Injil minggu ini adalah Yohanes Pembaptis yang juga dapat menjadi teladan utusan bagi kita. Apakah yang dilakukan Yohanes Pembaptis?

Dalam Injil dikatakan, Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes. Jadi jelas bahwa ia adalah utusan Tuhan. Diutus untuk apa? Dalam Injil dikatakan: ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Jadi Yohanes Pembaptis diutus Tuhan untuk memberi kesaksian dan kesaksiannya dapat dipercaya. Menjadi saksi tentang apa?

Teman-teman yang terkasih,

Kitapun, masing-masing dari kita, adalah utusan Tuhan untuk memberi kesaksian. Hal ini dapat terlihat jelas saat akhir misa, Imam/romo, setelah memberi berkat pasti mengatakan: Pergilah dalam damai Tuhan, kita diutus! Artinya kita semua diutus untuk membawa damai Tuhan dan tentu saja kesaksian kita hendaknya dapat dipercaya.

Yohanes Pembaptis adalah utusan yang dapat dipercaya. Mengapa? Hal yang utama adalah ia orang yang jujur. Dikatakan dalam Injil bahwa ia tidak berdusta. Bagaimana orang tahu bahwa ia tidak berdusta? Orang akan tahu bahwa ia tidak berdusta dan dapat dipercaya karena apa yang dipikirkan, diucapkan, dan dikatakan selalu selaras. Itulah tanda orang suci. Yohanes memperlihatkan hal itu.

Saat orang bertanya kepadanya, apakah ia mesias, ia dengan tegas menjawab: bukan! Demikin pula ketika ia ditanya apakah ia nabi Elia, ia dengan tegas menjawab: bukan! Dapat dibayangkan jika ia mengaku-aku sebagai mesias atau nabi Elia. Mungkin ia akan mendapat pujian disana-sini. Namun ia menolak semua itu.

Teman-teman terkasih,

Seringkali kita mengaku-aku sebagai orang hebat atau orang yang sama sekali tidak bisa apa-apa. Ini gejala ketidak jujuran atau dihinggapi sindrom rendah diri. Saya punya kisah menarik terkait dengan hal itu.

Suatu ketika saya diundang makan oleh sebuah kelompok Katolik di sebuah restoran yang mewah. Saya datang bersama tiga anak mudika yang semuanya laki-laki. Ketika kami sampai di restoran itu, seorang bapak yang adalah ketua kelompok itu, menyambut kami dengan ramah.
Bapak: “Selamat datang Romo, terima kasih sudah mau hadir”.
Lalu ia melihat ke arah para pemuda, dan sambil tersenyum berkata: “Ini para frater yaa..?”
Anehnya, para pemuda itu hanya tersenyum, mesam-mesem ga jelas.
Salah seorang dari mereka menjawab dengan wajah penuh teka-teki: “Kami bukan frater lho pak..”
Lalu bapak itu menjawab: “Ahh.. ngapusi.. pasti frater. Saya tahu banget ciri-ciri para frater”.
Tanpa perlawanan berarti, para pemuda itu hanya mesam-mesem. Lalu bapak itu bergegas mengajak kami masuk ke restoran mewah dan berteriak kepada anggota kelompok yang lain: “Saudara-saudari, kita sungguh mendapat berkat. Lihat kita kedatangan romo dan para frater!”
Para anggota yang lain bertepuk tangan meriah. Mereka menyambut saya dengan para ‘frater’ (frater gadungan hehehe) dengan takjub dan takjim. Bahkan ketika para frater gadungan itu mau duduk, kursinya disiapkan dengan penuh hormat. Lalu kami duduk.
Ketua kelompok lalu berkata: “Mari kita awali makan ini dengan doa. Nah mumpung ada frater, silahkan salah satu frater memimpin doa”
Dan hebat sekali, salah satu dari mereka berdiri dan langsung memimpin doa. Padahal kalau rapat mudika, tidak pernah ada yang mau memimpin doa. Mereka biasanya saling menunjuk orang lain. Maka ini peristiwa yang menakjubkan buat saya.
Setelah selesai, kami lalu pulang. Dalam perjalanan saya bertanya kepada mereka: “Kalian tadi koq tidak menjawab dengan tegas kalau bukan frater?”
Lalu mereka menjawab: “Lha mumpung, kapan lagi bisa makan enak di restoran mewah dan dihormati.”
Yang lain lagi menjawab: “Ini namanya kesempatan dalam kesempitan. Gak pernah kami dapat penghormatan seperti itu, di restoran mewah pula.”
Lalu kami tertawa terbahak-bahak.

