piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 13 Agustus 2017 - Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga

brot logo v1

Bacaan Injil: Luk. 1:39-56

Luk 1:39 Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda.
Luk 1:40 Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet.
Luk 1:41 Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus,
Luk 1:42 lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.
Luk 1:43 Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?
Luk 1:44 Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.
Luk 1:45 Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana."
Luk 1:46 Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan,
Luk 1:47 dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,
Luk 1:48 sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,
Luk 1:49 karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.
Luk 1:50 Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.
Luk 1:51 Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;
Luk 1:52 Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;
Luk 1:53 Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;
Luk 1:54 Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya,
Luk 1:55 seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya."
Luk 1:56 Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

Assumption of Mary

Sumber : https://www.askideas.com/50-best-assumption-of-mary-wishes-pictures-and-photos/

Homili:

Hari Minggu ini Gereja di Indonesia merayakan Maria diangkat ke surga. Dari perayaan ini kita bisamelihat betapa penting peran Maria dalam kehidupan menggereja umat Katolik. Pengagungan Maria ini merupakan ungkapan kepercayaan dan kekaguman kepadanya atas sikap dasar hidupnya di hadapan Allah dan sesama.

Doa Maria yang diungkapkan Injil hari ini biasa disebut sebagai doa Magnificat. Doa ini sebenarnya berasal dari Perjanjian Lama. Orang Israel sangat mengenal doa ini. Maria tentu juga sangat mengenalnya. Doa ini begitu bergema dalam hati Maria bunda Yesus karena sangat sesuai dengan konteks hidupnya. Ya, karena doa ini sungguh tepat bagi situasi Maria: seorang yang sederhana dan rendah namun penuh syukur karena menerima janji Allah.

Pengalaman Maria sebagai seorang yang sederhana dan rendah menjadi bermakna karena ia tidak mengagungkan apapun dalam hidupnya kecuali pemberian Allah. Maria menjadi figur yang tidak congkak karena kecantikannya, atau kekayaannya, atau pujian terhadapnya. Saya membayangkan bahkan juga kini, sekalipun Gereja mengagungkan dia dalam pesta kenaikannya ke surga ini, kerendahan hatinya tidak hilang. Doa Magnificat ini tetap menjadi doa Maria.

Sikap rendah hati dan mengalah ini mungkin diajarkannya kepada Yesus. Sebagai seorang ibu, saya yakin Maria mengajarkan keutamaan yang menjadi pegangan hidupnya kepada anaknya. Ia pasti ingin menularkan pedoman terbaik dalam hidupnya kepada anak tercintanya. Saya menjadi tidak heran mengapa Yesus yang memiliki massa dan kekuatan illahi akhirnya rela mati disalibkan. Bukankah ini mirip dengan sikap Maria dalam kerendahannya? Ia tidak memberontak, hanya terus berkomunikasi dengan BapaNya. “Makananku ialah melakukan kehendakNya”

Saya kira Maria ingin juga mengajarkan sikap rendah hati ini kepada kita. Paus Fransiskus mengatakan bahwa seorang kristen haruslah rendah hati. Kerendahan hati menjadi sungguh- sungguh sebuah kemuliaan ketika dijalani sampai kita direndahkan. Sebuah pengajaran yang sulit dimengerti. Maria telah menunjukkan bahwa sikap itu patut untuk dimiliki oleh seorang yang penuh dengan daya illahi: Yesus. Ya, karena Maria juga telah memilikinya. Mungkin Maria juga tidak sepenuhnya mengerti, namun sikap rendah hati itu dijalaninya. Kita diundang untuk mengikuti teladan Maria.

Mari kita meneladan Maria. Meski diagungkan sedemikian tinggi, ia adalah manusia yang merendah dan penuh syukur. Menilik setiap sudut hidup kita, berapa banyak hal bisa berlangsung mulia karena kerendahan hati kita? Berapa banyak peristiwa menjadi warna kehancuran karena kecongkakan manusia? Kitalah yang menentukan pilihan.

Tuhan memberkati.

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

 
Discuss this article
You need to log in or register to participate in this discussion.