piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 23 Juli 2017 - Hari Minggu Biasa XVI

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 13:24-43 (Hari Minggu Biasa XVI)

Mat 13:24 Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya.

Mat 13:25 Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi.

Mat 13:26 Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu.

Mat 13:27 Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu?

Mat 13:28 Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu?

Mat 13:29 Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu.

Mat 13:30 Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku."

Mat 13:31 Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya.

Mat 13:32 Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya."

Mat 13:33 Dan Ia menceriterakan perumpamaan ini juga kepada mereka: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya."

Mat 13:34 Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatupun tidak disampaikan-Nya kepada mereka,

Mat 13:35 supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: "Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan."

Mat 13:36 Maka Yesuspun meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya: "Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu."

Mat 13:37 Ia menjawab, kata-Nya: "Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia;

Mat 13:38 ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat.

Mat 13:39 Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat.

Mat 13:40 Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman.

Mat 13:41 Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya.

Mat 13:42 Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.

Mat 13:43 Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"


Sumber http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Weizen und Unkraut

Sumber : https://www.lds.org/manual/new-testament-study-guide-for-home-study-seminary-students/introduction-to-matthew/unit-4-day-1-matthew-13-24-58?lang=deu

Homili:

LALANG DAN GANDUM

Dalam konteks Eropa, musim semi dan musim panas merupakan musim pekarangan dan perkebunan, musim menanam dan menyiangi. Rumput-rumput liar dicabut atau dibersihkan dari ladang, pekarangan atau taman, agar tanaman yang bermanfaat bisa bertumbuh dan berkembang tanpa hambatan, tanpa harus berjuang merebut makanan dengan lalang atau rumput liar, demikian kaidah agraris yang lazim dan mutlak.

Kebiasaan dari zona pekarangan dan pertanian tentu tidak asing bagi Yesus dan pendengar-Nya yang hidup dalam masyarakat agraris. Agar ajaran atau pewartaan-Nya mencapai sasaran secara pasti dan efektif, Yesus mengangkat perumpamaan atau gambaran yang gampang dipahami publik. Yesus menerjemahkan ajaran-Nya ke dalam kehidupan dan cara pandang konkret masyarakat zaman-Nya.

Bertentangan dengan falsafah pertanian yang mewajibkan para petani atau tukang taman untuk membersihkan rumput liar (Unkraut), Yesus justru mengajarkan agar lalang dan gandum (Weizen) hendaknya dibiarkan bertumbuh bersama hingga musim panen. Mengapa? Bukankah lalang justru membahayakan gandum? Di telinga para petani, pasti pendapat Yesus bukan saja bersifat provokatif, mungkin juga dianggap naif. Mungkin Yesus dengan latar belakang keluarga tukang kayu dinilai tidak mengetahui praksis pertanian. Apa maksud Yesus dengan pernyataan-Nya ini?

Lalang yang dimaksudkan Yesus dalam perumpamaan ini adalah sejenis lalang berbisa yang mirip dengan gandum. Nama botanisnya: Lolium temulentum. Saking miripnya, maka pada masa pertumbuhan sangat sulit dibedakan antara gandum dan lalang beracun ini. Logikanya sangat jelas, jika orang hendak mencabut lalang ini, maka ada kemungkinan besar gandum juga akan ikut tercabut, lantaran kemiripan yang begitu dekat. Perbedaan akan jelas, ketika kedua jenis tumbuhan ini matang dan siap dipanen. Di sana orang akan gampang membedakan antara lalang dan gandum.

Apa pesan yang hendak disampaikan Yesus dengan bahasa simbolis ini?

Pertama, yang sempurna tidak ditemukan di dunia ini, biarpun kita manusia selalu mencari yang sempurna, acapkali dengan instrumen kekerasan. Kesempurnaan bukanlah bagian dari hidup kita di bumi ini. Pertentangan antara kebaikan dan kejahatan, antara yang baik dan buruk menghiasi hidup kita di dunia ini. Pengetahuan atau kesadaran akan realita ini bukan bermaksud menggiring kita ke sikap masa bodoh dan pasrah saja menerima dunia dan sikap hidup manusia. Tentu saja kita berusaha untuk menjadi baik, namun kita harus realistis bahwa yang tidak baik juga merupakan bagian dari hidup kita sebagai manusia. Selama hidupnya setiap orang pasti memiliki aspek yang baik dan yang kurang baik. Inilah kebenaran yang harus kita terima dan tak boleh kita sangkal.

Orang yang beranggapan bahwa kebaikan harus meraja di dunia ini, dia tidak selamanya menghasilkan kebaikan, dia juga banyak kali sebagai sumber kejatahan. Orang itu akan begitu cepat memvonis orang lain. Orang itu akan cepat jatuh ke cara berpikir dan cara hidup yang fanatik dan fundamentalis.

Kedua, kita diajak untuk tetap tenang, sabar, menunggu, membiarkan keduanya bertumbuh, toleran dan tidak cepat untuk memvonis. Hidup bersama dengan keragaman manusia tentu membutuhkan sikap tenang dan sabar, karena setiap manusia berbeda, bukan saja berbeda secara fisik, lebih lagi cara pikir dan cara hidup atau sikap. Perbedaan harus dihargai dan diterima. Dengan kesadaran akan adanya perbedaan ini, kita akhirnya melihat orang lain bukanya sebagai musuh, melainkan sebagai partner atau rekan hidup dalam semangat saling melengkapi demi mencapai tujuan hidup bersama. Mari kita bekerja sama.

Kita harus hidup dan orang lain juga harus hidup dengan kekuatan, kekurangan dan kelemahan. Mari kita serahkan urusan vonis kepada Tuhan yang mengenal setiap hati dan pikiran manusia. Janganlah hidup dengan nafsu untuk memberantas lalang di tengah ladang gandum, melainkan marilah kita bertumbuh bersama. Pada akhirnya kebaikanlah yang akan menang. Gandum akan dimasukkan ke lumbung, sedangkan lalang akan dihanguskan oleh api. Amin.

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universität zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.

 

 

 

 

 

Discuss this article
You need to log in or register to participate in this discussion.