Teman-teman yang terkasih,

Peristiwa itu memang tidak berakibat fatal pada kehidupan kami. Namun kami belajar betapa kehormatan itu begitu menggoda. Dapat dibayangkan jika Yohanes Pembaptis berperilaku seperti para pemuda itu, mesam-mesem gak jelas ketika ditanya oleh orang-orang farisi. Yohanes Pembaptis orang yang tegas, apa adanya, dan tidak ada dusta pada dirinya. Dan yang jelas, ia tidak berharap penghormatan apapun dari manusia.

Lalu orang-orang farisi melanjutkan pertanyaan kepada Yohanes Pembaptis: “Kalau begitu, siapakah engkau ini”
Yohanes Pembaptis menjawab: “Aku adalah suara orang-orang yang berseru di padang gurun.”
Dan orang percaya pada apa yang dikatakannya. Mengapa?

Yohanes Pembaptis berpenampilan sangat menyakinkan sebagai orang yang berseru dari padang gurun. Ia berpakaian bulu onta, dan ikat pinggangnya dari kulit. Tidak hanya penampilan tetapi juga perilaku hidup yang sederhana. Ia hanya makan belalang dan madu hutan. Antara apa yang dikatatakan dan dilakukan sungguh selaras itulah sebabnya ia dipercaya.
Nah kita sebagai utusan, apakah kita juga dapat dipercaya? Apakah kita cukup meyakinkan untuk bersaksi tentang kasih Tuhan?

Teman-teman yang terkasih,

Ada sebuah kisah, sebuah perusahaan hendak mengaudit laporan keuangannya untuk mendapatkan status wajar agar status perusahaan itu naik peringkat. Namun laporan keuangan mereka sangat buruk, alias banyak laporan siluman. Lalu bos perusahaan itu memerintahkan anak buahnya untuk menyogok akuntan yang memeriksanya.
Bos: “Kita kasih akuntan itu mobil saja supaya laporan kita dinilai baik.”
Anak buah:”Maaf bos, akuntannya tidak dapat disogok, bahkan dengan apapun.”
Bos: “Lho hebat banget dia. Emangnya dia siapa berani menolak sogokan dari saya.”
Anak buah:”Dia bukan siapa-siapa bos. Dia orang Katolik.”
Bos:”Ahh iyaa.. orang Katolik memang gak bisa disogok.”

Ini kisah rekaan saya saja. Akan tetapi apakah dapat dipastikan bahwa kisah ini sungguh terjadi? Semoga saja hal ini terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari bahwa orang Katolik tidak bisa disuap.

Ada kisah lain yang saya reka. Lalu lintas di Yogyakarta sangatlah semrawut. Bahkan saya pernah beberapa kali melihat ada kendaraan yang menerabas lampu lemah.
Pertanyaannya: “Apakah dapat dipastikan bahwa yang menerobos lampu merah itu pasti bukan Katolik sebab tidak mungkin orang Katolik itu melanggar lalu lintas karena orang Katolik itu disiplin dan tertib.”

Semoga kisah rekaan saya itu mewujud dalam kenyataan. Jika hal itu sungguh terjadi maka kita sebagai orang Katolik sungguh dapat menjadi utusan dan saksi yang dapat dipercaya. Utusan yang dapat dipercaya bahwa kita akan membawa suka-cita pada sesama.

Salam,

Profil Penulis

antonius.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ
Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta.
Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 10 Desember 2017 - Hari Minggu Adven II

brot logo v1

Bacaan Injil: Mrk. 1:1-8

Mrk 1:1 Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.
Mrk 1:2 Seperti ada tertulis dalam kitab nabi Yesaya: "Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu;
Mrk 1:3 ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya",
Mrk 1:4 demikianlah Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan: "Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu."
Mrk 1:5 Lalu datanglah kepadanya orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem, dan sambil mengaku dosanya mereka dibaptis di sungai Yordan.
Mrk 1:6 Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan.
Mrk 1:7 Inilah yang diberitakannya: "Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak.
Mrk 1:8 Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Bereitet dem Herrn den Weg

Sumber : http://gerhard.bach.ws/?site=show&page=15&kat

Homili:

