piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 2 Juli 2017 - Hari Minggu Biasa 23

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat 10:37-42

Mat 10:37 Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.
Mat 10:38 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.
Mat 10:39 Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
Mat 10:40 Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.
Mat 10:41 Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar.
Mat 10:42 Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya."

Sumber http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

cinta_benci

Sumber : http://pecintaquran.org/index.php/artikel/8-artikel-bebas/29-cinta-dan-benci-karena-allah

Homili:

PROBLEMA ANTARA BENCI DAN CINTA
Sebuah Perjuangan untuk Mencintai Tuhan Lebih Dari Pada Segalanya.

Bicara tentang cinta selalu bicara tentang siapa
sedangkan bicara soal benci selalu bicara tentang apa.
Jika kita gagal memaknai keduanya maka hidup kita akan hancur
Danang Bramasti, SJ


Saudara-saudari yang terkasih, Yesus mengatakan kepada para murid-Nya, “Barangsiapa menghasihi bapak atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa menghasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-ku.
Pernyataan Yesus tersebut mungkin masih terdengar ‘lunak’ jika dibandingkan dengan ayat yang setara dari Injil Lukas 14:25 yang sangat mengejutkan:
"Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”
Ada dua hal yang menjadi problematis yaitu antara cinta dan benci. Kesalahan kita dalam memaknai hal itu akan berakibat fatal. Bagaimana kita memaknai kedua hal itu agar dapat menjadi murid Yesus?
Adakah diantara kalian yang membenci orang tuanya? Andaikata kata ada yang membenci, hendaknya kita mencintai orang tua kita. Namun demikian, mencintai Tuhan adalah di atas segalanya. Barang siapa tidak dapat mencintai Tuhan di atas segalanya maka ia tidak akan pernah dapat mencintai siapapun.
Namun apa makna pernyataan “barang siapa tidak membenci bapak dan ibunya tidak layak mengikuti aku”?
Teman-teman yang terkasih,
Suatu ketika ada preman yang menembak orang. Setelah menembak ia lari dan bersembunyi di sutau tempat. Tidak ada orang yang tahu tempat persembunyiannya kecuali adiknya. Ndilalah, adiknya adalah seorang polisi. Ia seorang polisi muda yang sangat idealis. Namun demikian, dihadapkan pada persoalan ini, ia bimbang, apakah memberitahu kepada polisi tempat persembunyian kakaknya kepada polisi atau pura-pura tidak tahu.
Setelah mengalami pergulatan panjang, akhirnya adiknya itu memutuskan untuk memberitahu tempat persembunyian kakaknya dan bahkan ikut menangkapnya. Lalu ia berkata kepada teman-temannya bahwa penangkapan ini tidak berarti ia membenci kakaknya tetapi ia profesional menjalankan tugasnya. Ia melanjutkan bahwa itu bukan berarti pula ia tidak mencintai kakaknya.
Pernyataan adiknya yang polisi itu menyiratkan perbedaan tajam antara cinta dan benci, yaitu bicara tentang cinta selalu bicara tentang siapa sedangkan bicara soal benci selalu bicara tentang apa. Jika kita gagal memaknai keduanya maka hidup kita akan hancur. Maka dalam hal ini, bencilah perbuatannya dan jangan orangnya. Seringkali kita dicampuradukan dengan membenci perbuatannya dan sekaligus orangnya.
Bahkan yang lebih parah lagi adalah membenci orangnya walaupun yang diperbuat adalah kebaikan. Ini biasanya terjadi karena adanya sentimen SARA. Dampak yang mengerikan dari hal ini adalah pembunuhan masal.
Namun demikian, ada juga penerapan cinta dan benci yang salah sehingga kisah cinta berakhir pada jalan yang salah. Kasus korupsi yang melibatkan pasangan suami isteri gubernur Sumatera Utara dan Bengkulu adalah contoh bagus untuk memperlihatkan problema antara cinta dan benci yang salah jalan. Apa yang dapat kita katakan kepada pasangan suami isteri gubernu tersebut? Waouw mereka pasangan yang serasi dan kompak ya.. Mereka saling solider yaa..
Tentu saja mereka pasangan yang salah arah. Jika sang isteri sungguh-sungguh mencintai suaminya tentu sang isteri akan menegur suaminya untuk tidak korupsi. Jangan sampai cinta membutakan sehingga tidak dapat membedakan mana yang buruk dan mana yang baik.
Akan tetapi apa jadinya jika sang isteri melaporkan suaminya pada KPK? Atau mungkin anak-anaknya yang melaporkan mereka pada KPK? Apa yang akan terjadi? Mereka akan saling berkelahi satu sama lain. Itulah sebabnya Yesus mengatakan bahwa barang siapa tidak mengasihi bapak atau ibunya lebih dari pada-Nya ia tidak layak menjadi murid-Nya. Jika tidak mencintai Tuhan di atas segalanya maka yang terjadi adalah saling menutupi kejahatan.
Pernyataan Yesus ini memang keras. Namun pernyataan itu dapat menyelamatkan kita. Jangan pula kita terjebak pada rasa perasaan yang mengatas namakan cinta. Cinta bukan sekedar perasaan dan jangan pernah mendasarkan cinta pda rasa perasaan. Rasa perasaan itu datang silih berganti, kadang kangen kadang benci, kadang seneng kadang sebel. Gawat sekali jika cinta berlandaskan pada rasa perasaan yang datang dan pergi silih berganti seperti itu. Hidup kita akan senantiasa terombang ambing.
Ada seorang suami yang selalu menjemput isterinya setiap pulang kerja. Tetapi hari itu ia tidak mau menjemput isterinya karena sedang jengkel dengan isterinya itu. Jelas hal ini memperlihatkan seorang suami yang tidak punya komitmen dan tanggung jawab. Maka dapat dikatakan bahwa cinta adalah komitmen dan tanggung jawab. Cinta sejati selalu melampaui rasa perasaan karena cinta sejati adalah komitmen dan tanggung jawab.
Kembali pada pertanyaan awal, adakah diantara kalian yang membenci orang tuanya, saya punya kisah tentang hal itu. Suatu ketika ada seorang anak yang mengatakan kepada saya bahwa ia sangat membenci bapaknya. Bapaknya adalah seorang pemabuk dan penjudi, tak jarang ia juga memukul anaknya maupun isterinya.
Lalu saya katakan kepadanya,”Nak, itu adalah bapakmu, cintailah dia. Bagus sekali bahwa kamu punya kebencian tetapi jangan bapakmu yang kamu benci melainkan perbuatannya. Tetaplah mendoakan bapakmu, semoga ia cepat bertobat. Percayalah kamu akan menemukan cinta sejati yang tidak terombang ambing oleh rasa perasaan.
Teman-teman yang terkasih, Marilah kita mohon rahmat dari Tuhan agar kita senantiasa dapat mencintai Tuhan kita dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi kita sehingga kita dapat mencintai sesama kita. Ketika kita sanggup mencintai Tuhan diatas segalanya maka kita dapat mencintai siapapun. Amin.

Salam,

Profil Penulis

antonius.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

Discuss this article
You need to log in or register to participate in this discussion.