piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Renungan Minggu 25.03.2012 – Prapaskah ke-5- (Yoh 12:20-33): „Kami ingin melihat Yesus“

„Tuan, kami ingin melihat Yesus!“ Dengan kalimat ini datang beberapa orang Yunani kepada Philipus. Tentu saja orang-orang Yahudi tersebut mau bertemu atau melihat Yesus bukan karena sensasi atau ingin tahu.

Dalam teks dikatakan bahwa mereka termasuk dalam orang-orang yang datang ke Yerusalem, ke Bait Allah untuk menyembah Tuhan. Orang-orang Yunani tersebut juga hendak menyembah Tuhan; mereka telah menerima agama Yahudi, mereka termasuk golongan Proselit (pendatang baru dalam agama Yahudi). Mereka adalah orang-orang yang mencari Tuhan. Mengapa mereka tidak bisa langsung kepada Yesus? Mungkin Yesus sedang berada di suatu tempat yang hanya tidak diperbolehkan untuk orang-orang asing atau juga di bagian kenisah yang hanya untuk orang-orang Yahudi. Mungkin juga mereka sebagai orang asing  segan dan tidak percaya diri untuk bertemu dengan seorang Guru bangsa Yahudi (Rabbi). Tentu saja lebih gampang bagi mereka terdahulunya bertemu dengan Philipus. (Philipus memiliki nama Yunani; Phillipos: pencinta atau penggemar kuda). Philipus, seorang murid Yesus, ia berasal dari Betsaida yang letaknya tidak jauh dari wilayah Dekapolis (10 kota) yang sangat kuat dipengaruhi oleh kebudayaan Yunani.
 
Philippus mengambil Andreas sebagai pendukung dan keduanya datang kepada Yesus untuk menyampaikan keinginan beberapa orang Yunani: „Tuan, kami ingin melihat Yesus“. Kelihatannya Yesus tidak memberikan jawaban yang tepat; Yesus memang mengatakan hal yang sangat mendalam, namun jawaban langsung terhadap permintaan kaum Yunani tetap terbuka. Akan tetapi kita bisa memahami Yesus. Bagi-Nya, iman tidak hanya berasal dari „melihat“, tetapi juga dari „mendengar“; mendengar apa yang dikatakan para saksi. Kita ingat kata Yesus kepada Thomas setelah kebangkitan-Nya: „Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.“ Kata-kata ini berlaku bukan saja untuk Thomas, tetapi juga untuk semua saja yang kelak mendengar atau membaca injil. Jadi jawaban Yesus terhadap pemintaan beberapa orang Yunani menunjukkan arah yang lain bahwa bukan hanya karena melihat yang membuat orang gembira atau selamat, tetapi juga karena mendengar kesaksian dari para saksi. Mendengar  para saksi atau membaca tulisan para saksi juga menjadi  jalan menuju keselamatan.

Di samping itu jawaban Yesus memberikan arah bahwa mungkin beberapa orang Yahudi menantikan suatu yang lain yang ingin mereka lihat dari kenyataan. Yesus dengan jawaban-Nya hendak menyiapkan mereka untuk suatu jawaban lain: Kalian mungkin membayangkan akan melihat seorang Guru yang luar biasa, seorang Mesias yang semarak bagaikan seorang Raja, seorang Putra Allah yang penuh dengan kemuliaan. Bagi Yesus, mereka justru akan berjumpa dengan Mesias yang akan menderita, wafat dan dimakamkan: „Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati“. Dengan jawaban ini, Yesus menegaskan bahwa penyelamatan tidak datang dalam peristiwa yang penuh dengan kemuliaand an kebesaran, melainkan melalui penderitaan dan kematian.

Sangat gampang bagi kita manusia untuk memahami keselamatan sebagai suatu peristiwa luar biasa, peristiwa kemenangan, prestasi, kesuksesan. Jangan lupa bahwa Tuhan memilih jalan lain untuk membawa keselamatan yakni jalan penderitaan dan kematian.  Dengan ini Yesus membalikkan logika manusiawi. Yesus justru melihat peristiwa salib sebagai peristiwa keselamatan. Paulus mengatakan kelak dalam pewartaannya: „Kami mewartakan Kristus yang tersalib: bagi orang Yahudi merupakan penghinaan, bagi kaum Kafir suatu kebodohan, tetapi bagi kami merupakan kekuatan dan kebijaksanaan Tuhan.“ Filsafat Yunani tidak bisa menerima seorang Mesias yang disalibkan. Begitu juga bangsa Yahudi, mereka tidak bisa menerima Mesias yang menderita.

Yesus hendak menuntun beberapa orag Yuani tadi untuk sanggupß percaya di balik penderitaan, sanggup melihat keselamatan di balik sengsara dan maut. Keselamatan selalu kita kaitkan dengan kegembiraan, kemuliaan dan kesuksesan, justru Yesus mengambil jalan penderitaan dan maut, kegagalan dan kesengsaraan sebagai jalan menuju keselamatan, Di sana ditagih iman kita.

„Kami ingin melihat Yesus“- demikian bunyi permintaan beberapa orang Yunani. Kita yang hadir di sini adalah pengikut Yesus. Jawaban apa yang sanggup kita berikan jika – tiba-tiba ada yang datang kepada kita dan meminta „kami ingin melihat Yesus“. Jawaban sebagai jemaat atau kebersamaan tentu gampang. Yang diminta di sini adalah jawaban pribadi. Apa jawaban pribadi saya, ketika saya dihadapkan pada permintaan „kami ingin melihat Yesus“.  Kita hanya bisa memberikan jawaban pribadi, jika jejak-jejak Yesus, cap jari Yesus ada dan hidup dalam diri setiap kita. Kita hanya sanggup memberikan jawaban tentang Yesus, jika kita sudah merasakan peran dan pentingnnya Yesus bagi hidup saya. Amin.

Discuss this article
You need to log in or register to participate in this discussion.