piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Brot Minggu 14.09.2014 - Hari Pesta Salib Suci: Salib dan Hidup Kekal

brot logo v1

Bacaan Injil: Yohanes 3: 13-17

[13] Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia. [14] Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, [15] supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. [16] Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. [17] Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.

Injil yang dibacakan dalam misa pesta salib suci ini adalah bagian dari percakapan Nikodemus dengan Yesus. Nikodemus adalah pemimpin agama Yahudi, ia datang menemui Yesus pada waktu malam. Malam adalah saat kegelapan dengan kuasanya yang terasa mencekam. Injil Yohanes memperkenalkan Yesus sebagai Terang dari Allah yang menghalau kegelapan (1:5). Nikodemus datang menemui Yesus untuk mendapat pencerahan dari Yesus, Sang Terang, seputar makna mukjizat-mukjizat yang diadakan Yesus. Mukjizat yang dilakukan Yesus adalah tanda Allah sedang mengunjungi umatNya (ayat 2). Dengan kata lain, mukjizat Yesus adalah tanda datangnya Kerajaan Allah di tengah umatNya.

Bagaimana supaya bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah itu? Yesus menegaskan, orang harus dilahirkan kembali supaya bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah. Tentulah mendengar penegasan Yesus ini membuat Nikodemus bertanya-tanya: bagaimana mungkin saya setua ini masuk kembali ke dalam rahim mama lalu dilahirkan kembali? Ah, barangkali banyak orang bingung seperti Nikodemus ketika mendengar sabda Yesus seperti ini he he he  
Tentu maksud Yesus adalah orang harus dilahirkan kembali secara rohani, hidup dalam roh seperti Yesus sendiri. Dengan begitu, maksud Nikodemus pun dapat dimengerti dengan baik: bisakah orang memulai kembali hidup rohani secara baru sama sekali? Mengorbankan semua kesenangan dan kebiasaan yang sudah setua usia? Mungkinkah? Yesus menjawab dengan memberi kesaksian bahwa Ia datang dari surga untuk membawa kembali manusia ke surga. Agar orang bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah, ia harus mengenal satu-satunya Allah yang benar dan mengenal Yesus. Artinya, orang harus bangun hubungan dengan Allah melalui Yesus. Ini yang disebut hidup kekal (17:3). Karena Yesus datang dari surga, maka hanya “Anak Manusia” (Yesus) yang dapat membawa orang kembali ke surga, ke dalam hidup kekal. Dan jalannya ialah salib, Yesus harus ditinggikan di salib.  

safe image

Sumber: http://1.bp.blogspot.com/-E5sDtZ1cbDs/U-67LFqMsyI/AAAAAAAAFGg/6qGoxxiy5xw/s1600/safe_image.jpg

Hidup kekal bagi kita sekarang seperti Tanah Terjanji bagi umat Israel dulu ketika mereka dipimpin Musa keluar dari Mesir (bacaan pertama Bilangan 21: 4-9). Dalam perjalanan panjang itu, umat Israel banyak “cengkunek”, “gerundel”, protes, termasuk memprotes ketika Tuhan memberi mereka makanan manna dari surga. Protes mereka merupakan ekspresi kurangnya kepercayaan kepada Tuhan yang setia menuntun mereka keluar dari perbudakan di Mesir. Mereka berada dalam keadaan macam-macam bahaya dan salah satu bahaya mematikan adalah mereka dipagut ular tedung. Ketika mereka minta Musa berdoa supaya Tuhan menyelamatkan mereka, Tuhan menyuruh Musa membuat ular tembaga lalu dipancang pada sebuah tiang. Agar tidak binasa, setiap orang yang dipagut ular tedung harus memandang ular tembaga tersebut supaya tetap hidup sampai tanah terjanji.  

Yesus membandingkan diriNya dengan ular tembaga yang dipancang Musa di padang gurun. Bagi pengikut Yesus, agar bisa masuk hidup kekal, ia harus mengarahkan pandangannya pada salib dan menaruh kepercayaan kepada YESUS YANG TERSALIB supaya tidak binasa, melainkan memperoleh hidup kekal. SALIB adalah ungkapan cinta Allah yang paling dramatis dan luar biasa kepada manusia/dunia ini (ayat 16). Yesus satu-satunya yang paling dekat dengan Allah (makna dari AnakNya yang tunggal) membuat cinta Allah yang ada di surga menjadi nyata bagi dunia ini melalui peristiwa Golgota. Bahkan Yesus merendahkan dirinya sampai serendah-rendahnya seperti budak dengan mati di salib (bacaan kedua Filipi 2: 6-11) agar manusia merasakan kasih Allah. Tujuannya agar Ia dapat berbagi kehidupan ilahi dengan manusia dan sebaliknya manusia bisa dekat dengan hidup Allah sendiri.  Penyerahan diri Yesus di salib membuka kehidupan kekal bagi manusia. Orang yang percaya kepada Yesus akan merasakan kasih Allah dengan memandang salib.

Apa yang harus dilakukan? Manusia hanya perlu berani menerima kebaikan Allah yang nyata di salib, mempercayai-Nya dan menaruh harapan pada Dia yang tersalib. Orang yang ragu, bahkan menolaknya, akan tetap berada dalam kegelapan, yaitu ancaman kebinasaan.  Orang yang ragu atau menolak Yesus yang tersalib tentu bukan karena Allah kurang mengasihi mereka, melainkan keputusan mereka sendiri untuk menjauhi TERANG dan ingin tetap berada dalam kegelapan. Dengan cara itulah mereka yang ragu atau menolak Yesus yang tersalib menghakimi diri mereka sendiri.


Oleh Romo Aloysius Angus
Imam Keuskupan Pangkalpinang
Bertugas di Seminari Mari John Boen Pangkalpinang, Bangka.

Discuss this article
You need to log in or register to participate in this discussion.