piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu 12 Februari 2017, Minggu Biasa VI

 

brot logo v1

Bacaan Injil:

17 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.
20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
21 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.
22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,
24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.
25 Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.
26 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.
27 Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah.
28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.
29 Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka.
30 Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.
31 Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya.
32 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.
33 Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan.
34 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah,
35 maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar
36 janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun.
37 Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.
Sumber: http://www.imankatolik.or.id/alkitabq.php?q=Mat5:17-37;

 

Sumber : https://hagahtoday.files.wordpress.com/2016/03/pictures-of-jesus-with-a-child-1127679-wallpaper.jpg

Homili:

BERSAMA TUHAN MENYELAMATKAN SESAMA

Dalam bidang apapun, keselamatan memang butuh pengorbanan. Danang Bramasti, SJ

Teman-teman yang terkasih,
Perikop Injil kali ini terasa sangat keras. Bayangkan saja Yesus menyuruh memotong tangan jika tangan kita ini berbuat dosa. Bahkan matapun harus dicungkil jika memang mata kita ini menyesatkan. Apa yang sebenarnya terjadi?

Jika kita perhatikan pada kalimat awal perikop ini, ada kesan bahwa ajaran Yesus dicurigai hendak merubah Hukum Taurat yang sakral dan suci itu. Nampaknya Matius hendak menegaskan bahwa ajaran Yesus bukan untuk meniadakan tetapi justru sebaliknya untuk memperkuat dan meluruskan penyimpangan yang selama ini terjadi. Dan celakanya, penyimpangan itu dilakukan oleh orang-orang terhormat, semisal, orang-orang Farisi. Hukum Taurat pada akhirnya diselewengkan oleh mereka sehingga tidak membawa pada keselamatan.


MANUSIA UNTUK HUKUM ATAU HUKUM UNTUK MANUSIA

Di dalam Taurat ada 613 peraturan yang harus dilaksanakan agar orang dapat selamat atau masuk surga. Jika orang tidak dapat melaksanakan peraturan atau hukum itu maka orang itu pasti tidak dapat masuk surga. Orang-orang Farisi adalah golongan orang yang sangat taat dengan hukum-hukum itu. Mereka melaksanakan hukum itu dengan sangat teliti. Misalnya tidak boleh bekerja pada hari sabat, hal berpuasa, soal haram dan tidak haram, tidak boleh bergaul dengan orang kafir (orang yang non Yahudi). Lalu apa yang salah pada diri orang-orang Farisi ini?

Orang-orang Farisi melaksanakan hukum hanya demi hukum sehingga mereka terjebak hanya pada persoalan lahiriah saja. Mungkin teman-teman ingat pada kisah ketika Yesus menyembuhkan pada hari Sabat? Atau Yesus mengundang makan para pendosa seperti pemungut cukai bahkan pelacur. Yesus juga menyembuhkan orang kafir. Itu adalah tindakan yang sangat diharamkan oleh orang Yahudi. Orang–orang Farisi mencela habis tindakan Yesus ini, dan menuduh-Nya telah menistakan agama. Tuduhan ini tidak main-main karena tuntutannya adalah hukuman mati.

Yesus menentang pandangan orang-orang Farisi ini. Terkait dengan penyembuhan pada hari Sabat, misalnya, Yesus mengatakan:”Jika ada anak lembu yang terjatuh ke dalam sumur pada hari Sabat, apakah kita akan membiarkannya sampai hari berikutnya?” Kemudian Yesus melanjutkan dengan agak keras, “Mana yang diperbolehkan, berbuat baik atau berbuat jahat pada hari Sabat?” Yesus melihat bahwa mereka menyimpang jauh dari ajaran Taurat.


HUKUM UNTUK KESELAMATAN MANUSIA

Penyimpangan yang sudah akut itu tentu harus dilawan dengan ajaran yang keras juga. Penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang Farisi itu memang sudah kelewatan. Hal yang paling menyebalkan yang dilakukan oleh mereka adalah kesombongan. Mereka suka berdoa di pasar, di simpang jalan, dan senang mencari tempat terhormat. Dampak yang paling menyedihkan dari kesombongan itu adalah memandang orang lain sebagai tidak berguna. Mereka merasa yang paling benar sendiri, suka merendahkan oang lain, terutama menghakimi orang lain sebagai pendosa dan kafir.

