piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 12 November 2017 - Hari Minggu Biasa XXXII

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 25:1-13

Mat 25:1 "Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki.
Mat 25:2 Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana.
Mat 25:3 Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak,
Mat 25:4 sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.
Mat 25:5 Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur.
Mat 25:6 Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia!
Mat 25:7 Gadis-gadis itupun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka.
Mat 25:8 Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam.
Mat 25:9 Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ.
Mat 25:10 Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup.
Mat 25:11 Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu!
Mat 25:12 Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.
Mat 25:13 Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Jungfrauen

Sumber : http://www.brunnenturmfigur.de

Homili:

Sepuluh Gadis

Gereja Katedral Magdeburg (Magdeburger Dom) yang dibangun pada abad ke-13 merupakan gereja Gotik pertama dan tertua di Jerman. Pada gerbang masuknya terdapat pahatan wajah sepuluh gadis sebagaimana dikisahkan dalam Injil Minggu ini. Lima gadis di sebelah kiri ditampilkan sebagai figur-figur yang riang dan gembira. Kelima gadis demikian dikategorikan sebagai gadis bijak. Lima gadis di sebelah kanan dihadirkan dengan perawakan yang sedih, menyesal dan menangis. Mereka digolongkan sebagai gadis bodoh.

Kesepuluh gadis diundang untuk memasuki pesta pernikahan. Dalam konteks biblis kebahagiaan paripurna di kerajaan Tuhan digambarkan dalam pesta pernikahan. Lima gadis menyiapkan segala yang diperlukan untuk boleh memasuki pesta pernikahan. Mereka setia dan berjaga-jaga. Lima gadis yang bodoh juga setia dan berjaga-jaga, namun mereka kehabisan bahan bakar untuk obor atau lampu. Upaya mereka untuk membeli minyak pada akhirnya tidak dihargai. Pintu ruang pernikahan tertutup bagi mereka.

Pesan lazim yang dipetik dari kisah injil ini, bahwa setiap orang harus berjaga-jaga setiap saat dengan obor yang menyala dan cadangan minyak yang cukup. Sikap berjaga-jaga tentu saja bukan bermanfaat untuk kehidupan kekal. Setiap hari setiap orang untuk hidup berjaga-jaga, karena akhir hidup setiap kita menjadi rahasia. Di sini muncul pertanyaan, apakah kita hanya diajak untuk berjaga-jaga dengan kesadaran akan adanya pengadilan terakhir setelah kita meninggal? Tentu saja tidak. Hidup kita dengan segala tugas dan tanggung jawabnya mengajak kita untuk selalu berjaga-jaga dan mempersiapkan diri. Sebagai mahasiswa atau mahasiswi, misalnya, sikap berjaga-jaga, sikap yang bijak ditunjukkan dengan cara belajar secara sungguh-sungguh, bukan saja menjelang ujian, melainkan setiap hari. Hasil akhir yang baik merupakan konsekuensi dari kerja keras yang lama.

Mari kita tinggalkan pesan lazim dari kisah ini dan saya coba melihat kisah injil ini dengan kaca mata kritis. Pertama, gambaran tuan pesta yang konon ditampilkan sebagai gambaran Tuhan, bukanlah konsep Tuhan yang saya imani. Di sana dia ditampilkan sebagai pribadi yang tidak mengenal pengampunan. Upaya kelima gadis yang membeli minyak tidak dihargai dan permintaan mereka untuk masuk tidak dihiraukan dan kelima gadis itu diperlakukannya sebagai orang asing yang tak dikenalnya, padahalnya ia mengundang mereka untuk pesta pernikahan dimaksud. Tuhan yang saya imani adalah Tuhan dengan kasih yang tak terbatas, Tuhan yang murah hati. Dalam kisah ini tidak ditampilkan kemuruhan hati dan kasih Tuhan demikian.

Kedua, sikap solider dan membagi merupakan kebajikan yang diajarkan Yesus dari Nazaret. Nilai-nilai ini justru tidak dipraktekkan oleh gadis yang dianggap bijak. Mereka sangat egois dan tidak membagi cadangan minyak kepada kelima sahabatnya yang dianggap tidak bijak. Sikap mereka akhirnya tidak dipersoalkan oleh tuan pesta dan mereka diizinkan menikmati perjamuan pernikahan. Dengan ini kelima gadis yang dianggap bijak, sangat tidak bijak di mata saya. Kelima gadis ini yang konon dan selalu dihadirkan sebagai contoh untuk orang-orang beriman, justru kelima gadis ini tidak menjadi contoh buat iman dan cara hidup sebagai pengikut Yesus yang saya pahami. Amin.

Salam,

Profil Penulis

romo_fidelis.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universität zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.

 

 

 

 

Discuss this article
You need to log in or register to participate in this discussion.