piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 30 Juli 2017 - Hari Minggu Biasa XVII

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 13:44-52

Mat 13:44 "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.
Mat 13:45 Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah.
Mat 13:46 Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."
Mat 13:47 "Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan.
Mat 13:48 Setelah penuh, pukat itupun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang.
Mat 13:49 Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar,
Mat 13:50 lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.
Mat 13:51 Mengertikah kamu semuanya itu?" Mereka menjawab: "Ya, kami mengerti."
Mat 13:52 Maka berkatalah Yesus kepada mereka: "Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Pearls

Sumber : https://www.americangemsociety.org/en/pearls

Homili:

DIMANAKAH KAN KUCARI MUTIARA KEBAHAGIAAN ITU

Kita tak akan pernah dapat bahagia jika kita tak pernah dapat membahagiakan orang lain. - Danang Bramasti, SJ

 

Saudara-saudari yang terkasih,

Jika anda sedang berdoa dengan khusyuk, dalam keheningan pagi, tiba-tiba Tuhan berkata, “Apa yang kamu inginkan dari-Ku?” Kira-kira apa yang akan anda jawab? Mungkin ada yang ingat akan hutangnya, lalu minta dilunasi hutangnya. Mungkin ada yang akan ujian, minta lulus dengan baik. Mungkin ada yang sedang pendekatan dengan seseorang, minta agar dia bisa jadi pacarnya. Banyak kemungkinan untuk menjawab hal itu.

Bacaan pertama pada Minggu ini memperlihatkan bagaimana Salomo menjawab pertanyaan Tuhan itu. Sebagai raja mungkin ia ingin memperluas kerajaannya, atau ingin semua musuhnya dikalahkan, atau bisa jadi ingin harta yang lebih banyak.

Namun Salomo menjawab, “...Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan tepat, dapat membedakan mana yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?”(1 Raj 3:9).

Sungguh luar biasa pilihan itu! Diantara banyak pilihan, Salomo memilih hikmat kebijaksanaan! Bagaimana kita dapat membuat pilhan seperti itu? Bacaan Injil Minggu ini akan menuntun kita untuk membuat pilihan yang tepat sehingga kita mendapatkan mutiara kebahagiaan. Berikut ini adalah ulasannya.

Menjual Seluruh Miliknya

Perumpamaan dalam Injil Minggu ini bicara soal menjual dan membeli, bicara soal dagang dan pedagang. Apakah hidup ini adalah soal dagang? Mungkin kegiatan dagang sudah identik dengan hal duniawi sehingga sering dikatakan tidak cocok untuk mencari Tuhan. Masalahnya adalah bukan pada kegiatan dagang itu sendiri tetapi prinsip apa yang ada dibalik kegiatan dagang itu, itulah yang menentukan baik buruknya.

Saat saya kuliah ekonomi di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dosen saya bertanya, “Apakah prinsip ekonomi itu?” Seorang teman menjawab dengan lantang, “Prinsip ekonomi adalah dengan modal sekecil mungkin dapat menghasilkan keuntungan sebesar mungkin.” Semua mahasiswa nampaknya setuju dengan jawaban itu. Namun dosen saya dengan keras mengatakan, “Salaahh..!! Kamu semua saya kasih nilai E kalau menjawab seperti itu.” Saya agak lupa bagaimana dosen menjelaskan hal ini namun ada hal yang dapat saya pelajari dari kasus itu.

Saudara-saudari yang terkasih,

Jika prinsip ekonomi seperti itu yang digunakan lalu apa yang akan terjadi dalam kehidupan sehari-hari? Seorang mahasiswa akan belajar sesedikit mungkin untuk mendapat nilai setinggi mungkin. Lalu apa yang akan ia lakukan? Kemungkinan besar ia akan nyontek. Seorang karyawan dengan gaji pas-pasan ingin hidup mewah. Lalu apa yang akan ia lakukan? Kemungkinan besar ia akan korupsi. Seorang pedagang yang dengan modal kecil ingin dapat untung besar, kemungkinan besar ia akan melakukan tipu muslihat. Contoh mengenai hal ini sudah banyak di negara kita. Para pelajar nyontek dengan santainya, para pegawai korupsi besar-besaran, para pedagang melakukan tipuan produk yang mereka jual (sekarang sedang ramai beras oplosan).

Lalu prinsip ekonomi apa yang harus digunakan? Bacaan Injil Minggu ini memiliki kata kunci yang tepat yaitu: menjual seluruh miliknya. Bukan sesedikit mungkin tetapi seluruhnya.

