piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 29 Oktober 2017 - Hari Minggu Biasa XXX

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 22:34-40

Mat 22:34 Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka
Mat 22:35 dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia:
Mat 22:36 "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?"
Mat 22:37 Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
Mat 22:38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
Mat 22:39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Mat 22:40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."


Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

The Law of Love

Sumber : https://crosstheology.wordpress.com/the-law-of-love/

Homili:

Seberapa besar cintamu pada Tuhan Allahmu? Kalau perintah-perintahNya tidak mudah kaumengerti, masihkah kamu mencintaiNya? Kalau keinginan-keinginanmu begitu sulit kauwujudkan, apakah kamu masih mau mengandalkanNya? Kalau masalah-masalah hidup seolah-olah tidak pernah menjauh dari hari-harimu, apakah kamu masih mau bertahan pada imanmu?

Kalau tetanggamu hanya bisa berbicara yang menyakiti hatimu, apakah kamu masih bisa menunjukkan kasih sayangmu padanya?

Itu salah satu pertanyaan besar manusia masa kini ketika berbicara aplikasi dari hukum utama yang diajarkan Yesus dalam Injil Minggu ini. Hukum ini sudah membentuk identitas orang-orang Kristen. Ketika orang bertanya apa sih yang paling utama dalam ajaran Kristen, bahkan mereka yang tidak Kristen pun tahu jawabannya yaitu „Hukum Cinta Kasih“.

Pertanyaan lebih lanjut apakah identitas dasar kristianitas ini masih dihidupi oleh orang-orang yang mengaku dirinya Kristen itu? Apakah mereka sendiri masih bangga dengan ajaran kasih itu jika ajaran itu „memaksa“ mereka mengalah dan benar-benar kalah?

Hidup Yesus sendiri harus yang menjadi pola hidup beriman kita. Yesus mengerti setiap perintah Allah dengan sempurna karena ketekunan pencarianNya dalam keheningan, dalam membaca dan menyimak sabda-sabda Tuhan, serta welas asihNya kepada orang-orang di sekitarNya. Yesus mampu mendahulukan kehendak-kehendak Allah meskipun Dia dapat melakukan sebaliknya yang harusnya melambungkan ketenaranNya. Yesus mampu tetap setia kepada kehendak Bapa meskipun kesetiaan itu menghantarkanNya pada akhir hidup yang tragis.

Memang berat memahami dan melakukan ajaran hukum kasih yang disampaikan Yesus ketika hidup kita masih di Getsemani dan Kalvari. Tetapi kita akan bersorak gembira kalau kita tetap percaya akan kebangkitan paskah.

Hanya orang yang setelah jatuh tidak berani berdiri kembali yang bisa disebut benar-benar kalah. Selama masih mampu bangkit, meski tetap tertatih, masih ada harapan akan sampai ke tujuan yang dicita-citakan.

Salam,

Profil Penulis

romo_bimo.jpg
Yohanes Bimo Ari Wibowo, MSF; lahir di Jepara, Jawa Tengah. Sejak tahun 1998 menjadi anggota Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dengan memasuki Novisiat MSF di Salatiga. Ditahbiskan imam pada tahun 2008, di Yogyakarta. Melayani 3 tahun di Paroki St. Jusup, Pati, Keuskupan Agung Semarang. Sejak tahun 2012 diutus berkarya di Jerman. Saat ini melayani di Paroki Maria Himmelfahrt, Dietramszell, Bayern.

 

 

 

 

Discuss this article
You need to log in or register to participate in this discussion.