piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 26 Februari 2017 - Hari Minggu Biasa VIII

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 6: 24-34

24 Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."
25 "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian
26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?
27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,
29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.
30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?
31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?
32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.
33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."
sumber: http://www.imankatolik.or.id/alkitabq.php?q=Mat6:24-34;

 

Pilihan

Sumber : https://aos.iacpublishinglabs.com/question/aq/1400px-788px/six-step-decision-making-process_98f4060483ae6f9b.jpg?domain=cx.aos.ask.com

Homili:

Persimpangan dalam Kekhawatiran

Suatu malam saya mendapatkan pesan melalui WA dari seorang gadis dari Indonesia. Agak bertanya-tanya saya dalam hati, “Bukankah jam segini masih sangat subuh di Indonesia?” Dia bertanya, “Romo, kenapa saya merasa gelisah tapi tidak tahu sebabnya..” Intuisi saya bergerak dan saya menimpali, “Ha..kamu mau nikah ya?” Tak disangka, dia menjawab, “Iya!” Lalu mulailah dia bercerita.

Gadis itu merasa tidak mampu membaca apa yang dikehendaki oleh calon pasangannya. Dia merasa sudah berpikir sampai D, calonnya baru sampai B. Dia gelisah apabila di kemudian hari hal semacam itu mengganggu kebahagiaan mereka. Kegelisahan ini muncul karena kekhawatiran bila semua yang dia rancang, dia planning, ternyata tidak sesuai dengan kenyataannya. Maklum dia gadis cerdas dan sangat berpendidikan. Semua terencana, presisinya tinggi. Pertanyaan menggelitiknya ialah adakah ruang untuk Allah berkarya dalam dirinya, di luar planningnya? Kita tidak tahu. Gadis itu yang tahu.

Injil hari ini dibuka dengan paragraf yang mempertentangkan Allah dan mamon. Tidak mungkin manusia mampu mengabdi keduanya karena pada titik tertentu manusia harus memilih: Allah atau mamon. Kira-kira itulah ide dari injil Matius kali ini. Biasanya mamon dimaknai sebagai uang. Banyak orang memahaminya demikian. Itu betul. Untuk apakah uang di dunia ini? Menurut Wikipedia bahasa Indonesia, uang adalah suatu benda yang diterima secara umum oleh masyarakat untuk mengukur nilai, menukar, dan melakukan pembayaran atas pembelian barang dan jasa, dan pada waktu yang bersamaan bertindak sebagai alat penimbun kekayaan.

Kalau saya menyimpulkan bahwa tujuan uang pada akhirnya dipakai untuk mendapatkan barang dan jasa serta menimbun kekayaan, apakah kesimpulan itu terlalu jauh lompatannya? Memiliki banyak uang berarti mampu mendapatkan banyak jasa dan barang, menjadi kaya. Mengapa kita mengejar jasa, barang, dan kekayaan? Bisa jadi dengan banyak uang, banyak masalah dan kekhawatiran bisa teratasi.

Kalau saya membuat pernyataan lebih deteil bahwa uang dipakai untuk menutup banyak kekhawatiran hidup kita di dunia ini, apakah pernyataan itu terlalu naïf? Kemampuan yang tinggi untuk mendapatkan jasa, barang dan harta menjadi penentu jalan keluar mengatasi kekhawatiran kita mengenai berbagai kesulitan hidup. Bahkan ada orang yang khawatir kejahatannya terkuak dan akan dengan mudah bergantung pada uang untuk “membereskan” perkaranya. Ia bisa membeli jasa dari orang tertentu yang memiliki ‘kuasa pemberesan’.

Jadi, dalam penafsiran saya, pertentangan antara Allah dan mamon, diperlihatkan dalam bentuk-bentuk kekhawatiran. Ketika seseorang dikuasai kekhawatiran, sebetulnya dia diundang untuk kembali kepada orientasi utama kerohaniannya, yaitu Allah. Kalau tidak mau kembali, biasanya ia lari kepada mamon (uang) untuk mengatasi kekhawatirannya. Juga, meskipun dia atau mereka berpura-pura berpihak kepada Allah, bisa saja yang sejatinya diabdi adalah mamon. Banyak contohnya, apalagi menjelang pilkada (sorry, ini tendensius). Orang yang dikuasai oleh kekhawatiran sering dicegat untuk sampai kepada Allah karena mereka membereskan kekhawatiran mereka bersama dengan mamon, tidak bersama dengan Allah. Jalan mereka adalah jalan uang, bukan jalan Allah. Dari pada membenahi diri dan bertobat, lebih baik membereskannya dengan kekuatan uang. Apa kita mau seperti itu?

Ketika mamon pun tidak mampu mengatasi masalah dan kekhawatiran hidup, seorang manusia akan gelisah. Barulah ia atau mereka mencari-cari Allah padahal jalan Allah dari semula jelas: janganlah mengabdi mamon.

Tidak ada manusia di dunia ini lepas dari kekhawatiran. Bahkan, orang-orang yang hidup sebagai religious pun sama. Namun, mari kita bersyukur bahwa kekhawatiran yang muncul dalam hidup kita sebetulnya menarik kita kepada Allah. Mari tidak berpikir pendek dan meletakkan tumpuan kita kepada mamon begitu saja. Mamon adalah kekuatan yang daya hasutnya terhadap orang beriman sungguh luar biasa. “Kamu tidak bisa mengabdi kepada Allah dan kepada mamon.” Karena itu, mari kita berpikir panjang. Mari kita bertekun menumpukan hidup kepada jalan Allah, bukan kepada jalan mamon. Gunakan mamon untuk mengabdi Allah, bukan menggunakan Allah demi mamon. Insya Allah, segala kekhawatiran musnah. Atau setidaknya, tidak menghancurkan hidup kita.

Salam pengabdian!

Salam,

Profil Penulis

Pastur Rosa
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

 

Discuss this article
You need to log in or register to participate in this discussion.