Persiapkanlah jalan untuk Tuhan

Minggu kedua Adven menghadirkan seruan Yohanes Pembaptis dari padang gurun: „Persiapkanlah jalan bagi Tuhan“. Warta Yohanes ini diangkat dari kitab nabi Yesaya. Nabi Yesaya merupakan nabi yang turut diasingkan bersama sebagian besar bangsa Yahudi di Babilonia. Sebagai bangsa yang ditaklukan oleh kerajaan Babilonia, bangsa Israel harus ditawan di Babilonia, wilayah asing yang jauh dari tanah air mereka. Kota suci Israel Yerusalem (Sion) juga dihancurkan. Hidup di tengah tanah asing membuat bangsa Israel selalu rindu dan berharap untuk suatu ketika diperbolehkan kembali ke tanah air mereka. Mazmur 137 menghadirkan ungkapan harapan dan kerinduan umat Israel untuk kembali ke Yerusalem (Sion). Mazmur kerinduan ini kelak menginspirasi lagu „River of Babylon“ dari grup Musik Bonny M yang sempat menduduki puncak tangga lagu tahun 1970-an.

Kekalahan politik dan menjadi tawanan politik merupakan trauma kolektif bangsa Israel. Karena bangsa Israel memahami diri sebagai umat pilihan Tuhan, maka kekalahan mereka dilihat sebagai kekalahan Tuhan mereka berhadapan dengan dewa-dewi kerajaan Babilonia. Situasi ini membuat mereka menambakan datang-Nya satu figur Tuhan yang kuat dan mampu membebaskan mereka dari kungkungan bangsa asing. Pengalaman ini termasuk satu bagian penting dalam konsep penantian kedatangan Mesias terjanji. Yohanes Pembaptis mengadopsi harapan bangsa Israel kuno dalam mempersiapkan umat Israel zamannya demi menyambut Mesias.

Persiapkanlah jalan bagi Tuhan! Seruan ini tentu saja tidak kehilangan relevansinya setelah kedatangan Yesus, Sang Mesias dua ribu tahun yang silam. Seruan Yohanes tersebut bukan sekedar suatu memori atau hanya bermakna historis. Seruan ini tentu masih aktual dan relevan untuk kita dewasa ini khususnya ketika seruan ini ditampilkan kembali dalam masa Adven 2017.

Masa Adven secara simpel diartikan sebagai persiapan natal. Persiapan dalam konteks ini sayangnya acapkali hanya dipahami sebatas persiapan kado natal, hiasan natal, koor natal, pohon natal, lilin-lilin natal, dan sebagainya. Persiapan yang paling penting dalam masa Adven adalah persiapan hati kita, karena Tuhan mau datang dan tinggal di hati kita. Persiapan hati kita tentu tak terlepas dari ajakan untuk merefleksi diri. Kita diajak untuk mengintrospeksi diri. Kita diajak untuk melakukan semacam evaluasi internal yang beraspek sesal atau tobat, koreksi dan tekad untuk merubah diri. Aspek persiapan ini akan sanggup kita lakukan, andaikan kita berani mengambil waktu untuk itu dan tidak tenggelam di tengah gemerlap lampu dan hiasan natal serta tidak mabuk oleh makanan dan minuman khas Adven dan Natal. Tak mengherankan jika masa Adven pada zaman gereja purba merupakan masa pantang dan puasa. Dalam masa Adven kita diajak untuk mengosongkan segala yang tidak harus mendapat tempat dalam hati kita, agar Tuhan bisa masuk dan mendapat tempat di sana. Salah satu cerita bijak dari khazanah cerita Israel mengisahkan: „Seorang Rabi (Guru) menanyakan para murid-Nya: Di mana tempat tinggal Tuhan? Para murid-Nya tertawa dan mengatakan: Pertanyaan model apa itu? Dunia ini `kan penuh dengan kemuliaan Tuhan. Rabi memberikan jawaban terhadap pertanyaannya sendiri dimaksud: Tuhan itu tinggal di mana Dia diizinkan masuk.“

