piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 15 Oktober 2017 - Hari Minggu Biasa XXVIII

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 22:1-14

Mat 22:1 Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka:
Mat 22:2 "Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya.
Mat 22:3 Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang.
Mat 22:4 Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini.
Mat 22:5 Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya,
Mat 22:6 dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya.
Mat 22:7 Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka.
Mat 22:8 Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu.
Mat 22:9 Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu.
Mat 22:10 Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu.
Mat 22:11 Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta.
Mat 22:12 Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja.
Mat 22:13 Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.
Mat 22:14 Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih."
Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Dresscode

Sumber : http://www.catering onthemove.com.au/

Homili:

Undangan Tuhan dan Dresscode

Tak jarang jika orang menerima undangan untuk menghadiri suatu pesta pernikahan, di sana ditulis tata outfit atau dressode: Model atau warna pakaian yang dinantikan sebagai bagian dari kesemarakan party pernikahan. Para undangan diharapkan untuk mengikuti apa yang digariskan dresscode. Jika ada tamu undangan yang datang dengan berpakaian di luar ketetapan busana yang dinantikan, maka sikap demikian kadang dianggap kurang menghargai keinginan pasangan yang menikah dan tamu yang lain dalam perjamuan nikah dimaksud.

Kisah injil Minggu ini sungguh problematis. Saya hanya mengangkat satu persoalan yang unik dalam kisah ini yang berkaitan dengan tamu yang tidak berpakaian pesta. Anehnya, ia diundang dalam keadaan darurat, agar pesta penikahan bisa dilaksanakan lantaran pihak-pihak yang sebenarnya diundang tidak bisa hadir dengan alasan apa saja mulai dari yang serius hingga alasan yang dibuat-buat. Tentu karena diundang dalam keadaan darurat, maka orang itu tidak memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan diri untuk berpakaian sesuatu dengan ketentuan pakaian pesta pernikahan. Dia yang diundang dalam keadaan darurat untuk menyelamatkan acara pernikahan, justru akhirnya diusir dan dihukum. Apakah sikap orang yang tidak berpakaian pesta termasuk suatu kejahatan yang dihukum dengan keras? Apa yang terjadi padanya menurutku sangat tidak adil dan jika tuan pesta dalam injil ini digambarkan sebagai Tuhan, maka Tuhan model apa yang ditampilkan di sana: Tuhan yang tidak berbelas kasih, melainkan yang murka dan sadis.

Bagiku, perumpamaan dalam injil Minggu ini tergolong kisah yang tragis, tidak manusiawi dan sangat bertentangan dengan gambaran Tuhan yang dihadirkan Yesus dari Nazaret. Parabel ini tidak mencerminkan Tuhan yang saya imani: Tuhan yang diwartakan Yesus adalah Tuhan yang berbelas kasih, Tuhan yang sabar, Tuhan yang tidak menghukum manusia. Tuhan ini justru bertentangan dengan tuan pesta dalam perumpamaan ini yang konon keluar dari mulut Yesus. Hal positif yang bisa ditarik dari kisah ini yakni Tuhan mengundang setiap orang untuk mengikuti perjamuan-Nya. Kerajaan Tuhan yang dilukiskan sebagai ruang perjamuan nikah disiapkan untuk semua orang. Tuhan menawarkan keselamatan-Nya untuk semua orang. Tuhan tidak pernah memaksakan keselamatan-Nya kepada manusia. Keselamatan dari Tuhan bersifat undangan dan setiap kita diberi kebebasan untuk menerima atau menolak undangan Tuhan demikian.

Kita kembali ke tamu yang tidak berpakaian pesta. Sebenarnya ia tidak beralasan untuk tidak berpakaian pesta. Lazimnya dalam tradisi pesta pernikahan Yahudi, si tuan pesta menyiapkan pakaian pesta untuk para tamu yang datang dengan tidak berpakaian pesta, agar mereka dilayakan mengikuti perjamuan pesta nikah. Rupanya tamu yang unik dalam kisah ini tidak menerima tawaran tata berpakaian pesta yang disiapkan di sana. Hal ini menjadi tanda sikap kurang sopan dan respek terhadap tuan pesta dan perjamuan. Berpakaian pesta menjadi tanda respek. Tamu tersebut tidak memiliki alasan untuk tidak berpakaian pesta, karena pada pintu masuk ruang perjamuan disiapkan pakaian pesta untuk setiap tamu yang datang dengan tidak berpakaian pesta.

Dalam hidup kita juga terdapat aturan atau kesepakatan bersama atau tradisi, termasuk tata berpakaian. Tata berpakaian bukan saja menjadi tanda sopan santun dan penghargaan satu terhadap yang lain. Dengan menuruti tata berpakaian, maka saya menyatakan diri sebagai bagian dari kebersamaan tertentu. Dengan tidak mengikuti tata berpakaian, dengan sendirinya dikatakan bahwa saya tidak termasuk dalam kelompok ini atau tidak layak masuk ke dalam ruangan dan acara yang disiapkan dengan tata atau kebiasaan tertentu pula.

Tentu penjelasan ini tetap tidak memuaskan dan juga tidak bisa menjadi jalan keluar untuk persoalan yang dihadirkan oleh kisah unik ini. Menurut keyakinanku sesuai dengan gambaran Tuhan yang dipaparkan Yesus bahwa entah kita berdosa atau saleh, entah kita berprestasi atau tidak, entah kita berpakaian pesta atau tidak, kita tetap dicintai Tuhan. Tuhan mengasihi kita apa adanya. Kasih Tuhan demikian menagih jawaban dari kita. Amin.

 

Salam,

Profil Penulis

romo_fidelis.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universität zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.

 

 

 

Discuss this article
You need to log in or register to participate in this discussion.