piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Cermin

Cermin, yang berguna untuk melihat diri kita sendiri, menilai diri kita sendiri, mempercantik diri sebelum kita berpergian, tampil disuatu acara.
Sering juga kita mendengarkan tetuah lama yang menyambungkan dengan kata Cermin,

Mengubah yang lain harus dimulai dengan mengubah diri sendiri, lihatlah dirimu sendiri, sebelum menilai orang lain

ada juga lagu yang dinyanyikan oleh King of Pop, Michael Jackson - Man in the mirror

I'm gonna make a change
I'm starting with the man in the mirror
I'm asking him to change his way
no message could have been any clearer
If you wanna make a world a better place
Take a look at yourself,a make that change.

Di bawah nama samaran Kon Krailat, penulis Muangthai, Pakon Phongwarapha menulis sebuah cerpen interesan yang berjudul: „In the Mirror“. Tokoh protagonis cerpen ini adalah Chiwin, pemuda lulusan sekolah pendidikan guru. Karena tekanan ekonomi dan dipolesi naluri petualangan, Chiwin mengadu nasib di kota Bangkok. Di Metropolitan sarang Pagoda ini ia bukannya bekerja sebagai guru, melainkan sebagai penari telanjang di sebuah Night club. Malam demi malam dilaluinya dengan liukan bugil ria di depan mata jalang para penonton yang selalu menyambutnya dengan tepuk tangan meriah.

Titik balik mulai disadarinya ketika ia mendapat sepucuk surat kumal dari ibundanya. Bunga api kesadaran ini berkulminasi di kamar ganti, tepatnya di depan sebuah cermin kecil di atas wastafel. Cermin kecil yang selalu dipakainya untuk menata diri sebelum tampil di panggung telah menjadi alat bantu untuk sadar diri. Chiwin bersolilokui: „Bila saya ingin mengejar hidup yang baik dan bahagia, bagaimana mungkin saya harus menelanjangi setiap inci tubuhku untuk dipertontonkan?“

Cermin yang konon ditemukan sekitar tahun 1500-an di Venedig- Italy, kini dengan mudah ditemukan dimana-mana, mulai dari kamar mandi sampai kamar rias. Di dalam tas mini seorang ibu di kota, misalnya selain gincu hampir pasti ada cermin. Cermin telah menjadi kebutuhan, sehingga tak terbayangkan sebuah rumah tanpa cermin. Bila demikian fungsi cermin harus diperluas, bukan sekedar untuk mematut diri. Cermin bisa sebagai jembatan emas untuk mengenal diri.

Kalau Chiwin jadi sadar diri dan bertekad banting stir di depan cermin, lain lagi dengan Ratu Sihir yang narsistis dalam dongeng Puteri Salju. Sepuluh kali ia bertanya kepada cermin ajaib yang tergantung pada dinding istana: „Siapa perempuan tercantik di seluruh jagat?“ Tentu saja si Ratu - jawab cermin ajaib. Celakanya, kelak cermin memberikan jawaban lain yang beralamatkan Puteri Salju: „Perempuan terayu di dunia adalah seorang gadis berkulit seputih salju, sehalus pualam, bersepatu kaca, bermata bagaikan bintang timur“. Ratu ganas ini lantas berang dan cermin harus dikorbankan. Apakah cermin harus dipecahkan bila ia memperlihatkan wajah kita yang bukan meluluh kemulusan, tapi juga dengan kekurangan dan kebopengannya?

Setiap kita pasti selalu bercermin. Bercermin bagi seorang petani di desa berbeda dengan bercermin bagi mahasiswa-i, bagi seorang presiden, menteri, dan para wakil rakyat. Seharusnya kita perlu tampil lain setelah bercermin. „Mengubah yang lain harus dimulai dengan mengubah diri sendiri“ - kata petuah usang. Perubahan yang diperlukan dalam diri hanya bisa terjadi bila kita terdahulunya bercermin dan bersedia mereparasi kekurangan dalam diri yang dipantulkan cermin dimaksud. Cerpen “In The Mirror” berpuncak dengan wasiat syarat makna: „Sesungguhnya orang bertemu dengan dirinya yang sejati di depan sebuah cermin.“

Pater Fidelis Waton SVD – Pamong Rohani KMKI Berlin

Discuss this article
You need to log in or register to participate in this discussion.