Persiapkanlah jalan bagi Tuhan! Natal bukan kita rayakan sebagai kenangan akan kelahiran Yesus ribuan tahun silam. Kata Adven berasal dari bahasa Latin „Adventus“ artinya kedatangan. Tuhan itu bukan datang dalam wujud Yesus historis. Tuhan itu selalu datang setiap saat khususnya dalam wajah mereka yang menderita, yang sakit, yang berkekurangan dan membutuhkan bantuan kita. Dengan ini Adven mengajak kita hidup dalam sikap yang peka dan solider. Adven menantang kita untuk selalu melek atau tidak mengantuk atau tertidur, agar kita sanggup melihat dan menemukan Tuhan yang selalu datang di sekitar kita, agar kita sanggup mengenal-Nya. Adven artinya kedatangan: Tuhan itu selalu datang. Tugas dan tanggung jawab kita sebagai orang yang percaya akan Tuhan demikian untuk mencari, menemukan atau mengenal Tuhan yang selalu datang tersebut. Inilah Adven sejati dan Adven dengan ini bukanlah sekedar pekan-pekan sebelum natal. Hidup kita sebagai umat beriman merupakan adven berkepanjangan, masa persiapan jalan untuk Tuhan yang datang, karena Tuhan selalu datang. Amin.

Salam,

Profil Penulis

romo_fidelis.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universität zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.

 

 

 

 

BROT Minggu, 19 November 2017 - Hari Minggu Biasa XXXIII

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 25:14-30 (Mat. 25:14-15,19-21)

Mat 25:14 "Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.
Mat 25:15 Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.
Mat 25:16 Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta.
Mat 25:17 Hamba yang menerima dua talenta itupun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta.
Mat 25:18 Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.
Mat 25:19 Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.
Mat 25:20 Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.
Mat 25:21 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
Mat 25:22 Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta.
Mat 25:23 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
Mat 25:24 Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.
Mat 25:25 Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!
Mat 25:26 Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?
Mat 25:27 Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya.
Mat 25:28 Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu.
Mat 25:29 Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.
Mat 25:30 Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Agar Aku Tak Salah Arah

Sumber : Koleksi pribadi - Danang Bramasti, SJ, Agar Aku Tak Salah Arah, crayon on paper A3, 2017

Homili:

Agar Aku Tak Salah Arah

Mengembangkan talenta adalah pilihan yang membahagiakan dan sekaligus berguna bagi sesama. Jika tidak demikian, maka kita salah arah. - Danang Bramasti, SJ

 

Teman-teman yang terkasih,

Bacaan Injil bicara soal telenta dan dalam kisah itu, ketiga orang itu, masing-masing, mendapat talenta dengan jumlah yang berbeda. Dengan demikian sebenarnya masing-masing dari kita juga mendapat talenta, tentu juga dengan jumlah yang berbeda-beda. Permasalahannya bukan pada besarnya talenta tetapi pada pertanggung-jawaban kita terhadap telenta yang telah diberikan Tuhan pada kita. Bagaimana kita mempertanggung jawabkannya?

Kita lihat konsekuensinya saja dahulu. Orang yang mengembangkan talenta, berapapun itu, akan mendapat penghargaan namun yang tidak mengembangkannya akan mendapat hukuman. Situasi itu tentu menyadarkan kita bahwa talenta memang harus dikembangkan. Mengapa?

Talenta adalah rahmat Tuhan yang dapat membuat kita hidup, tidak hanya untuk diri kita sendiri namun juga bagi orang lain. Kita lihat saja bagaimana teknologi dapat membuat orang hidup dengan lebih baik. Itu adalah hasil dari pengembangan talenta. Namun saya tidak akan membahas persoalan talenta apa yang dikembangkan atau hasilnya tetapi lebih pada bagaimananya. Karena banyak orang yang mengembangkan talenta dengan luar biasa namun menghancurkan kehidupan. Maka penting melihat bagaimana proses pengembangan itu agar kita tidak salah arah.

Proses awal yang penting dari mengembangkan telenta adalah arah yang jelas. Kita perlu memberi patokan yang jelas agar kita tidak salah arah. Tanpa patokan yang jelas kita akan tersesat jauh. Alih-alih mengembangkan talenta, yang terjadi malahan merugikan banyak orang. Selain patokan yang jelas, proses juga harus jelas karena sehebat apapun yang kita hasilkan namun proses itu membawa kerugian yang luar biasa pada kehidupan maka sebenarnya kita gagal dalam mengembangkan talenta.

