piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Renungan Minggu 18.03.2012 – Prapaskah Ke-4 (Yoh 3:14-21): „Percakapan Yesus dengan Nikodemus“

Bacaan injil hari ini menghadirkan penggalan percakapan Yesus dengan Nikodemus.

Nikodemus merupakan salah seorang pemimpin agama Yahudi dari golongan Farisi. Ia adalah salah satu anggota kelompok Sanhedrin(instansi tertinggi agama, politik sekaligus pengadilan Yahudi….anggotanya sebanyak 71 orang). Nikodemus bukan termasuk dalam kelompok murid Yesus. Tentu saja sebagai seorang dari kalangan pemimpin agama Yahudi, ia sudah mendengar banyak tentang Yesus. Oleh karena itu ia mencari kesempatan untuk bertemu dengan Yesus secara pribadi. Ia mau mengalami secara pribadi dan dekat siapakah Yesus sebenarnya. Pertemuan Nikodemus dengan Yesus terjadi di Yerusalam pada hari-hari menjelang perayaan Paskah Yahudi.

Nikodemus mencari Yesus di malam hari. Mungkin karena takut dilihat orang khususnya oleh para lawan Yesus, ya rekan-rekannya entah dari kalangan Farisi maupun dari lembaga Sanhedrin. Namun pencarian dan perjumpaan Nikodemus dengan Yesus pada malam hari bisa juga bersifat simbolis. Malam merupakan lambang „malam, kegelapan“ yang ada dalam diri Nikodemus, lambang pencariannya, lambang pertanyaannya tentang makna hidupnya dan arti utama agama yang dianutinya. Percakapan pada malam hari ini sungguh menarik dan Yesus mewahyukan Diri sebagai terang yang membawa kegelapan ke dalam dunia, juga ke dalam diri Nikodemus, ke tengah kegelapa, ke tengah „malam“ yang melanda Nikodemus. Di sana Nikodemus menemukan jawaban dalam Diri Yesus sebagai Terang Dunia dan Penebus manusia.

Kelak oleh Gereja Nikodemus dianggap kudus dan gereja memperingatinya pada tanggal 3 Agustus. Dengan ini gereja hendak mengambil Nikodemus sebagai teladan bagaimana kita menghidupi iman kita. Tuhan mau agar kita selalu datang kepada-Nya dalam „segala malam, kegelapan hidup kita“. Tuhan mau agar kita berdiskusi dengan-Nya, menyampaikan segala persoalan dan pergumulan hidup kita. Tuhan selalu menerima kita dengan segala kesulitan, pertanyaan dan persoalan hidup kita. Tuhan yang adalah terang pasti akan menerangi hidup kita, menerangi segala kepekatan malam hidup kita, dan kita diminta untuk membuka hati kita, menghadirkan, membawa segala kegelapan kita kepada Tuhan yang pasti akan menerangi kita. Kita adalah manusia yang tidak sempurna, yang memiliki banyak kegelapan, banyak kepekatan, kelemahan, namun kasih Tuhan tidak pernah dianulir oleh kekurangan kita, terang Tuhan selalu terbit untuk kita.

Dalam percakapan dengan Nikodemus, Yesus memaklumkan misi penyelamatan-Nya di salib. Yesus membandingkan wafat-Nya di salib bagaikan „Ular tembaga yang ditinggikan Musa di padang gurun“. Dalam kitab Keluaran kita membaca tentang perjalanan bangsa Israel dari perbudakan Mesir menuju tanah terjanji dengan melintasi padang gurun. Di padang gurun, mereka dipagut ular berbisa dan banyak yang meninggal. Obat mujarab untuk melawan serangan bisa ular yakni dengan memandang ular tembaga. Barangsiapa yang dipagut ular berbisa dan ia memandang ular tembaga, ia tidak meninggal. Dalam dunia kitab suci, Timur Tengah dan mitologi Yunani, ular selain dikenal sebagai binatang yang licik dan cerdik, juga dilihat sebagai lambang penyembuhan dengan prinsip “racun lawan racun”. Tidak heran jika dalam logo apotik ada gambar ular….Dalam mitologi Yunani, dewa penyembuhan dan obat-obatan, Dewa Aklepios mempunyai senjata yakni tongkat dan ular. Musa yang meninggikan ular di padang gurun untuk melawan serangan ular yang beracun, tentu bisa dibaca dalam konteks tradisi demikian. Yesus menggunakan lambing itu juga untuk wafat-Nya di salib. Tuhan menggunakan salib – jenis hukuman yang paling keji dan kejam (racun yang mematikan) sebagai jalan keselamatan; ya dengan prinsip racun lawan racun. Dengan ini Tuhan mengajak kita untuk melihat salib bukan saja sekadar lambang penderitaan tetapi juga sebagai lambang penyembuhan dan penyelamatan.

Masa Prapaskah mengajak kita untuk merenungkan sengsara, penderitaan dan wafat Yesus di salib untuk menyelamatkan kita. Mari kita dengan jujur dan terbuka menyerahkan, mengakui segala kekurangan kita, segala malam, kegelapan dalam diri kita kepada Tuhan yang menyelamatkan kita. Kiranya Paskah nanti menjadi pesta kemenangan bagi kiat entah secara pribadi maupun secara bersama. Amin.

Discuss this article
You need to log in or register to participate in this discussion.