piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Brot Minggu 17 Januari 2016 - Hari Minggu Biasa II

 

 

brot logo v1

 

Bacaan Injil: Yoh. 2: 1 - 11

[1]Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ;
[2]Yoh 2:2 Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu.
[3]Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: "Mereka kehabisan anggur."
[4]Kata Yesus kepadanya: "Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba."
[5]Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!"
[6]Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung.
[7]Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: "Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air." Dan merekapun mengisinya sampai penuh.
[8]Lalu kata Yesus kepada mereka: "Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta." Lalu merekapun membawanya.
[9]Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu?dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya?ia memanggil mempelai laki-laki,
[10]dan berkata kepadanya: "Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang."
[11]Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.

bertanyalah-dan-berkembanglah

Sumber : http://mocostudent.org/wp-content/uploads/2014/12/diversity.jpg

Homili:

KASIH MENGATASI PERBEDAAN

Isilah terus dengan kasih Tuhan
maka semua akan menjadi baik.
Danang Brasmato, SJ


Teman-teman yang terkasih,
Hari Minggu ini adalah hari Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAK) dimana kita diminta untuk saling menghargai perbedaan dalam hal agama dan kepercayaan. Perbedaan dalam hal agama dan kepercayaan adalah sebuah keniscayaan di Indonesia ini dan juga tentu di dunia. Jalan satu-satunya untuk dapat hidup damai di tengah perbedaan adalah dengan saling menghargai. Permasalahannya adalah tidak semua orang atau kelompok agama dapat saling menghargai. Hari ini kita renungkan bagaimana cara kita dapat menghargai perbedaan.

Bagaimana kita dapat belajar menghargai? Bacaan Injil dapat membantu kita untuk merenungkan permasalahan ini. Dalam Injil dikisahkan bagaimana Yesus dan Bunda Maria sedang njagong manten (menghadiri acara pernikahan). Dalam acara mantenan itu ternyata ada masalah besar yang dapat mempermalukan keluarga manten yaitu kehabisan anggur. Anggur adalah simbol kemakmuran tetapi juga sebagai sarana ramah tamah dengan tamu. Kehabisan anggur dapat menjadi pertanda buruk bahwa tuan rumah tidak menjamu tamunya dengan layak. Dalam situsi itu, ada percakapan yang menarik antara Bunda Maria dan Yesus.

Situasi kehabisan anggur tidak diketahui oleh tuan rumah tetapi baru pelayan-pelayan saja yang tahu dan mereka mulai panik. Kepanikan ini diketahui oleh Bunda Maria. Sebagai seorang ibu, ia tahu benar apa yang akan terjadi yaitu kepanikan dan rasa malu. Ia segera memberitahu anaknya, Yesus, untuk bertindak. Jawaban Yesus sangat mengejutkan, apa urusanmu denganku ibu, waktuku belum tiba. Sebuah jawaban yang terkesan tidak peduli. Dalam situasi ini muncul perbedaan pendapat yang besar antara Bunda Maria dan Yesus, yaitu soal waktu yang tepat. Menurut Bunda Maria, ini adalah waktu yang tepat untuk menolong tetapi menurut Yesus ini bukan waktu yang tepat. Perbedaan begitu tajam.

Apa yang terjadi saat perbedaan itu muncul? Tak ada konflik, tak ada perdebatan, mereka mengatasi dalam keheningan batin. Perbedaan yang tajam tidak menghambat cara mereka berkomunikasi dengan baik bahkan memperbaiki keadaan. Mereka terlihat saling menghargai satu dengan yang lain, tidak ada saling menghambat, jegal menjegal, atau membuat kekacauan. Perbedaan pendapat dapat teratasi dengan baik karena mereka saling mengasihi, saling menghargai, dan memiliki kehendak baik untuk memperbaiki keadaan.