Patokan yang pertama adalah apakah kita semakin memuliakan kehidupan. Talenta yang diberikan oleh Tuhan kepada kita adalah demi memuliakan kehidupan sesama ciptaan, yaitu manusia dan lingkungan hidup kita. Nampak sederhana namun banyak yang gagal dalam menentukan patokan ini. Kegagalan itu terjadi karena seringkali talenta digunakan hanya untuk memuliakan dirinya sendiri, kalau perlu dengan mengorbankan orang lain dan lingkungan hidupnya.

Patokan kedua adalah membawa suka-cita. Oleh karena itu dapat dikatakan, mengembangkan talenta adalah proses yang membahagiakan. Mungkin prosesnya berat dan penuh penderitaan namun arah yang jelas dan benar akan membawa suka-cita tersendiri dalam menjalani proses yang berat itu.

Teman-teman yang terkasih,

Berdasarkan dua patokan itu kita dapat sejenak bertanya, apakah kita sudah memiliki patokan tersebut. Apakah yang sedang teman-teman lakukan sekarang ini memuliakan kehidupan? Marilah kita sejenak berimajinasi, apakah yang teman-teman lakukan sekarang ini berguna bagi sesama, membuat hidup sesama ciptaan menjadi lebih baik?

Misalkan, ada kehancuran lingkungan, berimajinasilah bahwa teman-teman memiliki telenta yang dapat memperbaikinya. Atau jika ada persoalan di masyarakat, apakah talenta teman-teman dapat membantu memecahkannya? Banyak orang melakukan hal-hal yang sederhana namun membawa kebahagiaan kepada sesama. Mungkin sekarang belum kelihatan kegunaannya namun paling tidak kita sudah dapat membayangkan bahwa kelak ini akan berguna. Jika hal ini sudah mantap maka kita dapat melangkah ke patokan kedua, yaitu apakah kita senang melakukannya.

Apakah teman-teman sungguh bersuka-cita dalam proses sekarang ini? Apakah kalian bahagia dalam proses ini? Kalau tidak bahagia, berjuanglah untuk bahagia. Kebahagiaan adalah pilhan yang harus diperjuangkan. Mengembangkan talenta adalah pilihan yang membahagiakan dan sekaligus berguna bagi sesama. Jika tidak demikian, maka kita salah arah.

Misalkan, sebuah paroki dalam menyongsong Natal membentuk kepanitiaan Natal dan kepanitiaan ini diberikan kepada Orang Muda Katolik (OMK). Kepanitiaan ini penting untuk mengembangkan talenta anak-anak muda terutama dalam hal berorganisasi. Tujuan dari kepanitiaan ini adalah sesuai dengan patokan pertama yaitu memuliakan Tuhan dan sesama. Dan secara praktis tentu memperlancar acara Natal di paroki tersebut.

Patokan kedua perlu dicek, apakah para anggota panitia merasa bahagia dalam menjalankan tugasnya. Atau dapat dikatakan apakah mereka bersuka-cita dalam mengembangkan talenta mereka? Tak jarang kepanitiaan berakhir dengan konflik yang berat antar sesama anggota panitia. Jika hal ini terjadi tentu ini salah arah.

Natal itu akan tetap ada walaupun tidak ada panitianya. Salah satu tujuan membentuk panitia Natal dengan demikian adalah untuk mengakrabkan anggota panitia. Walaupun kerja mereka hebat dan perayaan Natal itu berlangsung dengan baik di paroki tersebut namun anggotanya berkelahi semua, berarti secara kelompok mereka gagal. Mungkin telenta mereka berkembang dengan baik, namun demikian panitia ini salah arah karena hanya memunculkan permusuhan.

Atau sebuah kelompok tari yang membuat pertunjukan tari. Saat pertunjukkan ternyata beberapa pemain melakukan kesalahan yang cukup fatal sehingga pertunjukkan itu tidak mendapat pujian. Namun demikian, para penari dapat menerima kesalahan mereka dan mereka tetap bersaudara satu dengan yang lain maka secara kelompok mereka berhasil membangun talenta anggotanya. Setelah pertunjukkan mereka tetap bahagia bersama seluruh anggota kelompok, itulah keberhasilan pengembangan talenta.

Pengembangan talenta yang paling mendasar adalah membangun persaudaraan sejati antar manusia. Jika tidak demikian berarti kita salah arah.

