piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Adventus: Kesempatan Menata Kehidupan Iman

Masa advent akan tiba, masa persiapan untuk menyambut natal. Memangnya apa yang harus kita persiapkan?

Perjalanan sejarah umat manusia tak selamanya mulus. Tengok saja situasi dan kondisi di seputar kira. Di sana terbentang aneka pengalaman yang mewarnai hidup, seperti suka dan duka, tawa dan tangis, gembira dan sedih, gagal dan sukses. Ini semua akan sungguh berpengaruh terhadap kehidupan iman seseorang. Karena iman tidak bisa hidup dan berkembang matang tanpa relasi dengan lingkungannya. Iman bertumbuh dalam kebersamaan dengan orang lain dan dalam setiap peristiwa hidup yang dialami manusia. Karena itu, kepekaan dan sikap jeli manusia amat dituntut untuk bisa melihat dan menilai setiap peristiwa yang terjadi sebagai sebuah persitiwa iman.

Kita sadari bahwa hidup kita sekarang ini telah menjadi begitu lemah, karena tidak ditata berdasarkan iman dan ajaran agama. Hidup tidak lagi sesuai dengan nilai-nilai budaya dan cita-cita mulia kehidupan berbangsa. Hati nurani tidak dipergunakan, perilaku tidak dipertanggungjawabkan kepada Allah dan sesama. Perilaku lebih dikendalikan oleh perkara-perkara yang menarik indera dan menguntungkan sejauh perhitungan materi, uang dan kedudukan di tengah masyarakat. Dalam kehidupan bersama, terutama kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara manusia menjadi egoistik, konsumeristik dan materialistik. Untuk memperoleh harta dan jabatan, orang sampai hati mengorbankan kepentingan orang lain, sehingga martabat manusia diabaikan. Uang menjadi terlalu menentukan jalannya kehidupan. Karena itu Indonesia hampir selalu gagal untuk memiliki pemerintahan yang bersih dan baik. Keadilan dan hukum tidak dapat ditegakkan, korupsi merajalela, penyelenggaraan negara memboroskan uang rakyat. Semua itu membuat orang menjadi rakus dan kerakusan itu merusak lingkungan hidup dan dengan demikian orang tidak memikirkan masa depan. Inilah kenyataan yang memilukan. Dan sebagai anggota gereja, umat yang beriman, kita turut bertanggung jawab untuk menata suatu dunia baru yang lebih baik lewat cara keberagamaan kita yang benar. Itu berarti iman harus terwujud dalam tindakan nyata. Iman tanpa keadilan hanya omong kosong, tidak ada artinya. Iman tanpa sebuah tindakan berarti mati. Beriman tanpa memperjuangkan keadilan dan kebenaran adalah iman yang keropos. Inilah tuntutan yang tidak bisa ditawar. Orang yang beriman, tetapi diam terhadap segala praktik penindasan, penghisapan, penyelewengan dan lain sejenisnya, berarti ia telah melakukan sebuah dosa besar.

Mahatma Gandhi pernah berujar demikian: "Dengan mendengar dan membaca sendiri ajaran-ajaran agama katolik, hati saya selalu tergerak dan tergoda untuk meninggalkan agama saya dan mau menjadi seorang katolik saja. Tetapi dengan mendengar dan meilhat sendiri pola hidup orang-orang katolik, lebih baik saya menjadi seorang atheis saja daripada hidup sebagai seorang beragama."
Nada kritis Gandhi ini secara tidak langsung mengajak kita untuk kembali menoleh perjalanan hidup iman kita selama ini. Mungkin iman kita seakan tak mekar bertumbuh karena terus dicekik keangkuhan. Atau iman kita seakan mati oleh kerakusan, egoisme dan tipu daya yang kian menjadi.

Kiranya masa Adventus kali ini bisa dijadikan sebagai kesempatan untuk mengoreksi sikap hidup dan berusaha menatanya berdasarkan iman dan ajaran agama kita: "Bertobatlah sebab Kerajaan Surga sudah dekat." Perombakan cara hidup dan pembangunan iman harus mulai dari diri sendiri. Hanya dengan demikian, hati kita sungguh menjadi tempat yang layak bagi kelahiran Yesus Kristus.
Marilah kita beralih ke model hidup yang baru. Model hidup yang tidak menyimpang dari kebenaran iman.

Pater Yoseph Bugalit Barat

Discuss this article
You need to log in or register to participate in this discussion.