Teman-teman yang terkasih,
Ada banyak cara untuk menghargai perbedaan, namun dapat juga dibuat dua cara besar yaitu gerakan yang bersifat spiritual dan lahiriah. Gerakan spiritual dapat dilakukan dengan cara berdoa bersama. Tema Pekan Doa Sedunia 2016 dirumuskan dan dipersiapkan dalam pertemuan di Riga, Lativia. Riga adalah ibu kota Latvia, sebuah negara bekas Uni Soviet yang berada di Laut Baltik, antara Lithuania dan Estonia. Sebagai negara bekas komunisme, umat dan masyarakatnya masih mengalami trauma- trauma penderitaan akibat perpecahan. Syukur kepada Allah, dalam situasi yang pedih dan pahit itu, umat kristiani dari berbagai denominasi di sana dapat hiduo rukun bersatu. Mereka memiliki kebiasaan berdoa bersama dalam suasana penuh persahabatan (Surat Gembala KAS, 17 Januari 2016).

Perpecahan diantara umat kristiani dapat menjadi teladan buruk bagi pewartaan kasih Tuhan di dunia ini. Oleh karena itu, umat kristiani harus bersatu padu, rukun, dan saling menghargai agar dapat menjadi saksi Kristus yang sejati. Dunia dapat percaya bahwa bahwa kita adalah murid-murid Kristus bila kita dapat saling mengasihi dan tidak terjebak dalam permusuhan dan pertikaian.

Gerakan doa ini tidak hanya ditujukan untuk umt kristiani saja tetapi kita juga mengajak siapapun yang berkehendak baik. Misalnya mengajak orang-orang dari berbagai macam agama dan kepercayaan untuk berdoa agar korupsi lenyap dari Indoensia ini. Atau, membuat pameran lukisan bersama dengan mengangkat tema melestarikan lingkungan hidup. Itu adalah gerakan doa yang sangat kongkrit.

Gerakan lahiriah yang dapat dibuat adalah dengan membuat gerakan yang langsung dapat bermanfaat pada masyarakat. Misalnya, pada hari ulang tahun paroki, membuat kegiatan menanam pohon. Gereja Kota Baru Yogyakarta, pada hari ulang tahun ke 89 tahun lalu, membuat gerakan menanam pohon di Goa Maria Tritis, Wonosari. Gerakan ini melibatkan banyak pihak, termasuk yang non Katolik. Dua tahun lalu, gereja Kota Baru Yogyakarta juga membuat gerakan tebar benih ikan di Kali Code yang melibatkan pihak non Katolik. Gerakan seperti ini memiliki ciri yaitu ada keprihatinan bersama dan hasilnya dapat dinikmati bersama pula. Itulah landasan gerak lahiriah sebagai sarana untuk menghargai perbedaan.

Dalam rangka menghargai perbedaan, pada 11 April 2015, Paus Fransiskus menerbitkan Bulla “Misericordiae Vultus” yang berisikan tentang keyakinan kita pada kerahiman Allah. Dalam bulla itu dikatakan: Kita percaya bahwa kerahiman Allah ini akan menumbuhkan sebuah perjumpaan dengan agama-agama lain dan dengan tradisi-tradisi agama mulia lainnya; semoga ini membuka kita untuk lebih kuat berdialog sehingga kita dapat saling mengenal dan memahami dengan lebih baik; semoga ini menghilangkan segala bentuk ketertutupan pikiran dan ketidak harmonisan dan mengusir setiap bentuk kekerasan dan diskriminasi (MV,23).

Teman-teman yang terkasih,
Perbedaan dalam hal agama dan kepercayaan tidak dapat kita hindari pun kita tolak maka hendaknya kita belajar dari apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus, ada rupa-rupa perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu, yang mengerjakan semuanya dalam semua orang. Tuhan itu untuk semua sama halnya dengan hujan yang turun juga untuk semua, sinar matahari juga untuk kebaikan semua. Hal yang juga perlu kita lakukan adalah mengisi terus tempayan-tempayan air kita, agar Tuhan mencukupkan keperluan bersama dalam semangat sosial dan bela rasa, hingga kita melakukan apa yang Tuhan Yesus katakan sebagaimana perintah Bunda Maria kepada para pelayan (Surat Gembala 17 Januari 2016). Isilah terus diri kita ini dengan kasih Tuhan maka semua akan menjadi baik. Amin.

Profil Penulis

antonius
Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

Discuss this article
You need to log in or register to participate in this discussion.