Salam,

Profil Penulis

antonius.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ
Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta.
Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

BROT Minggu, 12 November 2017 - Hari Minggu Biasa XXXII

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 25:1-13

Mat 25:1 "Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki.
Mat 25:2 Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana.
Mat 25:3 Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak,
Mat 25:4 sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.
Mat 25:5 Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur.
Mat 25:6 Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia!
Mat 25:7 Gadis-gadis itupun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka.
Mat 25:8 Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam.
Mat 25:9 Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ.
Mat 25:10 Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup.
Mat 25:11 Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu!
Mat 25:12 Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.
Mat 25:13 Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Jungfrauen

Sumber : http://www.brunnenturmfigur.de

Homili:

Sepuluh Gadis

Gereja Katedral Magdeburg (Magdeburger Dom) yang dibangun pada abad ke-13 merupakan gereja Gotik pertama dan tertua di Jerman. Pada gerbang masuknya terdapat pahatan wajah sepuluh gadis sebagaimana dikisahkan dalam Injil Minggu ini. Lima gadis di sebelah kiri ditampilkan sebagai figur-figur yang riang dan gembira. Kelima gadis demikian dikategorikan sebagai gadis bijak. Lima gadis di sebelah kanan dihadirkan dengan perawakan yang sedih, menyesal dan menangis. Mereka digolongkan sebagai gadis bodoh.

Kesepuluh gadis diundang untuk memasuki pesta pernikahan. Dalam konteks biblis kebahagiaan paripurna di kerajaan Tuhan digambarkan dalam pesta pernikahan. Lima gadis menyiapkan segala yang diperlukan untuk boleh memasuki pesta pernikahan. Mereka setia dan berjaga-jaga. Lima gadis yang bodoh juga setia dan berjaga-jaga, namun mereka kehabisan bahan bakar untuk obor atau lampu. Upaya mereka untuk membeli minyak pada akhirnya tidak dihargai. Pintu ruang pernikahan tertutup bagi mereka.

Pesan lazim yang dipetik dari kisah injil ini, bahwa setiap orang harus berjaga-jaga setiap saat dengan obor yang menyala dan cadangan minyak yang cukup. Sikap berjaga-jaga tentu saja bukan bermanfaat untuk kehidupan kekal. Setiap hari setiap orang untuk hidup berjaga-jaga, karena akhir hidup setiap kita menjadi rahasia. Di sini muncul pertanyaan, apakah kita hanya diajak untuk berjaga-jaga dengan kesadaran akan adanya pengadilan terakhir setelah kita meninggal? Tentu saja tidak. Hidup kita dengan segala tugas dan tanggung jawabnya mengajak kita untuk selalu berjaga-jaga dan mempersiapkan diri. Sebagai mahasiswa atau mahasiswi, misalnya, sikap berjaga-jaga, sikap yang bijak ditunjukkan dengan cara belajar secara sungguh-sungguh, bukan saja menjelang ujian, melainkan setiap hari. Hasil akhir yang baik merupakan konsekuensi dari kerja keras yang lama.

Mari kita tinggalkan pesan lazim dari kisah ini dan saya coba melihat kisah injil ini dengan kaca mata kritis. Pertama, gambaran tuan pesta yang konon ditampilkan sebagai gambaran Tuhan, bukanlah konsep Tuhan yang saya imani. Di sana dia ditampilkan sebagai pribadi yang tidak mengenal pengampunan. Upaya kelima gadis yang membeli minyak tidak dihargai dan permintaan mereka untuk masuk tidak dihiraukan dan kelima gadis itu diperlakukannya sebagai orang asing yang tak dikenalnya, padahalnya ia mengundang mereka untuk pesta pernikahan dimaksud. Tuhan yang saya imani adalah Tuhan dengan kasih yang tak terbatas, Tuhan yang murah hati. Dalam kisah ini tidak ditampilkan kemuruhan hati dan kasih Tuhan demikian.

Kedua, sikap solider dan membagi merupakan kebajikan yang diajarkan Yesus dari Nazaret. Nilai-nilai ini justru tidak dipraktekkan oleh gadis yang dianggap bijak. Mereka sangat egois dan tidak membagi cadangan minyak kepada kelima sahabatnya yang dianggap tidak bijak. Sikap mereka akhirnya tidak dipersoalkan oleh tuan pesta dan mereka diizinkan menikmati perjamuan pernikahan. Dengan ini kelima gadis yang dianggap bijak, sangat tidak bijak di mata saya. Kelima gadis ini yang konon dan selalu dihadirkan sebagai contoh untuk orang-orang beriman, justru kelima gadis ini tidak menjadi contoh buat iman dan cara hidup sebagai pengikut Yesus yang saya pahami. Amin.