Nampaknya Yesus dan para murid prihatin benar dengan situasi itu sehingga mereka mengajarkan hal yang ekstrim untuk melawan orang-orang Farisi. Ajaran yang terasa keras itu sebenarnya ajakan untuk berani berkorban demi kehidupan yang lebih baik. Ajaran untuk memotong tangan bahkan mencungkil mata itu sebenarnya tidak apa-apanya dengan perngorbanan Yesus, yaitu mengorbankan nyawanya sendiri. Pengorbanan itu dilakukan Yesus untuk menyelamatkan seluruh umat manusia. Hukum pada akhirnya adalah untuk menyelamatkan manusia tanpa itu maka hukum tak akan ada gunanya.


KESELAMATAN DAN PENGORBANAN

Apakah keselamatan itu? Dalam ajaran Katolik, keselamatan adalah bersatunya manusia dengan Tuhan. Tentu saja itu adalah ‘hasil akhir’ dari seluruh pengorbanan. St. Ignatius Loyola menyebutnya sebagai ‘berjerih payah’. Saya yakin teman-teman juga telah banyak berkorban untuk mencapai keselamatan. Berjerih payah untuk menyelamatkan studi anda dengan mengorbankan waktu bermain bahkan waktu tidur anda. Anda akan sangat terbantu jika terlebih dahulu menyingkirkan segala hal yang dapat mengganggu studi anda.

Ada teman kost saya yang nilainya buruk terus karena ia keranjingan nonton film di kamar kostnya. Akhirnya, demi menyelamatkan studinya, ia menyingkirkan tv yang ada di kamarnya supaya ia dapat konsentrasi untuk belajar. Dalam bahasa Injil dapat dikatakan ia telah mencungkil matanya sendiri agar ia selamat.

Keselamatan anda itu menjadi awal untuk menyelamatkan sesama. Misal, bagaimana mungkin anda mengajarkan akuntasi kepada orang lain jika anda sendiri tidak tahu akuntasi. Anda perlu berjerih payah dulu untuk belajar akuntasi, baru kemudian mengajari orang lain. Tanpa jerih payah itu anda malah menyesatkan orang lain. Dalam bidang apapun, keselamatan memang butuh pengorbanan.


MENAKAR IMAN

Untuk sampai pada tahap pengorbanan, kita perlu mendewasakan iman kita. Perkembangan iman kita memiliki tahapan seperti halnya perkembangan kepribadian manusia. Ketika anak-anak, kita akan berbicara dalam taraf berpikir anak-anak. Biasanya anak akan bertanya soal boleh atau tidak boleh. Mereka memang perlu diberitahu soal aturan. Misalnya, jangan nakal ya nak, itu dosa. Lalu anak akan bertanya, kalau tidak belajar dosa atau tidak, kalau tidak membantu mamah di rumah, dosa atau tidak.

Setelah mencapai tahap remaja, mereka akan lebih kritis dan berani mempertanyakan peraturan. Misalnya, mengapa tidak belajar koq dosa, mengapa harus begini dan harus begitu. Pertanyaan yang kritis ini seringkali membawa mereka pada saat krisis iman. Seiring dengan perkembangan, maka mereka akan mengerti jawaban soal ‘mengapa’ dan mencari tahu soal latar belakang peraturan-peraturan yang ada.

Misalnya, anak-anak diajarkan bahwa berbohong itu dosa, bergaul dengan orang jahat itu dosa. Suatu ketika, misalnya, anda sedang berdiri di depan rumah anda. Tiba-tiba ada copet berlari kearah anda dan anda melihat banyak orang yang mengejar copet ini dengan membawa tongkat, pisau, bahkan pedang. Copet itu kemudian meminta bantuan anda. Apa yang akan anda lakukan? Menolong copet itu dari amukan masa? Atau, membiarkan copet itu dihajar masa? Silakan anda renungkan sendiri, mungkin ini dapat menguji kedewasaan anda.

AMIN

Salam,

Profil Penulis

Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

 

Discuss this article
You need to log in or register to participate in this discussion.