piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 20 Agustus 2017 - Hari Minggu Biasa XX

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 15:21-28

Mat 15:21 Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon.
Mat 15:22 Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita."
Mat 15:23 Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak."
Mat 15:24 Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel."
Mat 15:25 Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku."
Mat 15:26 Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing."
Mat 15:27 Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya."
Mat 15:28 Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

Kafir-design

Sumber : http://www.textgiraffe.com/Kafir/Page2/

Homili:

Yesus sebagai Pengajar dan Pelajar iman

Teolog Jerman Wilhelm Brunners menerbitkan buku pada tahun 2006 berjudul: “Wie Jesus glauben lernte“ (Bagaimana Yesus belajar beriman). Saya terkesan dengan judul buku dimaksud. Apakah rumusan tersebut tepat: Bagaimana Yesus belajar beriman? Bukankah judul buku tersebut harus diubah misalnya „Bagaimana Yesus mengajarkan iman“? Kita tahu bahwa Yesus adalah Putera Allah, Mesias, Guru dan pewarta iman. Inilah tugas atau tujuan perutusan Yesus. Mungkin dengan landasan ini, judul buku itu seharusnya diubah dalam konteks pengetahuan kita tentang Yesus sebagai pengajar atau Guru iman.

Judul buku yang unik di atas justru berbasis biblis dan tidak melenceng. Secara transparan, bacaan Injil hari ini menunjukkan adanya perkembangan pandangan iman Yesus dari Nazareth. Semula Yesus memahami diri dan tugas perutusan-Nya sebatas wilayah bangsa dan agama Yahudi. Yesus menyadari Diri atau identitas-Nya sebagai seorang Yahudi dan sebagai Nabi yang diutus untuk bangsa Yahudi. Yesus ditugaskan untuk menuntun kembali umat Yahudi kepada iman yang benar dan sejati akan Yahwe, Tuhan Pencipta dan Penyelenggara segala yang hidup. Tak mengherankan bila Yesus sebagaimana diberitakan injil hari ini tidak mau melayani permintaan bantuan seorang ibu bukan Yahudi. Yesus sepertinya tidak mau menanggapi teriakan minta tolong dari seorang ibu yang dicap anggota bangsa kafir.

Tak sedikit yang serta-merta mencap orang lain sebagai kafir, tidak beriman. Pemandangan ini masih akrab khususnya di tanah air kita dengan keragaman agama. Menganggap diri lebih baik dan lebih benar sekaligus meremehkan yang lain – inilah akar terdalam kebangkrutan negara kita, bukan hanya di bidang ekonomi, tetapi juga politik, moral dan agama serta pelbagai aspek kehidupan sosial lainnya. Selama saya tidak menerima dan menghargai orang lain dari latar belakang suku, agama, ras dan bahasa yang berbeda – maksudku menerima yang lain sebagai yang lain – maka hidup bersama kita yang harmonis tidak akan lestari.

Mari kita kembali ke teks injil hari ini. Pertama-tama Yesus menyadari atau memahami misi-Nya hanya untuk kalangan bangsa-Nya sendiri. Kesadaran demikian hendak diterapkan Yesus dengan mengutamakan bantuan atau pertolongan-Nya kepada warga agama Yahudi. Akan tetapi ketegaran, sikap pantang menyerah dari si ibu asing justru membangkitkan kesadaran baru dalam diri Yesus. Yesus belajar aspek universalitas perutusan-Nya justru dari seorang asing yang oleh bangsa-Nya dicap kafir. Dari pihak yang dianggap kafir ternyata terdapat aspek positif yang membuka wawasan kita.

