piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 22 Oktober 2017 - Hari Minggu Biasa XXIX

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 22:15-21

Mat 22:15 Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan.
Mat 22:16 Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka.
Mat 22:17 Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?"
Mat 22:18 Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?
Mat 22:19 Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya.
Mat 22:20 Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?"
Mat 22:21 Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."
Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Kebangsaan

Sumber : http://scontent.cdninstagram.com/t51.2885-15/s480x480/e35/18809614_113682675888571_3501452365574176768_n.jpg?ig_cache_key=MTUyNzM0NzMyOTQ0MjM0NTYyOQ%3D%3D.2

Homili:

Beriman Dalam Berbangsa

Pengorbanan orang beriman adalah ia rela berkorban bahkan nyawanya sendiri agar orang lain dapat hidup. - Danang Bramasti, SJ

 

Teman-teman yang terkasih,

Yesus berkata, "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."

Mari kita renungkan kalimat dari Yesus itu dengan mengajukan beberapa pertanyaan? Seringkali pertanyaan dapat membuat manusia maju dalam berpikir. Bahkan dunia ini dibangun berdasarkan pada pertanyaan yang dapat dipecahkan.

Kita mulai saja bertanya:
Apakah darah dan tulangku ini kupersembahkan bagi Indonesia?
Bagaimanakah iman kita bekerja dalam hidup berbangsa?
Apakah kita sudah berjuang untuk bangsa kita ini?
Mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah, bagaimana cara kita mempersembahkan diri kita ini untuk Indonesia?

Itu baru pertanyaan soal berbangsa. Bagaimana soal beriman? Apakah kita perlu beriman dalam berbangsa?

Teman-teman terkasih,

Salah satu ciri terbesar dari orang beriman adalah sanggup menghargai sesamanya. Negara kita ini dibangun dari perjuangan yang penuh iman. Para pendiri bangsa ini memperlihatkan iman mereka dengan sanggup menghargai banyak perbedaan yaitu: suku, bahasa, dan agama. Ratusan bahasa, ratusan bangsa, dan lima agama besar dihargai dalam satu negara yaitu Indonesia.

Kita, orang Katolik, juga boleh bangga bahwa ada pahlawan yang bernaman Agustinus Mas Adi Sucipto. Ia berpangkat marsekal muda dalam angkatan udara di negara yang baru saja merdeka itu. Sebuah pangkat yang tinggi yang menjadikannya kepala staf AURI. Ia wafat tahun 1947 saat sedang menerbangkan pesawat yang membawa obat-obatan dari India untuk rakyat Indonesia. Namanya diabadikan sebagai sebuah lapangan terbang di Yogyakarta. Kita bangga sekali.

Ada juga laksamana madya Yosaphat Sudarso yang gugur dalam pertempuran Laur Aru tahun 1962. Dalam petempuran itu terlihat bagaimana ia rela berkorban, bahkan nyawanya sendiri, agar teman-temannya selamat. Sebuah sikap yang sangat injili. Bahkan sebelum gugur ia sempat meneriakan kalimat lewat radio kapal: “Kobarkan semangat perjuangan!”

Mereka telah mempersembahkan yang terindah kepada ‘kaisar’ yaitu pemerintah dan yang terindah pula bagi Tuhan. Kita bangga sekali dengan mereka.

Teman-teman yang terkasih,

Perjuangan butuh pengorbanan. Namun yang tak kalah penting adalah iman kita. Perjuangan yang penuh pengorbanan namun tanpa iman hanyalah pengorbanan yang sia-sia. Sudah banyak contohnya yaitu para teroris yang merasa telah berkorban dengan meledakkan dirinya di tengah kerumunan massa. Tak akan pernah orang beriman mengorbankan nyawa orang lain. Pengorbanan orang beriman adalah ia rela berkorban bahkan nyawanya sendiri agar orang lain dapat hidup. Itulah iman sejati. Itulah pahlawan sejati.

Saya mengajak teman-teman muda untuk juga berani berkorban bagi Tuhan dan bangsa kita ini. Apa yang dapat kita lakukan?

Saya kenal dengan anak muda yang mengajar di pedalaman, bahkan di tengah hutan rimba di Myanmar. Perjuangan untuk masuk ke tengah hutan rimba juga tidak mudah. Bahkan di hutan masih banyak gerilyawan yang memegang senjata api. Ia seorang perempuan muda yang berprofesi sebagai guru, berusia dua puluh tahun.

Teman-teman juga pasti punya banyak keahlian, ada yang belajar teknik sipil, arsitek, komunikasi, dan mungkin ada yang belajar seni. Beranikanlah dirimu untuk sejenak, mungkin setahun atau beberapa bulan saja, masuk ke pedalaman untuk membaktikan diri anda pada Tuhan dan sesama.

Kalaupun hal itu juga tidak mungkin, masih banyak hal di sekitar kita yang dapat kita perjuangkan. Saya juga kenal anak muda yang mengajar anak-anak jalanan di perkampungan kumuh di Kathmandu, Nepal. Tidak perlu ke hutan rimba, cukup pergi ke jalanan di sekitar anda dan mulailah berkarya.

Indonesia.. merah darahku.. putih tulangku.. begitulah sepenggal syair dari lagu Gebyar-gebyar yang dinyanyikan oleh Gombloh. Gombloh adalah penyanyi jalanan kumal dan bertampang kumuh yang sanggup membangkitkan semangat nasional yang tinggi dengan lagunya itu.

Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk memberikan yang terindah pada kasiar dan kepada Tuhan. Tetapi hal yang paling penting adalah tindakan nyata agar semua itu tidak sia-sia. Just do it!

Salam,

Profil Penulis

antonius.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ
Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta.
Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

Discuss this article
You need to log in or register to participate in this discussion.