piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Advent Geschichte: Menunggu Godot

Tak terasa.. waktu berjalan cepat, masa Advent pun akhirnya sudah didepan mata, untuk lebih mendalami suasana Advent, ini renungan Pater Fidelis, liat saja.

Semua kota di Jerman misalnya, kini kembali disemaraki pasar tahunan “Weihnachtsmarkt” atau “Christkindlmarkt”. Arena “bisnis-rohani” yang satu ini, yang dimulai pada masa Adven secara kolosal sepertinya dengan gencar menggeser makna Adven yang sejati. Bagi anak-anak masa Adven tak lebih dari awal penantian kado natal yang akan dibawakan “bayi Yesus” pada malam natal. Sebuah lagu anak-anak yang populer pada masa Adven dan natal dalam bahasa Jerman memantulkan ideologi Adven yang berkembang dalam masyarakat Barat yang digempur badai sekularisme:

 

Advent, Advent, die erste Kerze brennt. Die Weihnachtszeit beginnt.
Advent, Advent, die erste Kerze brennt. Der Nikolaus kommt bestimmt.
Advent, Advent, die zweite Kerze brennt, Das Haus ist voll Tannenduft.
Advent, Advent, die zweite Kerze brennt. es liegt was in der Luft.
Advent, Advent, die dritte Kerze brennt. nun ist es nicht mehr weit.
Advent, Advent, die dritte Kerze brennt. Macht euch schon bereit.
Advent, Advent, die vierte Kerze brennt. Die Päckchen sind gepackt.
Advent, Advent, die vierte Kerze brennt. Bald ist Heilig´Nacht.
Advent, Advent, die fünfte Kerze brennt. Doch das ist einerlei.
Denn wenn für dich die fünfte Kerze brennt, ist Weihnachten vorbei.

 

Meskipun begitu makna Adven yang sejati belum terkikis seluruhnya. Kata Adven berasal dari bahasa Latin „Adventus“ artinya kedatangan (Ankunft): Kita menantikan kedatangan Sang Juruselamat, pokok harapan umat manusia; harapan yang tak kunjung kering, seperti yang dilambangkan oleh tanen nan hijau dari karangan Adven di tengah kegersangan alam musim dingin. Sang Juruselamat ini juga merupakan terang dunia, cahaya kehidupan yang diwakili oleh lilin-lilin pada karangan Adven. Akan tetapi bukankah Kristus sudah datang ke dunia ini 2000 tahun yang silam? Lalu mengapa kita masih menanti atau menunggu kedatangan-Nya? Apakah penantian kita tak lebih dari suatu pelarian; suatu pekerjaan yang sia-sia seperti dilukiskan Samuel Becket?

Tahun 1952 Samuel Becket (1906-1996), sastrawan dari Irlandia yang berdomisili di Paris menerbitkan karyanya berjudul „En attendant Godot“ - Warten auf Godot - Waiting for Godot (Menunggu Godot - demikian judul dalam bahasa Indonesia terjemahan W.S.Rendra). Karya sastranya kelak dipentaskan dalam bentuk teater untuk pertama kalinya tanggal 5 Januari 1953 di Théâtre de Babylone di Paris. „Godot“ merupakan bentuk pengecilan kata „God“ (Tuhan) dalam bahasa Inggris. Kisah ini bercerita tentang perjalanan hidup dua orang sahabat, Vladimir dan Estagon yang berdiri di pinggir jalan desa di dekat sebuah pohon untuk menantikan kehadiran seorang Godot. Dengan setia keduanya menantikan kedatangan Godot dalam suatu waktu yang tak bertepi. Vladimir dan Estagon selalu dikecewakan oleh kabar bahwa Godot tidak datang hari ini, akan tetapi mereka juga dihibur bahwa ia akan datang besok. Penantian yang panjang berujung pada kesia-siaan lantaran Godot tidak pernah datang.

Seringkali Adven sebagai masa penantian kedatangan Tuhan dipelesetkan bagaikan “menunggu Godot”: Tuhan tidak pernah datang. Di seberang pelesetan tersebut kita bisa belajar dari kisah berikut yang mungkin menawarkan aspek lain yang tak kalah pentingnya bagi Adven.

“Kepada seorang ibu tua dijanjikan bahwa hari ini Tuhan akan mengunjunginya. Dengan bangga ia menyiapkan segala yang terbaik. Ia membersihkan rumahnya dan menata ruangan secara apik. Sesudah itu dengan agak cemas ia mulai menantikan kedatangan Tuhan, sang tamu agung. Tiba-tiba pintu diketuk. Dengan segera ia membuka pintu. Tetapi ketika itu ia hanya melihat seorang pengemis yang miskin. Ia katakan: “Maaf, hari ini anda pergi ke tempat lain, aku sedang menantikan kedatangan Tuhan. Aku tidak bisa menerima anda!” Lalu ia menutup pintu. Tak lama setelah itu pintu diketuk lagi. Kembali ia membukanya dan melihat seorang tua yang miskin. Dengan kesal ia katakan: “Sorry, hari ini aku menantikan Tuhan. Sungguh aku tak punya waktu untukmu, pergilah ke tempat lain!” Lantas kembali pintu ditutup. Belum sempat ia duduk tenang, terdengar lagi ketukan berikut. Ketika ia membuka pintu, di sana berdiri seorang gelandangan yang kelaparan dan berpakaian compang-camping, yang mengemis sepotong roti dan penginapan. Dengan kesal, si ibu tua menghardik orang malang itu: “Jangan ganggu aku. Aku sedang menantikan kedatangan Tuhan. Aku tak bisa menampung anda” – jawabnya. Si gelandangan harus melanjutkan pengemnbaraannya dan si ibu tua kembali memulai lagi penantiannya. Jam demi jam telah berlalu, tetapi Tuhan belum juga datang. Hingga larut malam belum ada tanda-tanda munculnya tamu istimewa. Ia pun akhirnya lelah dan tertidur. Tiba-tiba Tuhan menampakan diri dalam mimpi, kata-Nya: “Tiga kali aku mendatangimu dan tiga kali engkau mengusir Aku!”

Setiap hari Tuhan datang mengunjungi kita dan kita diberi kesempatan untuk berjumpa dengan-Nya. Jangan lupa bahwa Tuhan kita adalah “Deus Absconditus”, der verborgene Gott, Allah yang tersembunyi, yaitu Allah yang tersembunyi, terselubung dalam jejak-jejak sejarah, dalam peristiwa-peristiwa harian, dalam diri sesama manusia yang kita jumpai setiap saat di mana saja. Yang dibutuhkan adalah kepekaan, keterbukaan mata dan hati kita untuk mengenal-Nya dan merasakan kehadiran-Nya. Inilah makna Adven yang sejati, karena Tuhan selalu datang.

Pater Fidelis Waton SVD – Pamong Rohani KMKI Berlin

Discuss this article
You need to log in or register to participate in this discussion.