Si ibu asing tidak mengenal teologi keselamatan dalam agama Yahudi yang kini diemban Yesus. Ia hanya tahu bahwa puterinya sakit keras dan membutuhkan pertolongan secepatnya. Tambahan pula ia yakin bahwa Yesus sanggup menolong anaknya. Keyakinan demikian membuatnya untuk tidak patah semangat, biarpun tanggapan Yesus kedengarannya sangat tidak terhormat dan menyakitkan hati. Si ibu asing tersebut tidak merasa diri dihinakan, ketika bangsanya dibandingkan Yesus dengan anjing, suatu kata umpatan yang pedas. Si ibu asing tidak kehilangan iman dan harapan, ia tidak menghapuskan harapannya akan bantuan Tuhan di tengah reaksi kurang sopan yang diterimanya.

Sikap pantang mundur, iman yang teguh dan harapan yang tak kunjung pudar akan bantuan dari Yesus menjadikan Yesus sendiri akhirnya berpikir lebih jauh. Sikap si ibu asing menyadarkan Yesus sendiri akan tugas perutusan-Nya yang bersifat universal, terbuka untuk semua bangsa dan agama, dan tidak bisa dibatasi pada tembok agama dan bangsa Yahudi. Lewat sikap si ibu asing, Yesus belajar untuk memahami kembali tugas mulia keselamatan yang dibawa-Nya untuk semua manusia, termasuk terhadap mereka yang tidak percaya kepada-Nya.

Dalam konteks ini Yesus bukan hanya sebagai pengajar iman, tetapi juga sebagai seorang pelajar iman, seorang yang perlu juga untuk belajar dalam hal iman. Dengan demikian judul buku di atas tidak keliru. Yesus yang adalah Guru justru diajar oleh iman seorang perempuan kafir. Yesus – sang Guru bijak harus pertama-tama belajar untuk mengenal kehendak Bapa-Nya, kehendak Tuhan secara benar dan total, yakni kehendak Tuhan yang menginginkan keselamatan semua orang tanpa kecuali; suatu keselamatan yang tidak bisa dikandangkan dalam agama dan bangsa tertentu.

Kesadaran akan keselamatan universal dari Tuhan untuk semua orang mengajarkan kita semua agar kita tidak boleh bersikap fanatik, menganggap diri paling benar dan paling saleh, lantas orang lain dianggap tidak selamat, sesat dan kafir. Mari kita kikis anggapan negatif terhadap orang lain tanpa alasan yang dipertanggungjawabkan. Mari kita gagas gambaran positif tentang orang lain, menerima orang lain apa adanya dengan segala perbedaannya yang membuatnya lain dari kita. Itulah nilai pertama yang bisa kita petik dari injil suci tadi.

Nilai lain yang hendak saya tekankan yakni semangat iman yang heroik dari perempuan asing, semangatnya yang tidak mudah luntur, yang tidak cepat menyerah. Dalam kaitan dengan iman, dalam hubungan dengan doa misalnya, seringkali kita tidak mengalami campur tangan atau pertolongan Tuhan yang kita nantikan; mungkin kita kita kecewa dengan Tuhan yang sepertinya bermasa bodoh dengan kita. Mari kita belajar dari perempuan asing ini untuk tidak cepat menyerah dalam hidup ini. Amin.

Salam,

Profil Penulis

romo_fidelis.jpg
Pater Fidelis Regi Waton;
Pamong Rohani;
Missionshaus Sankt Augustin, SVD
This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Ini dia Pater yang baru saja saat Seminar Pusat 2016 kemarin dilantik menjadi pamong rohani KMKI Jerman. Yap, Pater Fidelis! Pater Fidelis memulai karirnya sebagai pamong rohani di KMKI Berlin, namun beliau sempat juga memimpin misa di beberapa Regio/Rukun saat seminar. Sejak tahun 2015 kemarin Pater Fidelis menuntaskan Doktor di bidang Filsafat di Universitas Humboldt Berlin, dan sekarang ditempatkan di Sankt Augustin sebagai pengajar filsafat dan pendamping para calon pastor.

 

 

 

 

Discuss this article
You need to log in or register to participate in this discussion.