piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 10 September 2017 - Hari Minggu Biasa XXIII

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 18:15-20

Mat 18:15 "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.
Mat 18:16 Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.
Mat 18:17 Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.
Mat 18:18 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.
Mat 18:19 Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.
Mat 18:20 Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Christian Community

Sumber : http://www.trinitymp.org/wp-content/uploads/2016/01/christian-community.png

Homili:

Para rekan sekalian,

Tiga tahun yang lalu saya merenungkan bacaan Injil yang sama dan membagikannya kepada KMKI juga. Pada waktu itu saya merenungkan mengenai kata-kata yang seringkali dasyat pengaruhnya terhadap kehidupan manusia sekalipun tanpa kita sadari. Bahkan kini permainan kata dalam media sosial mampu menjungkirbalikkan kebenaran dan ketulusan, membingungkan banyak orang.

Kali ini saya ingin menggarisbawahi bahwa rahmat kata-kata yang kita miliki perlu kita bagikan secara positif. Salah satunya tujuannya ialah pembangunan komunitas. Yesus menegaskan, „Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.“ Itulah komunitas. Lebih tepatnya, komunitas Kristiani! Komunitas itulah yang dibangun dengan menempatkan Yesus di tengah-tengah pengikutNya supaya pengaruhNya menyentuh semua di sekelilingNya. Mari kita lihat bagaimana Yesus menggambarkannya.

Bahwa komunitas Yesus berdasarkan kasih cinta itu benar. Kita sudah sering mendengar mengenai perintah untuk mencintai Allah dan sesama. Salah satu ciri komunitas Yesus adalah komunitas yang korektif. KataNya, „Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.“ Sikap korektif itu digambarkan oleh Yesus sebagai ungkapan yang asertif namun penuh pertimbangan untuk tidak mempermalukan orang lain. Apa itu namanya kalau bukan kasih?

Yesus mengajak kita untuk tidak cepat-cepat melakukan penghakiman. Sebaliknya, Ia mendorong orang yang hendak menegur saudaranya untuk rendah hati, tidak cepat-cepat merasa benar sendiri. „Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.“ Bahkan, ketika masih tidak mampu juga, disarankanNya supaya kita bawa saudara kita kepada Gereja. Sebuah ajaran untuk benar-benar menegur dengan sungguh dan rendah hati.

Yesus mengatakan bahwa apa yang kita ikat di dunia akan terikat di sorga. Kata-kata, termasuk koreksi, yang muncul dalam terang Tuhan, mengikat banyak hal di dunia, khususnya persaudaraan kita. Teguran yang penuh kasih memenangkan saudara kita. Mari kita gunakan kata-kata untuk mengikat dan membangun hidup berkomunitas.

Setiap orang pasti memiliki kelompok, entah kelompok keluarga, kelompok studi, kelompok kerja, atau kelompok sahabat. Apakah kelompok-kelompok kita sudah mencerminkan hidup berkomunitas? Apakah di dalam kelompok itu sudah ada komunikasi yang asertif dan compassionate? Siapapun Anda, di manapun adanya, seperti apapun kondisinya, setiap orang beriman dipanggil untuk membangun komunitas, dua atau tiga atau lebih orang yang berkomunikasi secara asertif dan berbelas-kasih, penuh kerendahan hati. Tuhan ada di tengah-tengah kita dan memberkati Anda!

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

Discuss this article
You need to log in or register to participate in this discussion.