piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Brot Minggu 09.11.2014 - Hari Minggu Biasa ke 32-A: Pesta Pemberkatan Basilika St. Yohanes, Lateran Roma

brot logo v1

Bacaan Injil: Yoh 2: 13-22

[13] Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. [14] Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. [15] Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. [16] Kepada pedagang-pedagang merpati, Ia berkata: "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan." [17] Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: "Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku." [18] Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: "Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?" [19] Jawab Yesus kepada mereka: "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali." [20] Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: "Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?" [21] Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri. [22] Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya, dan merekapun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus.

Pada hari minggu ini, Gereja mengingat kembali pemberkatan Basilika Santo Yohanes Lateran di Roma. Selain Basilika Santo Yohanes, ada Basilika Santo Petrus, Basilika Santa Maria Maggiore dan Basilika Santo Paulus.  Dalam liturgi hari Minggu ini dibacakan Injil Yohanes yang mengisahkan Yesus mengusir para pedagang di pelataran Bait Allah.  

Rasanya sulit dibayangkan bahwa Yesus yang biasa tampil kalem dan wibawa tiba-tiba ngamuk seperti satpol PP mengusir pedagang kaki lima di pinggir jalan. Dalam konteks Kitab Suci mungkin lebih masuk akal jika tindakan Yesus dipahami sebagai tindakan simbolik sebagaimana biasa dilakukan para nabi dulu dalam Perjanjian Lama. Salah satu contoh tindakan simbolik nabi adalah Hosea mengawini Gomer, wanita yang menggadai kehormatannya, sehingga melahirkan anak-anak kurang terhormat (Hosea 1: 2-9). Tindakan simbolik Hosea dimaksudkan untuk memberitahu umat Israel bahwa mereka berlaku tidak setia kepada Tuhan seperti Gomer yang menjual kehormatannya.

Konteks tindakan Yesus adalah Paskah Yahudi. Lazimnya jelang Paskah orang datang dari berbagai tempat untuk mempersembahkan korban di Bait Allah. Binatang korban harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Karena tak mungkin orang pikul binatang korban dari tempat jauh, maka terbukalah pasar penjualan binatang korban di pelataran Bait Allah. Demikian juga mata uang yang berlaku di pelataran Bait Allah hanya mata uang Yahudi, sehingga dibuka money changer di sekitar Bait Allah. Tentu pasar ini membuat keadaan seputar Bait Allah hiruk pikuk dan morat marit.  

Basilika Lateran

Sumber: http://2.bp.blogspot.com/-Fr36Y0AqrRI/Un4Ys5QDkbI/AAAAAAAAAZ4/ILkygAZJ0FY/s1600/Basilika+Lateran.jpg

Nah, tindakan simbolik Yesus berupa drama pengusiran para pedagang mau memberi pesan kepada para penonton bahwa mereka begitu sibuk dengan berbagai korban persembahan, sedangkan dasar kerohanian mereka sesungguhnya morat-marit seperti keadaan di pelataran Bait Allah. Penonton yang mempertanyakan hak Yesus melakukan tindakan simbolik tersebut menunjukkan ketidakpercayaan mereka pada apa yang dipesankan oleh tindakan Yesus. Artinya, mereka begitu percaya diri bahwa dasar kerohanian mereka baik-baik saja. Terhadap mereka yang terlalu percaya diri itu, Yesus menantang agar dasar kerohanian yang mereka bangun menurut pikiran mereka sendiri dirombak/dibongkar dan bangun kembali di atas dasar Tubuh Kristus yang bangkit.

Umat Allah (Gereja) adalah Tubuh Kristus dimana Kristus sebagai kepala dan semua orang percaya adalah anggota-anggotanya. Dalam bacaan kedua (Kor 3: 9-11,16-17) Paulus melukiskan umat Allah sebagai ladang dan bangunan dimana Allah hadir di dunia. Sebagai ladang, umat Allah mestinya menghasilkan buah-buah yang baik dan berlimpah. Sebagai bangunan, umat Allah mestinya bertumpu pada Kristus agar kokoh dan kuat, tak mudah roboh, bukan bertumpu pada pikiran atau anggapan sendiri (maen benar sendiri-sendiri ...). Artinya, mau jadi macam apa umat Allah itu, acuannya adalah Kristus, bukan mengacu pada yang lain menurut gambaran sendiri. Supaya menjadi ladang yang subur atau bangunan yang kokoh, umat Allah mesti merombak dasar kerohaniannya yang dibangun atas dasar anggapan benar sendiri.

Dalam bacaan pertama dari kitab Yehezkiel (Yeh 47: 1-2,8-9,12), sungai ajaib yang mengalir dari Bait Allah memberi kehidupan kepada segala macam makhluk hidup. Artinya, kehadiran Allah di tengah umatNya mengalirkan macam-macam berkat yang melimpah kepada dunia ini. Kehadiran Allah yang membawa berkat melimpah akan terjadi jika umatNya di dunia ini berani merombak dasar kerohanian yang mereka bangun sendiri menurut pikiran mereka sendiri dan bangun kembali menurut ajaran Yesus.

Praktisnya, umat Allah menjadi saluran berkat Allah bagi dunia ini. Supaya menjadi saluran berkat Allah, umat Allah mesti bertumpu pada Kristus. Maksudnya, Umat Allah melakukan apapun demi cintanya kepada Kristus dan mau memancarkan Kristus kepada dunia ini. Anda mau kan jadi saluran berkat Allah!?

Profil Penulis

romo_aloy
Pastur Aloysius Angus. Imam Keuskupan Pangkalpinang, Bangka, Indonesia; sehari-hari bekerja sebagai pengajar di Seminari Mario John Boen Pangkalpinang
Discuss this article
You need to log in or register to participate in this discussion.