Dengan prinsip seperti itu, seorang pelajar akan belajar dengan seluruh tenaga, pikiran, dan waktunya untuk mendapat nilai yang tinggi. Seorang karyawan akan bekerja dengan seluruh kemampuannya untuk mendapatkan promosi, dan seorang pedagang akan melakukan inovasi dan terobosan yang sehat untuk mendapatkan keuntungan yang tinggi.

Menjual seluruh miliknya, itulah cara mendapatkan mutiara kebahagiaan. Bukan hal yang mudah untuk menjual. Sebagai pelukis saya mengalami bahwa tidak mudah menjual lukisan. Tetapi kita harus tetap berjuang untuk mendapatkan yang terbaik. Ignatius Loyola mennyebutnya: berjerih payah.

Mutiara Kebahagiaan

Menjual seluruh miliknya adalah kunci untuk mendapatkan mutiara. Kata ‘menjual’ mungkin agak membingungkan. Tetapi menjual ini berarti melepas yang kita miliki untuk mendapatkan sesuatu yang belum kita miliki dan semua berakhir bahagia.

Pada jaman dahulu penjualan ini menggunakan sistem barter. Seorang pembuat meja kursi ingin makan daging sementara seorang pemburu ingin memiliki meja kursi. Yang kemudian terjadi adalah ia meminta seorang pemburu untuk mencarikan daging rusa yang enak. Sebagai gantinya ia akan membuatkan meja kursi yang terbaik untuk pemburu itu. Mereka berdua akhirnya mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka semua bahagia. Itulah makna mendapatkan mutiara.

Menjual seluruh miliknya untuk mendapatkan mutiara pada akhirnya membuat semua orang bahagia. Kebahagian seorang pemburu yang mengeluarkan seluruh kemampuannya sebagai pemburu untuk menapatkan rusa dapat membahagiakan pembuat meja kursi. Sementara itu, seorang pembuat meja kursi mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk membuat meja kursi pada akhirnya dapat membahagiakan sang pemburu.

Dengan demikian, pada dasarnya kita tak akan pernah dapat bahagia jika kita tidak pernah dapat membahagiakan orang lain. Kebahagiaan tidak akan pernah dapat kita raih jika kebahagiaan itu hanya untuk diri sendiri apalagi dengan menyengasarakan orang lain.

Mutiara Kebijaksanaan

Pada akhirnya untuk dapat menjual seluruh miliknya perlu adanya kebijaksanaan. Tanpa kebijaksanaan tak akan pernah kita mendapatkan mutiara itu. Kembali pada kisah Salomo, kebijaksanaan yang dimintanya adalah demi kebaikan rakyatnya. Salomo sadar bahwa ia tak akan mungkin bahagia sendirian.

Salomo, sebagai raja, tak mungkin bahagia jika melihat rakyatnya sengsara. Ia akan bahagia jika melihat rakyatnya bahagia juga. Itulah kebahagiaan sejati. Salomo, sebagai raja yang kaya raya, tentu sudah tak perlu berjerih payah lagi untuk bahagia. Namun demikian, kebijaksanaan sejati membawa seseorang untuk berjerih payah agar orang lain juga bahagia.

Mutiara Kerajaan Allah

Saudara-saudari terkasih,

Saat kita belajar atau bekerja, pastikan bahwa apa yang kita lakukan itu akan membahagiakan banyak orang. Tentu ini memerlukan kerja keras, mengeluarkan seluruh kemampuan kita, tetapi yakinlah bahwa kita akan merasa lebih bahagia jika apa yang kita lakukan itu berguna bagi orang lain dan membuat mereka bahagia. Janganlah kita membuat yang sebaliknya, apa yang kita lakukan akan membuat sengsara banyak orang.

Jika kita sudah membahagiakan sesama kita, sebenarnya kita sudah ikut serta meghadirkan Kerajaan Allah di dunia ini. Jangan bayangkan bahwa Kerajaan Allah itu nun jauh di sana atau baru dapat kita rasakan jika kita sudah mati. Sesungguhnya Kerajaan Allah sudah hadir saat Yesus hadir di dunia ini. Kita adalah rekan kerja Allah untuk ikut serta membangun Kerajaan Allah di dunia ini, sekarang dan di tempat ini.

Salam,

Profil Penulis

antonius.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ
Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta.
Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

Discuss this article
You need to log in or register to participate in this discussion.