Salam,

Profil Penulis

romo_fidelis.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universität zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.

 

 

 

 

BROT Minggu, 05 November 2017 - Hari Minggu Biasa XXXI

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 23:1-12

Mat 23:1 Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya:
Mat 23:2 "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa.
Mat 23:3 Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.
Mat 23:4 Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.
Mat 23:5 Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang;
Mat 23:6 mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat;
Mat 23:7 mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.
Mat 23:8 Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara.
Mat 23:9 Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga.
Mat 23:10 Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.
Mat 23:11 Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.
Mat 23:12 Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Sederhana yang Bijaksana

Sumber : https://www.pinterest.co.uk/suheri/quotes/

Homili:

Sederhana yang Bijaksana

Saya mengenal setidaknya tiga kisah serupa tentang tiga uskup di tiga tempat yang berbeda. Mereka semua sudah almarhum. Pertama adalah uskup Kataliko dari keuskupan Butembo di Republik Demokratik Congo. Kedua adalah uskup Claver dari keuskupan "Mountain Province" di Philippines, dan kardinal Darmoyuwono dari Semarang, Indonesia. Saya ambil contoh kisah yang serupa itu dari salah satunya: uskup Kataliko dari Congo.

Pada suatu hari, seorang pejabat tinggi di pemerintahan datang ke keuskupan dan ingin bertemu dengan bapak uskup. Melihat keuskupan sepi, ia mendatangi tukang kebun yang dilihatnya dari kejauhan. Katanya, "Saya mau berjumpa dengan bapak uskup Kataliko, bisakah kaupanggilkan dia?" Tukang kebun itu menjawab, "Oya, sebentar. Silahkan masuk dan tunggu di ruang tamu!" Tukang kebun itu lalu masuk ke dalam rumah dan kemudian keluar lagi dengan pakaian bersih. Bapak pejabat tadi langsung bertanya, "Bapak uskup ada?" Tukang kebun itu menjawab, "Ada, saya uskup Kataliko!" Tentu saja pejabat itu terkejut dan memohon maaf. Namun, reaksi bapak uskup Kataliko biasa saja dan bahkan menghiburnya.

Kisah serupa juga terjadi dengan dua uskup yang lain. Peristiwa semacam itu hanyalah salah satu kisah yang menunjukkan betapa sederhana dan rendah hatinya tiga uskup yang saya kenal itu. Dalam gereja Katolik, jabatan uskup itu sangat terhormat. Seorang uskup memilliki otoritas yang tinggi dalam urusan gereja lokal di keuskupan. Namun, seperti pesan Yesus hari ini, tiga uskup ini menjadi contoh sebagai orang yang rendah hati dan sederhana dalam melakukan tugasnya. Mereka tidak mencari penghormatan. Uskup Claver mengatakan dalam salah satu kelas yang saya ikuti di Manila, "Harga manusia yang sesungguhnya ialah ketika kita hadir tanpa hiasan apa-apa." Pada waktu itu beliau sedang menggiatkan program "Basic Ecclesial Community" di Philippines.

Di Indonesia, kita sering mendengar pepatah semacam ini, "Semakin merunduk pohon padi, semakin berisi buahnya". Betapa nasihat yang berharga ini sering kita lupakan. Hari ini Tuhan Yesus mengingatkan kembali keutamaan ini. Banyak di antara kita berpendidikan tinggi. Tidak sedikit di antara kita yang memiliki gelar terhormat. Berlimpah orang yang menjadi sukses dan bahkan terkenal. Kiranya, pesan Tuhan hari ini membebaskan kita dari kesombongan dan mendorong kita untuk menjadi orang sederhana yang bijaksana.

Marilah kita bercermin diri serta menilik kesederhanaan dan kerendahan hati kita. Diri kita sudah berharga tanpa hiasan apa-apa. Masih perlukah kita bermegah dengan "diri palsu" dari hiasan-hiasan itu? Semoga keutamaan yang diajarkan Yesus hari ini ini semakin bisa kita ikuti dan menuntun kita untuk bersikap bijaksana senantiasa.

Tuhan memberkati kita semua!

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).